![ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]](https://asset.asean.biz.id/alkisah---doa-untuk-dunia--1001-cerita-fantasi-indonesia-.webp)
Anak bermata emas itu seakan kehilangan segalanya ketika melihat sesosok mayat yang terbaring di atas hamparan salju tepat di hadapannya. Tampak ada asap yang mengepul dari mayat itu, tanda bahwa ia mati karena terbakar. Kala itu, bagi bocah itu, dunia seakan-akan sudah hancur lebur, dan kehidupan, seolah tak ada artinya lagi untuknya.
Apa ini salahnya? karena ia sendiri yang memutuskan meninggalkan dia seorang diri dan menghadapi puluhan ribu musuh. Tapi, dia sama sekali tidak tahu, kalau akhirnya akan jadi seperti ini. Dia, benar-benar tidak... tahu.
Di bawah langit kelabu yang dihiasi oleh salju yang berjatuhan, anak itu hanya mampu berdiri sambil memandang mayat yang tertutup oleh kain hitam itu dengan tatapan kosong tanpa arti. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, mata dan wajahnya pun terasa panas. Dia sama sekali tidak mengerti. Segalanya terjadi begitu saja.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Kenapa dia merasa sangat bingung, marah, sedih, dan gagal? Kenapa dia merasa sangat, sangat, sangat buruk? Kenapa? Kenapa dunia ini begitu jahat?
Dia mengenal celana jeans yang melekat pada mayat itu, dia juga mengenal sepatu yang terpasang di kakinya. Dia sangat mengenalnya, dan untuk kali pertama dalam hidupnya ia merasa murka karena mengenal sesuatu.
Lutut anak itu tiba-tiba terjatuh karena saking lemasnya. Ia melingkarkan tangan kirinya di bagian belakang leher mayat itu, sedangkan tangan kanannya mulai bergerak meraba-raba bagian mukanya.
__ADS_1
“Kumohon, jangan ambil dia dariku...“ Air mata anak itu mulai mengalir deras membasahi wajahnya. Nafasnya sesak, dan dadanya terasa sakit luar biasa. “Kakak... Kakakku. Tidak...“ Anak itu seketika memeluk erat mayat itu.
Dia merasa sangat aneh, karena dalam beberapa menit terakhir, seluruh tubuh anak itu seakan bergerak sendiri tanpa ia kehendaki. Namun, dia juga bersyukur, karena pada kenyataannya, anak itu sebenarnya sudah tak ingin bergerak lagi ketika ia melihat mayat itu. Ia bahkan tak ingin hidup lagi sekarang.
“Tidak... Tidak... Tidak... “ Suara bisikkan itu terus menerus keluar dari mulutnya dan seolah tidak akan pernah berhenti. “Apa-apaan ini!? Kenapa ini terjadi!? Kenapa kakakku! Kenapa Kau merenggutnya!?” Dia memekik dengan suara yang tertahan. “Apa salah kami!? Kami cuma ingin bebas! Apa yang salah!? Padahal kami hanya ingin bahagia! Apa sebenarnya yang salah! Sialan! Jangan ambil Mas Lion!”
Lalu, ia pun mulai berteriak keras bak orang gila yang mengamuk, sampai-sampai membuat dunia di sekitarnya bahkan ikut berguncang hebat.
Mas Lion adalah orang pertama yang menerima anak itu apa adanya. Orang pertama di dunia ini, yang benar-benar mau menerima dirinya yang sebenarnya. Tak kurang dan tak lebih.
Baginya, Mas Lion adalah seorang kakak yang sangat baik, meskipun anak bermata emas itu belum pernah mengakuinya dengan kata-kata, tapi itulah kebenarannya. Dia adalah kakak terbaik yang pernah dimilikinya.
Pemuda itu memiliki wajah yang ramah dan senyuman yang manis, bahkan bisa dibilang itu adalah ciri khasnya. Itu aneh, karena baru sekarang anak itu menyadari kalau wajah Mas Lion memang selalu terlihat mencolok dibanding siapapun yang dikenalnya.
__ADS_1
Namun kini, dia telah kehilangannya.
Mulai sekarang, siapa yang akan membangunkannya setiap pagi? Siapa yang akan memasak sarapan? Siapa yang akan mengajarkannya tentang dunia? Tentang kehidupan? Siapa yang akan menunjukkan jalan yang tepat? Yang benar? Dan, siapa lagi yang akan membelai kepalanya, seperti yang selalu dilakukan Mas Lion ketika ia merasa senang.
“Kenapa malah Mas Lion!? Kenapa harus dia!? Kenapa Kau terus merenggut segalanya dariku!? A-aku sudah nggak punya apa-apa lagi!” Wajah anak itu mulai memerah karena dinginnya atmosfer di sekitar. Tapi air matanya terus mengalir tanpa henti. “Sialan! ********! Apa sebenarnya salahku!?” Dia terus meraung.
Mengapa dunia ini sangat jahat? Padahal anak itu dan sahabat-sahabatnya hanya ingin menemukan kebahagiaan mereka sendiri di dunia yang kejam ini. Apa sebenarnya yang salah? Toh, mereka berjuang dengan kekuatan yang mereka miliki.
Entah dunia ini yang terlalu jahat, atau memang kehendak Tuhan saja yang berbeda, anak itu tidak tahu. Dia sama sekali tidak tahu menahu. Satu-satunya yang dia ketahui saat ini, adalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan cahaya yang menyinari hidupnya selama ini.
Kenangan indah tentang Mas Lion mulai terbayang dalam benak anak itu, dan sungguh, rasanya sangat menyakitkan.
“Sella... Om Zarah... Mas Alam... Kak Anna... Arima... Ronzo... Amalia... Abi... Dan sekarang... Mas Lion... Aku... Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi...“ Anak itu menggigit bibirnya ketika ia menyebut nama sahabat-sahabatnya yang telah mati sejauh ini. Mati karena berkorban. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak, Tuhan! Apa Kau tak sadar, hah!?”
__ADS_1
Lalu, satu pertanyaan timbul dalam hati kecil anak itu; apakah semua pengorbanannya setimpal dengan keinginannya?
“Kakakku... Hu...“ Dunia di sekitar akhirnya berhenti berguncang, namun duka yang merasuk dalam bocah itu tetap belum sirna. Atau mungkin, tidak akan pernah. “Tuhan... Aku percaya Kau sudah menyiapkan rancangan yang terbaik untukku... Aku percaya kalau keinginanku... Keinginan kami, tidaklah salah... Tapi, kenapa rasanya sesakit ini...?”