ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH/ Rahasia Duniawi III: Gadis Yang Melihat Bayang-bayang


__ADS_3

Sarah tidak tahu kapan tepatnya matanya mulai mampu menangkap hal-hal aneh, seperti sosok-sosok yang melesat di udara, juga orang yang kadang hilang tiba-tiba, atau juga melihat makhluk-makhluk yang benar-benar bukan manusia. Biasanya Sarah melihat mereka sedang tergesa-gesa menuju ke suatu tempat, atau juga sedang bertarung melawan makhluk yang tubuhnya terbuat api hitam pekat. Namun yang pasti, itu nyata.


Bahkan, yang paling parah, Sarah pernah melihat siluet makhluk raksasa yang berbentuk seperti paus di awan. Paus yang berenang di langit? Sungguh, Sarah sudah tidak tahu lagi, seberapa besar rahasia yang disembunyikan oleh dunia ini.


Dalam percakapan ketiga orang itu, Sarah berhasil mendapatkan banyak informasi mengenai rahasia-rahasia dunia, dan tentunya itu juga merupakan jawaban dari semua pertanyaannya.


Akan tetapi, tentu sulit bagi gadis itu untuk mencerna semuanya itu begitu saja. Mereka menyinggung soal peperangan, soal membunuh, dan bahkan soal kekuatan yang mampu menghancurkan negara ini dalam sekejap. Sarah merinding disko tiap kali mendengarnya hal-hal yang mengerikan.


Puncaknya adalah saat terjadinya kecelakaan tepat di jalan raya di samping mereka. Tabrakan itu begitu dahsyat, sampai-sampai banyak puing-puing yang berhamburan di mana-mana. Tapi anehnya, tak ada satupun dari pecahan-pecahan itu yang terlempar ke arah mereka. Seakan-akan ada pelindung yang melindungi seluruh area di sekitar gerobak kedai itu.


Karena sesungguhnya, memang ada pelindung di sana. Ada suatu cahaya hijau dan biru yang terkadang timbul di udara, seperti riak air, dan itu muncul ketika si pemuda gemuk itu menjentikkan jarinya.


Namun, tepat pukul sebelas malam, dan saat jalanan mulai sepi, pada saat itu pula percakapan ketiga orang itu pun akhirnya mencapai final.


“Kita pergi ke rumah utamaku dulu, di sana aku akan menjelaskan semuanya, termasuk rencanaku untuk mencegah perang ini.” Jelas si pemuda gemuk itu. “Mas Rizky, aku duluan ya.”


“Sip, Vin. Hati-hati, ya.” Balas si pemilik kedai.


“Ini, Mas, uangnya.” Pemuda bermata oranye itu mengeluarkan satu ikat uang seratus ribu dari dalam ranselnya, yang mungkin jumlahnya satu juta, dan langsung menyodorkannya pada Kak Rizky, alias si pemilik gerobak kedai itu.


Sesaat kemudian, empat kantong plastik besar yang berisi minuman dan makanan yang dipesan si pemuda bermata oranye tiba-tiba lenyap begitu saja dari tangannya, dan tak ada satupun orang yang menyadarinya kecuali Sarah.


“Eh... Ini kayaknya uangnya kebanyakan, deh, mas... “ Kata Kak Rizky seusai menghitung uang itu. Walau mungkin dia tidak benar-benar menghitungnya.


“Kalau gitu kembaliannya Mas ambil aja.” Ujar pemuda bermata oranye itu sembari masuk ke dalam taksi, yang lalu disusul dengan Pak Sopir. “Aku akan datang lagi kesini nanti.”


“Tunggu!”


Mesin dinyalakan, dan mobil itu pun mulai melaju meninggalkan tempat itu, menuju ke arah yang sebaliknya, ke Konawe Selatan.


Sarah menyeka keringatnya sambil berusaha menenangkan diri.


Satu-satunya yang ada dipikirannya saat ini adalah keinginan untuk mengikuti mobil itu, dan dia akan melakukannya apapun yang terjadi. Kesempatan ini sudah tiba, dan dia tak sebodoh itu untuk menyia-nyiakannya.


Gadis berhijab putih itu telah membulatkan tekadnya. Dia bangkit berdiri dan cepat-cepat mengancing jaketnya, mengenakan helm, kemudian naik ke motor. Tapi, tepat sebelum ia menyalakan motornya, Kak Rizky tiba-tiba angkat bicara.


“Kau mau mengikuti mereka, kan?” Tanya pemuda bertubuh gemuk besar dan berkulit putih itu dengan wajah datar.


“Eh...“ Sarah tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


“Aku mendengar semua obrolan mereka... Dan aku cukup waras untuk menyadari semua keanehan yang terjadi sejak kecelakaan itu.” Ungkapnya masih dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi, terlihat jelas kalau dia juga sedang tegang dan heran. Dan entah kenapa dia mulai menutup gerobaknya dengan terburu-buru, dan memasukkan bangku-bangku ke dalam gerobak, mematikan lampu, kemudian mengunci pintunya.


“Maksudku... kemana hilangnya minuman dan burger tadi? Dan kau lihat, kan? waktu mereka diam saja pas kecelakaan? Sumpah... itu sudah aneh banget. Itu... Pemandangan yang nggak wajar.”


“Ya... “ Sarah tak bisa berkata-kata selain setuju dengan itu. Matanya terpaku pada ujung jalan raya di mana taksi tadi telah lenyap karena dibatasi oleh jarak pandangan.


“Aku akan ikut denganmu.” Kak Rizky sudah berkemas, dan naik ke motornya sendiri. Tampak wajahnya yang agak tembem terhimpit oleh helmnya. “Ngomong-ngomong, siapa namamu?”


“Oh? Namaku, Sarah, Kak.”


“Sarah, ya? Baiklah, ayo.”


“A-ah, iya.” Jawab Sarah, dan keduanya pun melaju cepat mengikuti jalur yang dilalui oleh taksi tadi.


Setelah beberapa menit berjalan, ditemani malam yang semakin larut, mereka berdua akhirnya telah berhasil menyusul mobil taksi itu, dan mulai dari situ, mereka terus mengikuti taksi sambil menjaga jarak, tentu saja, agar tidak dicurigai.


“Semoga bensinku cukup.” Gumam Sarah satu jam kemudian sambil tersenyum masam, setelah melihat meteran motornya. Dia tidak menyangka kalau mereka akan pergi sejauh ini, tapi anehnya Kak Rizky tampaknya tidak ragu sama sekali. Dia memaku pandangannya dan terus mengikuti mobil dalam diam. Entah karena dia sangat penasaran atau apa. Namun kalau dipikir-pikir itu wajar, karena apa yang mereka alami tadi itu sudah benar-benar diluar nalar.


“Dek, kamu masih mau lanjut?” Kak Rizky tiba-tiba bertanya setengah berteriak.


“Iya. Aku tetap bakal ikuti mereka, Kak. Pokoknya... aku harus ikuti mereka. Hanya itu untuk saat ini.”


“Baguslah.”


Akan tetapi, selang beberapa menit setelah memasuki daerah yang sepi itu, taksi itu pun mulai memperlambat lajunya, dan akhirnya berhenti untuk menepi di pinggir satu daerah hutan yang tampak sangat menyeramkan jika dilihat sekilas. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah jalan setapak yang menjurus jauh ke dalam hutan yang amat gelap, seram, dan mengerikan itu.


Tak lama setelahnya, pemuda bermata oranye, si Pak Sopir, juga si pemuda gemuk itu pun turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam hutan mengikuti jalan setapak itu, dan meninggalkan mobil taksi di pinggir jalan begitu saja.


“Mereka sudah pergi.” Kak Rizky memberitahu.


Saat ini, posisi mereka berdua sangat jauh dari mobil itu. Mereka sengaja mematikan lampu motor dan sebisa mungkin bersembunyi dalam kegelapan malam.


“Ayo, Kak.” Kata Sarah yang mulai mendorong motornya, lalu memarkirnya di bawah pohon besar di sekitar sana. Begitu pula dengan Kak Rizky. Kemudian, setelah memastikan motor mereka tersembunyi dengan baik, mereka berdua pun bersiap untuk menelusuri jalan setapak itu.


“Eh... Kakak yakin mau masuk hutan dalam kondisi begitu?” Sarah bertanya sambil memandang heran pemuda besar itu. Dia hanya mengenakan baju kaos lengan panjang, dan celana pendek sebetis. "Banyak nyamuk, loh."


“Lah? Kamu sendiri pakai gamis gitu, kok.”


“Ah... iya juga, sih.” Kata Sarah sambil menyalakan senter pada ponselnya, dan Kak Rizky juga melakukan hal yang sama, kemudian, mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Pepohonan yang tumbuh di hutan itu rata-rata berukuran besar dan sudah tampak tua. Pohon-pohonnya tumbuh begitu rapat, dan dedaunan di atas menutupi lajurnya sinar rembulan, membuat kesannya semakin mencengkam. Dan satu-satunya sumber cahaya mereka saat ini cuma berasal dari senter ponsel saja.


Akan tetapi, entah kenapa waktu itu Sarah tiba-tiba teringat kembali dengan kehidupannya di masa lalu.


Usia Sarah baru menginjak enam tahun, saat sang ayah memutuskan untuk pergi entah ke mana, dan menghilang bak ditelan bumi. Banyak orang yang beranggapan kalau ayah Sarah mungkin sudah meninggal, dan sebagian lagi berpikir bahwa beliau sebenarnya sedang terlibat dengan pekerjaan-pekerjaan yang ilegal dan berbahaya.


Meski begitu, hati Sarah tetap yakin kalau ayahnya masih hidup, dan dia juga percaya kalau ayahnya bukanlah orang yang jahat.


Sejak saat itu, Sarah pun diurus oleh sahabat ayahnya, yaitu Pak Turino, yang juga pernah bekerja sebagai manajer di perusahaan ayahnya. Beliau adalah orang yang baik, dan dia juga salah satu dari segelintir orang yang percaya bahwa ayah Sarah bukanlah seorang kriminal.


“Ayah telah melanggar aturan, dan daripada kehilanganmu, akan lebih baik kalau Ayah saja yang hilang.” Itulah pesan terakhir dari sang ayah, yang tak akan pernah Sarah lupakan.


Ingatan itu masih segar dalam benaknya. Ayahnya mengucapkan kata-kata itu di malam paling dingin yang pernah Sarah rasakan seumur hidupnya. Dan di kamar yang gelap gulita itu, ayahnya tiba-tiba muncul entah dari mana, dan langsung memeluk Sarah yang masih mungil dengan sangat erat.


Dekapannya sangat hangat dan menenangkan, dan itu menjadi salah satu dari sedikit hal baik yang pernah Sarah rasakan seumur hidupnya. Dan di malam itu pula, adalah kali terakhir Sarah mendapatkan sebuah pelukan.


“Ngomong-ngomong... Kau percaya nggak? Kalau mereka itu makhluk dari dunia lain?” Suara Kak Rizky seketika memecah bayang-bayang yang memenuhi pandangan Sarah.


Sarah sebenarnya hampir tidak mengenal pemuda itu. Dia bahkan baru dua atau tiga kali belanja di kedainya. Jadinya, percakapan ini terasa cukup aneh buatnya, mengingat dia sendiri bukan tipe orang yang pandai berbicara, apalagi dengan orang asing.


“Hmm... entahlah, Kak, aku juga bingung.” Jawab Sarah sambil menoleh ke belakang, memandang jalan raya yang semakin menjauh. “Terus? Kakak sendiri gimana? Aku nggak tahu, ya, Kakak ini cuma penasaran aja atau gimana, sampai-sampai mau mengikuti mereka sejauh ini.”


“Yah, gimana ya? Soalnya tadi itu benar-benar nggak beres banget loh. Mereka bahas soal perang, soal ramuan masa lalu, pusaka apalah, dan tentang mencabut nyawa orang lain. Benar-benar percakapan yang nggak wajar banget buat didengar.”


“Jadi...?” Sarah tidak terlalu mengerti.


“Aku butuh jawaban. Itu saja. Setidaknya untuk sekarang.” Kata Kak Rizky dengan wajah serius.


“Tapi, gimana dengan anak yang gemuk itu? Kakak kayaknya kenal dengan dia.”


“Ah, dia memang sering datang ke tempatku. Hampir tiap malam malah kami mengobrol, karena kayaknya dia nggak punya banyak teman cerita.” Rizky menjelaskan. Ia tampak seperti sedang marah. “Tapi tadi itu, untuk pertama kalinya, aku ngerasa kayak nggak kenal sama dia. Sama sekali nggak kenal.”


Sekarang Sarah mengerti alasan mengapa Kak Rizky sampai ikut ke sini. Jika seandainya saja pemuda itu tidak ada, pasti Kak Rizky mungkin tak akan peduli. Namun, lain cerita jika dia mengenalnya.


“Hey, yang di sana!”


Sahut seseorang dari arah belakang mereka. Dari suaranya, sepertinya  orang itu masih jauh tertinggal. Akan tetapi, betapa terkejutnya kedua orang itu ketika mendapati seseorang yang kini sudah berada tepat di depan mereka sewaktu mereka berbalik.


“Eh? Kalian berdua ini manusia?”

__ADS_1


Mata Sarah dan Kak Rizky seketika membuka lebar saat mendengar pertanyaan yang amat tak lazim itu. Apalagi orang yang mengatakannya ternyata hanya seorang bocah tujuh tahunan dengan rambut putih pendek, dan memiliki mata merah mengkilap bak darah.


Anak berwajah polos dan lugu itu juga mengenakan pakaian yang aneh, persis seperti bangsawan-bangsawan eropa jaman dulu. Tapi, yang paling terlihat ganjil dari penampilannya, adalah sebuah pedang besar yang tergantung di punggungnya. Ukuran pedang itu bahkan dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan bocah itu sendiri.


__ADS_2