ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH: Kemegahan Di antara Rerumputan


__ADS_3

Dulu, Ibu Gaara sering berkata, bahwa setiap dunia selalu memiliki keajaibannya masing-masing. Hanya saja, diperlukan cara khusus untuk bisa melihat keajaiban itu. Sebuah titik kecil. Dan ya, Ibu Gaara telah berhasil mencapai titik itu dua tahun yang lalu. Dan titik itu, ialah maut.


Ibu Gaara meninggal karena serangan jantung.


“Tak lama lagi, Ibu akan pergi untuk tidur selamanya, Nak. Hebat, bukan? Tidur dan nggak akan bangun-bangun lagi loh. Kedengarannya malah seperti keajaiban saja deh. Oh, tidur selamanya itu memang keajaiban sih.”


Ya, selalu dibutuhkan satu momen, satu kejadian, dan satu tragedi, agar mata manusia bisa terbuka kepada keajaiban-keajaiban itu. Itulah titik kecil yang mampu menghubungkan garis masa lalu, masa kini, dan masa mendatang yang mungkin telah lama terputus tanpa kau sadari.


“Yah... jika kamu bersyukur akan kehidupan, maka kamu akan menganggap kematian sebagai keajaiban. Kedengarannya simpel kan? Tapi memang cuma kedengarannya saja yang mudah.”


“Ibu jangan pergi dong... “


“Ah! Ngomong-ngomong, keajaiban yang paling berarti buat Ibu sih masih tetap kamu kok, Nak. Jadi tenang saja. Kamu itu keajaiban nomor satu dalam hati Ibu. Bukan kekuatanmu loh, tapi kamunya.”


Gaara ingat betul bagaimana suara tangisnya setelah mendengar perkataan sang Ibu. Dia sama sekali tidak mengerti dengan perangai mendiang ibunya. Bisa-bisanya dia masih sempat bercanda di saat-saat seperti itu. Tapi, begitulah sifatnya, jadi Gaara juga tak bisa menyalahkannya.


Satu-satunya yang harus disalahkan, adalah Gaara. Sebenarnya, dia juga memiliki keajaiban di tangannya. Dia bisa mewujudkan segala yang dia inginkan, asalkan dia memiliki pondasinya. Dan yang perlu dilakukannya, adalah menunjuk “pondasi” itu dengan jari telunjuknya, dan memerintahkannya untuk mewujud sesuai yang dia inginkan.


Akan tetapi, kekuatannya tidak bisa mencegah kematian ibunya. Dia sudah mencoba untuk menyembuhkan penyakitnya, atau mencoba menambah umurnya, atau mengucapkan berbagai perintah agar ibunya bisa selamat, tapi itu sama sekali tidak bekerja. Tak ada yang terjadi. Dan di hari itu pula, dia sadar kalau kekuatannya tak berfungsi kepada manusia.

__ADS_1


“Ya... terserahlah...  “


Di dataran rumput hijau yang senyap itu, Gaara berdiri sendiri di depan satu-satunya nisan yang tertancap di tanah. Di batu yang terlihat amat sederhana itu, terukir juga nama dari sang Ibu.


Sejauh mata memandang, hampir tak ada apa-apa di sana, selain warna hijau dari rerumputan dan pepohonan. Meski begitu, tetap saja nisan itu terlihat begitu mencolok.


“Ya... Aku akan bertahan. Aku hanya perlu bersyukur kan, Bu? Lagi pula, kita memang diberi kesempatan setiap hari, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan menyelesaikan pendidikanku, mencari kerja, menikah, lalu hidup hingga akhir, dan bersiap menyambut keajaiban yang terakhir dengan senyuman.”


Pemuda berseragam SMA, dan berambut pirang kekuningan itu tiba-tiba berlutut satu kaki, sambil membelai rerumputan di sebelahnya dengan tangan kanannya.


“Tolong berikan Ibuku hadiah yang indah, oke?” Pintanya kepada rerumputan sambil memasang senyuman ramah di bibir.


“Dan... aku juga akan menemukan titik untuk menyambung garis kehidupanku, yang sudah lama terputus...”


Rumput-rumput itu mulai menciptakan empat pilar di sekitar nisan, serta atap di bagian atasnya, sampai-sampai itu mulai terlihat seperti pondok. Setelah itu, pagar dari rumput juga mulai terbentuk di sekelilingnya. Dan untuk sentuhan terakhir, ada bebungaan yang meluncur di udara dengan gemulai, lalu menghiasi karya dari rerumputan itu, dan membuat segalanya menjadi lebih indah lagi.


Angin kencangnya perlahan-lahan mulai berubah menjadi sepoy angin lembut.


Mata biru Gaara  mengkilap saat mengamati hadiah untuk sang Ibu.

__ADS_1


Sebuah pondok dari untaian rerumputan dan bunga-bunga.


Keindahan yang menjadi nyata karena keajaiban di dalam dirinya.


“Ya... lumayanlah.” Gumam Gaara. “Tapi ini memang keren sih... “


Gaara bertanya pada hati kecilnya, bagaimana jika ada orang lain yang melihat pemandangan ajaib barusan? Bagi Gaara, pemandangan seperti itu jelasnya biasa saja, mengingat dia lah orang yang melakukannya. Dia bisa melakukannya kapanpun dia mau.


Tapi, jika itu orang lain, mungkin dia akan menganggapnya sebagai suatu keajaiban tiada tara yang pernah ia lihat seumur hidupnya.


Ibu memang sering bilang kalau setiap dunia memiliki keajaibannya masing-masing, akan tetapi, semakin lama Gaara hidup di dunia ini, dia pun mulai sadar, kalau tidak ada banyak keajaiban yang tersisa di luar sana. Bahkan, teman-teman sekelasnya pun hampir tidak mengerti dengan maksud dari keajaiban.


“Keajaiban itu seperti apa sih?” Begitulah yang dikatakan orang-orang. Manusia.


“Hmm... sepertinya aku memang harus rajin-rajin bersyukur deh berkat kekuatan ini. Aneh...


Namun, ponsel Gaara tiba-tiba berdering, menandakan bahwa waktunya telah habis. Dia harus kembali ke sekolah secepat mungkin.


“Walah, kok cepat banget jam istirahatnya.” Gaara seketika berpaling dari pondok itu, dan mulai berlari meninggalkan makam ibunya. “Sampai jumpa, Bu!”

__ADS_1


__ADS_2