
Melihat Rina yang masih kedinginan, ervin menepikan mobilnya dan mematikan ac mobil nya, ia mencari
pakaian yang selalu ia bawa ketika sedang bermain basket. Ervin dengan wajah
datar menyodorkan pakaian miliknya pada Rina.
“ganti pakaian lo, kasian gue liatnya. Ga sudi sih aslinya liat lo pakai baju gue, tapi demi
kepentingan kita bersama, tuh pakai” Rina juga mau tak mau menerima sodoran
pakaian ervin walaupun hatinya terasa sakit.
“keluar” ucap Rina. Ervin yang mengerti ucapan Rina segera keluar menggunakan payung. Kaca mobilnya
memang tidak tembus pandang, karena ia memakai kaca film yang cukup tebal, jadi
aman jika Rina berganti di dalam.
Tidak lama ervin merasa kaca mobilnya diketuk, ia juga melihat Rina sudah selesai berganti pakaian
disana. Rina tampak lebih nyaman dan lucu dengan hoddie kebesaran milik ervin.
Akhirnya ervin isa mengendarai mobilnya dengan tenang dan tanpa rasa khawatir.
Entahlah ervin memang sangat membencinya, tapi ia tak bisa menghilangkan rasa
kahawatir dari dalam kepalanya.
Ervin membelokkan mobilnya di salah satu cafe terdekat. Ia lebih memilih memarkirkan mobilnya
dekat dengan pintu masuk cafe tersebut agar tidak terlalu terkena hujan. Ervin
keluar terlebih dahulu dan berjalan memutar menunggu Rina agar bisa memasuki
cafe bersama dengan satu payung yang berada di tangan ervin. Mereka berjalan
bersama memasuki cafe disertai tatapan kagum dari beberapa orang yang berada di
cafe.
‘anjir, cocok-cocok, mukanya mirip lagi’
__ADS_1
Iyala mirip, orang dia itu kakak gue.- Rina
‘ih cowoknya ama gue aja si’
Yaudah ambil sana. –Rina
‘cewenya centil banget dah, udah kaya cabe’
Dasar generasi micin, dari tadi gue diem aja.- Rina
Rina memutuskan untuk tidak mendengarkan perkataan mereka. Ervin dan Rina kini sedang duduk di dekat
jendela. Ervin sedang memesan minuman terlebih dahulu.
Sepuluh menit berlalu, ervin datang dengan dua cangkir kopi dan dua piring nasi goreng yang masih
mengepul di tempatnya. Ia meletakkan satu cangkir dan satu piring nasi goreng
di depannya Rina.
“bisa bicara sekarang?”
“Rima kecelakaan, dia koma, kejadia—“
“ga usah basa-basi please ntar jadi basi beneran lagi. To
the point aja”potong Rina dengan wajah songongnya. Ervin hanya mampu
mengepal tangannya dan menahan emosinya.
“Rima butuh donor darah” ervin mengucapkan dengan nada tegas. Rina hanya terdiam di tempat dengan wajah
datar dan alis yang yang terangkat sebelah.
“donor darah?”
“ya, kenapa lo ga mau?”
“haha, gila ya. Dulu aja gue di buang, sekarang dipungut lagi, nanti akhirnya gue bakal dibuang lagi.
Sampah banget ya hidup gue?”Rina berkata dengan tatapan kosong disertai tawa
__ADS_1
miris, seolah menertawakan hidupnya yang penuh dengan drama. Ervin tampak geram
dibuatnya, entah sudah berapa kali ia sudah dibuat geram dengan sikap atau
kata-kata yang menusuk dari Rina.
“RINA” ervin meninggikan suaranya berusaha membuat Rina terdiam, tapi setelah melihat ekspresi Rina ia
ikut bungkam.
“gue tau kak, Rima itu emang penting buat kalian, beda benget sama gue yang Cuma anak buangan. Tapi
kak lo gak tau sesulit apa hidup gue? Sulit kak, sulit banget. Terus lo dateng
ke gue Cuma mau minta donor darah buat dia? Gak mati aja sekalian tuh anak”
PLAK
Suara tamparan terdengar nyaring di cafe tersebut, banyak para pengunjung yang melihat ke arah dimana
ervin dan Rina berada, tapi mereka berdua tak menghiraukannya.
‘tamparan lagi, tamparan lagi. Cape hidup gue’–batin Rina.
“udah ya kak, gue cape. Oh ya makasih ya buat jaketnya, buat gue ya? hehe. Gue pamit dulu ya kak?” Rina
berjalan sambil menundukkan kepalanya, tatapan kasian dari orang di cafe
mengikutinya.
Rina jalan tak tentu arah, bajunya basah lagi saat ia keluar dai cafe.ia berhenti di salah satu
trotoar jalanan yang tak terlalu ramai. Lengannya memeluk kedua lututnya dan menenglukupkan kepalanya diantara kedua
lututnya.
Ia heran mengapa hujan tak lagi mengguyurnya, ia melihat ke atas siapa yang saat ini tengah
melindunginya, terbesit rasa kecewa saat ia melihat siapa yang menolongnya.
Lalu Rina merasa oleng dan setelah itu semuanya berwarna gelap.
__ADS_1