![ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]](https://asset.asean.biz.id/alkisah---doa-untuk-dunia--1001-cerita-fantasi-indonesia-.webp)
“Biar ku ceritakan satu kisah. Kisah tentang tragedi yang dimulai karena kemenangan, namun berawal dari penyesalan.” Suara serak wanita tua berhijab itu seolah-olah menggores udara di sekitar, membuat suasana menjadi terkesan ajaib. “Tak ada yang tahu pasti kapan semuanya itu terjadi, tapi segalanya dimulai saat dua belas pilar cahaya berwarna-warni itu turun dari langit, dan membawa kehancuran.”
“Heh!? Maksudnya gimana, Bu?” Rohan terkejut setengah mati ketika mendengar setiap kata-kata yang keluar dari si Ibu penjual jamu itu. Bukannya apa, hanya saja, apa yang dikatakannya barusan memang benar-benar aneh. “Lagian, kenapa Ibu tiba-tiba jadi pendongeng begini? Dan cerita macam apa lagi itu?”
Ibu penjual jamu itu dikenal sebagai Ibu Lasminten, dan Rohan lumayan akrab dengannya karena beliau selalu bersantai di pinggir pantai dikala senja setelah berkeliling menjual jamu kepada pengunjung Pantai Kuta.
Sejak tiga tahun lalu, Rohan juga mulai sering datang ke Pantai Kuta untuk sekadar menikmati pemandangan langit senja dan melepas beban pikiran, namun, sejak saat itu pula, dia bertemu dengan Bu Lasminten. Mereka berdua biasanya duduk bersama-sama di atas hamparan pasir putih sambil melihat-lihat kemegahan dunia yang ada di depan mata mereka.
“Kamu berencana mau bunuh diri hari ini, kan?” Pertanyaan Bu Lasminten seketika membuat remaja bermata kuning keemasan itu menjadi agak panik.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Bu Lasminten bisa mengetahui rahasia Rohan entah bagaimana caranya. Kenyataannya, Bu Lasminten mungkin bahkan mengetahui rahasia semua orang. Beliau orang yang sangat aneh memang, tapi tetap saja, dia baik dan ramah. Toh, Rohan juga sudah sering curhat dengannya.
Akan tetapi, kalau mau jujur, Rohan sendiri kadang berpikir kalau Bu Lasminten itu bukanlah manusia. Rasanya, dia seakan-akan berasal dari dunia lain.
Deru ombak dan hembusan angin sejuk yang membawa serta aroma asin dari air laut menyadarkan Rohan dari lamunannya. Bohong kalau dia tidak terkejut dengan semua yang terjadi dalam beberapa menit ini, tapi sungguh, perasaan aneh macam apa ini? Waktu dia memandang langit yang memancarkan cahaya oranye, dia malah merasa seolah sedang terlibat dalam hal yang besar.
“Ah... gimana, ya?” Rohan ragu-ragu. Senyuman manis menghiasi wajahnya yang masih amat muda. “Soalnya, kedua orang tuaku juga nggak pernah mempedulikan pendapatku, jadi suka-suka mereka aja kalau mau bercerai. Lagian, aku juga udah capek.”
“Padahal tanggal satu kemarin, kamu baru masuk dua belas tahun, kan? Kamu masih sangat muda, tapi sayang sekali, pemikiranmu sudah sampai sejauh itu, Nak Rohan. Tapi, Ibu juga tak bisa menyangkal, kalau beban yang kau pikul itu terlalu berat.” Ujar Bu Lasminten. Walau keriputnya terlihat jelas di wajah, namun senyumnya sangatlah tulus. “Tapi, saat ini, Ibu mau kamu mendengarkan kisah ini sampai selesai.”
“Eh? Tapi untuk apa?” Tanya Rohan yang masih tidak mengerti.
“Cukup dengarkan saja dulu, nggak panjang kok. Lalu setelahnya, kau bisa memilih sesukamu.” Ungkap wanita tua itu.
“Eh... Yaudah deh.” Rohan kemudian duduk lebih tenang, dan dengan mata tertuju pada cakrawala yang terbentang di depan sana, dia pun mendengarkan cerita singkat nan aneh yang disampaikan Bu Lasminten.
“Ya, kisah ini dimulai dengan turunnya dua belas pilar cahaya berwarna-warni di kala senja, di dunia yang lain. Dunia yang penuh dengan sihir dan keajaiban. Namun, tak ada satupun orang yang menyadari, bahwa cahaya-cahaya indah itu ternyata malah membawa kehancuran ke seluruh benua. Namun, di saat yang bersamaan dengan turunnya pilar-pilar cahaya itu, ada satu pilar cahaya yang terlihat bergerak naik ke angkasa dan membawa sesuatu yang lain.”
“Di waktu yang sama, jauh di benua timur dari tempat turunnya pilar-pilar cahaya itu, seorang anak muncul dari entah mana, dan menyadari bahwa dirinya ternyata berada di dunia lain. Anak itu adalah sang Mata Tanpa Warna, seorang yang penasaran dengan rasa dari kehidupan, tapi tak memiliki alasan untuk melakukannya. Dan pertemuannya dengan sang Belati Bening akhirnya membawa anak itu ke dalam petualangannya dalam mencari jalan pulang ke dunia asalnya, dunia manusia.”
“Sang Mata Tanpa Warna yang awalnya menolak semua kebenaran, perlahan-lahan mulai terbuka pada kenyataan. Dalam perjalanannya, dia juga menemukan lebih banyak teman. Dengan matanya yang cacat, dia melihat dunia yang ajaib ini. Dia berjalan melewati tempat yang asing, indah, mengagumkan, dan sangat luar biasa. Melewati lautan, melewati daratan yang mengambang di udara, melewati negara yang berdiri di bawah tanah, bahkan melewati tempat yang tak pernah terlihat. Sungguh pengalaman yang sangat hebat dan ajaib.”
“Akan tetapi, perjalanan mereka tidaklah mudah. Selalu ada pertarungan dimanapun mereka berada. Dan pertempuran yang seolah-olah tak ada akhirnya itu, pelan-pelan mulai mengikis kebaikan yang ada dalam diri anak itu dan juga kawan-kawannya. Penderitaan, rasa lelah, serta rasa sakit mengubah mereka seiring berjalannya waktu, dan tak satupun yang berani untuk menghentikannya. Seolah-olah, dunia ini memang terlalu rakus hanya untuk sekedar membiarkan mereka kesempatan beristirahat sejenak.”
“Di tengah lautan api biru yang tak akan padam bahkan oleh hujan sekalipun, anak pemilik Mata Tanpa Warna menangis dalam keputusasaan setelah kehilangan orang yang telah ia anggap sebagai kakak. Dan menjelang pertempuran terakhir, si Belati Bening itu hanya mampu pasrah ketika dirinya tenggelam jauh ke dalam laut yang tak berdasar setelah menyelamatkan sahabat terbaiknya.”
“Hingga akhirnya, saat peperangan itu selesai, anak itu pun tiba di depan gerbang, dan rumahnya berada tepat di depan mata. Namun, waktu itu, dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah pilihannya itu benar? Dia juga tidak tahu, tapi, kalau dia tidak melewati gerbang itu, maka semua pengorbanan mereka akan menjadi sia-sia. Jadi, mau tak mau, dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang membawa kemenangan, tapi meninggalkan kebahagiaannya, kawan-kawannya, serta keluarganya yang sejati, dan juga alasan hidupnya.”
__ADS_1
Angin kencang berhembus ketika Bu Lasminten menyelesaikan kisah itu.
Mata Rohan terbuka lebar, keringat dinginnya bercucuran, dan dia tak bisa berkata-kata. Bukan karena keindahan pantai itu, melainkan karena cerita itu memang mengagumkan. Tapi masalah utamanya, Rohan juga berhasil menemukan pesan-pesan menyeramkan yang tersembunyi di dalamnya.
Apa-apaan kisah mengerikan itu? Dan dari mana Bu Lasminten mendengarnya? Jelas-jelas itu cerita fantasi, dan jujur, ceritanya sangat keren. Tapi apa-apaan? Walau hanya sesaat, dia juga bisa merasakan penderitaan orang-orang yang ada dalam kisah itu.
“Anu... Bu... Sumpah, aku masih penasaran. Dari mana, sih, Ibu mendapatkan cerita itu?” Rohan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya setelah menelan ludah beberapa kali. “Maksudku, ini, kan, Bu Lasmi. Kok, bisa sih, Ibu tahu cerita kayak begitu?”
“Manusia melihat apa yang mereka inginkan, dan memikirkan apa yang akan mereka ketahui.” Ungkap Bu Lasminten. “Asal muasal cerita itu tak penting. Yang penting adalah kisah itu sendiri. Dari kisah yang singkat itu, kau sadar, kan? Bagaimana beratnya perjuangan anak itu untuk mencari jalan pulang? Dia melewati peperangan yang tak terhitung jumlahnya, padahal dia hanya seorang anak. Namun, ketika dia tiba di akhir kisah itu, dia pun sadar kalau apa yang dicarinya selama ini, ternyata sama sekali tak ada harganya dibandingkan kenangannya selama di dunia itu. Mengerikan, bukan?”
Tanpa sadar, Rohan sudah meremas pasir pantai dalam genggamannya, dan dia tak bisa berhenti merasa tegang.
Jelas saja itu mengerikan, dan menyakitkan.
“Kau boleh memilih. Tak ada yang melarang. Tapi, tetap saja Tuhan yang akan menentukan akhirnya.” Kata Bu Lasminten sambil menutup matanya dan menikmati sepoy lembut angin pantai. “Memang, masalah yang kau hadapi sekarang sangat berat, tapi, kau tak sadar, kalau semua orang sama-sama berjuang.” Bu Lasmi mengambil nafas dalam, lalu kembali angkat bicara. “Jadi, apa kau sudah menentukan pilihanmu?”
Rohan terdiam sejenak. Pikirannya berkecamuk.
Ya, seperti yang dikatakan Bu Lasminten, Rohan bisa memilih, tapi itu hanya sekedar awal. Lalu, bagaimana selanjutnya? Apa yang akan ia temukan di akhir?
Remaja kurus itu seakan tenggelam dalam alam bawah sadarnya.
Apa yang harus dia lakukan?
Kalau dia memilih untuk bunuh diri, apakah semuanya akan menjadi sederhana?
Lalu, bagaimana jika ia memilih untuk tetap hidup? Apakah beban itu bisa menjadi lebih ringan?
Toh, dia tahu betul hal itu tak memungkinkan. Karena jika seseorang sudah memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, itu berarti ia memang sudah tak melihat jalan keluar yang lain lagi. Selama ini, dia juga sangat mewanti-wanti keajaiban, namun, dia tetap tak melihat apapun sampai sekarang. Terlalu banyak hal menyakitkan, dan sangat sedikit hal yang membuatnya nyaman di dunia.
“Tapi, aku... ingin hidup, sih.” Suara kecil itu meluncur keluar dari mulut Rohan tanpa ia kehendaki. “Tapi, gimana caranya...?” Akan tetapi, Rohan sadar akan suatu hal yang mengganjal. “Tunggu sebentar... Mata Tanpa Warna...?” Rohan berbisik pelan, kemudian menelan ludah dengan ngeri. Bu Lasminten pernah menyebut Rohan seperti itu, karena kenyataannya, mata Rohan memang bisa berubah warna dengan sendirinya.
“Ya, hidup saja, lah.” Ujar Bu Lasminten pelan. “Tapi bukan di sini. Di sana.”
Sesuatu yang aneh mulai terjadi ketika Bu Lasminten bangkit berdiri.
Tiba-tiba saja, awan-awan di angkasa mulai berkumpul dan membuat langit menjadi gelap dalam sekejap mata. Suasananya menjadi sangat dingin dan mencengkam, dan angin bertiup dengan liar seakan ada badai hebat yang mengamuk di sana.
__ADS_1
Para pengunjung Pantai Kuta yang menjadi panik berbondong-bondong mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. Namun anehnya, Rohan tidak bisa bergerak sama sekali. Dia benar-benar tidak bisa bergerak.
“Loh!? A-apa yang terjadi!? Kok aku nggak bisa bergerak begini!? Apa-apaan!” Teriak Rohan yang mulai dilahap ketakutan. “Apa yang terjadi, Bu—Eh!? Kok hilang!?” Kepanikkan Rohan semakin menjadi-jadi waktu ia menyadari bahwa Bu Lasminten sudah hilang dari sana.
Rohan memutar kepala untuk mencari-cari keberadaan wanita tua itu, tapi dia tak menemukannya dimanapun.
Lalu, dari situlah, semuanya menjadi semakin, aneh.
Jauh di depan sana, ada sesosok makhluk seperti ular naga yang tiba-tiba keluar dari dalam laut. Ular naga laut itu bertubuh sangat besar seperti menara di paris, dan memiliki beberapa pasang sirip yang sangat panjang, hingga membuat sosok ular itu terlihat seperti memiliki sayap.
“Ya Tuhan... Ini bohong, kan...?“ Wajah Rohan menjadi pucat pasi.
Ular naga laut itu kemudian membuka mulut dan mengeluarkan suara teriakkan yang teramat sangat menyeramkan, sampai-sampai membuat lautan di sekitarnya seakan ikut mengamuk. Sementara Rohan tetap saja masih tak bisa berpindah dari tempatnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya—mungkin juga untuk terakhir kalinya, Rohan akhirnya melihat keajaiban dengan mata kepalanya sendiri. Ya, walau tak bisa dipungkiri kalau fenomena ini terlalu mengerikan dan sangat, sangat, sangat tidak biasa.
Tapi, beginilah keajaiban, dan Rohan berada di sana.
“Leivathan.”
Rohan sadar kalau kata itu keluar sendiri dari mulutnya, tapi apa maksudnya itu? Kenapa dia merasa kalau kata yang baru saja keluar dari mulutnya itu, adalah nama dari makhluk mengerikan di sana?
Diiringi suara dengungan yang tajam, sebuah garis cahaya yang amat menyilaukan tiba-tiba turun dari langit dan jatuh ke tempat dimana remaja itu berada, membuat pandangan Rohan menjadi putih seluruhnya. Dia sama sekali tak bisa melihat apa-apa sekarang, hanya putih.
“Astaga! Astaga! Astaga! Ini nggak nyata!” Rohan menjerit bak orang gila. Dia bahkan tidak pernah berteriak sekeras itu selama ia hidup. “Tolong aku! Seseorang! Astaga!”
Namun, sesaat kemudian, tiba-tiba saja, semua rasa takut yang membanjiri Rohan perlahan-lahan mulai lenyap. Dia tidak lagi merasa tegang ataupun panik. Semuanya berlalu begitu saja dan hatinya malahan seakan-akan berkata kalau tak ada apa-apa yang terjadi. Lalu, saat cahaya menyilaukan itu mulai padam, pada saat itulah Rohan sadar, kalau dunia di sekitarnya, sudah berubah.
Ya, anak itu kini sudah berada di dunia yang lain.
Dunia disekitarnya sudah berubah. Memang, Rohan masih berada di daerah pantai, tapi dia tahu dengan jelas, pantai yang terbentang di depannya itu bukanlah Pantai Kuta, karena lautannya terlihat lebih biru, suasananya lebih cerah, dan udaranya juga amat segar dan wangi, lalu perasaan nyaman itu, Rohan tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dunia sudah berubah, itulah yang terjadi.
“Bagaimana... mungkin?” Rohan bergumam sambil memandang sekitarnya. “Masa, sih, aku ada di dunia lain...“
Tak ada orang lain yang terlihat sejauh mata memandang, hanya ada lautan, hamparan pasir putih, jejeran pohon kelapa, dan rerumputan hijau yang tumbuh beberapa meter dari bibir pantai. Tak ada pula suara-suara lain seperti suara klakson kendaraan atau suara hiruk pikuk, yang ada hanya bisikkan lembut dari hembusan angin, serta deburan ombak.
“Padahal tadi harusnya sudah sore, tapi disini, kayaknya masih pagi, deh.” Rohan mendekat ke bibir pantai, kemudian berjongkok dan meraba permukaan airnya yang terasa begitu dingin. “Aku... Masih nggak paham sama sekali.” Rohan berbisik sembari mengangkat kepala menatap cakrawala di kejauhan. Sungguh pemandangan yang megah. “Dunia lain, ya? Apakah ini artinya aku harus melanjutkan hidupku?”
__ADS_1