ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH: Gaib


__ADS_3

“Jika kau bertanya padaku, mana yang lebih mengerikan antara manusia dan makhluk halus? Yah jawabannya sudah pasti, bukan? Kalau yang paling mengerikan itu adalah, manusia.”


Jarwo menampar makhluk jelek berwajah menyeramkan, bertubuh jangkung dan berambut panjang  berantakan itu dengan amat kuat, sampai-sampai makhluk itu terlempar ke pagar tembok bagaikan habis ditabrak oleh truk.


Yah, Jarwo juga sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi masalahnya, makhluk gaib itu sudah terlalu sering mengganggu Jarwo setiap kali dia lewat di jalan ini, dan itu sangat menjengkelkan.


“Manusia keparat!”


Namun, Jarwo tak berhenti sampai di situ. Pemuda berseragam SMA itu kembali melesat dengan sangat cepat menghampiri makhluk yang masih menempel di dinding, lalu mencekik lehernya tanpa ragu dan welas kasih.


“Ugh! Apa-apaan! Le-lepaskan aku manusia gila!”


“Bisa diam nggak sih, demit sialan...“ Ujar Jarwo dengan suara sedingin es. “Sudah seminggu loh... seminggu!” Ia menekankan dengan nada mengancam. “Tapi, kau tetap saja menggangguku setiap kali aku lewat sini. Maumu apaan coba? Padahal kau tahu aku bisa melihatmu, tapi kau tetap saja bertingkah. Kau minta disiksa?”


“A-aku nggak bermaksud jahat kok! Aku hanya iseng doang! Jadi cepat lepaskan tanganmu! Sakit woy!” Makhluk itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jarwo, tapi usahanya sia-sia. Jarwo tidak bergeming sama sekali.


Akan tetapi, setelah termenung selama beberapa saat, Jarwo akhirnya menghela nafas dalam dan memutuskan untuk melepaskan si jelek itu.


“Eh?”


“Lebih baik kau pergi aja deh.” Ujar Jarwo sembari melangkah pergi. “Aku sudah capek, lapar, pusing lagi. Dan gara-gara ladeni kamu, kepalaku jadi tambah sakit begini.”


“Te-terima kasih, Tuan! Aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi mulai sekarang! Dan ka-kalau bisa, aku juga akan menjadi pelayanmu!” Sahut makhluk itu.

__ADS_1


“Heh... kau mau jadi pelayanku ya?” Langkah Jarwo terhenti. “Boleh sih, tapi siapa namamu? Soalnya aku nggak suka berteman dengan setan yang nggak ingat namanya sendiri.”


“Yah, panggil saja aku Aska.” Katanya.


“Hmm... Baiklah, kau boleh ikut, Aska, tapi tolong jangan panggil aku dengan sebutan yang aneh-aneh seperti tadi. Panggil saja aku Jarwo atau Bos.”


“Siap, Bos.” Jawab Aska sambil mengikuti Jarwo dari belakang. “Cuma sebelumnya, aku punya satu pertanyaan.”


“Hmm? Apa?”


“Kenapa Bos nggak melawan balik anak-anak nakal yang sering mengganggu itu?”


Pertanyaan singkat itu seketika kembali membuat Jarwo berhenti melangkah. Dia tenggelam dalam diam. Ingatan tentang anak-anak yang disinggung Aska langsung terbayang dalam benaknya.


“Maksudku, Bos kan kuat banget loh. Bahkan Bos ini nggak sama seperti Indigo yang lain. Masa anak-anak bodoh seperti itu saja, Bos nggak bisa ladeni.”


Namun, Jarwo kini merasa agak kesal setelah Aska menyinggung soal itu.


“Yah... karena manusia itu sangat aneh... dan jahat.“


Jarwo melanjutkan perjalanannya keluar dari jalan kecil itu, sementara Aska mengikut di belakang. Saat mereka berdua sampai di suatu trotoar yang sangat ramai, Jarwo melihat ada begitu banyak makhluk aneh seperti Aska yang berkeliaran di mana-mana. Mereka ada di dekat manusia, di langit, dan jumlah mereka juga tak kalah banyak dengan manusia.


“Aku nggak bisa membalas mereka, karena mereka hanya manusia.”

__ADS_1


“Ah... maaf, tapi aku sama sekali nggak paham Bos.”


Jarwo tertawa pelan setelah melihat ekspresi Aska yang tampak sangat kebingungan.


“Ya, tentu saja. Aku juga nggak bisa menjelaskannya dengan benar. Tapi... intinya sih, aku sebenarnya sangat-sangat membenci yang namanya manusia. Dan akhir-akhir ini, kebencian itu... semakin bertambah besar.” Jarwo menyipitkan matanya, seakan menahan sakit.


“Hah... ?”


“Minggu lalu, ada salah seorang sahabatku yang mati terbakar karena dia berusaha menyelamatkan pacar bodohnya. Dan tiga hari yang lalu, ada lagi sahabatku hilang begitu saja kayak ditelan bumi. Lalu, mereka berdua sama-sama memiliki ibu yang keduanya juga sakit keras dan sekarat di rumah sakit.”


Jarwo tiba-tiba menggigit bibir dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya memancarkan amarah dan kesedihan yang mendalam. Wajahnya juga berubah menjadi sangat menyeramkan dibanding sebelumnya. Sungguh perasaan gelap yang menyakitkan.


“Wah? Yang benar, Bos? Kok bisa sih? kasihan banget mereka.” Ujar Aska tulus. “Memangnya mereka nggak ada keluarga atau tetangga yang bisa membantu ya?


“Yah begitulah manusia, mereka itu pendosa yang cuma peduli pada diri mereka sendiri, dan sangat hobi menciptakan kehancuran... Manusia brengsek, bodoh, keparat, *****, dungu, tak berguna, sampah!” Orang-orang di sekitar sedikit terkejut saat mendengar bentakan Jarwo yang penuh emosi, namun mereka hanya menghiraukannya.


“E-eh! Tenang bos! Tenang!”


“Hah... aku nggak terlalu mempermasalahkannya kok. Tak apa jika mereka berdua menyerah, apalagi mereka juga cewek. Lagi pula, mereka memang sudah pernah mengaku kalau mereka tidak kuat lagi menghadapi kehidupan ini... dunia ini... dan manusia. Malahan... aku sebenarnya bersyukur, karena mereka sudah beristirahat dengan tenang sekarang.”


“Jadi... gimana dengan Bos?” Tanya Aska takut-takut.


“Hoh... Aku nggak akan menyia-nyiakan nafasku. Pasti ada alasan mengapa Allah memberikanku mata untuk melihat dua dunia, jadi aku akan menggunakan berkat ini sebaik-baiknya. Dan yang paling hebat lagi, kemarin aku juga dapat kiriman uang satu miliar dari entah siapa, jadi, sekarang seharusnya aku bisa bersiap-siap.” Jarwo menengadah menatap angkasa gelap, dan mendapati sosok ular raksasa bersisik hitam yang menyeramkan. “Soalnya, kalau aku juga ikut menyerah, siapa dong yang akan merawat orang tua mereka berdua? Sudah jelas itu sekarang tanggung jawabku.”

__ADS_1


“Mantap Bos! Selalu berpikir positif, ya kan?”


“Yah... Kau tenang saja. Aku akan menggunakan mata ini... aku benar-benar akan menggunakannya untuk masuk lebih dalam lagi menuju kegaiban... Akan kurobek kenyataan dunia yang jahat ini... dan manusia. Tunggu saja. Suatu saat nanti. Pasti.“


__ADS_2