
"ya, aku tahu aku memang egois"
~Rina~
tok-tok-tok~ suara pintu yang diketuk
"masuk, pintunya gak dikunci kok" ucap rina, lalu melihat orang yang datang ke kamarnya saat ini, betepa terkejutnya rina saat melihat orang yang sedang menjenguknya.
"NATHAN??"sontak rina berbicara keras.
"iya rin, ini aku" nathan berkata dengan tatapan bersalah.
"ngapain lo disini?!" tanya rina ketus.
"gue cuman mau jenguk lo aja" jawab nathan dengan nada sedikit sedih.
"Oooh, lo kan harusnya jenguk kembaran gue dulu, tuh si rima! TUNANGAN lo!" jawab rina masih sama dengan nada yang dingin sambil menekankan kata tunangan pada nathan.
"iya tadi gue sudah jenguk Rima"
Deg~ jantung rina seperti berhenti sesaat.
"yaudah pulang aja sana, lo kan udah jenguk gue, gak usah lama-lama disini! gue masih mau istirahat, gue capek!" rina mengusir nathan, karena melihat rina yang sudah berbaring, nathan pun pergi meninggalkan rina.
sungguh rina tidak pernah berniat untuk mengusir nathan, ia hanya tak ingin nathan melihat dirinya menangis. dan ia juga tak pernah berniat untuk berbicara ketus dan dingin pada nathan, ia hanya ingin melupakan nathan saja, karena nathan sudah bukan miliknya lagi namun merupakan milik kembarannya.
hiks-hiks-hiks~suara tangisan rina.
"kenapa? kenapa harus gue yang ngalamin ini semua! gue udah gak punya tempat yang disebut rumah, gue juga udah gak punya seseorang yang bisa gue sebut keluarga, semuanya benci gue, tapi, kenapa nathan harus ikut-ikutan ninggalin gue. apa salah rina ya Allah, kenapa Rina harus ngalamin ini semua!"
tiba-tiba suara hp rina berdering. rina pun segera mengangkatnya.
__ADS_1
'halo! ini siapa ya?"
'oh bella, ada apa?'
'apa?!'
'oke, boleh aja kok'
'iya daahh'
"huft, gue mikir apa sih! kan gue masih ada sahabat yang selalu ada buat gue, itu sudah cukup buat gue!" ucap Rina dalam hati, lalu ia pun tertidur karena merasa lelah.
.
.
.
.
"Rina......"
"Rin.....?"
seseorang tengah membangunkan rina dengan menyebut namanya. rina yang mendengar panggilan tersebut mau tak mau harus bangun dan melihat siapa orang yang sedang memanggilnya saat ini.
"oh, bang reiki? ada apa bang?" tanya rina sambil terbesit raasa kecewa dalam hatinya. ia kira kakaknya akan datang lagi untuk menjenguknya.
"ini gue mau ngecek lo! oh ya btw, lo udah minum obat belum?" selidik bang reiki.
"ups gue lupa bang! sory hehe..." jawab rina dengan cengiran andalannya. reiki mengelus kepala rina. lalu kemudian raiki menyerahkan obat pada rina untuk diminumnya. lalu setelah rina meminum obatnya rina pun mengajukanpertanyaan pada reiki
__ADS_1
"oh ya bang kapan gue boleh pulang? gue bosen di sini terus!" tanya rina sambil menjelaskan alasannya.
"lo paling boleh pulang setelah seminggu!" jawab reiki
"WHAT??!!! seminggu? ayolah bang masa seminggu, kurangin dong!"
"kurangin?"
"iya jadi dua hari misalnya, hehe"
"apa dua hari? gak, gak boleh, gak boleh kalo dua hari!"
"ayolah bang!" rina memohon dengan tatapan memelas, reiki yang tak tahan dengan tatapan melas rina, akhirnya pun mengizinkan mengurangi jadwal yang seharusnya.
"oke-oke, tapi lima hari, baru boleh keluar!" jawab reiki
"gak dua hari pokoknya" rina tetap teguh pada keputusannya.
"empat hari" jawab reiki, lalu wajah rina berubah menjadi masam.
"oke-oke tiga hari gak boleh kurang, kalo lebih gak papa, kalo masih mau kurang gak akan boleh keluar sebelum seminggu, gimana?!" reiki yang tak tahan melihat wajah masam rina, akhirnya terpaksa membuat keputusan.
"DEAL" ucap rina yang seketika berubah menjadi ceria kembali.
__ADS_1