ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH/ Rahasia Duniawi IV: Pertemuan Di Hutan Terkutuk


__ADS_3

Baiklah, ini sudah keterlaluan, Rizky berpikir sambil memandang heran bocah berambut putih dan bermata merah mengkilap itu. Dia pernah membaca cerita-cerita tak masuk akal di internet, dan berdasarkan penampilannya, Rizky bisa tahu dalam sekejap kalau dia bukanlah manusia. Anak ini adalah, vampir. Ya, memiliki wawasan yang luas itu wajib, termasuk pengetahuan tentang hal-hal tak berguna sekalipun.


Rizky tumbuh dalam keluarga muslim yang agak ketat, walau tidak sampai seketat itu. Hanya saja, dalam keluarganya, agama adalah hal yang paling utama. Dari SD, SMP, SMA, bahkan di bangku perkuliahan, semua langkah yang ia ambil pasti berhubungan dengan agama. Dan itulah yang menjadikannya sebagai seorang pemikir rasional.


Belajar agama adalah belajar tentang kebaikan, ditambah cara pikirnya yang bisa dibilang sedikit unik, membuatnya jadi terbuka terhadap banyak hal, dan itu bisa dijadikan sebagai nilai tambah dalam dunia ini, meskipun hanya segelintir orang yang mengetahuinya.


Namun, untung bagi seorang Rizky Bafadhal, karena dia mengetahui rahasia itu.


“Kau ini vampir, kan?” Ungkap Rizky tanpa ragu.


“Ya iyalah. Pertanyaanmu aneh banget.” Jawab bocah itu keheranan.


“Vampir?“ Bisikan pelan itu keluar dari mulut Sarah. Gadis berhijab putih itu memandang aneh si bocah. Entah kenapa dia sepertinya tidak terlalu terkejut atau takut, seolah-olah dia sudah terbiasa dengan kenyataan ini.


“Kalian, kok, bisa ada di sini?” Tanya anak itu. Matanya mengkilap dalam gelap. “Ini Hutan Terkutuk, loh.”


“Lah, kau sendiri ngapain disini?” Tanya Rizky dengan nada yang terdengar agak menjengkelkan.


“Tunggu, dia bilang hutan apa tadi?” Sarah bertanya meskipun tak ada yang mendengarnya.


“Eh? Aku kan bertugas di sini... Ah, masa bodo, lah.” Anak itu tiba-tiba mengangkat telapak tangannya ke depan, hingga sejajar dengan wajah Sarah dan Rizky. Sontak, kedua orang itu langsung tersentak mundur.


“Apa yang mau kau lakukan!?” Pekik Sarah yang tampak jengkel.


“Eh? Aku mau mengubah ingatan kalian, lah. Kalian manusia, jadi nggak seharusnya kita berinteraksi seperti ini.” Jawab anak itu enteng, tapi berhasil membuat Rizky dan Sarah merinding tak karuan. “Lagi pula, kalian ini benar-benar telah membuat kesalahan besar, dengan datang ke tempat ini di jam segini.” Anak itu menghela nafas pasrah. “Sialan... Kalau begini aku harus minta bantuan, deh.”


“Hah?”


Tanpa Rizky dan Sarah sadari, ternyata ada sesuatu yang berdiri di belakang mereka saat ini. Sosok itu terlahir dari api hitam pekat, hanya saja wujudnya hampir menyerupai manusia raksasa, dengan mata semerah darah yang bertengger di bagian wajahnya. Dan kabar buruknya, raksasa api hitam itu, saat ini berniat untuk menangkap Rizky dan Sarah.


“Lompat ke depan!” Teriak anak itu dengan suara lantang.


Rizky dan Sarah refleks mengikuti perintah anak itu, dan langsung membanting tubuh mereka ke depan, dan pada saat itu pula, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Anak itu ternyata telah lenyap, tapi sedetik kemudian, dia kembali muncul di udara di belakang Rizky dan Sarah, sambil mengayunkan pedang besarnya, dan dalam sekejap mata, dia menebas sosok itu hingga terbelah dua.


Sosok hitam raksasa yang kini terbelah dua itu dengan cepat lebur menjadi debu cahaya berwarna-warni, dan dari cahaya itulah tercipta sebongkah batu permata hijau yang kemudian jatuh ke tanah.


“A-Apa-apaan itu...?” Jujur, Rizky tak menyangka kalau dia ternyata bisa sampai merasa ketakutan seperti itu. Nafasnya terengah bukan main, dan keringat dinginnya bercucuran. Sungguh, sosok yang dilihatnya sekilas tadi membuatnya merasa sangat ketakutan sampai ke langit. Seakan-akan, dia sudah mati. “Ma-makhluk apa itu!?” Teriak Rizky marah.


“Hmm? Oh! Kakak nggak tahu, ya?” Tanya bocah itu sambil memasang senyuman yang sukses membuat Rizky merasa agak jengkel. “Makhluk yang tadi itu adalah, Dosa. Dosa kalian tepatnya.” Bocah itu kemudian mengambil batu permata itu, lalu memasukkannya ke dalam tas pinggang mungilnya. “Makhluk itu adalah Dosa. Tapi... kenapa kalian bisa melihatnya? Harusnya, manusia nggak bisa melihat mereka. Bahkan, kalian seharusnya nggak bisa melihatku.”


“Ma-maksudnya!?” Rizky sudah hampir tak bisa mencerna semua itu. Kepalanya terasa pusing, dan dia juga mulai merasa mual. Tapi, ada hal lain yang mengganggunya.


Ketika menoleh ke samping, Rizky kembali sadar, kalau gadis yang masih terduduk di sampingnya itu, ternyata masih terlihat biasa saja. Dia memang tampak sedikit panik dan terkejut, tapi hanya sebatas itu.


“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada kalian berdua, sampai-sampai kalian bisa melanggar Hukum Dunia. Nggak wajar banget..." Jelas bocah itu sambil memicingkan matanya. “Ya, entahlah, itu bukan urusanku. Tapi, keselamatan kalian jelaslah urusanku. Jadi, sekarang aku ingin kalian lari secepat mungkin mengikuti jalan setapak ini. Sekitar dua ratus meter di depan sana ada medan pelindung. Berlindunglah di sana, setidaknya sampai matahari terbit. Oke?”


“Hah!? Sampai pagi!? Aku nggak bisa! Istriku di rumah sendirian!” Rizky benar-benar naik pitam.


“Loh? Kakak sudah menikah?” Tanya Sarah terkejut.


“Hey! Cepat lari sana! Mereka mulai datang.” Kata bocah itu dengan suara dingin. “Aroma kalian benar-benar menarik minat mereka.”


“Ta-tapi!” Rizky ingin memprotes.


“Astaga Kak! Lari aja, kok, susah amat!” Bocah itu menepuk jidatnya. “Hmm... Untungnya Kakak nggak gemuk-gemuk banget.” Bisik anak itu. “Begini, begini. Kalau Kakak nggak lari, Kakak bakalan dijamin bakalan mati, loh.”


Rizky menelan ludah saat mendengarnya. Setidaknya ia ingin melakukan sesuatu yang berarti selain melarikan diri. Namun, ia juga sadar, kalau ia mati di sini, maka semuanya akan berakhir.


“Ayo, Kak!” Sarah menarik tangan Rizky, membuatnya tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Mau tak mau, Rizky juga harus berlari sekarang, karena pilihan itu adalah yang paling masuk akal. Mereka berdua mulai berlari lebih jauh  ke dalam hutan.


Hanya dua ratus meter. Ya, Rizky pasti bisa bertahan kalau hanya segitu.


Dalam perjalanan mereka, Rizky juga melihat ada banyak titik-titik merah yang tengah mengejar mereka di antara pepohonan. Tapi toh, dia cukup waras untuk tidak mengarahkan senter ke arah sosok-sosok itu.


Namun, tanpa diduga tiba-tiba muncul satu sosok hitam yang menghadang di depan, dan dalam sekejap, sosok itu langsung melancarkan tinju besarnya ke arah mereka berdua. Tapi, untung saja mereka berhasil menghindari tinju raksasa itu, dan tanpa membuang waktu sedetikpun, mereka kembali melesat maju melewati celah di antara kaki raksasa itu.


“Hah! Hah! Hah! Di mana sebenarnya pelindung itu!?” Pekik Rizky dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia tidak melihat apapun selain pohon sejauh matanya memandang. Namun anehnya, dia tetap yakin kalau anak tadi tidak berbohong.


“Ini dia!” Teriak Sarah.


“Dimana—” Sesaat kemudian, Rizky merasakan sesuatu yang aneh, seakan-akan dia baru saja melewati semacam tirai air yang terasa dingin dan sejuk.


Sarah memperlambat langkahnya dan tanpa menunda lebih lama lagi, ia langsung jatuh berlutut dengan nafas yang terengah bukan main.


Atmosfernya berubah. Perasaan Rizky juga sudah menjadi lebih baik sekarang. Segalanya menjadi lebih tenang. Semua rasa takutnya tadi telah sirna, dan satu-satunya yang ia rasakan dengan jelas hanya rasa lelahnya saja.


Rizky mengangkat kepalanya dan memandang sekitar. “Kemana hilangnya makhluk-makhluk itu?” Tanyanya sambil menyeka keringat. Sosok-sosok gelap yang mengejarnya tadi sudah tak terlihat sama sekali. Tapi, dia menangkap sesuatu yang lain, semacam cahaya biru, atau hijau, yang samar-samar timbul di udara tepat di depan mereka. “Apa... ini?”


“Aduh... Kepalaku pusing banget.” Sarah tampak sudah diambang batas.


Rizky memijat-mijat keningnya sendiri. Dia juga merasa luar biasa pusing.


“Kak! Li-lihat! Ada rumah.” Ujar Sarah tiba-tiba.


Rizky berbalik dan mendongak sedikit untuk melihat sebuah rumah besar bercat kecoklatan yang berdiri beberapa meter di depan mereka, di dataran yang sedikit lebih tinggi. Cahaya kuning keemasan hangat yang terpancar dari jendela-jendelanya dan dinding-dinding kacanya, menambah kesan mewah pada rumah itu.


“Aku yakin banget, loh, kalau tadi harusnya nggak ada rumah di situ.” Gumam Sarah.


“Ayo masuk.” Kata Rizky sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.


“Memangnya kamu ada saran lain? Aku nggak mau, deh, kalau sampai ketemu makhluk-makhluk itu lagi.”


“Ah, yaudah, deh.” Sarah berusaha bangkit berdiri, dan mengikuti Rizky.


Sesampainya di depan pintu rumah itu, Rizky mendapati kalau pintunya ternyata sedikit terbuka. Tanpa meminta pendapat Sarah, dia langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam sambil mengucap; “Assalamualaikum.” Ya, bahkan di bagian dalam rumah ini pun benar-benar mengagumkan. Semua interiornya tampak baru dan indah.


Namun, Rizky menangkap keberadaan beberapa sepatu dan sandal yang terletak di balik pintu, yang menandakan ada orang di sini.


“Kayaknya mereka ada di sini, deh.” Ujar Sarah takut-takut.


“Ya, bagus, dong. Kan mereka tujuan kita datang ke sini.” Rizky mengerutkan alisnya.


Sehabis melepas alas kaki, mereka berdua pun memutuskan untuk masuk lebih dalam. Mereka melewati pintu pertama, dan tiba di ruang tamu yang dipenuhi aroma harum bunga. Sofa-sofa mahal tertata rapi, dan ada dua rak buku yang bersandar di dinding. Mereka kembali berjalan dan melewati pintu kedua. Di situ ada pintu lain dan juga ada tangga yang menghubungkan ke lantai dua.


Rizky membuka pintu itu dan tiba di ruang yang dipenuhi dengan rak buku dan barang-barang aneh lainnya, seperti senjata yang tergantung di dinding, dan kertas-kertas aneh. Mungkin itu semacam ruang membaca atau ruang bersantai. Tapi, ada satu pintu lagi di sebelah kiri, dan pintu itu terbuka.


“Eh? Permisi?” Rizky menampakkan wajahnya di ambang pintu, dan seketika itu juga, dia mendapati ada beberapa orang yang tengah menikmati makan malam di dalam ruangan itu. Pak Sopir, cek. Si pemuda bermata oranye yang bernama Ran, cek. Dan pemuda gemuk yang tiap hari selalu ia kenal sebagai Kevin, cek.


“Loh!? Mas Rizky!?” Pekik Kevin dan Pemuda bermata oranye itu serempak. Tapi, pada saat itu pula, Kevin dan Ran saling bertukar pandang dengan tatapan aneh. “Bagaimana bisa!?”


“Dan... Kau siapa?” Tanya Kevin saat melihat kehadiran Sarah.


“Eh... ah, namaku, Sarah Vitrayandita. Salam kenal semua.” Sarah memperkenalkan dirinya sambil cengengesan.


“Tunggu—Apa!? Kau anaknya Amar—Amar Vitrayandita?” Wajah Kevin perlahan berubah warna menjadi merah padam.


“Vitrayandita? Bukannya itu salah satu klan bangsawan besar di Nusantara?” Pak Sopir angkat bicara. Dia juga tampak terkejut.

__ADS_1


“Eh? Kau mengenal ayahku?” Sarah bertanya dengan wajah bingung.


“Tunggu dulu! Tolong jelaskan apa yang terjadi di sini!” Raungan marah Rizky seketika membuat semuanya terdiam. Tatapan tajamnya tertuju pada Kevin.


“Aduh...“ Kevin dilanda serangan panik. Mungkin tingkat stresnya naik. Dia menggaruk-garuk sisi kanan kepalanya dengan gelisah, lalu menoleh pada Ran dan Pak Sopir sambil memberi isyarat.


“Ah... Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Liel.” Pak Sopir bangkit dari kursinya, kemudian melangkah meninggalkan ruang makan, diikuti oleh Ran yang anehnya tampak berusaha memalingkan pandangannya dari Rizky.


“Eh... Kalian duduk dulu, oke?” Pinta Kevin ragu-ragu sambil tersenyum kecut.


Rizky bertukar pandang dengan Sarah, lalu keduanya pun duduk di kursi meja makan. Masih ada banyak makanan yang tersedia di atas meja panjang, seperti lobster yang ditumis dengan bumbu balado, sup ayam, ayam panggang yang masih utuh, perkedel kentang, juga nasi yang tampaknya tinggal setengah.


Kevin duduk di kursi bagian ujung, seperti selayaknya seorang tuan rumah, sedangkan Rizky duduk di sebelah kiri tepat di dekat Kevin, dan Sarah duduk di sampingnya.


Namun anehnya, setelah mereka semua duduk, Kevin malah bengong dan menatap kedua orang itu bergantian, dan beberapa detik kemudian, dia kembali angkat bicara dengan wajah yang aneh. Dia tidak terlihat panik, atau heran.


“Yah, ini buruk. Sepertinya kalian sudah tercemar oleh kemurnian.” Ungkap Kevin tiba-tiba dengan wajah kosong. “Kok, bisa, ya...?”


“Kemurnian?” Sarah bertanya.


“Ya... Kemurnian. Itu kekuatan yang aneh banget. Bahkan dunia ini bisa berubah hanya dengan setetes saja.” Jelas Kevin.


“Heh! Kalau kau ngomong aneh lagi, Vin, kau bakalan kubuat ****** lho.” Ancam Rizky serius sambil mengangkat tinjunya. Situasi ini lama-lama semakin membuatnya jengkel.


“Eh... Jadi gimana dong?” Kevin bertanya dengan heran. “Soalnya kalian sudah terlanjur tercemar. Itu bisa bahaya banget, loh. Karena kemurnian itu membuat takdir dan dunia jadi nggak bisa melihat kalian lagi. Yang artinya, kalian sekarang menjadi makhluk hidup yang tidak memiliki masa depan, dan Hukum Dunia juga sudah nggak berlaku lagi buat kalian.”


“Hah!?” Rizky dan Sarah memekik bersamaan.


Ini gila, padahal rencana awalnya hanyalah untuk mengikuti Kevin, tapi sekarang Rizky malah berakhir dalam situasi yang tak masuk akal ini. Apa-apaan itu? Bagaimana mungkin dia kehilangan masa depannya sendiri? Dan penjelasan macam apa itu?


“Tunggu dulu, Vin! Coba kau jelaskan pelan-pelan! Aku benar-benar nggak paham.” Kepanikkan juga mulai menelan Rizky. “Ini nggak masuk akal banget, Vin.”


“Ya... Mas bisa sampai ke sini aja itu udah nggak masuk akal juga, lho.” Kevin memasang senyum masam. “Tapi intinya, mulai dari sini hidup kalian itu sudah nggak sama lagi. Karena kalian sudah bukan manusia lagi, dan dunia ini, bukan lagi rumah kalian.”


“Hah...?” Rizky kehabisan kata-kata. Keringat dinginnya bercucuran.


Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?


Siapa yang harus disalahkan?


Tiba-tiba saja Rizky merasakan ada sesuatu yang bergetar di dalam tasnya. Dia segera membuka tas kecil itu, dan mengeluarkan ponselnya.


“Tiga puluh enam panggilan tak terjawab... “ Rizky bergumam sambil menatap ngeri layar ponselnya. Sudah tiga puluh enam kali ia tak menjawab telepon dari orang yang menjadi pasangan hidupnya di dunia ini, dan jujur, itu membuatnya ketakutan. “Mati aku...“


“Dari istri Mas, ya?” Kevin bertanya.


“Iya...“ Jawab Rizky pasrah.


“Hmm... Mas bilang aja dulu, kalau Mas mau menginap di sini.”


“Eh? Memangnya ini rumah siapa?” Sarah akhirnya angkat bicara lagi.


“Ya rumahku, lah.” Ujar Kevin sembari menghela nafas.


“Ini benar-benar aneh.” Kata Rizky pelan. “Sejak tadi itu aku kayak nggak kenal sama kamu, loh, Vin. Padahal rasanya lumayan asyik saat kita cerita-cerita di kedaiku setiap malam. Tapi, malam ini... benar-benar aneh...”


“Ya, mau gimana lagi.” Kevin memasang senyuman di bibirnya. Senyuman yang terkesan dipaksakan. “Yang penting, sekarang Mas bilang aja dulu ke istri Mas, kalau Mas mau menginap di rumah teman atau siapa gitu. Biar malam ini aku jelaskan semuanya, dan aku juga akan membantu kalian sampai semuanya kembali seperti sedia kala. Dan kamu juga.”


“Maaf sebelumnya, tapi aku menolak.” Ungkap Sarah tiba-tiba. “Aku menginginkan kekuatan ini untuk mencari Ayahku.”

__ADS_1


__ADS_2