
rina turun dari mobilnya, ia melihat rumah yang sudah hampir beberapa bulan ini ia tinggalkan. Tidak ada yang berbeda, hanya beberapa tanaman saja yang berganti.
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang. Ia tahu orang tuanya sedang berada di rumah, jadi ia memutuskan untuk menemui pembantunya terlebih dahulu.
“bi sumartiii” merasa di panggil, bi sumarti –pembantu di rumah orang tua rina- menengok, dan sapu yang dipegangnya pun terjatuh.
“N-non R- rina?” tanyanya tak percaya.
“iya bi” rina mengedipkan matanya dan melangkah mendekat, ia langsung merekuh wanita paruh baya tersebut.
“ini teh non rina beneran?”
“iya bibi astaga” rina kembali meyakinkan bi sumarti.
Bi sumarti mengajak rina duduk, ia membuatkan minuman untuk nona yang sudah lama tak dilihatnya. Tidak lama terdengar suara langkah yang perlahan mendekat.
“R- rina?”
rina yang merasa terpanggil pun menengok, dan betapa terkejutnya ia melihat mama nya sedang berdiri di hadapannya.
“ma-mama?” suara rina tercekat saat saat memanggil kata mama.
__ADS_1
“mau apa kamu kesini huh?” mama rina bertanya dengan nada sinis.
rina hanya terdiam menatap wanita yang hampir beberapa bulan ini hanya ia lihat dalam sebuah foto usang saja.
Merasa tidak ada respon dari rina, wanita tersebut menarik, maksudnya menyeret rina menuju ruang
kerja suaminya, ia ingin meminta penjelasan rina yang sudah lancang masuk ke dalam rumahnya.
Tiba di depan ruang kerja, tanpa mengetuk pintu, wanita itu nyelonong masuk. Sang suami terlihat
terkejut dengan kedatangan istri dan anak yang, ekhm mereka asingkan.
rina tetap diam. Diamnya kini makin menjadi. Ia menatap tak percaya dengan kedua orang yang berada di depannya, papa dan mama nya.
Ia benar-benar rindu terhadap orang yang sudah membuatnya ada di dunia.
“jadi rina, apa yang membuat kamu kesini? Kamu tahu kan kalo kamu sudah janji tidak akan menginjakkan kaki ke rumah ini lagi?” nada papanya terdengar dingin di telinga rina.
rina mencelos, ia bergeming, tatapannya kosong dan ingatannya terlempar pada hari dimana ia diasingkan. Seakan tersadar, rina yang tadi menunduk pun mulai mengangkat kepalanya, menatap mata papa nya, mata yang sama degan mata indahnya.
“maaf kalau rina lancang, tapi p-papa, uang bulanan rina habis”dan rina juga kangen kalian. rina hanya mampu mengucapka kata selanjutnya dalam hati.
__ADS_1
“astaga rina, ya sabarlah, lagian ini juga baru sehari lewat dari biasa tanggal kita kirim, boros banget sih kamu?!” bentak mama rina tak percaya.
rina menutup matanya, menahan sesak karena bentakan yang diberikan mama nya.
“m-maaf tapi r- rina emang bener-bener butuh” rina semakin tergagap, ia ingin lari saja rasanya.
rina melihat papanya bangkit dan menghampirinya.
“papa udah minta karina buat kirim uang ke kamu, tapi kamu tahu kan di dalam perjanian itu, kalo kamu ngelanggar kamu bakalan kena sanksi?” tanya papa rina. rina hanya mengangguk membenarkan.
“ya untuk sanksinya, papa gak akan kirim uang lagi ke kamu, jadi kamu harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu sendiri, dan tolong segera keluar dari rumah ini”
Setetes air mata jatuh dari mata rina, rina mengangguk samar dan berbalik. rina segera meninggalkan rumahnya ini. rina memantapkan hatinya untuk benar-benar lepas dari keluarga ini.
rina mengendarai mobil dengan kacau, air matanya terus saja berjatuhan, wajahnya terlihat pucat dan menyedihkan. Tiba di apartemen, rina memarkirkan mobilnya asal dan mulai berlari menuju apartemennya.
Di apartemen rina langsung masuk kamar, ia menenggelamkan kepalanya di bawah bantal dan mulai menangis sekencang-kencangnya.
Katakanlah rina cengeng, tapi sungguh, rina hanya butuh dimengerti, sekarang bagaimana? Ia saja masih duduk di bangku sekolah, lalu bagaimana caranya mencari uang untuk memenuhu kebutuhan hidupnya?
rina terus menangis hingga tertidur.
__ADS_1