Alone

Alone
Episode 14


__ADS_3

Di tempat lain.


Nathan pulang dari dari


tempat permainan, ia tampak heran mengapa saat ini rumahnya tampak ramai,


beberapa mobil berjajar rapi di depan rumahnya. Mencoba tak peduli, Nathan


mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumahnya.


Nathan sempat terkejut


ketika berhasil diruang tamu, matanya mengerjap tak beraturan. Ia merasa aneh


disini. Ia melihat kembaran Rina –Rina memang pernah becerita bahwa Rima itu


kembarannya, karena dari awal Nathan sudah tahu tanpa di beri tahu dulu- yang


diapit oleh papa dan mama Rima tentunya, dan dihadapan keluarga Rima ada


papanya yang terlihat bercengkrama dan mamanya yang tersenyum hambar dengan


tatapan kosong.


Nathan segera menuju ke


sana saat papanya memanggilnya. Ia mendudukkan tubuhnya ke sofa, saat tubuhnya


sudah berada sepenuhnya di sofa, ia tersenyum pada kepada orang tua Rima—juga Rima


tentunya. Ia berusaha bersikap ramah demi nama baik keluarganya, dan tidak


sengaja ia menatap Rima yang kini tengah tersenyum manis, lebih tepatnya


centil. Bahkan Rina saja lebih baik darinya, Nathan mendengus pelan dan kali


ini ia mencoba membuka suara.


“maaf pa, sebalumnya ada


apa ya?”Nathan mencoba bertanya pada papa nya.


“emm bisa kita mulai


sekarang?” Nathan makin dibuat heran oleh sikap papanya.


“ah silahkan di jelaskan

__ADS_1


terlebih dahulu hen”


Sahut om rizki- papa Rina


dan Rima-


“oke biar ayah jelasin


terlebih dahulu, sebelumnya ini kenalin om rizki, tante laras dan Rima. Om


rizki sama tante laras itu temen papa waktu SMA. Dan mereka disini berniat


untuk...”


Dan kalimat terakhir


papanya membuat dunia seakan runtuh seketika.


Nathan segera pergi


meninggalkan tempat yang membuatnya sumpek, ia segera menelpon Rina agar segera


datang ke tempat biasanya. Tanpa pikir panjang Nathan segera pergi ke taman, 15


menit kemudian Nathan sampai dan didapatinya sahabat masa kecilnya sekaligus


cinta pertamanya sedang duduk menunggu dirinya. Nathan segera duduk di samping Rina


“gue mau tunangan sama


kembaran lo Rin” Nathan mengatakannya dengan tatapan kosong. Perlahan air


matanya jatuh saat mendengar kabar pertunangannya, ia tak mengerti, hatinya


kacau, mungkin benar bahwa ia sudah lama jatuh cinta pada Nathan, tapi mengapa


ia harus menyadarinya sekarang, saat Nathan sudah mau bertunangan dengan


kembarannya sendiri.


“tapi gue gak suka sama Rima,


jujur gue sukanya sama lo, gue cinta sama lo, gue pengecut, dari dulu gue


pengen nyatain perasaan gue ke lo, tapi gue takut, takut di tolak sama lo,


takut gue gak bisa ketemu lo lagi kalo gue nyatain perasaan gue, gue sukanya

__ADS_1


Cuma sama lo, gue,,,” Nathan melanjutkan perkatannya, yang lalu dihentikan oleh


tangan Rina.


“gue juga suka sama lo,


tapi gue takut ditinggalin, gue selalu lawan rasa suka lo, gue gak mau berharap


banyak, gue Cuma mau lo bisa temenin gue aja, gue selalu terjebak oleh perasaan


itu, akhirnya gue sadar sebenarnya gue juga suka sama lo” mata Rina sembab,


basah karena air matanya.


“tapi sekarang lo udah


tunangan sama kembaran gue, gue gak tahu, apalagi yang harus gue lakuin” lanjut


Rina.


“boleh gak ya kali ini


gue egois, gue gak mau kehilangan orang yang gue sayang lagi” Rina menangis


kejar, ia jatuh dalam pelukan Nathan.


 “lo boleh Rin jadi orang yang egois”


“tapi gue takut lo


bakalan pergi kayak mereka, gue takut..”


“udah gak usah takut,


ada gue disini, masalah pertunangan gue akan cari akal supaya di batalin, gue


akan selalu jaga lo, always be happy buat lo Rin”


Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya


mereka sama-sama pulang.kali ini Rina hanya


ingin egois, hanya kali ini aja ia pengen bahagia, so Rina hanya butuh sandaran


doang, biar dia bisa berdiri tegar.


Mereka berdua berpisah

__ADS_1


di taman setelah perbincangan. Rina yang sudah sampai di apartemennya segera


masuk ke dalam kamar, perasaanya campur aduk antara sedih, kesal, dan bahagia.


__ADS_2