![ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]](https://asset.asean.biz.id/alkisah---doa-untuk-dunia--1001-cerita-fantasi-indonesia-.webp)
Entah kenapa peperangan itu selalu terlihat tiap kali Ran menutup matanya. Akan tetapi, walaupun itu hanya mimpi, tapi rasa sakit yang dirasakannya benar-benar nyata. Saat kakinya berlari di atas medan perang yang lambat laun mulai hancur, atau saat ia terkena sabetan pedang dan peluru nyasar, atau juga saat ia mencabut nyawa seseorang. Semuanya terasa nyata.
Bahkan, meskipun saat ini ia jelas-jelas sedang duduk di kursi bagian belakang dalam taksi, anehnya Ran malah merasa kalau ia sedang berdiri di antara mayat-mayat pasukan musuh yang berhamburan di mana-mana.
Dengan darah yang mewarnai seragamnya, dan kedua tangannya, anak itu berdiri di bawah fajar yang menyingsing, sementara di medan perang itu, hanya ada beberapa orang saja yang masih berdiri, hidup dan bernafas, termasuk Ran.
Itulah masa lalu.
“Sialan... “ Keringat dingin bercucuran membasahi wajah Ran. Pemuda dua puluh satu tahun berambut gondrong lebat itu menggelengkan kepalanya keras-keras demi mengusir ingatan-ingatan yang tak menyenangkan itu. Mata orangenya yang sewarna api beberapa kali berpendar bercahaya karena perasaan gelisah yang memenuhi dirinya.
Sesekali Ran memaksa pandangannya untuk melirik ke arah jendela mobil. Tapi sekarang masih pukul sembilan malam, dan di luar sudah gelap gulita. Namun, entah kenapa ketika Ran melihat kegelapan itu, dia malah merasa semakin buruk.
“Hmm? Kau baru tiba hari ini ya?” Si Sopir taksi tiba-tiba bertanya.
“A-ah... iya, pak.” Ran berusaha menenangkan dirinya, dan menatap ke arah si Sopir dengan heran. “Maaf, pak, jujur saja, aku tadi nggak sadar, loh, kalau Bapak juga dari dunia sana.”
“Ya, wajar, kok” Jawab si Sopir dengan logat jawa yang kental. “Kamu seorang Pejuang Perang, kan? Aku mengerti, kok, apa yang kau rasakan sekarang.” Ungkapnya santai. “Disana, kita selalu bertempur di medan perang hampir setiap jam. Tapi, setelah tiba di sini, semuanya berubah dalam sekejap. Aku juga ingat betul, bagaimana rasanya bisa duduk seperti itu tanpa harus khawatir dengan hal-hal mengerikan itu. Saat ini, kau cuma perlu melemaskan badan dan duduk tenang saja. Gampang, kok.”
“Ah... begitu, ya?” Ran mengikuti perkataan si Sopir, dan bersandar di kursi. Benar-benar perasaan yang amat menenangkan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar bisa duduk tanpa perlu mencemaskan apapun.
“Jadi, kapan kau dikirim ke sini?”
“Ah... prosesnya dimulai tiga hari yang lalu Pak.” Ran menjelaskan. Matanya yang kosong dan tampak kelelahan tertuju pada jendela mobil. “Setelah surat dari Dewan Dua Dunia datang, pihak kerajaan langsung mengirimku ke Kristal Agung. Dan setelah tiba disana, mereka langsung menjelaskan semuanya padaku. Tentang Hukum Dunia, tugas melindungi manusia, dan semuanya. Lalu, saat semuanya sudah siap, yang terakhir kuingat adalah waktu Jembatan Pelangi turun menjemput kami, dan aku pun tiba di dunia ini.”
“Hoh, nggak ada yang berubah rupanya.” Kata si Sopir.
“Kalau bapak?”
“Ya, aku juga Pejuang Perang, dan aku dikirim ke sini waktu aku masih umur tujuh tahun.” Ungkap si Sopir sambil tersenyum. “Aku cuma budak perang waktu itu. Aku cuma tukang pungut di medan perang. Tapi persis seperti yang kau duga... aku juga sudah mencabut nyawa terlalu banyak orang hingga akhirnya dikirim ke sini.”
“Wah... ternyata nasib kita nggak jauh beda ya pak.”
“Ya, begitulah masa lalu semua rakyat dunia kita yang dikirim ke sini.” si Sopir menambahkan dengan pasrah.
“Hah... Kuharap dunia ini lebih baik dibanding dunia kita.”
“Ah, sebaiknya kau jangan terlalu berharap.” Kata si Sopir tiba-tiba.
“Loh? Kok begitu?” Ran terkejut.
“Gimana ya... kau mungkin belum tahu, tapi manusia itu adalah makhluk yang sangat buruk.” si Sopir menjelaskan. “Maksudku, benar-benar buruk. Berbeda dengan kita, yang selalu menghargai kebaikan sekecil apapun, sedangkan mereka malah sebaliknya. Mereka... mereka adalah makhluk dengan pandangan yang terlalu sempit, dan karena itulah, mereka menjadi sosok perusak yang mengerikan.”
Ran hampir tidak mampu berkata-kata. Dia ingin memprotes, tapi toh dia juga baru tiba di dunia ini, jadi dia tak punya hak untuk saat ini. Dari suara si Pak Sopir, terdengar jelas kalau dia memang memandang buruk umat manusia. Dia takut dengan mereka, sekaligus membenci mereka. Apakah manusia memang seburuk itu?
“O-oh, maaf dek, hiraukan saja semua yang kukatakan barusan.” Ujar si Sopir buru-buru. “Itu hanya berdasarkan pemikiranku saja, kok, jadi nggak usah dipikirkan.”
“A-ah... Baiklah kalau begitu.” Kata Ran ragu-ragu.
Mata Ran menilik pemandangan di balik jendela. Bangunan-bangunan terlihat di sepanjang jalan, entah itu rumah, atau toko, dan entah apa lagi. Juga pepohonan yang tumbuh besar dan sehat, serta masjid, gereja, dan orang-orang normal.
Sungguh pemandangan yang amat ganjil. Tak ada pertempuran di manapun. Monster pun tak ada. Tak ada nyala-nyala sihir atau orang yang memancarkan keberadaan yang hebat, atau pemandangan lain yang biasa dilihat Ran di dunia sana. Semuanya benar-benar biasa.
Kala itu, Ran tiba-tiba merasa ingin menangis, tapi ia juga sadar betul kalau matanya masih terlalu lelah, mengingat sudah lima hari ia tidak istirahat.
“Ini benar-benar... nyaman.” Gumam Ran tanpa sadar. Matanya perlahan mulai menutup rapat, dan ia pun tenggelam dalam tidurnya, dan di saat itu pula, mimpi itu datang lagi. Dia kembali ke medan perang, dan bertempur melawan penjajah.
Namun, anehnya Ran sadar kalau itu hanya mimpi, jadi ia memaksa dirinya untuk membiarkan semuanya berjalan seperti yang seharusnya. Membiarkan mimpi itu berputar berarti memberikan kesempatan pada raganya untuk beristirahat.
Akan tetapi, ketika Ran sudah mulai bisa terbiasa dengan semua itu, taksi yang ditumpanginya tiba-tiba saja berhenti mendadak, dan membuatnya terbangun.
“Eh? Ada apa, Pak?” Tanya Ran dengan mata sayup-sayup.
“Oh? Maaf, ya, kalau aku membangunkanmu. Soalnya di luar sana ada dosa yang berkeliaran, jadi aku harus mengurusnya dulu. Nggak apa-apa, kan?” Tanya si Sopir yang berniat melepas sabuk pengamannya. Tapi sayangnya Ran sudah lebih dulu membuka pintu mobil, dan melangkah keluar.
“Ah, tolong biarkan saya yang mengurus ini.” Kata Ran dengan nada dingin.
“Hoh? Apa kau yakin? Berarti ini akan menjadi tugas perdanamu di dunia ini.”
“Ya, aku sangat yakin. Bapak tenang saja.” Jawab Ran sambil menutup pintu. “Aku ini... sangat kuat, loh.”
__ADS_1
Mata oranye Ran kembali berpendar terang, dan di saat yang bersamaan, suatu nyala api tiba-tiba muncul di udara, dan api itu menjadi semakin besar, dan perlahan-lahan, mulai berubah bentuk menjadi wujud seekor burung yang sangat cantik.
“Bersiaplah, Finix.” Perintah Ran.
Burung bersayap api membara itu mengepakkan sayapnya dengan penuh semangat.
Ran dengan hati-hati mengalihkan tatapannya sebentar kearah anak-anak muda yang sedang nongkrong di depannya. Tapi, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Ran.
“Wah, kau punya Auxilium rupanya. Itu bisa jadi nilai tambah banget, loh.” Kata si Sopir yang menonton dari jendela. “Oh, dan kau tenang saja, kalau kau sudah menggunakan kekuatanmu, meskipun itu hanya setetes, kujamin manusia-manusia itu sudah nggak akan bisa melihatmu. Itu sudah kodrat mereka. Mereka nggak bisa melihat bentuk keajaiban.”
Setelah mendengar penjelasan Pak Sopir, Ran kemudian memandang berkeliling.
Tempat mereka singgah saat ini adalah daerah perbatasan antara Kota Kendari dan Konawe Selatan, dan gerbang besar di sana adalah tandanya, jadi bisa dibilang disini memang sangat ramai. Jalan rayanya luas dan dipenuhi kendaraan yang hilir mudik. Ada dua supermarket tak jauh dari sana, serta anak-anak muda yang nongkrong di berbagai tempat, dan di depan Ran saat ini, ada penjual martabak, juga stand atau semacam gerobak yang menjual berbagai macam minuman kekinian di dunia ini.
Akan tetapi, ada makhluk lain yang sedang hinggap di atas gerobak kedai di depan Ran.
Makhluk yang tak seharusnya ada.
Wujudnya terlahir dari api hitam pekat yang membara, dan sosoknya menyerupai seekor kalajengking raksasa seukuran mobil truk. Dua bola mata merah menyala yang bertengger di kepala makhluk itu memancarkan keinginan untuk membunuh yang teramat sangat.
Saat ini Dosa itu tengah menyerap dosa-dosa dari beberapa manusia yang ada di situ. Gampangnya, Dosa itu sedang memakan dosa mereka.
Ya, makhluk itulah yang menjadi alasan Ran berdiri di sini saat ini.
“Baiklah.” Ran memberi isyarat pada Finix, lalu burung itu kembali lebur menjadi nyala api dan berkumpul di lengan kiri Ran. Beberapa saat kemudian, nyala api itu akhirnya padam, digantikan oleh sebuah busur indah yang kini sudah berada dalam genggaman tangan Ran.
Ran dengan mantap mengambil posisi memanah. Dia merapatkan kedua kakinya, dan tangan kanannya mulai bergerak seakan sedang menarik anak panah, dan memang, di saat itu pula ada anak panah yang terbentuk dari api dan siap untuk dilepaskan.
Jarak antara Ran dan Dosa itu cuma dua meter lebih, jadi mustahil kalau ia meleset.
Dosa yang mulai merasa terancam itu langsung mendesis marah dan melompat dengan cepat menuju kearah Ran. Ya, sudah sepantasnya, bukan? makhluk itu ingin mencincang Ran menjadi potongan-potongan kecil.
“Wah, sensi amat.” Ran memasang senyuman di bibirnya, lalu dalam sekejap mata, ia melepaskan anak panahnya.
Udara di sekitar Ran berguncang keras saat serangan dilepaskan, dan membuat orang-orang menjadi keheranan karena tiupan angin kencang yang muncul mendadak itu.
Anak panah itu melesat menembus si kalajengking, dan seketika itu juga, Dosa itu langsung lebur menjadi debu cahaya berwarna-warni, lalu dan dari debu-debu itulah tercipta sebongkah batu permata hijau.
“Eh? apa itu?” Anehnya, pemuda itu tidak terlihat kesakitan, malahan dia hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan heran seakan merasa gatal.
Namun, anak panah Ran masih terus melesat ke langit. Semakin jauh dan semakin tinggi, bagaikan kilat yang naik ke atas hingga tak terlihat.
“Benar-benar mengerikan.” Kata Pak Sopir yang ternganga melihat kekuatan Ran.
“Hehe, biasa saja kok pak.” Ujar Ran sambil berjalan menuju ke tengah-tengah para pemuda itu. “Jadi ini ya? Batu Neraka?” Ran memungut batu permata hijau gelap itu, lalu memasukkannya ke dalam kantung jaketnya.
Setelah itu, dia menutup matanya rapat-rapat, melemaskan badannya, dan mengembalikan semua kekuatan sihirnya. Busurnya berubah menjadi api dan lenyap, dan begitu pula dengan matanya yang tadinya memancarkan cahaya oranye terang, kini telah kembali seperti sedia kala.
“Loh!?” Pemuda-pemuda itu langsung memekik kaget. Mereka jelas terkejut karena mendapati Ran yang tiba-tiba sudah berdiri di situ tanpa mereka sadari.
“Ah... maaf, maaf.” Kata Ran sambil tersenyum lebar. Entah kenapa ini malah terasa lucu. Wajah terkejut pemuda-pemuda ini benar-benar tampak sangat konyol.
Ran dengan santainya berpaling dari mereka, kemudian berjalan ke arah taksi.
“Kok bisa orang bule itu tiba-tiba ada di sini?”
“Hmm? Dia kayaknya bukan orang bule deh.”
“Tapi matanya! Warnanya kayak api.”
“Gila! Aku nggak sadar!”
“Iya, sama. Anak itu tiba-tiba muncul di sini begitu aja loh.”
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Mata Ran mendapati suatu pemandangan yang sangat tak wajar ketika ia tidak sengaja menoleh ke belakang, tepatnya ke arah gerobak itu. Di situ, di dalam gerobak, berdiri seorang pemuda berkulit putih dan bertubuh agak gemuk, yang mungkin masih berusia dua puluh tujuh atau delapan. Wajahnya terlihat ramah dan baik, dan jika dilihat sekilas, dia tampak seperti orang berkebangsaan Arab. Dan yang paling penting di atas semuanya, dia benar-benar terlihat teramat sangat mirip dengan sahabat Ran yang telah lama meninggal.
“Tidak mungkin.” Kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Ran begitu saja.
__ADS_1
Rasa sakit yang menyayat menjalar di seluruh tubuh Ran.
Ran tidak tahu ini nyata atau tidak, tapi orang itu, benar-benar tak ada bedanya dengan sahabatnya, Lion. Mereka benar-benar tampak seperti orang yang sama.
Tubuh Ran seketika menjadi lemas bukan main. Tenaganya seakan terkuras dalam sekejap tanpa alasan yang jelas. Matanya yang terbuka sangat lebar masih tertuju kepada si penjual di gerobak itu.
Ran berusaha menggerakkan kakinya, dan melangkah mendekati gerobak. Tangannya yang tak bertenaga menggapai meja, dan dengan suara yang gemetaran, serta keinginan yang sangat kuat dari dalam hatinya, dia langsung memanggil nama sahabatnya, dan kini, ia hanya bisa berharap.
“Hey... Lion? Kau... Lion, kan?” Tanya Ran tanpa ragu. Tenggorokannya terasa sakit.
“Eh? Saya?” Pemuda itu tampak amat keheranan. Padahal waktu itu ia tengah menyiapkan minuman untuk seorang pembeli. Tapi ia berhenti karena pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan Ran. “Ah... Mas kayaknya salah orang, deh. Saya Rizky, Mas.” Katanya dengan wajah bak orang linglung.
Ran hanya bisa menggigit bibirnya saat mendengar jawaban itu. Dia menundukkan kepalanya, dan berusaha menahan emosinya yang hampir meledak. Dia merasa sangat marah, sedih, jengkel, dan sangat buruk, tapi akan sangat bodoh bila ia melampiaskannya di sini.
Namun, mata Ran menangkap sesuatu di meja; itu adalah daftar harga.
“A-ah! Maaf, maaf, soalnya kamu mirip banget dengan sahabatku.” Ran berusaha sangat keras untuk mencairkan suasana. Meski jantungnya berdetak kencang, tapi dia adalah prajurit di sini, dia adalah Agen Dua Dunia, seorang Arch, dia tidak boleh bertindak gegabah apapun yang terjadi. “Ka-kalau begitu, saya pesan seratus minuman thai tea ini, dan seratus burger sapi spesial. Bisa, kan?”
“Hah!? Seratus!?” Pemuda bernama Rizky itu memekik tak percaya, sampai-sampai membuat orang-orang di sekitar situ menoleh ke arah Ran. “Ta-tapi, kayaknya nggak cukup Mas.” Pemuda itu menjadi salah tingkah karena saking terkejutnya.
“Ah... “ Ran kembali melihat daftar harga. “Kalau begitu, saya mau pesan dua puluh minuman, rasanya dikasih beragam aja. Terus burgernya, juga dua puluh, yang mana-mana saja deh. Mau sapi atau ayam, spesial atau nggak.”
“Wah... Oke, dua puluh minuman, dua puluh burger. Saya siapkan dulu kalau gitu. Mas duduk saja.” Kata si penjual yang masih keheranan setengah mati.
Ran langsung duduk, tapi matanya tetap tak berpaling dari wajah pemuda itu.
“Hmm?” Si Sopir taksi tiba-tiba muncul di samping Ran. “Kamu lagi ngapain, sih?”
Ran yang berkeringat dingin memberi isyarat pada Pak Sopir untuk duduk, lalu ia pun menjelaskan situasinya dengan buru-buru.
“Hoh? Begitu ya? jadi dia mirip dengan sahabatmu yang mati di peperangan.”
“Iya, pak....”
“Ya, kalau begitu saya ikutan nunggu aja deh.”
“Wah? Beneran?”
“Ya, tentu saja, lah. Di dunia manusia ini, kita sudah sepatutnya harus saling membantu.” Jelas si Sopir. “Tapi, ini benar-benar kabar baik, loh. Kau telah berhasil menemukan suatu kepingan indah yang ada dunia ini.”
“Ya... sepertinya begitu.” Bisik Ran sambil memandang Rizky.
“Tapi, kau harus ingat, kalau dunia ini bukan dunia kita. Memang, di sana teman-teman kita dan sahabat-sahabat kita, adalah segalanya. Mereka adalah harta yang paling berharga, dan keluarga yang tak tergantikan, tapi hal itu tidak berlaku di dunia ini.”
“Baiklah... Aku akan mengingatnya.” Kata Ran yang masih belum mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda itu. “Hanya saja, aku tak menyangka, kalau ternyata aku akan merindukan masa-masa itu... “
“Ya, syukurlah kalau begitu. Setidaknya, kau jadi memiliki alasan untuk melindungi manusia, dan dunia ini. Maksudku, tidak mudah untuk menemukan alasan hidup saat ini.”
“Yah... Entah kenapa kini aku telah kehilangan minat untuk memotong masa laluku. Terima kasih, Tuhan...” Ran akhirnya berhasil mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Ia menatap telapak tangannya lamat-lamat. “Aku benar-benar bersyukur karena masih bisa hidup sampai sekarang. Sekali lagi, terima kasih, Tuhan...”
“Ngomong-ngomong, kudengar tadi kau pesannya banyak banget. Itu semua mau kamu apain?” si Sopir berbisik, membuat Ran tersadar.
“Eh? Ah... Bapak mau?”
“Ora,” Jawab Pak Sopir singkat dengan wajah datar.
“Ya, kalau gitu, kubagi-bagi aja, deh, ke pengemis di jalan.” Ujar Ran sambil tersenyum masam. “Oh, iya, kalau boleh tahu, alasan Bapak hidup selama ini apa ya?”
“Hmm... Aku sebenarnya punya keluarga, jadi alasan itu sudah cukup.” Namun si Pak Sopir tiba-tiba teringat dengan sesuatu. “Ah! Kebetulan kau bertanya!” Pekik Pak Sopir yang berhasil mengejutkan si pedagang, sekaligus Ran.
Entah kenapa si bapak tampak tegang sekarang. Dia amat kegirangan, tapi juga panik di saat yang bersamaan. “Ada kabar yang terdengar akhir-akhir ini... Sebuah Pusaka Dunia akan munculd i pulau ini dalam waktu dekat.”
“Pusaka Dunia? Tapi... aku sudah punya Auxilium, loh, pak, dan aku juga tadi bilang kan? Aku ini sangat kuat, loh. Aku udah nggak butuh kekuatan lagi. Aku cuma mau hidup normal di dunia ini mulai sekarang.”
Akan tetapi, sikap Pak Sopir tetap tak berubah. Dia berkeringat dingin, dan bersikeras untuk membagikan kabar itu dengan Ran.
“Begini, nak... Pu-Pusaka Dunia ini... bisa membawamu kembali ke masa lalu.”
Mata Ran seketika membelalak, dan nafasnya terhenti.
__ADS_1
“Hah...?”