Alone

Alone
Episode 18


__ADS_3

Ruangan bernuansa putih dan bau menusuk dari obat-obatan menyambut Rina saat pertama kali ia membuka


matanya. Ia melihat kakak sepupunya, bang rei duduk disampingnya.


“Rina udah sadar? Ada yang pusing gak?” reiki bangun dan mengganti masker oksigen dengan nasal


canula agar Rina bisa leluasa untuk berbicara.


“gue kenapa bang?” bukannya menjawab, Rina malah balik bertanya.


“hah, untungnya sih Cuma kecapean aja, istirahat yang cukup dong, jangan kecapean”


Cup.Satu kecupan mendarat mulus di kening Rina. Tidak lama, tapi dapat memberikan kesanhangat untuk Rina.baik reiki maupun Rina tidak memiliki perasaan apapun. Mereka hanya netral sebagai kakak-adik.


“oke istirahat yang bener ya”


Rina hanya menganggukkan kepalanya, lalu reiki pegi meninggalkannya. Rina baru saja ingin memejamkan


matanya, lalu...


brak


.


.


‘Ribet dah, urusannya ini mah’ –batin Rina.


“Rina apa-apan kamu pura-pura sakit” sentak laras menarik keras tubuh Rina untuk mengikutinya.


Rina mencoba menahan tubuhnya yang terasa lemas untuk berdiri,” ma, aku sakit. Suhu tubuh aku juga


tinggi kan? Aku mau istirahat ma”


laras terlihat sangat marah, ia menari kencang tubuh Rina hingga infusnya terlepas dan juga tubuhnya

__ADS_1


hampir jatu jika saja tak ada ervin yang menahannya.


“pas ada kamu vin, cepat bawa Rina sekarang” ervin mengangguk, dan menggendong Rina keluar dari


kamarnya.Rina hanya bisa pasrah dalam gendongan kakaknya ia tersenyum getir.


Suhu tubuh hangat milik Rina dapat ervin rasakan, ia menatap Rina menatap wajahnya yang pucat. Ingin rasanya


ia kemabalikan ke tempat perawatannya, tapi salah satu adiknya juga sedang


butuh pertolongan ervin.


Tiba di depan pintu pemeriksaan Rina di turunkan oleh ervin, Rina berusaha tegar. Suster yang


melihat Rina sedikit bingung, bingung dengan keadaan si pendonor yang sedang


lemah.


“ini sus”


jika masih terus dilanjutkan, keadaan pendonor akan semakin lemah”


“saya nggak peduli. Pokoknya cepet lakuin, anak saya lagi sekarat sus. Saya mohon”


Suster tersebut tampak ingin menolak, tapi dengan cepat Rina menggelangkan kepalanya. Suster itu lalu


segera membawa Rina pergi ke dalam ruangan.


“mbak yakin, mbak gak papa?” tanya suster itu sekali lagi.


“nggak papa kok sus, lagian saya udah biasa kok” Rina tersenyum walaupun di dalam hatinya meringis


pilu, seperti ada tali yang menjeratnya, terasa sesak.


Setelah proses pendonoran darah selesai, Rina dikembalikan ke ruang perawatannya. Reiki sempat

__ADS_1


mengamuk pada ervin. Ia benci dengan dirinya dan keluarga Rina, badan Rina


sangat lemah, ditambah proses donor darah yang membuat tubuh Rina semakin


lemah. Jika pembunuh tidak terhitung sebagai perbuatan kriminal, sudah dari


dulu ia membunuh orang yang menyakiti Rina.


Oprasi sedang berlangsung, sesaat kemudian lampu ruang operasi berwarna hijau. Om rizki,


tante laras, dan ervin segera melihat keadaan Rima, saat ia sudah di pindahkan


keruang perawatan.


Ervin menghembuskan nafas lega saat melihat keadaan Rima yang berangsur membaik. Tapi ia sedikit


merasa khawatir tentang keadaan Rina, lalu ia pergi menjenguk Rina.


Klek.


Rina melihat ervin masuk ke dalam tempat perawatannya.


“k-kakak?’ panggil Rina ketika berhasil duduk sempurna di tempatnya.


“kenapa?”


“kakak ngapain? A-aku Rina bukan Rima, Rima ada di ruang sebelah” ervin merasa tertohok dengan ucapan Rina,


jelas-jelas ia ingin menjenguk Rina.


“nggak kok, gue emang mau jenguk lo Rin” Rina bungkam, perlahan kedua sudut bibirnya terangkat, dan


refleks memeluk kakaknya. Ervin yang menerima perlakuan Rina, pun ikut tersenyum dan belas memeluk Rina.


“maafin gue Rin, ayo kita mulai ini semua dari awal”

__ADS_1


__ADS_2