
Di tempat lain.
Nathan pulang dari dari
tempat permainan, ia tampak heran mengapa saat ini rumahnya tampak ramai,
beberapa mobil berjajar rapi di depan rumahnya. Mencoba tak peduli, Nathan
mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumahnya.
Nathan sempat terkejut
ketika berhasil diruang tamu, matanya mengerjap tak beraturan. Ia merasa aneh
disini. Ia melihat kembaran Rina –Rina memang pernah becerita bahwa Rima itu
kembarannya, karena dari awal Nathan sudah tahu tanpa di beri tahu dulu- yang
diapit oleh papa dan mama Rima tentunya, dan dihadapan keluarga Rima ada
papanya yang terlihat bercengkrama dan mamanya yang tersenyum hambar dengan
tatapan kosong.
Nathan segera menuju ke
sana saat papanya memanggilnya. Ia mendudukkan tubuhnya ke sofa, saat tubuhnya
sudah berada sepenuhnya di sofa, ia tersenyum pada kepada orang tua Rima—juga Rima
tentunya. Ia berusaha bersikap ramah demi nama baik keluarganya, dan tidak
sengaja ia menatap Rima yang kini tengah tersenyum manis, lebih tepatnya
centil. Bahkan Rina saja lebih baik darinya, Nathan mendengus pelan dan kali
ini ia mencoba membuka suara.
“maaf pa, sebalumnya ada
apa ya?”Nathan mencoba bertanya pada papa nya.
“emm bisa kita mulai
sekarang?” Nathan makin dibuat heran oleh sikap papanya.
“ah silahkan di jelaskan
__ADS_1
terlebih dahulu hen”
Sahut om rizki- papa Rina
dan Rima-
“oke biar ayah jelasin
terlebih dahulu, sebelumnya ini kenalin om rizki, tante laras dan Rima. Om
rizki sama tante laras itu temen papa waktu SMA. Dan mereka disini berniat
untuk...”
Dan kalimat terakhir
papanya membuat dunia seakan runtuh seketika.
Nathan segera pergi
meninggalkan tempat yang membuatnya sumpek, ia segera menelpon Rina agar segera
datang ke tempat biasanya. Tanpa pikir panjang Nathan segera pergi ke taman, 15
menit kemudian Nathan sampai dan didapatinya sahabat masa kecilnya sekaligus
cinta pertamanya sedang duduk menunggu dirinya. Nathan segera duduk di samping Rina
“gue mau tunangan sama
kembaran lo Rin” Nathan mengatakannya dengan tatapan kosong. Perlahan air
matanya jatuh saat mendengar kabar pertunangannya, ia tak mengerti, hatinya
kacau, mungkin benar bahwa ia sudah lama jatuh cinta pada Nathan, tapi mengapa
ia harus menyadarinya sekarang, saat Nathan sudah mau bertunangan dengan
kembarannya sendiri.
“tapi gue gak suka sama Rima,
jujur gue sukanya sama lo, gue cinta sama lo, gue pengecut, dari dulu gue
pengen nyatain perasaan gue ke lo, tapi gue takut, takut di tolak sama lo,
takut gue gak bisa ketemu lo lagi kalo gue nyatain perasaan gue, gue sukanya
__ADS_1
Cuma sama lo, gue,,,” Nathan melanjutkan perkatannya, yang lalu dihentikan oleh
tangan Rina.
“gue juga suka sama lo,
tapi gue takut ditinggalin, gue selalu lawan rasa suka lo, gue gak mau berharap
banyak, gue Cuma mau lo bisa temenin gue aja, gue selalu terjebak oleh perasaan
itu, akhirnya gue sadar sebenarnya gue juga suka sama lo” mata Rina sembab,
basah karena air matanya.
“tapi sekarang lo udah
tunangan sama kembaran gue, gue gak tahu, apalagi yang harus gue lakuin” lanjut
Rina.
“boleh gak ya kali ini
gue egois, gue gak mau kehilangan orang yang gue sayang lagi” Rina menangis
kejar, ia jatuh dalam pelukan Nathan.
“lo boleh Rin jadi orang yang egois”
“tapi gue takut lo
bakalan pergi kayak mereka, gue takut..”
“udah gak usah takut,
ada gue disini, masalah pertunangan gue akan cari akal supaya di batalin, gue
akan selalu jaga lo, always be happy buat lo Rin”
Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya
mereka sama-sama pulang.kali ini Rina hanya
ingin egois, hanya kali ini aja ia pengen bahagia, so Rina hanya butuh sandaran
doang, biar dia bisa berdiri tegar.
Mereka berdua berpisah
__ADS_1
di taman setelah perbincangan. Rina yang sudah sampai di apartemennya segera
masuk ke dalam kamar, perasaanya campur aduk antara sedih, kesal, dan bahagia.