![ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]](https://asset.asean.biz.id/alkisah---doa-untuk-dunia--1001-cerita-fantasi-indonesia-.webp)
Sesungguhnya, Diva memang tidak memiliki cacat otak apapun, tapi dia tentu saja dapat merasakan saat ingatan-ingatannya tentang sang sahabat perlahan lenyap begitu saja dari dalam benaknya. Kenangan-kenangan indahnya bersama Sella seakan telah direnggut dari dirinya secara paksa, dan Diva merasakannya. Rasanya sangat menyakitkan, tajam, dan gelap.
Untuk mengantisipasi hal itu, Diva akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku harian. Tiap detik yang dilaluinya bersama Sella akan ditaburkannya ke dalam bentuk tulisan, agar dia tidak lupa akan keberadaan sang sahabat.
Terkadang Diva beranggapan bahwa apa yang ditulisnya kemarin, terasa sangat sulit untuk diterima oleh akalnya tiap kali dia membaca ulang tulisan-tulisan itu di keesokan harinya. Namun, di sampul depan buku itu tertulis, “Semua ini adalah benar. Percayalah...?” dan anehnya tulisan itu adalah tulisan tangannya.
Diva mulai membalik lembar demi lembar dalam buku itu, dan mencari-cari kalimat-kalimat aneh yang sulit dicerna oleh logikanya sendiri. Bahkan, hanya dengan melihatnya sekilas, hampir tiap lembar ternyata memiliki paragraf-paragraf yang menyatakan suatu keajaiban atau keanehan.
“Ada banyak dunia dalam kehidupan ini. Dunia itu memang indah sekaligus mengerikan... Sella bekerja menjadi Pengawal seorang pedagang kaya yang menjual hewan-hewan... gaib? Sekaligus bekerja sebagai agen? di bawah pemerintahan Indonesia?” Bibir Diva komat-kamit seolah-olah dia sedang membaca mantra. “Sella mendapatkan kekuatan yang hebat dan menakjubkan dari pekerjaan itu, tapi bayaran atas kekuatan itu adalah... keberadaannya sendiri.”
Mata Diva menyipit sedih setelah membaca bagian yang satu itu.
“Semua ini memang tulisanku... Tapi, apa-apaan ini...” gumamnya tak percaya sembari menghela nafas berat, kemudian menutup buku bersampul kulit itu. “Untuk apa memiliki suatu kekuatan yang hebat, kalau akhirnya, tidak akan ada yang mengingatnya...?”
Di tengah malam itu, Diva tengah duduk santai sendirian di taman kota. Memang agak berisiko sebenarnya, karena ada banyak orang-orang jahat yang berkeliaran di waktu seperti ini. Belum lagi sosok Diva yang tampak lugu, juga hijab merah mudanya, serta kacamata yang menghiasi wajahnya, membuat dirinya terlihat sangat cantik sekaligus menjadikannya sebagai mangsa yang empuk di mata para orang-orang jahat.
Tapi, menurut buku ini, semua penjahat-penjahat yang sering beraksi di sini, ternyata mengenal Diva. Hampir semua penjahat di sini, pernah mencoba untuk berbuat jahat padanya. Namun, untung saja semua aksi mereka selalu berhasil digagalkan oleh Sella.
Orang-orang jahat itu berakhir dalam kondisi babak belur, atau yang paling parah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Tapi keesokan harinya, mereka tidak ingat siapa yang telah melukai mereka. Dan satu-satunya gambaran wajah yang ada di dalam ingatan mereka, adalah sosok Diva. Dan, ya, seharusnya itu sudah cukup untuk menjadi alasan agar mereka tak berbuat macam-macam lagi pada Diva.
“Hah... sudah dingin begini, Sella juga masih belum datang-datang, lagi.” Gumam Diva sambil mendongak menatap angkasa malam. Bintang-bintang berhamburan menghiasi langit dengan kelap-kelipnya yang terlihat berwarna-warni. Siapapun juga tidak akan bosan walau harus menunggu lama asalkan ada pemandangan semacam ini.
Meski Diva selalu menunggu hingga berjam-jam di sini, tapi anehnya, dia sama sekali tidak pernah marah pada Sella. Ya, mungkin saja karena dia memang seorang sahabat yang patut untuk ditunggu. Seseorang yang begitu berharga bagi Diva.
Waktu Diva mengamati pemandangan langit, tiba-tiba tampak segaris cahaya yang muncul di atas sana dan seakan membelah langit malam; itu sebuah bintang jatuh. Mata coklat Diva mengkilap saat melihat pemandangan yang agak langka itu. Namun, saat ini, masih ada satu hal yang sangat mengganggu benaknya, sehingga membuat pemandangan bintang jatuh itu seolah tidak berarti di mata Diva.
“Semua dongeng dan legenda hidup itu... hidup... ya?” Diva menggumamkan salah satu kalimat yang ada dalam buku itu, seraya menutup matanya rapat-rapat. Kalimat itu tadinya benar-benar sempat membuat Diva merasa bahwa dunia ini penuh akan kebohongan.
Sungguh aneh Dirinya menulis itu. Tapi, sekarang Diva paham maksudnya.
Diva membuka matanya, dan pada saat itu pula, dia kini mendapati pemandangan dunia malam yang sangat berbeda dari sebelumnya. Di mana sebelumnya hanya ada bintang-bintang, manusia, pepohonan, dan kegelapan yang suram, sekarang Diva dapat melihat banyak makhluk-makhluk aneh berterbangan di udara dan melompat jauh kesana kemari tanpa kesusahan.
“Wah...” mata Diva berbinar-binar takjub.
Ada gadis-gadis yang terbang menggunakan sapu di udara, bahkan ada beberapa siluet yang melompat dengan ringannya dari satu tiang listrik ke tiang tiang listrik lainnya. Ada juga peri-peri kecil yang memancarkan cahaya terang warna-warni dari tubuh mereka, dan ada sesosok reptil raksasa yang jelas-jelas adalah seekor naga yang baru saja melintas tepat di atasnya. Serta hantu-hantu menyeramkan yang sedang nongkrong di bawah pohon dan tengah berbincang. Semua itu benar-benar nyata.
“Inilah kenyataan dunia...” Dunia yang tadinya sangat biasa dan gelap, sekarang berubah menjadi ramai dan berkelap-kelip.
Namun, tiba-tiba, ada seorang pria asing yang berjalan menghampiri Diva sambil bersiul riang.
Diva memicingkan mata dan menatap lelaki bertampang penjahat itu lekat-lekat. Senyum pria baya itu sangat aneh, tapi, entah kenapa Diva malah memasang senyuman kecil di bibirnya.
“Wah-wah... nggak baik, lho, perempuan duduk sendirian di sini tengah malam begini.” Ujar pria itu dengan nada menggoda yang terdengar menjijikkan, sembari bersandar di pohon di samping tempat duduk Diva. Pria itu menarik sebungkus rokok dari kantongnya, dan mengambil satu batang rokok yang kemudian diselipkan di bibirnya.
Diva memandang berkeliling sejenak. Hampir semua orang yang kala itu sedang nongkrong di sana, tiba-tiba beranjak pergi dan tampak ketakutan saat melihat pria itu mendekat dengan Diva.
“Lihat mereka.” Kata pria itu, terdengar agak tak jelas, karena rokoknya masih terselip di antara bibirnya. “Hah... Syukurlah. Mereka sepertinya sudah paham, dan bersedia memberikan waktu untuk kita.” Pria itu terkekeh-kekeh. Dia mungkin beranggapan, bahwa rencana jahat yang telah ia siapkan untuk Diva mungkin pasti berjalan mulus malam ini.
“Ya, tentu saja begitu.” Kata Diva dengan nada bercanda. Dia masih terlihat santai, dan senyumnya juga malah makin lebar.
Mata Diva agak sedikit melebar saat melihat pria itu merogoh kantong belakangnya. Sempat Diva berpikir kalau lelaki itu mungkin menyembunyikan pisau di situ, tapi untungnya, yang diambil pria itu dari kantongnya ternyata bukanlah barang yang berbahaya—itu hanya sebuah pemantik.
Akan tetapi, baru saja pria itu berniat menyalakan pemantiknya, semua lampu di sana tiba-tiba saja padam. “Lho, mati lampu mendadak begini?” pria itu memandang berkeliling dengan heran.
Diva mendongak lagi menatap angkasa. Semuanya menjadi gelap gulita, bahkan sinar rembulan juga terhalangi oleh awan-awan yang kini menggumpal di atas sana. Tapi, anehnya mata Diva sudah tak lagi mendapati kenyataan dunia yang tadi. Matanya telah tertutup kembali.
Seharusnya ini merupakan situasi buruk bagi Diva. Tapi, tetap saja, dia tak beranjak dari tempatnya dan tetap tersenyum.
“Kenapa lama sekali, Sella?” Tanya Diva entah pada siapa.
“Hah? Kamu bicara sama siapa, cantik?” pria itu tengah berusaha untuk menyalakan pemantiknya. “Tapi terserahlah... Keadaan semakin membaik saja, bukan? Seolah-olah, yang di atas sana juga merestui hubungan yang akan kita jalin... sebentar lagi.” Pria itu kembali terkekeh-kekeh dan kesannya juga semakin menjijikkan.
Namun, akhirnya sesuatu yang ganjil tiba-tiba terjadi.
__ADS_1
Saat pemantik pria bejat itu akhirnya menyala dan menghasilkan api kecil, tiba-tiba saja, mata pria itu membuka sangat lebar, dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
Entah bagaimana bisa gadis berambut perak, panjang nan lebat itu tiba-tiba muncul di depannya begitu saja. Seakan-akan sedari tadi, gadis itu memang bersembunyi di dalam kegelapan.
Dialah Sella, sahabat Diva sejak kecil—menurut buku ini, tentu saja.
“Si-siapa kamu...?” tanya pria itu ragu-ragu sekaligus takut.
“Diva tidak suka asap rokok.” Jawab Sella sambil mengangkat tangan kirinya. Dari postur itu, dia sepertinya berniat untuk menampar pria itu. “Apa anda tahu? Dari tadi, suara anda itu terdengar sangat menjijikkan di telinga saya.” Sella langsung menampar pipi kiri pria itu, yang seketika membuatnya terhempas jauh sampai—duar! menabrak sebuah pohon hingga tumbang. Dan tak lama kemudian, listrik pun kembali menyala.
Daripada disebut tamparan, serangan Sella barusan itu malah dapat disamakan dengan tembakkan mobil baja yang biasa digunakan untuk peperangan.
Diva agak keheranan saat melihat sosok Sella, karena dia saat ini mengenakan gaun pengantin putih berenda dengan corak-corak berbentuk bunga mawar berwarna hitam. Namun, Diva tahu tatapannya barusan agak aneh, jadi dia menggeleng dan menyunggingkan senyuman kecil.
Sella tersenyum kecil kemudian duduk di samping Diva. “Nggak apa-apa, kok, kalau kau melihatku seperti itu, asalkan itu kamu, Div.” Katanya. “Ngomong-ngomong, maaf aku terlambat, soalnya tadi ada pekerjaan mendadak.” Jelasnya sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Diva. Rambut peraknya terasa sangat halus.
Entah kenapa rasanya sangat aneh, seakan-akan ini adalah kali pertama Diva bertatap muka dengan Sella. Tapi kenyataannya, Sella tetaplah sahabatnya. Walau Diva sangat kesulitan menemukan sosok Sella di dalam memorinya, tapi tubuh dan hatinya tetap mengenal Sella.
Diva juga menyandarkan kepalanya ke kepala Sella. “Nggak apa-apa, kok, yang penting, sih, kamu sudah datang.” Jawab Diva sambil memasang senyum penuh arti. “Tapi, apa nggak berlebihan, memukul laki-laki tadi sampai segitunya?”
“Ya, aku yakin dia nggak apa-apa.” Jawab Sella yang tampak mengantuk dan lelah. “Hah... aku rindu kamarmu, Div.” Gumamnya.
Diva tertawa pelan mendengar keluh kesah sang sahabat. Ya, walau dia tidak memasang mimik apapun di wajahnya, tapi hati Diva tahu bagaimana sikap Sella saat sedang ada masalah.
“Hmm... Kamarku itu sempit lho.” Diva berusaha mengingat-ingat kapan dia sekamar dengan Sella. Tapi sepertinya, mustahil untuk mendapatkan ingatan itu.
“Sempit sih, iya. Tapi... Ranjangmu yang keras itu benar-benar terasa nyaman buatku.” Sella terkekeh. “Juga bantal-bantal punyamu yang telah terkena tanda-tandaku... Aku rindu bantal-bantal itu.”
“Hah? Tanda? Jadi, semua iler yang ada di bantal-bantal itu punyamu!?” pekik Diva karena saking terkejutnya akan kenyataan itu. Pagi tadi—atau bahkan mungkin di pagi-pagi yang sebelumnya—saat merapikan ranjangnya, Diva sempat keheranan karena ada iler di bantalnya. Tapi, akhirnya, karena tidak ingat apapun, Diva berspekulasi bahwa iler-iler itu adalah miliknya.
Sella tersentak saat menyadari kebodohannya sendiri. “Hmm... aduh, harusnya aku nggak bicara.”
Tawa Diva dan Sella mendadak meledak memecah kesunyian malam kala itu.
“Jadi, bagaimana pekerjaanmu?” Entah kenapa pertanyaan itu yang pertama terlintas di benak Diva.
“Hmm... Bukannya di bukumu tertulis agar tidak membahas tentang pekerjaanku saat kita sedang bersama?” Sella terlihat sangat nyaman bersandar di pundak Diva. Dia bahkan terlihat hampir tertidur di situ. “Tapi, ya... pekerjaanku hari ini, baik-baik saja, kok. Dan ngomong-ngomong, barusan aku sudah mengirim bagianmu ke rekeningmu.”
“Ah, iya! Aku mau bertanya.” Diva bangkit secepat kilat, hingga membuat Sella tersentak. “U-u-uang di rekeningku! Untuk apa uang sebanyak itu!? aku bahkan bisa membeli sebuah negara dengan uang sebanyak itu!”
“Baca saja di bukumu—“ Sella berhenti berkata-kata kala menyadari Diva tengah memelototinya sekarang.
“Itu tidak ada bukuku! Astaga!” Teriak Diva panik.
“Tapi, Div, biasanya, kalau orang punya banyak uang, harusnya senang, dong. Bukannya malah kesurupan kayak begitu.” Cibir Sella.
“Serius, dong.” Diva memohon. Dia berlutut di depan Sella serta memeluknya, dan membenamkan wajahnya di rok Sella yang luar biasa besar dan tebal, kemudian menjerit histeris sekeras mungkin dengan suara yang teredam. “A-aku tahu gajimu sangat-sangat besar dari pekerjaanmu! Tapi di bukuku tidak dijelaskan kenapa kamu memberikan setengah dari gajimu kepadaku! KENAPA!”
Sella tak dapat menahan senyumnya melihat tingkah bodoh Diva.
“Diva,” bisik Sella lembut.
“Hmm?” Diva mengangkat wajah dan bertukar pandang dengan mata Sella.
“Makan di sari laut, yuk. Soalnya aku sudah lapar banget.” Ujar Sella sambil menyunggingkan senyuman manis.
Namun, Diva merasa amat kesakitan begitu melihat senyum yang terbentuk di bibir Sella. Senyumnya memang tampak manis dan tulus, seolah-olah dia terlihat sangat bahagia. Walau pada kenyataannya, senyum Sella sebenarnya telah lama mati, dan tak bermakna apa-apa—itu hanyalah senyum palsu yang penuh kehampaan. Tapi, Diva tak mau berlama-lama terpuruk dalam pemikiran itu. Untuk saat ini, satu-satunya yang harus dilakukannya adalah membuat Sella merasa senang.
“Hmm... ya sudah, ayo! Kebetulan juga aku belum makan!” Diva bangkit secepat yang dia bisa, seraya menarik Sella untuk beranjak dari tempat duduk. Sekaligus berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya. “Jadi, kita mau makan di mana—“
“Awas.” Bisik Sella.
“Eh? Kenapa?”
__ADS_1
Dalam sekejap mata, Sella tiba-tiba saja sudah berada di belakang Diva. Entah bagaimana bisa dia melakukannya, tapi Diva tak mau dan tak ingin tahu tentang kekuatan anehnya itu. Namun, mata Diva membuka semakin lebar kala melihat sebuah pedang putih berukuran jumbo yang digenggam oleh Sella, kemudian ia perlahan mengangkat pedang itu tinggi ke atas dengan tangan kanannya, seolah-olah dia berniat untuk memotong sesuatu dengan itu.
“Tunggu... Apa yang mau kamu lakukan dengan itu?” Tanya Diva heran.
“Sepertinya... ada sesuatu yang mengejarku.” Bisik Sella seraya mengayunkan pedangnya ke depan yang seketika membuat angin di sekitar mereka mengamuk tak karuan, sampai-sampai debu-debu berhamburan dengan liar memenuhi udara.
“Hey! hey! hey! Apa lagi ini!?” Diva yang panik langsung menguatkan pijakannya agar tidak terhempas. Dia amat sangat terkejut dengan kemunculan angin kencang ini, yang ternyata berasal dari ayunan pedang Sella. Benar-benar luar biasa mengagumkan sekaligus aneh.
Di saat angin sudah berhenti mengamuk dan debu-debu juga berhenti berterbangan, Diva akhirnya bisa melihat apa yang sebenarnya diserang oleh Sella tadi.
Kini ada seekor makhluk seukuran bus bertampang menyeramkan yang tengah berdiri di hadapan mereka. Sosok itu adalah seekor serigala. Namun, anehnya serigala itu memiliki bola mata yang memancarkan warna hijau menyala, dan dia juga tampak sangat marah, sampai-sampai air liurnya mengalir deras melalui sela-sela gigi-giginya yang tajam.
“Eh... Sella, Apa itu—”
“Bukan. Makhluk ini sudah bukan hewan gaib lagi.” Tukas Sella. “Serigala ini sudah tercemar oleh dosa.” Pandangan mata Sella yang tajam tertuju pada serigala itu, sementara pedangnya teracung ke depan.
“Dosa? Maksudnya?” Diva langsung terpikirkan hal-hal aneh saat mendengar kata itu.
“Dosa manusia.” Jelas Diva. “Hewan-hewan gaib itu menjadi rusak karena tercemar oleh dosa.”
“Tapi... Aku masih nggak terlalu mengerti... “ Jawab Diva. Dari air mukanya terlihat jelas kalau ia sedang berkutat dalam benaknya.
“Ya, sudah kuduga...” Jawab Sella tak acuh.
“Heh!” Pekik Diva jengkel.
“Nggak usah dipikirin, ah, Div.” Kata Sella sambil menyunggingkan senyuman kecil. “Yang penting kamu nggak boleh lupa, kalau kita itu sahabat sampai mati. Oke?”
“Hmm... baiklah...” Jawab Diva yang ikut tersenyum.
Dalam sekejap mata Sella lenyap lagi dari pandangan, hingga membuat lantai tempatnya berpijak tadi hancur, dan bagaikan kilat, dia kini sudah muncul lagi di atas si serigala, dan langsung menerjang dengan pedangnya.
Akan tetapi, serigala itu berhasil menghindar dengan melompat cepat ke belakang. Sementara itu, jalanan di taman kota ini malah sudah hampir tidak berbentuk lagi akibat serangan pedang Sella yang barusan.
Namun, entah kenapa serigala itu sekarang mulai mengerang kesakitan, padahal Diva melihat dengan jelas kalau serigala itu berhasil mengelak sebelum terkena serangan Sella. Tapi, tak lama kemudian, Diva tersadar kala melihat kuping sebelah kanan si serigala yang tiba-tiba saja jatuh ke lantai, dan perlahan melebur menjadi debu-debu cahaya.
Diva kembali dibuat bingung. Dia bersumpah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau serigala itu tidak terkena serangan apapun. Tapi, bagaimana bisa kuping serigala itu tiba-tiba copot?
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Diva. Dengan kekuatan seperti itu, Sella mungkin bisa saja menghancurkan kota ini dengan mudah, tanpa harus mengeluarkan setetes keringat.
Ya, Diva sempat membacanya di halaman ke lima puluh tujuh di bukunya. Kekuatan yang Sella dapatkan dari pekerjaannya, ialah kekuatan itu sendiri. Di situ tertulis, kalau Sella memiliki hak atas kekuatan, dan menjadi tuan dari kekuatan. Berdasarkan penjelasan itu, Diva hampir tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuatan Sella yang sebenarnya.
“Kumohon, Div, kamu ingat, kan? apa yang aku katakan tadi.” Tanya Sella tiba-tiba.
Pemikiran Diva langsung berhenti seketika saat mendengar perkataannya. Seolah-olah, Sella berharap agar Diva tidak berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.
Ingin rasanya Diva menampar pipinya sendiri sekeras mungkin karena sudah memikirkan hal-hal yang buruk itu. Tapi, apa daya, Diva sudah terlanjur membayangkannya. Jadi, untuk menebus kesalahannya, Diva akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan Sella. Dia mencengkeram erat tali tas sampirnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Ya, kita adalah sahabat, sampai maut memisahkan.”
“Nah, kalau begitu, Diva pergi saja dulu cari warung makan yang bagus.” Ujar Sella sambil melompat keluar dari lubang besar yang tercipta dari serangannya tadi. Gadis berambut perak itu tetap berdiri kokoh, sementara pedangnya kembali ia arahkan ke arah si serigala.
“Tapi, kamu jangan lama-lama. Cepat lakukan apa yang mau kamu lakukan kepada serigala itu. Aku juga sudah mulai lapar, soalnya.”
“Iya, iya, kamu tenang saja. Nggak bakalan lama, kok.” Ungkap Sella.
Diiringi suara dentuman keras yang membahana, Diva akhirnya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, senyuman yang tadinya terbentuk di bibirnya kini perlahan mulai luntur. Dia memang bahagia, karena bertemu dengan sahabat sejatinya, tapi, Diva juga merasa sangat kesakitan karena kenyataan yang masih membelenggunya.
“Aku akan berusaha...” Diva mengungkapkan kata-kata yang timbul dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. “Aku berjanji tidak akan melupakanmu, Sella.”
Akan tetapi, walau Diva sudah bertekad untuk tidak melupakan Sella, tapi sayang, di keesokan harinya, Diva terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang hampa.
Diva yang masih duduk di atas ranjang sedang melamun dan menatap kosong pada jendela yang tergantung di dinding. Pancaran sinar mentari terlihat jelas di balik jendela itu. Namun, di pagi yang cerah ini, anehnya Diva malah merasa sangat suram. Dia merasa telah kehilangan sesuatu dan itu membuatnya kesal.
Tiba-tiba, mata Diva tanpa sadar bergerak sendiri memandang ke arah sebuah buku yang tergeletak di sampingnya. Kemudian tangan Diva dengan perlahan mulai menggapai buku itu, lalu setelah mendapatkannya, Diva langsung kembali berbaring sambil mengurung buku itu ke dalam dekapannya yang erat.
__ADS_1
“Hari ini aku ada jadwal kuliah apa nggak, ya?”