Alone

Alone
Episode 15


__ADS_3

Keesokannya Rina


langsung menceritakan kejadiannya pada temannya, seketika temannya langsung


berteriak heboh, mereka semua kesal dengan Rima


“seriusan lo?”tanya


bella heboh.


“iya” jawab Rina singkat.


“pokoknya lo harus tetap


bersama dengan Nathan, jangan sampek kalah tu dengan si Rima yang centil kayak


gitu” ucap Qilla.


“pasti dong haha, masa


iya pacar gue mau diambil sama orang seenaknya, ya gak boleh lah” rina tertawa


Siang ini setelah pulang


sekolah Nathan mengajak Rina jalan-jalan ke taman hiburan, tentu saja Rina


menerimanya, sudah banyak kali mereka pergi ke taman hiburan tapi hanya sebagai


teman, tapi kali ini mereka datang sebagai sepasang kekasih yang sedang kencan.


“masuk yuk” ajak Nathan,


dari tadi Rina hanya memandangi taman hiburan dari arah luar.


“ayuk” jawab Rina dengan


antusias.


Mereka berdua menaiki


berbagai macam wahana, mulai dari kincir ria, dan sebagainya.


“masuk situ yuk” ajak Rina,


ia menunjuk ke tempat rumah hantu.


“yakin? Mau ke sana?


Bulan lalu lo teriak-teriak sampek telinga gue sakit” Nathan mencoba


menghalangi Rina masuk kerumah hantu.


“yaelah, itu bulan lalu,


pliss, gue pengen masuk” Rina menunjukkan tatapan seperti anak kecil, Nathan


tak tega membiarkan pacarnya masuk kesana sendirian.’padahalkan cuma modus doang, hehe’- batin Rina.


“yaudah yuk masuk” Nathan


berjalan mendahului Rina, lalu Rina segera mengejar Nathan dengan langkah


cepat.


tepat di depan pintu


masuk, Rina menelan ludah, ia teringat kejadian yang memalukan saat di rumah


hantu, tapi ia memberanikan diri.


Baru saja masuk Rina


sudah mulai berteriak


“Aahhh, itu hantunya


Nath”


“Ahhh, hantunya serem


banget njir”


“Nathaan bantuin gue,


gue dijebak sama pocongnya”


“Nathaaan, gue takut”


“Nathaaannnn itu


ha-hantuuunyaaaa”


“aaaahhhhh”


Setelah keluar dari

__ADS_1


cegatan para hantu, mereka pun keluar, rambut Rina tampak berantakan, lalu Nathan


membenarkan tataan rambut Rina, Rina tersipu malu.


“eh kita kesana yuk”


ucap Rina salting, Nathan hanya tersenyum.


Setelah itu mereka


bercanda tawa tanpa ada beban sedikitpun,’gue


harap gue bisa kayak gini terus’ –batin Rina.


Sore ini mereka habiskan


untuk makan di cafe tempat biasa mereka makan.lalu setelahnya Nathan mengantar Rina


pulang.


@@@


Paginya, Rina


menceritakan tentang sukses kencannya dengan Nathan.


Sahabat-sahabat Rina


mendengar dengan antusias saat Rina menceritakan kencannya dengan Nathan.


2 minggu kemudian


Pukul 23.15


Nathan dan Rina tiba di


apartemen Rina. Tadi setelah hunting dan


piknik mereka memutuskan mampir ke rumah bella kembali. Hingga akhirnya mereka


harus pulang selarut ini karena masih kesayikan bermain.


Nathan mengantar Rina ke


depan pintu apartemen Rina dan berpamitan pada Rina. Rina hanya tersenyum dan


mengucapkan hati-hati, lalu beranjak masuk ke dalam apartemen nya.


Baru satu langkah menuju


ruang tengah Rina merasa panas dipipi nya. Rina hanya mampu bergeming di


tatapan yang sulit diartikan.


“kamu keterlaluan Rina”


cerca papa Rina dengan intonasi yang menyentak Rina.


Plak


Kali ini tamparan


dihadiahi oleh ibunya. Setelah ayahnya, kini ibunya? Rina merasa sakit luar


biasa dihatinya.


“perempuan macem apa


kamu? Kamu bukannya makasih sudah saya kasih kebebasan, tapi kamu malah


menyalahgunakan nya? Sekarang ikut kami pulang!” sentak mama Rina yang


keputusannya sudah bulat.


@@@


Pyar


Lemparan beberapa foto


tepat mendarat di wajah cantik Rina. Rina menunduk dan mencoba melihat foto apa


yang tadi dilempar oleh Rima, saudara kembarnya.


“lo gila ya? Lo tau kan


gue suka sama Nathan? Tapi lo? ******* lo”teriakan Rima menggema di ruang


keluarga. Rina hanya menunduk dan memejamkan matanya berusaha setenang mungkin


agar tidak terpancing emosi.


“iya aku emang


ngejalanin hubungan sama dia. Dan tolong Rima, aku udah kenal Nathan sebelum

__ADS_1


kamu kenal sama dia, jangan ambil dia, cukup mama, papa, sama kakak aja yang


kamu ambil, jangan Nathan juga.” Nada suara Rina terdengar lirih di telinga


mereka.


Plak


Lagi-lagi tamparan telak


diberikan oleh mamanya. Rina mengatur nafasnya dan berusaha menahan air matanya


agar tidak jatuh.


“jangan salahin Rima


atas perasaan dia, gak usah pedulikan siapa yang kenal lebih dulu, karena akan


saya pastikan kalau Rima yang akan berjodoh dengan Nathan” setelah mengatakan


hal tersebut lalu laras dan Rima beranjak menuju kamarnya.


“Rina, saya benar-benar


kecewa sama kamu, bukan hanya hubunganmu dengan Nathan tapi kelakuanmu juga,


segitu frustasinya kamu gak saya kasih uang sampai jadi ******? Bilang sama


saya berapa laki-laki simpanan yang suka main sama kamu? Berapa banyak


laki-laki yang kamu peras hanya untuk mendapat kesenangan dan uangnya saja?”


kali ini kalimat yang dilontarkan papa nya benar-benar menyakiti hatinya. Rina


tak percaya papa nya mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


“PAPAH!”


“RINA!”


Plak


Lagi, lagi dan lagi


tamparan itu terus mereka berikan. Bahkan tamparan kali ini membuat sudut


bibirnya sedikit sobek hingga mengeluarkan darah. Ini yang Rina benci, ia masih


bisa menyayangi mereka setelah apa yang mereka lakukan padanya.


“keren lo Rin, berani


banget bentak papa? Lo kira lo siapa huh? Gue diem bukan berarti gue gak bisa


bertindak, tapi pas liat sikap keterlaluan lo tadi tuh bikin gue muak” ervin


maju kali ini. Setelah memastikan papa, mama dan Rima masuk kamarnya, ervin


mengambil alih Rina.


“lo tuh harusnya


bersyukur Rin, hidup lo bebas, gak dikekang orang tua. Gak setiap gerak-gerik


lo di awasin, dan gak dijadiin boneka kayak gue sama Rima. Lo fikir kita gak


tersiksa? Sama Rin, gue pengen kayak lo, dan lo tau? Karena kesalahan lo dulu


itu, yang bikin gue sama Rima jadi benci sama lo. Coba dulu lo gak egois,


mungkin kita bisa kumpul bareng sama mereka Rin. Harusnya lo yang mati Rin”


Pandangan Rina kosong,


ingatannya terlempar ke masa dimana ia tertawa bahagia dengan keluarganya dan


berpindah ke masa semua kehancurannya dimulai. Ini memang salahnya dan Rina


sangat mengakuinya. Andai saja ervin tahu betapa sulitnya hidup tanpa keluarga.


Dan ervin malah menginginkan hal itu? Luar biasa, disaat dirinya ingin


dikekang, dikhwatirkan, tapi kakaknya? Yang sudah jelas mendapatkan semua itu


malah merasa seperti beban?ajaib.


Ervin sudah meninggalkan


Rina setelah mengantar Rina ke kamar yang sudah pernah ia tinggali. Rina


mengedarkan pandangannya, menelusuru semua tempat yang p;ernah menjadi kenangan


antara ia dan keluarganya dulu.


Rina menjatuhkan

__ADS_1


bedannya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Ia menutup matanya dan menangis


disana, memikirkan kata-kata tajam keluarganya setelah pertengkaran tadi.


__ADS_2