ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH: Mereka Yang Harus Ditaklukkan


__ADS_3

  Story By : Sun & Kevin E.S.P


Semua dimulai saat Wahyu berusia enam tahun. Di musim panas waktu itu, ia menemukan apel emas yang tergeletak di trotoar dekat rumahnya sepulang sekolah, lalu tanpa ragu memakannya.


Memang tak ada keanehan yang terjadi, sampai ia tertabrak mobil dua bulan kemudian. Ia segera dibawa ke rumah sakit, tapi malah membuat para dokter dan perawat yang menanganinya terkejut. Meski bersimbah darah, tidak ada luka sedikitpun di sekujur tubuhnya. Bahkan tangan yang sebelumnya diyakini sudah remuk oleh saksi mata, kini terlihat baik-baik saja.


Awalnya Wahyu merasa senang dengan kemampuan tersebut. Ia merasa dirinya bagai superhero. Karena dia bisa sembuh dari luka terburuk sekalipun. Sayangnya hal itu berubah kala ia duduk di bangku SMP. Ia malah menjadi samsak manusia bagi teman-temannya. Setiap hari ia dipukuli, ditendang, kadang disundut rokok, pernah juga tubuhnya disilet-silet. Namun, karena lukanya segera sembuh, tidak ada bukti bahwa ia dianiaya. Padahal sakit yang ia rasakan adalah nyata.


Berkah itu telah berubah menjadi kutukan.


“Wahyu!”


Pemuda yang sedang duduk sendiri di pojok kelas itu tersentak. Ia mengangkat wajahnya. Aris, sang jagoan basket sekolah yang berbadan kekar datang mendekat. Tatapan sipitnya begitu congkak. Ia langsung meremas bahu Wahyu.


“Ayo ke belakang sekolah.”


Selain Aris ada dua sahabatnya, Robi dan Tio. Keduanya tertawa-tawa senang.


Dan yang terakhir adalah Renata, pacar Aris. Gadis itu bersedekap memandangi Wahyu dengan jijik.


Wahyu tampak segan tapi akhirnya menjawab, “Nggak mau.”


Wajah Aris langsung datar begitu mendengar jawaban tersebut.


“Apa?” tanyanya sembari mengorek telinga.


“Nggak mau,” ulang Wahyu.


“Dasar!” Aris menarik paksa lengan pemuda itu. “Ikut saja!”


Wahyu berusaha meronta, tapi Robi dan Tio ikut memeganginya. Akhirnya pemuda itu diseret menuju ke halaman belakang sekolah. Sepanjang jalan banyak yang melihat, tapi tak satupun angkat suara. Bagi mereka hal ini sudah biasa. Aris adalah siswa berprestasi yang disayang guru, sementara Wahyu bukan siapa-siapa.

__ADS_1


“Kamu berani melawan ya, sekarang? Sudah merasa jadi jagoan?!” seru Aris saat mereka sampai di halaman belakang sekolah. Lalu ia mendorong Wahyu sampai nyungsep.


“Kenapa...” rintih Wahyu. “Aku salah apa?”


“Salahmu? Jangan pura-pura ****!” Aris menendang kepala Wahyu. “Kamu mempermalukan Renata saat pelajaran matematika! Karena kamu sok bisa menjawab saat guru bertanya ke Renata!”


Wahyu segera ingat. Saat itu Renata sedang bercanda dengan teman sebangkunya, sehingga guru marah. Renata langsung diberi pertanyaan. Karena Renata diam saja tak bisa menjawab, akhirnya Wahyu mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut.


“Aku tidak bermaksud begitu!” seru Wahyu. “Aku cuma—”


Aris menjejak perut Wahyu, “Bacot!”


Wahyu mengaduh. Perutnya perih bergejolak. Meski lukanya akan sembuh, sakit tetap saja sakit.


Pemuda itu pun tidak tahan lagi. Ia bangkit.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak jawab saja pertanyaannya! Bantu pacarmu yang bodoh itu! Atau kau juga sama bodohnya?!”


Aris dan Renata langsung melotot bersamaan. Robi berteriak, lalu meninju wajah Wahyu. Tio ikut menyarangkan tendangannya ke pinggang. Wahyu benar-benar kewalahan. Ia berusaha bertahan, tapi serangan datang bertubi-tubi.


Robi dan Tio segera melakukannya dengan patuh. Robi membekap tangan dan leher Wahyu, sementara Tio memegangi kedua pergelangan kakinya.


“Aris,” ujar Renata. “Kamu bawa pisaunya, kan?”


“Iyap.” Pemuda itu tersenyum jahat. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya, kemudian mendekati Wahyu. Ia membuka ikat pinggang Wahyu, lalu memerosotkan celananya.


“Aris! Aris!” Wahyu mulai panik. “Kau mau apa?” Namun, tubuhnya cuma bisa berkutat seperti ulat. Pegangan Robi dan Tio terlalu kuat.


“Aku mau potong sedikit saja. Kan kamu bisa sembuh sendiri. Penasaran nggak sih, kalau ini kupotong nanti akan tumbuh yang baru atau gimana?”


Wahyu tidak mampu membayangkan seperti apa sakitnya.

__ADS_1


“Tidaaaaaaaaaak!!! Tolong! Siapapun!”


Tiba-tiba kedua lengan Wahyu membesar. Berkat itu ia mampu melepaskan kuncian Robi dengan mudah. Lalu ia meninju hidung Aris. Renata yang sedang merekam hanya ternganga melihat kejadian tersebut.


Kemudian tangan Wahyu melar. Ia menyambar handphone yang dipegang Renata dan langsung dia remukkan bagai sedang meremas daun kering.


“Apa ini? Apa-apaan ini?” ucap Aris yang masih sempoyongan. Hidungnya mimisan.


Wahyu langsung mengejar anak itu. Ia menghantam wajah Aris, kemudian perutnya, lalu wajahnya lagi. Tiba-tiba Robi dan Tio menyergapnya dari belakang. Namun, Wahyu memperbesar ukuran tubuhnya hingga seukuran orang dewasa berotot, kemudian membanting kedua orang itu. Entah bagaimana Wahyu berhasil menemukan kemampuan baru. Selain bisa menyembuhkan dirinya, kini dia juga bisa memanipulasi semua yang ada di dalam tubuhnya.


Memang ini baru terjadi sekarang, tapi Wahyu bisa merasakannya dengan jelas.


“Mati kau *******!”


Aris menikam pinggang Wahyu. Pemuda itu tersentak. Tapi ia sudah biasa. Maka ia meraih pergelangan tangan Aris, mencengkramnya kuat-kuat, kemudian mematahkannya.


“Aaaaaaaaaargh!!!”


Aris menjerit kesakitan sampai berguling-guling di tanah. Robi dan Tio ingin menolong, namun mereka terlalu takut untuk mendekat. Tubuh Wahyu yang begitu besar tampak seperti monster.


Wahyu pun mendatangi keduanya. Ia mematahkan setidaknya satu tulang mereka masing-masing. Biar bagaimanapun perlakuan mereka selama ini harus dibalas, dan begitu selesai, Wahyu kembali ke wujudnya yang biasa—wujud anak remaja yang selalu dipandang sebagai sampah di sekolah. Tapi sayangnya pakaiannya sudah robek dimana-mana.


Wahyu menghela nafas dalam, dan berusaha untuk tetap tenang. “Ya... Sepertinya aku nggak boleh berlebihan... “


Dan terakhir adalah Renata. Gadis itu sudah gemetaran. Saat Wahyu menatapnya, ia sontak berlari. Wahyu memanjangkan tangannya, lalu menyabet pergelangan kaki gadis itu hingga terjatuh. Ia segera menimpa tubuh Renata, lalu berbisik ke telinganya.


“Kamu kan yang menyuruh mereka-mereka ini?”


“Ti—tidak—”


“Kamu harus menerima balasan yang setimpal. Tapi, tenang saja, aku melakukan ini karena kamu memang pantas mendapatkannya. Lagian, kamu aku bantu, bukannya bilang terima kasih, malah ngelakuin yang kayak ginian.”

__ADS_1


Sore itu untuk pertama kalinya Wahyu pulang sekolah dengan tenang. Sekarang ia tidak perlu lagi takut pada pembuli. Malah, ia bertekad untuk menghapuskan total praktik bully di sekolahnya.


Namun, Wahyu juga masih sadar, jangan hanya karena dia mampu, bukan berarti dia juga bisa seenaknya menghakimi orang lain. Jika memang harus, maka ia akan melakukannya.


__ADS_2