ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH/ Waktu Keajaiban: Angan-Angan Yang Jauh


__ADS_3


Musik, musik, dan musik, hanya itu saja yang ada dalam kepala Eren sejak tragedi yang menimpa hidupnya tiga tahun lalu. Walaupun kedua orang tuanya tidak menyukai hobinya itu, tapi Eren rela melepaskan semuanya asalkan dia tetap bisa bermain musik. Bahkan, meskipun musik sering memberikan penderitaan pada Eren, tetap, dia tidak akan berpaling dari itu.


“Tapi... Aku bisa bertahan nggak ya?” Suara itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Eren tanpa ia kehendaki. Pemuda itu duduk di atas bukit bersama anjing peliharaannya, Onyol, sambil mengamati angkasa malam bercahaya yang berhias bintang yang tak terhitung jumlahnya.


Namun, saat melihat pemandangan yang indah dan terasa ajaib itu, kilasan-kilasan masa lalu tiba-tiba menutupi pandangannya.


Dulu, Eren memiliki saudara kembar, dan namanya adalah Eran.


Eran terlahir dengan bakat bermain musik yang begitu luar biasa. Entah itu gitar, piano, drum, atau alat-alat musik yang lain, dia pasti mampu menguasainya dalam waktu singkat. Seakan-akan dia mengenal nada-nadanya sama seperti ia mengenal tubuhnya sendiri. Sungguh talenta yang luar biasa. Dan gitar, adalah alat musik yang paling disukainya.


Ya, dia benar-benar luar biasa, dan Eren sendiri kagum pada saudaranya itu.


Akan tetapi, sayangnya Eren tidak memiliki bakat hebat seperti itu. Dia sama seperti orang-orang biasa pada umumnya. Tak lebih dan tak kurang. Dia hanyalah seorang Eren. Tapi, itu tidak apa-apa, toh dia tidak pernah mempermasalahkannya.


Namun, semuanya berubah saat mereka duduk di bangku SMA.


Di lingkungan sekolahnya, ada banyak orang yang tidak menyukai bakat Eran, ditambah lagi, dia juga terlalu cerdas, dan itu membuatnya semakin dibenci. Bisa dibilang, dia adalah sosok yang tampak sempurna di mata teman-teman seumurannya waktu itu, dan itu adalah masalah besar.


Saat kelas satu, semuanya masih tampak baik-baik saja. Eran berusaha untuk bertahan, meskipun dia selalu dirundung oleh teman-temannya. Tapi, situasinya semakin buruk setelah mereka naik di kelas dua. Perlakuan teman-temannya terhadap dia benar-benar sudah pada tingkat yang keterlaluan.


Namun, anehnya Eran tetap bertahan, dan dia sama sekali tak acuh dengan semua penderitaan yang dialaminya. Bahkan, dia juga menolak bantuan Eren.


Dia tetap tersenyum, melangkah, dan bermain gitar.


Dulu Eren pernah membuntutinya saat dia pergi ke bukit ini, tempat di mana ia selalu menyendiri. Waktu itu, Eren sebenarnya berpikir kalau Eran mungkin sedang menangis, tapi setibanya ia di sini, Eren terkejut karena mendapatinya sedang bermain gitar seperti biasa. Malahan, dia tampak sangat bahagia.


Sampai-sampai, timbul suatu pemikiran yang aneh dalam benak Eren. Dia mulai berpikir, kalau saudaranya itu mungkin tidak normal. Tapi, Eren memang menganggapnya tidak normal sejak dulu, dalam arti yang baik tentu saja.


Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi kala itu.

__ADS_1


Walaupun Eren bersembunyi cukup jauh, dia tetap bisa melihat sosok itu. Sosok gadis muda cantik berambut panjang dan berwarna putih seperti salju, mengenakan gaun kain terusan yang anggun, dan matanya tertutupi oleh ikatan kain hitam.


Gadis itu benar-benar sempurna. Dia bersinar terang layaknya bintang.


Dari jam delapan malam, gadis itu muncul dan duduk bersama Eran sambil bermain musik. Mereka bercakap-cakap, tertawa bersama, bersendu gurau, dan terlihat sangat akrab, layaknya sepasang kekasih. Namun, ketika jarum jam menunjukkan angka sebelas, gadis itu akhirnya kembali terbang ke langit, dan hilang tanpa jejak.


Namun di keesokan paginya, pemuda itu mendapati Eran telah meninggal dalam tidurnya. Semuanya terjadi begitu saja, dan yang bisa dilakukan Eren, hanyalah membiarkan kesedihan menguasainya.


Benar-benar masa lalu yang tak menyenangkan, dan saatnya kembali ke masa kini.


Eren tersenyum kecil sambil menatap gitar yang ada di tangannya. Gitar yang dulunya pernah menjadi milik Eran.


“Aku tidak tahu kau terlibat dalam hal apa, dan aku juga nggak tahu kau ada di dunia mana, tapi yang pasti aku akan menyusulmu ke sana.” Ujar Eren sembari mendongak menatap angkasa. “Aku akan bertahan hingga saat itu tiba. Nggak masalah kan bro?”


“Ya, aku juga menunggumu kok. Tenang saja.” Jawab Eran yang suaranya terdengar dari entah mana. Seakan-akan dia ada di sana, hanya saja di dunia yang berbeda. “Yang penting, kalau kau sudah tahu apa alasan hidupmu di dunia ini, jangan lupa kasih tahu aku oke?”


“Iya, iya.” Eren membelai Onyol. Anjing peliharaannya itu sejak tadi tertidur di pangkuannya. “Ngomong-ngomong, kamu hebat banget ya kalau dipikir-pikir? Bisa mengetahui alasan hidupmu secepat itu.”


“Iya juga sih... Dari kecil, cara berpikirmu itu memang sudah dewasa banget. Malah dulu aku sempat ngerasa kalau kau itu lebih tua dari kakek loh. Aneh banget pokoknya.” Kata Eren sambil tertawa terkekeh.


“Yah, begitulah yang terjadi kalau kau sudah menyadari kenyataan dunia.” Eran menjelaskan. “Saat kau melihat kenyataan dunia, saat itu pula, kau mulai merasa kalau kau itu bukan lagi manusia biasa.”


“Eh... Maksudnya?” Tanya Eren heran.


“Gimana ya? Rasanya itu kamu seperti sudah mengetahui semuanya, dan itu nggak enak banget.” Ujarnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau masih menyimpan gitar itu? Memangnya ibu dan ayah nggak marah apa?”


“Eh? Jelas aja mereka marah, tapi aku juga nggak mau ngebuang ini lah. Toh, ini kan gitar kesukaanmu.”


“Hmm... Oh iya, gimana permainan gitarmu? Udah bagus? Soalnya kau harus bisa main musik kalau mau jadi Suara Dunia kayak aku. Nggak perlu jago kok, yang penting layak.”


“Ah! Iya, aku punya lagu buat kamu.” Kata Eren yang baru saja teringat alasannya datang ke sini malam ini.

__ADS_1


“Hah? Serius? Kau bikin lagu?” Eran terdengar sangat terkejut.


“Iya dong! Nih denger baik-baik, nggak panjang kok.”


“Mana, mana!?”


Lalu, ketika Eren memulai permainan gitarnya, pada saat itu juga, cahaya keunguan di langit malam juga perlahan-lahan mulai meredup.


“Dunia ini, mengapa begitu kejam dan tak terkatakan.


Dunia ini, mengapa begitu indah, tanpa pengampunan.


Kuharap Kau tahu, betapa besar anganku.


Kuharap Kau tahu, rasa sakitku yang tak terbendung.


Oh Tuhan... Kumohon, izinkanku beristirahat. 


Hanya sebentar. Cukup sesaat, karena ku tak bisa lagi.


Oh Tuhan... Kumohon, biarkanku pergi saja. Tuk mengejarnya.


Tuk selamanya... Kumohon.”


.


.


.


SC Gambar: Google

__ADS_1


__ADS_2