
Keesokannya Rina
langsung menceritakan kejadiannya pada temannya, seketika temannya langsung
berteriak heboh, mereka semua kesal dengan Rima
“seriusan lo?”tanya
bella heboh.
“iya” jawab Rina singkat.
“pokoknya lo harus tetap
bersama dengan Nathan, jangan sampek kalah tu dengan si Rima yang centil kayak
gitu” ucap Qilla.
“pasti dong haha, masa
iya pacar gue mau diambil sama orang seenaknya, ya gak boleh lah” rina tertawa
Siang ini setelah pulang
sekolah Nathan mengajak Rina jalan-jalan ke taman hiburan, tentu saja Rina
menerimanya, sudah banyak kali mereka pergi ke taman hiburan tapi hanya sebagai
teman, tapi kali ini mereka datang sebagai sepasang kekasih yang sedang kencan.
“masuk yuk” ajak Nathan,
dari tadi Rina hanya memandangi taman hiburan dari arah luar.
“ayuk” jawab Rina dengan
antusias.
Mereka berdua menaiki
berbagai macam wahana, mulai dari kincir ria, dan sebagainya.
“masuk situ yuk” ajak Rina,
ia menunjuk ke tempat rumah hantu.
“yakin? Mau ke sana?
Bulan lalu lo teriak-teriak sampek telinga gue sakit” Nathan mencoba
menghalangi Rina masuk kerumah hantu.
“yaelah, itu bulan lalu,
pliss, gue pengen masuk” Rina menunjukkan tatapan seperti anak kecil, Nathan
tak tega membiarkan pacarnya masuk kesana sendirian.’padahalkan cuma modus doang, hehe’- batin Rina.
“yaudah yuk masuk” Nathan
berjalan mendahului Rina, lalu Rina segera mengejar Nathan dengan langkah
cepat.
tepat di depan pintu
masuk, Rina menelan ludah, ia teringat kejadian yang memalukan saat di rumah
hantu, tapi ia memberanikan diri.
Baru saja masuk Rina
sudah mulai berteriak
“Aahhh, itu hantunya
Nath”
“Ahhh, hantunya serem
banget njir”
“Nathaan bantuin gue,
gue dijebak sama pocongnya”
“Nathaaan, gue takut”
“Nathaaannnn itu
ha-hantuuunyaaaa”
“aaaahhhhh”
Setelah keluar dari
__ADS_1
cegatan para hantu, mereka pun keluar, rambut Rina tampak berantakan, lalu Nathan
membenarkan tataan rambut Rina, Rina tersipu malu.
“eh kita kesana yuk”
ucap Rina salting, Nathan hanya tersenyum.
Setelah itu mereka
bercanda tawa tanpa ada beban sedikitpun,’gue
harap gue bisa kayak gini terus’ –batin Rina.
Sore ini mereka habiskan
untuk makan di cafe tempat biasa mereka makan.lalu setelahnya Nathan mengantar Rina
pulang.
@@@
Paginya, Rina
menceritakan tentang sukses kencannya dengan Nathan.
Sahabat-sahabat Rina
mendengar dengan antusias saat Rina menceritakan kencannya dengan Nathan.
2 minggu kemudian
Pukul 23.15
Nathan dan Rina tiba di
apartemen Rina. Tadi setelah hunting dan
piknik mereka memutuskan mampir ke rumah bella kembali. Hingga akhirnya mereka
harus pulang selarut ini karena masih kesayikan bermain.
Nathan mengantar Rina ke
depan pintu apartemen Rina dan berpamitan pada Rina. Rina hanya tersenyum dan
mengucapkan hati-hati, lalu beranjak masuk ke dalam apartemen nya.
Baru satu langkah menuju
ruang tengah Rina merasa panas dipipi nya. Rina hanya mampu bergeming di
tatapan yang sulit diartikan.
“kamu keterlaluan Rina”
cerca papa Rina dengan intonasi yang menyentak Rina.
Plak
Kali ini tamparan
dihadiahi oleh ibunya. Setelah ayahnya, kini ibunya? Rina merasa sakit luar
biasa dihatinya.
“perempuan macem apa
kamu? Kamu bukannya makasih sudah saya kasih kebebasan, tapi kamu malah
menyalahgunakan nya? Sekarang ikut kami pulang!” sentak mama Rina yang
keputusannya sudah bulat.
@@@
Pyar
Lemparan beberapa foto
tepat mendarat di wajah cantik Rina. Rina menunduk dan mencoba melihat foto apa
yang tadi dilempar oleh Rima, saudara kembarnya.
“lo gila ya? Lo tau kan
gue suka sama Nathan? Tapi lo? ******* lo”teriakan Rima menggema di ruang
keluarga. Rina hanya menunduk dan memejamkan matanya berusaha setenang mungkin
agar tidak terpancing emosi.
“iya aku emang
ngejalanin hubungan sama dia. Dan tolong Rima, aku udah kenal Nathan sebelum
__ADS_1
kamu kenal sama dia, jangan ambil dia, cukup mama, papa, sama kakak aja yang
kamu ambil, jangan Nathan juga.” Nada suara Rina terdengar lirih di telinga
mereka.
Plak
Lagi-lagi tamparan telak
diberikan oleh mamanya. Rina mengatur nafasnya dan berusaha menahan air matanya
agar tidak jatuh.
“jangan salahin Rima
atas perasaan dia, gak usah pedulikan siapa yang kenal lebih dulu, karena akan
saya pastikan kalau Rima yang akan berjodoh dengan Nathan” setelah mengatakan
hal tersebut lalu laras dan Rima beranjak menuju kamarnya.
“Rina, saya benar-benar
kecewa sama kamu, bukan hanya hubunganmu dengan Nathan tapi kelakuanmu juga,
segitu frustasinya kamu gak saya kasih uang sampai jadi ******? Bilang sama
saya berapa laki-laki simpanan yang suka main sama kamu? Berapa banyak
laki-laki yang kamu peras hanya untuk mendapat kesenangan dan uangnya saja?”
kali ini kalimat yang dilontarkan papa nya benar-benar menyakiti hatinya. Rina
tak percaya papa nya mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.
“PAPAH!”
“RINA!”
Plak
Lagi, lagi dan lagi
tamparan itu terus mereka berikan. Bahkan tamparan kali ini membuat sudut
bibirnya sedikit sobek hingga mengeluarkan darah. Ini yang Rina benci, ia masih
bisa menyayangi mereka setelah apa yang mereka lakukan padanya.
“keren lo Rin, berani
banget bentak papa? Lo kira lo siapa huh? Gue diem bukan berarti gue gak bisa
bertindak, tapi pas liat sikap keterlaluan lo tadi tuh bikin gue muak” ervin
maju kali ini. Setelah memastikan papa, mama dan Rima masuk kamarnya, ervin
mengambil alih Rina.
“lo tuh harusnya
bersyukur Rin, hidup lo bebas, gak dikekang orang tua. Gak setiap gerak-gerik
lo di awasin, dan gak dijadiin boneka kayak gue sama Rima. Lo fikir kita gak
tersiksa? Sama Rin, gue pengen kayak lo, dan lo tau? Karena kesalahan lo dulu
itu, yang bikin gue sama Rima jadi benci sama lo. Coba dulu lo gak egois,
mungkin kita bisa kumpul bareng sama mereka Rin. Harusnya lo yang mati Rin”
Pandangan Rina kosong,
ingatannya terlempar ke masa dimana ia tertawa bahagia dengan keluarganya dan
berpindah ke masa semua kehancurannya dimulai. Ini memang salahnya dan Rina
sangat mengakuinya. Andai saja ervin tahu betapa sulitnya hidup tanpa keluarga.
Dan ervin malah menginginkan hal itu? Luar biasa, disaat dirinya ingin
dikekang, dikhwatirkan, tapi kakaknya? Yang sudah jelas mendapatkan semua itu
malah merasa seperti beban?ajaib.
Ervin sudah meninggalkan
Rina setelah mengantar Rina ke kamar yang sudah pernah ia tinggali. Rina
mengedarkan pandangannya, menelusuru semua tempat yang p;ernah menjadi kenangan
antara ia dan keluarganya dulu.
Rina menjatuhkan
__ADS_1
bedannya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Ia menutup matanya dan menangis
disana, memikirkan kata-kata tajam keluarganya setelah pertengkaran tadi.