ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH/ Sekte: Kesempatan Kedua Bagi Yang Tersesat


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang dari Medan sampai ke Kota Kendari di Sulawesi Tenggara ini, Akhirnya Asta pun telah tiba di tempat tujuannya tanpa kekurangan apapun. Namun anehnya, pemuda itu bisa merasakan sesuatu yang amat ganjil ketika ia menapakkan kakinya memasuki halaman panti asuhan itu. Hanya dengan satu langkah pertamanya saja, Asta langsung merasa seperti terlempar ke dunia yang berbeda.


“Hmm... Itu aneh banget.” Pemuda itu tanpa sadar meraba dada kirinya yang sebenarnya tidak kenapa-napa. Ia hanya sedikit bingung dengan suasana di sekelilingnya. Rasanya sedikit ganjil.


Matanya yang ungu seolah menyala sewaktu mengarahkan pandangannya ke depan.


Di hadapannya saat ini terbentang halaman yang sangat luas dan bisa dibilang cukup indah, yang dihiasi oleh beberapa pepohonan rimbun, serta bebungaan yang tertata rapi. Sedangkan jauh di depan sana, di ujung jalan setapak itu, berdiri kokoh sebuah rumah besar berwarna putih dan agak kusam, tapi tampak sedikit menyeramkan, tentu saja.


Asta menoleh sedikit ke belakang, memandang sebuah kotak surat kecil yang berdiri di dekat gerbang, dan di situ tertera jelas suatu nama yang ditulis indah menggunakan tinta keemasan.


“Ini benar panti asuhan Lawang Sewu, kan, ya?” Asta bertanya pada dirinya sendiri sembari kembali mengarahkan pandangannya ke depan, dan mencoba mencari-cari sesuatu. “Tapi, kok, sepi banget, ya? Anak-anak pantinya pada kemana coba?” Gumamnya pelan sebelum ia melangkahkan kakinya untuk yang kedua kalinya.


Pemuda berpakaian serba hitam itu akhirnya mulai berjalan menuju ke arah rumah besar itu tanpa keraguan, namun membawa serta rasa hampa yang ganjil dalam dirinya. Suara deru angin sepoy dan gemericik dedaunan menemaninya dalam perjalanan. Sungguh, tempat ini sangat senyap, mengingat lokasi panti pun berada jauh di pedalaman.


“Hmm... Tempat ini bukannya terlalu besar untuk tiga belas orang?” Asta bergumam. Berdasarkan surel yang diterimanya beberapa waktu lalu, dijelaskan bahwa hanya ada dua belas orang yang tinggal di sini. Sepuluh anak panti, dan dua pengurus. Ditambah Asta, jadi jumlahnya ada tiga belas penghuni.


Tak butuh waktu lama, Pemuda itu akhirnya tiba di depan pintu utama panti. Tapi anehnya dia masih tak mendengar suara apapun selain suara dari alam di sekitarnya.


Akan tetapi, itu tetap tak menghentikan niatnya. Dia sudah sampai sejauh ini, jadi jelas tak mungkin lagi baginya untuk kembali. Toh, mau bagaimanapun situasinya, dia harus bisa masuk ke dalam panti ini, agar ia bisa mengumpulkan tumbal untuk sekte mengerikan itu.


“Ehm, selamat pagi?” Asta mengetuk pintu itu sekali, dan seketika itu juga pintu itu langsung terbuka lebar, sampai-sampai membuat Asta terkejut setengah mati. “Eh, buset...”


Seorang pemuda bertubuh agak gemuk yang mungkin seumuran dengan Asta muncul dari balik pintu. Namun, Asta sempat terdiam ketika bertukar pandangan dengan orang itu. Warna matanya sama persis seperti lelehan emas cair yang mengkilap. Walau Asta tidak tahu warna matanya asli atau tidak, tapi itu benar-benar indah.


“Eh? Mas siapa?” Tanya pemuda itu tiba-tiba.


“A-ah, maaf, saya Asta Wijaksono. Saya orang yang melamar untuk bekerja di sini minggu lalu.” Jawab Asta dengan sopan.


“Ah, jadi itu kamu, ya?” Pemuda itu menatap Asta dari ujung kaki hingga kembali ke wajah. “Ya sudah, biar kuantar ke kamarmu.” Katanya sambil memberi isyarat pada Asta agar mengikutinya. “Anak-anak sedang berada di kebun belakang, Kalau jam segini, mereka memang masih sibuk mengurus tanaman mereka.”

__ADS_1


“Oh, pantas saja.” Akhirnya satu pertanyaan sudah terjawab.


Sesaat setelah dia masuk ke dalam bangunan itu, Asta langsung sadar akan betapa megahnya tempat ini. Memang dari luar panti ini terlihat kumuh dan biasa-biasa saja, tapi di dalamnya, adalah dunia yang sangat berbeda. Bahkan, pemandangan di dalam rumah ini membuat Asta teringat dengan hotel-hotel mewah di Medan.


“Ngomong-ngomong, tempatnya asyik juga, ya?” Asta angkat bicara.


“Ya, begitulah.” Pemuda itu menjelaskan. “Aku ingin anak-anak bisa menikmati hidup dan masa kecil mereka tanpa kekurangan apapun, makanya aku memastikan untuk menyediakan yang terbaik buat mereka. Entah itu mainan, atau fasilitas keperluan hobi mereka. Termasuk meja billiard di sana, tentu.” Ia menambahkan sambil tersenyum kecil setelah menyadari kalau Asta sedari tadi memandangi meja billiard itu.


Entah Asta yang salah dengar, atau memang pemuda ini tadi bilang kalau ia yang menyediakan semua barang-barang ini pada anak-anak panti.


“Oh, iya, jam berapa Mas tiba di Kendari?” Tanya pemuda itu lagi.


“Eh? Kalau nggak salah sekitaran jam tujuh.” Jawab Asta yang masih sedikit heran dengan pemuda itu. “Oh, iya, anda ini siapa, ya, kalau boleh tahu?”


“Eh, aku belum bilang, ya? Perkenalkan, saya Gamaliel Emmanuel Christian. Biasa dipanggil Liel, dan aku bisa dibilang adalah penasehat di sini. Soalnya Ibu Kepala panti itu sahabat lamaku.” Jelasnya.


“Sahabat...?” Entah kenapa cara pemuda itu mengatakannya terdengar aneh.


“Jadi, coba ceritakan padaku, kenapa kamu melamar kesini?” Tanya Liel untuk yang kesekian kalinya. “Apakah itu karena uangnya? Atau karena sesuatu yang lain?”


Asta sadar, kalau pertanyaan ini bisa jadi adalah sebuah ujian untuknya.


“Ah, kalau mau jujur, jawabannya sebenarnya sangat sederhana.” Asta sudah berlatih untuk ini. “Yang mendorong saya untuk bekerja di sini adalah, rasa kemanusiaan. Saya mengerti bagaimana rasanya ditelantarkan, dikucilkan, dan dianggap seolah-olah tidak ada di dunia ini. Tapi, itu jelas masih sebatas perasaan saja. Berbeda dengan anak-anak di sini yang memang sudah mengalaminya sendiri. Mereka dibuang, ditelantarkan, dan orang-orang yang seharusnya menyayangi mereka, malah berharap mereka tidak pernah dilahirkan. Bukannya itu terlalu kejam?”


“Hmm, kamu kayaknya sudah berlatih keras, kan?” Pernyataan Liel langsung menusuk jantung Asta bak pedang yang amat tajam. Tapi, dia sama sekali tak bisa berkata-kata karena panik. Apakah dia hanya menerka-nerka?


“Aku sudah membaca data-datamu, kok. Aku tahu kalau kau sudah pernah ditolak dari tiga puluh enam pekerjaan, dan kalau bukan karena berkas-berkas palsu yang kau kirimkan minggu kemarin, aku juga sudah pasti akan menolakmu. Dan itu artinya kau sudah ditolak tiga puluh tujuh kali. Terus, hubunganmu dengan keluargamu dan teman-temanmu juga sangat buruk. Bisa dibilang terlalu buruk malah.” Ungkap Liel dengan santai.


Namun Asta tetap tak bisa merespon. Matanya terbuka lebar, rahangnya mengatup rapat karena berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


“Begini. Panti, adalah tempat bagi mereka yang terbuang. Entah itu dibuang oleh keluarga, dibuang oleh lingkungan, atau bahkan dibuang oleh dunia itu sendiri. Tempat ini, adalah tempat bagi mereka yang ingin memulai kehidupan kedua tanpa harus mati terlebih dahulu.” Kesan ramah dari suara Liel bertukar menjadi dingin dan menusuk. “Jadi, coba beritahu aku, siapa yang membuangmu ke sini?”


“Ah... Anu... “ Asta masih tak tahu harus menjawab apa lagi.


“Kau selalu ditolak, ya, kan? Tapi, kau bahkan tidak benar-benar tahu siapa yang menelantarkanmu. Dunia ini... memang sangatlah kejam, tapi, kuakui kau hebat karena berhasil bertahan sejauh ini.” Katanya pelan.


Walau Asta terlihat tenang, tapi keringat dinginnya bercucuran di sekujur tubuhnya.


“Tak banyak orang di dunia ini yang diberikan kesempatan kedua. Jadi pilihlah dengan bijak.”Langkah kaki pemuda bermata emas tiba-tiba berhenti. Ia kemudian membuka pintu di kiri lalu berkata, “Ini kamarmu. Nanti jam sebelas datanglah ke ruang bersantai, dan akan aku perkenalkan kamu kepada anak-anak. Rostia juga baru pulang jam sembilan malam nanti.” Tanpa berbasa-basi lebih banyak, Liel pun pergi meninggalkan Asta sendirian di ambang pintu kamarnya.


“Oh, aku juga akan menyita Pusaka ini. Ilmu hitam tidak diperkenankan di sini.” Sahut Liel dari kejauhan sambil mengangkat sebuah kalung hitam dengan hiasan yang berbentuk seperti ular.


Mata Asta membuka semakin lebar saat melihat apa yang baru saja terjadi. Itu benar-benar tidak masuk akal. Tidak, sejak ia masuk ke bangunan ini, memang sudah tak ada lagi yang masuk akal. Kalung itu selalu tergantung di leher Asta. Jadi, bagaimana bisa sekarang itu berakhir di tangan Liel?


Asta terdiam di ambang pintu cukup lama. Dia sangat-sangat bingung dengan situasinya saat ini. Tapi, akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu, lalu berbaring di atas ranjang empuk yang sudah disediakan.


“Apa yang sebenarnya terjadi... “ Dia berbisik pelan. “Masa, sih, orang kayak dia punya kekuatan juga? Dan lagi, kekuatan macam apa itu?”


“Apapun pilihanmu, aku akan mengikutimu.” Ujar satu suara wanita yang tiba-tiba muncul dari sampingnya. Suara itu keluar dari bibir seekor makhluk bercahaya ungu gelap nan pekat yang berbentuk persis menyerupai ular berukuran besar.


Namun Asta tidak mengindahkan perkataan ular itu, dia masih membenamkan mukanya ke ranjang karena merasa lelah tanpa alasan yang jelas.


“Entah itu mengikuti sekte, atau memulai hidup baru seperti yang dikatakan pemuda tadi, aku akan tetap bersamamu.” Ujar ular itu lagi. “Toh, kamu juga sangat ingin bekerja, kan? Bukannya ini kesempatan yang bagus? Kamu bisa bekerja seperti orang normal pada umumnya, tanpa harus terjebak dengan hal-hal yang tak jelas seperti itu.”


“Hah... “ Asta menghela nafas dalam, lalu bangkit dan mengambil posisi duduk. Dia lalu memandang ular itu dengan tatapan yang lemah. “Masa, sih, aku harus meninggalkan sekte? Maksudku, tanpa mereka, kamu mungkin nggak akan pernah ada, lho, Niff.” Suara Asta melunak. “Kamu itu sudah kuanggap kayak kakakku, lho...”


“Namun, kita sekarang sudah ada di sini, kan?” Ular itu bergerak pelan dan naik ke punggung Asta. “Tak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kamu hanya perlu memilih ingin hidup seperti apa. Gampang, kok. Aku juga nggak akan kemana-mana.” Ungkap si ular.


Asta sama sekali tidak mengerti, kenapa kata-kata Liel yang tadi masih terbayang dalam pikirannya. Padahal, penjelasannya bisa dibilang sederhana, tapi, kenapa Asta bisa merasa goyah sampai seperti ini?

__ADS_1


“Kesempatan kedua...” Pemuda itu bergumam lagi.


Meskipun Asta sadar bahwa dirinya tidak layak, akan tetapi, dia harus memilih.


__ADS_2