Alone

Alone
Episode 16


__ADS_3

Rina sakit hati. Ia dikatai ****** oleh papa nya sendiri. Diberikan kata-kata kasar oleh


keluarganya. Ahhh, masih pantaskah mereka di sebut keluarga? Entahlah Rina


cukup ragu akan hal itu.


Tiba-tiba kepala Rina berdenyut, nafasnya tidak teratur dan detak jantungnya terasa tidak stabil.


Rasanya cukup menyiksa Rina, Rina bangkit dan mencari ponselnya yang berada


dalam tasnya.


Ia mencoba mngetikkan pesan sebelum kesadaran nya hilang sepenuh nya.


To : bang reiki


Bang rei, tolong Rina. Rina kumat lagi,


tolongin Rina bang, Rina takut bang. Rina lagi di rumah papa sekarang. Kalau


kesini tolong jangan mencurigakan ya, tolong- Rina.


....


Pukul 01.15 dini hari.


Rina terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke


matanya. Ia merasa tangannya digenggam. Rina mengangkat kedua sudut bibirnya


dan tangannya yang bebas mengelus lembut rambut kakak sepupunya. Reiki, atau yang


biasa Rina panggil bang rei. Kakak sepupu yang baru pulang dari perantauan dan


menjadi dokter.


Reiki yang merasa tidurnya terganggu, bangun perlahan. Ia tersenyum saat melihat Rina sudah


bangun dari pingsannya. Tadi ia sempat panik karena pesan dari Rina, maka dari


itu ia dengan sigap pergi ke rumah Rina untuk memantau kondisi Rina. Tiba di


kamar Rina ia menemukan Rina yang sudah pingsan dengan nafas tak beraturan,


demam, dan meracau.


“gimana keadaannya?” tanya reiki pada Rina.


“udah gak papa kok bang” jawab Rina sambil tersenyum.


“bagus deh. Tadi gue panik bener habis dapet pesen dari lo Rin, terus pas gue udah nyampek disana lo


udah pingsan gitu aja” reiki menggerutu yang dijawab cengiran oleh Rina.


“wuih, maaf bang, ngerepotin, tambah ganteng aja sih. Sini peluk Rina, Rina kangen” Rina


merentangkan tangannya, kode bahwa ia minta dipeluk. Reiki segera memeluk Rina,


dengan penuh kasih sayang.


“apa lo bilang tadi? Ngerepotin? Jangan pernah mikir ke situ oke? Karena yang lo tau kan? Tujuan gue


jadi dokter itu buat lo, biar bisa nyembuhin saat lo lagi sakit. Lo kan adek

__ADS_1


kecil kesayangan gue”Rina yang mendengar uacapan reiki pun mempererat


pelukannya, hangat dan nyaman.


‘Andai kakak gue kayak lo bang’ –batin Rina


Pagi ini Rina sudah berada di dalam mobil bersama kakak sepupunya, reiki. Semalam reiki memutuskan


untuk pulang dan kembali lagi ketika hari sudah pagi.


Rina berpamitan dan segera turun dari mobil reiki. Rina melihat Nathan tak seperti biasanya, lalu


ia mendapat sebuah pesan.


Nathanbawel:rooftop Rin


Dari Nathan. Rina yakin Nathan pasti salah faham atas kejadian tadi pagi. Rina mengangguk pelan ketika Nathan


mentapnya. Lalu Rina melangkah menuju rooftop tujuannya kali ini.


Di rooftop Rina melihat Nathan sedang menatap ke arah bawah, tatapannya kosong. Ia perlahan mendekati Rina dan menyuruhnya duduk.


Mereka saling menatap mencoba saling menyelami bola mata yang saling berpencar aura yang berbeda.


“Rin, we need to talk” seru Nathan masih tak berpaling dari tatapan Rina.


“About?”


“About us and your twin”Rina kembali memejamkan matanya dan berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran yang hinggap di kepalanya. Rina kira Nathan akan membicarakan tentang dirinya yang berangkat dengan reiki tadi pagi.


“oke ayo kita bicara”


@@@


berisikan nama kekasihnya dengan..Rima.


Saat ini Rina masih berdiam diri di rooftop, beda dengan Nathan yang kini sudah turun beberapa jam


yang lalu. Rina juga tahu saat ini adalah waktunya pulang. Ya, ia melewatkan


semua mata pelajaran hari ini. Rina cukup terpuruk dengan kata-kata yang Nathan


ucapkan tadi.


“Rina, kemarin keluarga kamu kembali datengin aku untuk melanjutkan acara pertunangan”


“Rina maaf aku gak bisa cegah ini semua, mereka terlalu memaksakan”


“Rin, jujur aku gak mau kayak gini, tapi maaf Rin kita cukup sampai di sini aja”


“Rina, please say something, jangan diem aja”


“oke mungkin saat ini kamu butuh waktu, tapi sekali lagi maaf ya Rina, aku...”


“pergi”


Ucapan-ucapan Nathan terus terngiang di benak Rina. Rina hanya bisa duduk bersimpuh setelah Nathan


pergi meninggalkannya. Ia bukan tidak ingin untuk menyauti ucapan Nathan, tapi


bibirnya terlalu sulit untuk digunakan ketika ia mendengar bahwa Nathan akan


segera bertunangan dengan Rima.

__ADS_1


Rina memejamkan matanya meresapi hujan mulai turun perlahan menerpa wajahnya, meresapi air hujan yang


membaur dengan air matanya. Menikmati pedihnya luka menganga. Semua tampak


hampa bagi Rina.


Pelitanya, pergi lagi.


Rina merasa handphone nya berbunyi, ia membuka matanya dan mengambil handphonenya dari dalam sakunya.


Tidak peduli dengan air hujan yang terus mengguyur badannya Rina masih berada


di bawah hujan. Menggeser tanda hijau ke sebelah kanan menandakan bahwa ia


menerima panggilan tersebut nomor yang sangat asing baginya.


“ya halo, siapa ya?”


“Rin, Rima kecelakaan.”Rina terbelakkak seketika, ia menghela nafasnya kasar. Rina tahu siapa yang


menelponnya, pasti itu adalah kak ervin. Entah darimana kak ervin mengetahui


nomornya.


“ya terus?” saut Rina dingin, berusaha menyamarkan nada khawatirnya.terdengar suara helaan nafas


disana, Rina tau, pasti keadaan Rima tidak baik-baik saat ini, mungkin juga mereka menelpon karena ada sesuatu yang harus Rina korbankan lagi.


“lo dimana?” bukannya menjawab, ervin malah mengalihkan pembicaraan mereka.


“rooftop sekolah, kenapa?”


“gue kesitu, lo turun, cepet”


Bip.Sambungan terputus, Rina sebenarnya tidak mau menurut ucapan ervin, tapi ketika membayangkan wajah penuh emosi milik ervin Rina bergidik ngeri sendiri dan beranjak turun.


Rina masih setia membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Ia juga langsung menuju gerbang karena


tas yang ia bawa sejak tadi pagi saja masih berada di gendongannya, tak


mempedulikan tas dan bukunya yang basah, lagian gak ada catatan penting juga.


Sekitar 15 menit Rina menunggu, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depannya. Rina terdiam


tak ada niatan untuk menghampirinya, walaupun ia tahu mobil itu milik ervin.


Ervin turun menggunakan payung untuk melindungi tubuhnya. Ia sempat terheran


melihat Rina dengan seragam yang sudah basah kuyup semua.


“jadi ada apa?” Rina mulai bersuara melihat ervin yang masih saja terdiam tanpa angkat suara.


“bisa ikut gue?”


“bisa gue percaya?”


“sure”


Rina akhirnya mengikuti ervin menuju mobilnya, di dalam ia terdiam seperti patung. Rina baru saja


merasakan dinginnya hujan berpadu dengan dinginnya ac dari mobil ervin. Ervin


yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya segera memberikan jaket yang

__ADS_1


tersampir dibelakangnya. Rina hanya menerima tanpa ucapan terima kasih.


__ADS_2