ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH/ Emas Terkutuk: Jati Diri Dunia


__ADS_3

Tak peduli seberapa baik seseorang, pada akhirnya, dunia ini tetap saja akan menjadi penjahat terbesar dalam segala kehidupan. Bahkan, anak bermata emas itu juga sudah tahu tentang kebenaran itu sejak lama.


Sambil berjalan-jalan menyusuri jalanan yang ramai, bocah itu mengawasi kiri dan kanannya dengan seksama, seakan berharap akan menemukan sesuatu yang telah hilang dari dirinya. Mungkin itu kebahagiaannya. Atau, entahlah.


Namun, meski mata emasnya yang mengkilap tengah melirik dengan liar ke segala arah, tapi pikirannya masih berkecamuk membayangkan hal-hal mengerikan yang pernah menimpanya di masa lalu.


Ya, dunia ini memang selalu kejam pada orang yang baik, tapi bukan berarti ia juga akan adil pada mereka yang jahat.


Misalnya, tengok prajurit yang tengah duduk di pagar jembatan itu. Dari wajahnya saja, siapapun bisa tahu kalau dia sedang memiliki masalah yang berat. Padahal, dia adalah prajurit, pekerjaannya ialah melindungi orang-orang. Meski begitu, dia tetap merasakan kekejaman dari dunia ini. Itu aneh, bukan?


Lalu, coba lihat bocah yang baru saja mencuri buah dari toko di sana. Dalam pandangan sederhana, mungkin dia bisa dianggap sebagai seorang yang berdosa atas hal yang baru saja ia lakukan. Tapi, kenapa dia mencuri? Simpel saja, itu karena dunia ini telah menyiksanya, hingga ia terpaksa menjadi seorang penjahat.


Benar-benar aneh, pikir bocah itu sambil menggigit apel hijau yang baru dibelinya beberapa menit lalu. Rasanya tidak terlalu kecut dan agak manis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya sebenarnya sangat pas di mulutnya.


Kemudian, sesuatu kembali terlintas dalam benak bocah itu.


Mungkin, dunia ini memang bukanlah tempat yang baik untuk mereka yang masih berakal dan bernurani. Mungkin, sejak awal dunia ini memang bukan tempat yang layak untuk makhluk hidup.

__ADS_1


Dunia ini, adalah, musuh.


Seperti fakta bahwa makhluk yang hidup memiliki nafas, maka begitulah jati diri dunia yang sebenarnya.


Namun toh, pada akhirnya, itu semua hanyalah tanggapan pribadi bocah itu saja. Tak kurang dan tak lebih. Itu hanya pemikiran-pemikiran yang terlahir dari pengalamannya selama melangkah di dunia ini sebagai makhluk hidup.


Walau ada terlalu banyak hal buruk dalam opininya, itu bukan karena ia egois, melainkan karena ia juga sudah melihat dan merasakan sendiri bagaimana kejam, dan gelapnya dunia ini jika dilihat dari sisi yang berbeda. Meskipun ia berusaha untuk melupakannya, tapi ingatan-ingatan itu adalah hal yang nyata. Menghapusnya tentu saja suatu kemustahilan, selagi ia masih makhluk fana.


Jadi, apa selanjutnya? Anak itu bertanya pada hati kecilnya.


Mata emasnya tampak berpendar di bawah tudung kecoklatan yang dikenakannya.


Kala itu, ia memutuskan untuk duduk sendiri di bangku taman yang ukurannya lumayan panjang. Tapi, tiba-tiba saja, ada satu bayangan aneh yang muncul dalam pandangannya. Seakan-akan ada banyak orang yang ikut duduk menemaninya di bangku itu. Padahal, ia jelas sedang sendirian. Ya, sejak dua tahun lalu, dia memang selalu sendirian di dunia.


Meski apa yang dialaminya saat itu sebenarnya tidak nyata, tapi rasanya agak hangat, dan ada pula suasana nostalgia yang samar.


Namun, lama kelamaan, anak itu mulai merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Amarah yang sudah ia pendam jauh dalam dirinya sejak dua tahun lalu, kini kembali muncul ke permukaan, hingga membuat senyumannya itu tiba-tiba sirna begitu saja dari wajahnya.

__ADS_1


Ya, itulah kenyataannya.


Teman-temannya, sahabat-sahabatnya; orang-orang yang dianggapnya sebagai keluarga sejatinya di dunia ini, semuanya telah mati, meninggalkan dirinya seorang diri.


Mereka semua telah mengorbankan nyawa, agar bocah itu bisa menggapai mimpinya, dan menyelamatkan banyak orang. Sungguh, mulutnya selalu terasa pahit tiap kali ia memikirkan kebenaran hidupnya itu.


Mereka mati, demi dirinya.


Bocah itu menggigit bibirnya dengan kuat, sampai-sampai ada darah yang terlihat mengalir ke dagunya. Dia tengah berusaha menahan keinginannya untuk berteriak keras-keras. Amarah itu benar-benar terlalu besar, tapi dia sudah bertekad untuk menahannya, karena bocah itu tak ingin mendiang sahabat-sahabatnya kecewa.


Padahal, ia sendiri sebenarnya tidak yakin, apakah hal yang diinginkannya di ujung jalan itu berharga atau tidak. Ia benar-benar tidak tahu.


Malahan, ia merasa kalau keberadaan sahabat-sahabatnya, adalah hal yang paling diinginkannya di dunia ini. Mereka adalah harta tak ternilai yang dimilikinya. Tapi, sayangnya, anak itu terlambat menyadarinya.


“Dunia ini... Memang terlalu kejam, bukan?” Ia bergumam pelan, tapi murka amarah seolah terasa dengan jelas dari dalam suaranya.


Sudah terlalu terlambat untuk mengenali siapa sejatinya dunia ini.

__ADS_1


Sepasang sayap emas yang lebar dan indah muncul di punggungnya, lalu anak itu pun terbang tinggi ke angkasa.


__ADS_2