ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
BAB 1


__ADS_3

...Menjadi seseorang harus kuat, terkadang batin dan fisik kita selalu di kasih ujian bertubi-tubi....


...diam adalah hal yang selalu ku lakukan jika selalu ada masalah....


...entah aku atau dunia yang salah membuat ku di benci semua orang....


...aku memang butuh hiburan tapi yang selalu menghibur ku adalah diriku sendiri....


...sakit?...


...iya ,sakit  itu lah dunia memang kejam dan selalu tidak adil terhadap ku ....


...HAPPY READING ...


ALVIANA


#Part_01 [Selalu diabaikan]


Diabaikan Orang Tua.


Diabaikan sahabat kecil.


Diabaikan keluarga.


Diabaikan semua orang.


Dijadikan pelampiasan.


Disakiti secara halus.


Selalu dikecewakan.


Selalu merasa terpuruk.


Tak pernah dihargai.


Tak pernah dianggap ada.


Selalu disalahkan.


Mencintai orang yang mencintai kembarannya.


“Terkadang terlalu banyak harapan yang ingin disampaikan, namun tak ada satupun yang ingin mendengar. Sadar akan posisi itu jauh lebih baik daripada harus memaksa seseorang untuk menghargai posisimu.”

__ADS_1


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alviana tersenyum miris saat melihat ketiga sahabat kecilnya begitu perhatian pada Alviona—Saudara kembarnya. Diperlakukan bak seorang ratu dan disayangi oleh semua orang. Sedangkan Alviana, selalu diabaikan dan tak dianggap posisinya.


Gadis itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Netranya beralih menatap sepotong pizza yang masih hangat dihadapannya. Tangannya terulur untuk mengambil pizza tersebut, namun, tangan kekar seseorang menghentikannya.


“Buat Alv8ona aja, ya? Sesekali Lo harus ngalah. Kan Lo udah makan banyak,” ucap Dyandra sambil tersenyum manis.


Sesekali? Bahkan Alana sudah mengalah beribu-ribu kali! Namun tak ada satupun yang menyadari. Miris, bukan? Orang tua, sahabat, dan kakak, Alviona sudah mengambil semua itu. Namun, tak ada yang menyadari.


“T—tapi itu makanan kesukaan gue ...,” lirih Alviana. Namun, tak ada yang menghiraukan. Semua sibuk menyuapi Alviona dan memanjakannya seakan tak melihat ada Alviona disamping gadis itu.


“Kak viana bisa minggir dikit, gak? Viona sesek.” Alviona mengadu.


Alviana menghela nafas berat. Baru saja gadis itu ingin menggeser posisinya, tangan seseorang sudah terlebih dahulu mendorong lengannya hingga Alviana hampir tersungkur.


“Ck! Lelet banget! Cuma geser dikit doang padahal!” cibir Keano.


Mata Alviana mulai berkaca-kaca. Ada rasa sesak di dadanya saat sahabatnya sendiri tak memperlakukannya dengan baik. Bukan hanya kali ini saja. Namun, sering! Alviana sudah sering diperlakukan tak adil oleh sahabatnya, bahkan semua orang. Dari kecil, hingga sebesar ini. Tak ada satupun orang yang mengetahui dukanya.


“Gak usah nangis! Cengeng banget, sih! Kekanakan banget sih lo!” Rassya ikut mencibir.


“Yaudah, iya. Sesuai perintah Queen viona!” Rassya tersenyum lebar sambil mencubit kedua pipi Alona gemas.


Lagi-lagi Alviana hanya bisa menghembuskan nafasnya. Memang sudah seperti itu. Jika Alviona yang meminta, maka semua akan menuruti. Jika Alviona yang menangis, semua akan membujuk. Jika Alviona kesakitan, semua ikut panik. Dan jika Alviona kesepian, semua berusaha menghibur. Sedangkan Alviana, disaat sedih dan terluka pun tak ada yang peduli. Dan disaat ia kesepian, hanya dirinya sendirilah yang menemaninya.


“Gue mau balik. Kean, boleh anterin gue, gak? Soalnya gue takut. Ini udah hampir larut malem,” tanya Alviana.


“Terus Alviona gimana? Lo gila ya ninggalin viona sendiri?!”


“Lo dendam sama Alviona cuma gara-gara sepotong pizza itu sampe Lo mau ninggalin dia? Gak dewasa banget sih Lo, via!”


Keano menggeleng. “Gue gak bisa karena harus nemenin Alviona disini! Lagian, manja banget sih pake minta dianterin segala? Lo gak pikirin tentang Alviona? Dia sendirian!”


“Cih! Dasar kakak gak bertanggung jawab!” Zevandra ikut mencibir.


“Gua gak nyangka pemikiran Lo bisa sempit banget kek gini!”


Alviana menahan perih saat cacian dan cibiran itu menusuk telinganya. Ini bukan soal matematika yang masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Namun, kata-kata ini berhasil menyakiti hati Alviana. Terdengar di telinga dan mengiris hati.


Alviana mencoba tersenyum. “Yaudah, kalau kalian gak mau nganterin, setidaknya jangan nuduh gue yang enggak-enggak. Gue gak marah gara-gara pizza itu, kok. Tapi gue emang udah capek aja,” jelasnya seraya bangkit dari posisinya.

__ADS_1


“Ck! Baperan!” teriak Rassya.


Alviana menoleh sejenak. Perih, sakit, dan sesak bercampur dalam hatinya. Segera gadis itu berlari dari cafe, telinganya sudah cukup mendengar cibiran dari para sahabatnya.


•••


Plak!


“Kenapa kamu tinggalin Alviona sendiri?! Kalau dia kenapa-napa gimana?!”


Alviana memegang pipinya yang terasa kebas akibat tamparan dari sang ayah. Meringis, menangis, bahkan menjerit pun tak ada gunanya jika sudah seperti ini. Lelaki paruh baya itu sudah kalut dalam kekhawatiran.


“Kok kamu tinggalin Alviona sendiri, sih, Lan? Kamu tau, ‘kan, Alviona belum bisa jaga dirinya sendiri. Kamu sebagai kakak harus bisa bertanggung jawab, dong!” Mira—sang mama ikut menimpali.


“M—maaf ....” Entah sudah berapa kali Alviana melirih. Namun, tak ada yang mengerti.


Alviana melirik lututnya yang lecet akibat jatuh di trotoar tadi. Bahkan, Mira dan Alvin sama sekali tak memerhatikan luka di lutut putri mereka itu. Yang kini mereka khawatirkan hanya Alviona, Alviona, dan Alviona. Padahal ada tiga lelaki yang menemaninya saat ini.


“Papa!” Alviona berteriak dan langsung memeluk tubuh kekar Alvin.


“Tau, gak? Tadi tangan Alviona tergores gara-gara kena ujung meja. Tapi gak papa, soalnya tadi Alviona udah dijajanin Ice Cream sama Rassya, Zevan, sama Kean,” girangnya.


Zevandra menatap Alviana tajam. “Gara-gara Lo, Alviona sampe jadi kek gini! Dia mau cegat Lo dan gak sengaja tangannya kegores meja. Gak berperasaan, ya, Lo, via!” ucapnya ketus.


“M—maaf ....” lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut Alviana.


Semua yang terjadi telah membuatnya menjadi gadis dewasa. Marah tak akan ada gunanya. Alviana pasti akan terlihat salah Dimata semua orang jika dirinya melawan. Diam adalah hal yang selalu dilakukan Alviana sedari kecil.


Alviana berjalan kecil menuju kamarnya. Gadis itu sedikit meringis saat merasakan perih di lututnya. Andai saja dirinya lebih berhati-hati, mungkin semua ini tak akan terjadi.


Gadis dengan rambut terurai panjang itu segera mengambil kotak P3K-nya didalam lemari. Dengan susah payah Alviana mengambil kotak itu, bahkan sampai harus berjinjit. Usaha tak mengkhianati hasil. Begitulah sepatutnya. Akhirnya Alviana berhasil mengambil kotak itu dan langsung membawanya ke kasur.


Alviana menyiram sedikit alkohol pada selembar kanvas dan langsung meletakkannya di bagian yang terluka.


Tak terasa air mata mengalir begitu saja. Bukan karena sakit di lututnya, namun, karena perih dihatinya. Dicampakkan, diabaikan, tak dihargai, semua itu membuat dada Alviana sesak.


“Semua gak adil sama gue,” lirihnya dengan pandangan kosong.


Next or stop?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2