![ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]](https://asset.asean.biz.id/alkisah---doa-untuk-dunia--1001-cerita-fantasi-indonesia-.webp)
Kebenaran pahit adalah monster yang nyata di dunia ini.
Zeal hidup hanya untuk satu hal, yaitu; uang. Dia membutuhkan banyak uang untuk menghidupi ketiga adiknya. Meskipun ia harus terjun ke dalam jurang yang amat gelap dan penuh dengan kedengkian, dia tidak peduli, asalkan dia tetap mendapatkan uang.
Segala cara dihalalkannya demi mendapatkan uang, termasuk mencuri, bahkan menjual barang-barang terlarang. Dan dari segala jenis pekerjaan jahat yang ada di dunia ini, yang paling banyak menghasilkan uang ialah dengan menjadi pembunuh bayaran. Dan, ya, Zeal adalah pembunuh yang andal. Walaupun itu adalah dosa besar, dia tidak peduli, asalkan ketiga adiknya bisa hidup berkecukupan.
Di Indonesia sendiri, membunuh merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kebetulan juga pihak keamanan negara pun belum memiliki teknologi yang cukup dalam memecahkan kasus pembunuhan yang rumit dan tidak wajar.
Zeal memiliki banyak hal yang dapat digunakannyadalam menjalankan pekerjaannya. Segala kebiasaan yang telah ditingkatkan melalui latihan jangka panjang, seperti berjalan, meraba, bernafas, melihat, bahkan mendengar—semua hal-hal biasa itu baginya adalah senjata yang mematikan.
Langkahnya seringan angin. Nafasnya setenang lembah kelam. Sentuhannya sehalus sutra. Tatapannya bahkan mampu menembus dan membaca isi hati orang lain. Juga telinganya yang tajam, mengubahnya menjadi predator yang berbahaya.
Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dia memang pembunuh profesional.
Namun, saat ini dirinya sama sekali tidak dapat berkutik. Walaupun dengan segala kemampuan yang ia miliki, percuma saja, karena sekarang dia benar-benar sudah terpojok. Bahkan tak ada celah kecil dimana pun.
Nafas remaja kurus berpakaian serba hitam dan ketat itu terengah hebat. Rambut gondrongnya terlihat basah karena bermandikan keringat. Sementara matanya yang hitam bak kegelapan malam, masih terpaku pada satu titik jauh di depannya. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya membuka sangat lebar tiap kali mendengar suara-suara dari balik pintu di ujung lorong itu.
Zeal tak dapat pergi kemanapun lagi sekarang. Polisi sudah menjebaknya agar masuk ke dalam rumah yang terisolasi ini. Benar-benar hari yang buruk. Dia tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini.
"Menyerahlah!" sahut suara dari balik pintu itu. "Rumah itu tak lebih dari kandang khusus untukmu yang telah kami persiapkan dari jauh hari untuk menangkapmu!"
Zeal menyeringai tipis sambil menyeka keringat di dahi. "Sialan. Kesabaran mereka pasti sudah habis. Sampai-sampai membuat jebakan seperti ini buatku." Ya, tentu saja begitu, apalagi Zeal adalah satu-satunya pembunuh di indonesia yang sudah membunuh seratus tiga puluh orang.
Tangan kanannya menggapai sesuatu di belakang pinggangnya; sebuah sarung untuk senjata tajam berukuran kecil. Tapi sayangnya, tak ada apapun di situ. "Hah... benar-benar hari yang penuh kesialan." Gumamnya lagi. "Bisa-bisanya pisau itu jatuh!" Dia masih tak menyangka, karena telah menjatuhkan belatinya—satu-satunya senjata yang ia miliki.
Tidak ada penyesalan. Zeal terus mengulang kalimat itu dalam benaknya. Tapi, disaat itu juga, ia tengah memikirkan ketiga adiknya di gubuk yang mungkin sedang menunggunya pulang saat ini.
Zeal menyipitkan mata. Dia berusaha untuk santai dan tidak terlalu tegang. Namun, bibirnya yang membentuk senyuman tetap tak berhenti bergetar, karena mungkin saja hari ini, dia tidak akan pulang ke rumah, dan tidak akan menemani ketiga adiknya untuk menyikat gigi lagi.
"SUDAHLAH! LANGSUNG SAJA TEROBOS MASUK!" Seru suara dari luar.
Seketika, karena panik, Zeal memasang kuda-kuda saat mendengar sahutan itu. Dia bersiap-siap untuk menerjang ke arah pintu, dan berharap menemukan kesempatan untuk melarikan diri dari serbuan peluru.
Akan tetapi, suatu hal yang amat mengejutkan terjadi. Pintu itu didobrak dengan cara yang tidak biasa. Entah apa yang membuat pintu itu sampai tiba-tiba terhempas ke arah Zeal begitu saja dengan sangat cepat. Tapi, untung refleks Zeal yang luar biasa, mampu membuat dirinya menghindari terjangan pintu itu dengan mudah—dia langsung membungkuk.
"Apa-apaan!" Walau begitu, dia tentu saja terkejut. Pintu itu terhempas seolah-olah baru saja diserang oleh sesuatu yang sangat besar seperti tank.
Namun, Zeal baru saja membuat kesalahan yang amat besar. Dia melewatkan kesempatan untuk melarikan diri, karena terlalu terpaku pada kejadian barusan. Tapi, saat Zeal bangkit, dia kembali dikejutkan oleh pemandangan aneh.
Ada seorang gadis yang berdiri di ujung sana. Rambut peraknya yang panjang dan lebat, ditambah oleh matanya yang sebiru langit cerah, juga pedang raksasa yang ditancapkannya di lantai, membuat gadis yang mengenakan semacam gaun pengantin putih itu, terlihat amat mengerikan. Wajahnya yang kosong bahkan berhasil membuat Zeal keringat dingin.
"Ke mana semua polisinya..." gumam Zeal sambil menilik gadis itu. Benar-benar pemandangan yang tidak masuk di akal sebenarnya. Gadis itu tampak normal dan sepertinya dia masih berusia delapan belasan, tapi anehnya, dia datang ke sini sambil mengenakan gaun pengantin, juga membawa pedang besar yang gila. "Apa dia baru saja kabur dari pernikahannya?"
"Zeal Longres, pelaku dari pembunuhan berantai di kota seluruh Indonesia." Ujar gadis itu tiba-tiba. Suaranya datar dipadu wajahnya yang kosong terkesan membuatnya terdengar makin aneh.
"Eh? K-kau siapa?" tanya Zeal ragu-ragu. Pasalnya, gadis ini benar-benar aneh. Zeal sering bermain game, jadi dia tahu bagaimana sosok karakter-karakter fiksi berkekuatan tak masuk akal dalam dunia game. Dan gadis ini benar-benar terlihat seperti karakter fiksi. "Walaupun kau gadis, aku tidak akan segan-segan." Kata Zeal dingin seraya menelan ludah.
Gadis itu mencabut pedangnya dari lantai, seolah itu bukan apa-apa. Padahal tangannya sendiri sangatlah kurus dibanding bilah pedang yang diangkatnya. "Jumlah korban, seratus tiga puluh jiwa. Dan hukuman yang dijatuhkan dari pemerintah adalah, hukuman mati." Jelasnya sambil mengacungkan pedangnya ke arah Zeal.
"Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sini, tapi, maafkan aku, karena aku tidak bisa membiarkan satupun saksi untuk hidup." Gumam Zeal sambil memikirkan suatu cara untuk membunuh gadis luar biasa aneh ini. "Ya, cara satu-satunya adalah dengan memutar lehernya." Bisiknya.
__ADS_1
Zeal memantapkan pijakannya, kemudian dengan satu tarikan nafas, dia dengan sangat cepat melesat lurus menuju ke arah si gadis.
Gadis itu tiba-tiba mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menebas ke depan.
Zeal menyeringai. Walau gadis itu kelihatan menakutkan, tapi Zeal yakin, dia pasti hanya seorang amatir. Memangnya orang gila macam apa yang datang ke tempat seperti ini mengenakan gaun pengantin?
Zeal terus membatin seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan ini. Zeal bisa saja menyerangnya dari depan, tapi pedang itu benar-benar berhasil membuatku merinding. "Baiklah kalau begitu!"
Di mata Zeal, waktu seakan-akan berjalan sangat lambat, seiring dengan degup jantungnya yang semakin cepat.
Saat Zeal sudah berada cukup dekat dengan gadis itu, dia menambah kecepatan langkahnya, kemudian melompat dan menapak di dinding di samping kanannya dengan kedua kakinya. Gerakannya benar-benar lihai dan seringan angin. Dia kemudian segera melompat ke belakang si gadis. Tapi anehnya, gadis itu masih berdiri diam seperti tadi.
Dan akhirnya, tiba saatnya untuk memelintir leher si gadis.
Kedua tangan Zeal segera menggapai kepala gadis aneh itu dari belakang. Namun, semuanya terasa sangat ganjil. Bahkan, tak sekalipun gadis ini menoleh ke arah Zeal yang sudah jelas-jelas berada di belakangnya.
Zeal yakin ini bukan jebakan. Dan aura menakutkan yang dipancarkan gadis itu juga bukanlah tipuan semata. Entah dia bodoh atau memang ini juga bagian dari rencananya, tapi walau begitu, Zeal tidak akan membuang kesempatan sekecil apapun.
"Hah..."
Suara helaan nafas yang tenang dan sendu dari gadis itu, tanpa alasan membawa perasaan yang amat mengerikan ke dalam diri Zeal. Seolah-olah ada angin badai yang hebat menghantam Zeal dan menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Mata Zeal seketika terbelalak lebar, dan instingnya mengisyaratkan dirinya untuk segera berlari sejauh-jauhnya dari sana.
Namun, semuanya sudah terlambat. Gadis itu tetap melancarkan tebasannya ke depan, dan—Boom! Disertai kilatan putih yang menyilaukan, terjadilah ledakan yang amat dahsyat hingga memporak-porandakan segalanya.
Zeal terhempas jauh ke belakang—ke luar rumah—sampai-sampai dia menabrak sebuah pohon. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan, apalagi di bagian punggungnya. Walau akhirnya dia sudah keluar dari rumah itu, tapi perasaan yang sangat tidak enak ini masih saja ada di dalam dirinya. Bahkan perasaan itu membuat Zeal seakan tak dapat mengendalikan raganya lagi.
"Kenapa... tubuhku tak bisa bergerak..." Zeal sekarang terbaring tak berdaya di tanah berlumpur. "Oh, ayolah!" Dia terus berusaha memaksa tubuhnya untuk bergerak, tapi bahkan satu jarinya pun sama sekali tak merespon perintahnya. "Sialan! Apa yang sebenarnya baru saja terjadi!? Aku yakin tidak menyentuh apapun!"
Apa yang terjadi barusan pada umumnya memang sudah tak bisa lagi diterima oleh akal manusia. Sebuah ledakan dahsyat terjadi karena entah apa, dan itu bersamaan dengan saat si gadis mengayunkan pedangnya.
Tidak masuk akal! Pekik Zeal dalam hati.
Tiba-tiba, gadis berpakaian pengantin tadi mendarat di depan Zeal dengan pedang raksasa yang masih digenggamnya.
Zeal benar-benar telah kehabisan akal. Dia menutup mata dan membayangkan maut yang mungkin akan menjemputnya sebentar lagi. Walau air matanya ingin menyembur keluar, tapi Zeal tetap menahannya, dan terus menjerit dalam hatinya. Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan!
"Apa yang kau rasakan, saat membunuh seseorang?" Tanya gadis itu.
Zeal benar-benar terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut gadis ini. Pertanyaan yang terdengar sangat aneh di telinga Zeal. Apa yang dia rasakan saat membunuh? Ya, tentu saja kadang Zeal merasa jijik dan ngeri, juga berdosa, tentu saja.
"Padahal... kau ini masih muda, dan jalanmu masih sangat panjang. Tapi, kenapa kau memilih jalan seperti ini?" Gadis itu mengangkat pedangnya sekali lagi, dan tampaknya dia bersiap untuk memenggal kepala Zeal.
"Jika dengan cara ini, aku dan ketiga adikku bisa bertahan hidup di dunia yang rusak ini, sepertinya tak apa... " Bisik Zeal.
"Dosa adalah dosa... Jadi, sampai jumpa."
Zeal merasa agak tenang sekarang. Ketakutannya akan kematian seolah hilang begitu saja, saat mendengar pertanyaan dari gadis ini. Ya, walau Zeal tahu bahwa ajalnya sudah berada di depan matanya, tapi jauh di lubuk hati kecilnya, dia sebenarnya sangat takut meninggalkan ketiga adiknya.
"Berhenti Sella!" Sahut seseorang dari belakang Zeal.
Zeal seketika tersadar dari lamunannya. Tetapi dia tetap saja tak dapat menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tolong lepaskan kekanganmu darinya, Sella." Perintah suara itu—suara yang terdengar tua dan rapuh—yang jelas-jelas adalah suara seorang pria tua.
Zeal mendengar suara kesempatan di situ.
"Baik, Tuan." Jawab gadis itu sambil menancapkan pedangnya ke tanah, dan pada saat itu pula, Zeal mendapatkan kembali tubuhnya.
Zeal langsung bangkit, dan berniat menyandera seorang yang memberi perintah kepada gadis mengerikan ini. Tapi, belum saja Zeal berdiri tegak, satu tendangan didaratkan tepat ke wajah Zeal, dan langsung membuatnya terdorong mundur. Tapi untung saja, gadis mengerikan itu menahan Zeal.
"Ugh! S-sakit banget!" pekik Zeal sambil meraba wajahnya yang memerah. Darah mengucur keluar dari hidungnya yang dibuat patah. "A-apa yang kau lakukan!?" Hardik Zeal pada seorang pemuda tinggi jangkung, berambut pirang kuning gondrong dan bersetelan jas serba hitam layaknya pelayan, yang berdiri di samping kakek tua itu.
"Tentu saja, aku hanya melindungi Tuanku." Jelas pemuda itu sambil menyunggingkan senyuman kecil. Tapi tiba-tiba, entah kenapa senyum di bibir pemuda itu lenyap, dan matanya yang memancarkan hawa membunuh, menatap tajam pada Zeal, hingga membuatnya bergidik ngeri. "Kau harusnya bersyukur, karena bisa melihat wujud asli Tuanku." Katanya dengan nada sedingin es.
Zeal melepaskan diri dari si gadis seraya menyeka keringat dinginnya. "S-siapa sebenarnya kalian!? A-apa mau kalian!?" tanya Zeal kesal. "Dan apa yang telah kalian lakukan pada semua polisi-polisi tadi!?"
"Aku memerintahkan mereka semua untuk kembali ke markas." jawab kakek itu. Dari tampangnya, dia terlihat seperti orang yang baik hati. Suaranya juga lembut, dan wajahnya pun terlihat tulus. "Karena aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuhmu."
"Eh?" Zeal lumayan terkejut mendengar kakek itu. Padahal, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang polisi berpangkat tinggi. Apalagi dia dapat memerintahkan seluruh armada untuk kembali ke markas begitu saja, sementara target yang mereka cari-cari selama ini padahal sudah ada di depan mata. Entah sebesar apa pengaruh yang dia miliki pada pihak kepolisian. Atau mungkin, di negeri ini.
"Sebelumnya, perkenalkan, nama saya adalah Relanar Allefren. Kau boleh memanggilku Relan. Dan, saya adalah seorang pedagang." Kakek Relan melanjutkan. "Gadis dibelakangmu namanya Sella, dia adalah salah satu dari sekian banyak Pengawalku. Dan begitu juga dengan Nak Tom yang ada di samping saya ini." Si kakek merangkul pemuda itu—Tom—dengan akrabnya.
"Hah? Apa-apaan ini!? Untuk apa seorang pedagang membutuhkan pengawal!? Dan lagi pula, pengawal macam apa kedua orang ini!? Mereka bahkan bukan manusia!" pekik Zeal yang makin jengkel.
Si kakek tertawa pelan sebelum angkat bicara. "Ya, mereka manusia kok, tapi... mereka memiliki kekuatan tambahan yang aku berikan."
Zeal berusaha mencerna tiap kalimat yang keluar dari bibir kakek itu. "Kekuatan? apa sebenarnya maksud kakek?"
"Dengan kekuatan itu, kau setidaknya bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang sedikit lebih baik. Kekuatan yang mampu mengubah kenyataan."
"Apa... maksudnya...?" Kebingungan Zeal sudah sampai di puncaknya.
"Begini saja. Datanglah ke alamat ini." Kakek itu menyodorkan secarik kertas pada Zeal. Dia bahkan berjalan ke arah Zeal tanpa ragu. "Aku ingin kamu menjadi Pengawalku, Nak Zeal. Kemampuanmu pasti akan sangat berguna untuk membantu pekerjaanku yang menyusahkan ini."
"Hah!? Menjadi pengawal—"
"Gaji per-harinya sepuluh kali sampai seratus kali lipat dibanding bayaran untuk membunuh satu orang." Kenyataan itu sukses membuat Zeal terdiam seribu bahasa. "Dan tentang masalah catatan kriminalmu yang hebat ini, kau bisa menyerahkannya padaku."
Tiba-tiba saja, dering ponsel Tom berbunyi, sehingga membuat Zeal tersentak kaget.
"Yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang, Tuan." Ujar Tom setelah membaca pesan masuk itu.
"Oh, baiklah." Kakek itu kemudian berbalik dan berjalan pergi, diikuti Tom juga Sella di belakangnya. Tetapi, mereka sempat berhenti sebelum benar-benar lenyap termakan kegelapan hutan. "Aku yakin, kau membutuhkan uang, nak Zeal. Agar ketiga adikmu bisa bertahan hidup." Jelasnya, hingga akhirnya, ketiga orang itu benar-benar lenyap tak terlihat ditelan kegelapan.
"Hah?" mata Zeal membuka amat lebar mendengar ucapan kakek barusan. Zeal sangat terkejut karena kakek itu tahu tentang keberadaan adik-adik Zeal. Zeal menggosok bibirnya dan meludahkan darah yang sedari tadi menggumpal dalam mulutnya karena tendangan telak Tom.
Zeal memandang kertas itu lamat-lamat.
Sejujurnya, dia sangat tertarik dengan kekuatan yang dimaksud oleh Kakek Relan. Kekuatan yang mampu mengubah dunia. Zeal mulai berpikir, jika saja dia memiliki kekuatan semacam itu, mungkin dia tidak perlu lagi membunuh orang demi mendapatkan uang.
Namun, kedua orang itu—Sella dan juga Tom, adalah bukti nyata bahwa perkataan Kakek tadi itu adalah benar. Kekuatan mereka yang luar biasa, yang tak bisa dibandingkan dengan kekuatan manusia normal pada umumnya, adalah bukti yang terlalu nyata untuk dilewatkan.
"Baiklah kalau begitu... Aku akan melakukannya." Kata Zeal penuh tekad. "Demi ketiga adikku."
__ADS_1
Akhirnya, kehidupan baru Zeal pun dimulai. Akan tetapi, dia sama sekali tidak sadar, bahwa takdir yang menunggunya di depan mata, adalah sesuatu yang lebih mengerikan dibandingkan maut itu sendiri.