ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
Bab 4


__ADS_3

#ALVIANA


#Part_04 [Tuan Johnny]


“Lelah itu wajar. Berpikir untuk menyerah juga wajar. Tetapi jangan sampai kamu benar-benar menyerah. Capai tujuanmu dan buktikan pada semua orang bahwa kamu bisa!”


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alzean menghentikan motornya tepat didepan sebuah restoran atas permintaan Alviana. Gadis itu menepuk pundaknya dan mengatakan ingin turun didepan restoran itu.  Mau tak mau Alzean harus menurutinya.


“Makasih banyak atas tumpangannya. Gue harap gue juga bisa bantu lo. Ya, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih gue,” tutur Alviana sambil tersenyum manis.


“Gak perlu!” balas Alzean. Lelaki itu kembali menancap gas dan pergi meninggalkan Alviana begitu saja.


Alviana hanya menggelengkan kepalanya. Kakinya mulai melangkah menuju restoran tempatnya bekerja. Gadis itu tersenyum kecil, akhirnya dirinya dapat kembali bekerja setelah dua hari libur karena salah satu keluarga pemilik resto tersebut meninggal dunia.


Alviana menatap sekeliling mencari bosnya. Biasanya sang pemilik resto duduk disamping kasir sambil memerhatikan pelanggannya, dan para pegawainya dalam bekerja. Namun, kali ini pria berumur 60 tahun itu belum juga menampakkan dirinya.


Seseorang menepuk pundak Alviana hingga membuat gadis itu langsung menoleh. Alviana tersenyum lebar saat mendapati sang pemilik resto berada dibelakangnya sambil tersenyum hangat.


“Udah lama gak ketemu, via. Gimana kabar kamu?” tanya Tuan Johnny ramah.


Alviana tersenyum. “Baik, pak. Bapak sendiri?”


“Saya baik,” balas Tuan Johnny.


Alviana hanya mengangguk. Gadis itu sudah menganggap Tuan Johnny sebagai ayahnya sendiri. Hanya pria paruh baya itulah yang mengerti dirinya melebihi kedua orang tuanya sendiri.


“Yaudah. Saya boleh bekerja, pak?” tanya Alviana yang hanya dibalas anggukan oleh Tuan Johnny.


Alviana segera berjalan kedapur untuk melaksanakan tugasnya. Selain bertugas melayani pembeli, Alviana juga mempunyai tugas untuk mencuci piring. Namun, Alviana tak pernah mengeluh akan semua itu. Dirinya malah merasa senang saat melaksanakan tugasnya dengan baik.


Tuan Johnny menatap punggung Alviana yang mulai menghilang dari pandangannya sendu. “Dia gadis yang hebat. Kesabaran sudah menjadi ciri khasnya.” Pria itu bergumam.


•••


Alviana menghembuskan nafasnya kasar saat sebagian dari pekerjaannya telah selesai. Senyum menghiasi bibir, bahkan rasa laparnya mulai hilang saat beberapa pembeli merasa puas dengan pelayanannya. Hal kecil itu berhasil membuat hati Alviana menghangat.


Sembari menunggu pekerjaan yang lain datang. Alviana memilih untuk mengambil bukunya dari dalam tas dan mulai mempelajari beberapa materi yang di gadang-gadang akan keluar dalam ujian Harian besok. Gadis itu tak mau nilainya menjadi buruk hanya karena kesibukannya.


Salah satu pelayan menatap Alviana sinis. “Ck! Cuma jadi pelayan kok males nya minta ampun. Pekerjaan numpuk eh dianya malah sibuk baca buku,” sindirnya.


Alviana mencoba tak menghiraukan. Gadis itu membalik lembaran selanjutnya, bermaksud mengalihkan perhatian dari cibiran-cibiran beberapa pelayan yang tak menyukainya.


“Kalau aku sih mending belajar di rumah daripada harus belajar sambil kerja. Lebih fokus dan lebih leluasa.” pelayan itu masih mencibir dengan suara manja.


Alviana menghembuskan nafasnya lelah. Gadis itu masih tak mau menghiraukan sindiran-sindiran yang dilayangkan padanya. Alviana tak mau membuang waktunya hanya untuk meladeni mulut-mulut pedas pelayan yang lain.


“Dih! Sombong banget. Saya sih lebih suka orang yang—”


“Saya gak butuh pelayan seperti kamu! Saya menerima kamu disini untuk bekerja, bukan menyindir seseorang. Saya gak mau tau, kalau sampai ada yang menyindir Alviana lagi, saya akan langsung pecat orang itu tanpa memberikan gaji sedikitpun!” sarkas Tuan Johnny tak kalah pedas.


Pelayan tadi mendengus dan langsung berjalan pergi meninggalkan Alviana dan Tuan Johnny. Pelayan itu tak habis pikir, kenapa Tuan Johnny begitu menyayangi Alviana hingga tak ada yang boleh mengusiknya.


Alviana tersenyum. “Terima kasih, Pak,” ucapnya.


“Terima kasih untuk apa? Saling melindungi itu sudah menjadi tugas antar sesama manusia,” balas Tuan Johnny.


Alviana hanya mengangguk. Gadis itu kembali meneruskan bacaannya.


Tuan Johnny mengelus rambut Alana lembut. “Saya salut sama kamu. Walaupun sedang bekerja, kamu masih sempat belajar. Saya tau kamu capek, tapi kamu gak menyerah. Saya bener-bener bangga sama kamu,” tuturnya.

__ADS_1


“Sebenarnya kunci kesuksesan itu ada di diri kamu sendiri. Bukan hanya sekedar soal pelajaran, menghafal, dan membaca. Usaha kamu lebih penting dari semua itu. Kalau gak ada usaha semuanya pun akan sia-sia. Kamu tau, via? Saya bangun restoran ini dengan susah payah. Saya selalu belajar. Pasang surut sudah saya alami. Tapi saya gak menyerah. Saya terus berusaha hingga restoran ini bisa menjadi seperti ini.” Tuan Johnny menjelaskan sambil menatap sekeliling.


“Saya pernah gagal. Saya pernah hampir putus asa, bahkan saya pernah berpikir untuk menyerah. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kenapa saya harus menyerah saat saya sudah berusaha keras. Usaha saya akan sia-sia kalau saya menyerah. Akhirnya saya berusaha lagi, dan lagi. Kegagalan gak hanya datang satu kali. Tapi berkali-kali. Saya terus berusaha, dan akhirnya usaha saya tidak mengkhianati hasil. Akhirnya kamu liat sendiri hasil kerja keras saya, ‘kan?”


Alviana tersenyum mendengar penuturan Tuan Johnny yang menjadi motivasi untuknya. Setelah mendengar semua itu, Alviana semakin merasa layak untuk mencapai apa yang ia inginkan. Gadis itu semakin bersemangat untuk belajar dan berusaha untuk menggapai impiannya.


“Apa saya bisa menjadi seperti bapak? Maksud saya. Terkadang saya terlalu lelah untuk belajar. Usaha saya terkadang hanya terbuang sia-sia dan itu membuat saya putus asa.” Alviana mengadu.


Tuan Johnny terkekeh. “Gak ada yang gak layak sukses di dunia ini, Lan. Kamu adalah anak hebat yang selalu berusaha. Kamu pasti bisa. Saya yakin akan hal itu,” balasnya.


“Sudah, ya. Lanjutkan belajarmu. Saya tunggu gelar juara kamu!” lelaki itu menepuk pundak Alviana agak keras.


“Siap, pak!” Alviana meletakan kelima jarinya didepan dahi membentuk hormat. 🙋🙇


Mata Alviana kembali fokus pada buku-buku bacaannya hingga suara dering handphone mengalihkan pandangan gadis itu. Tak berpikir lama, Alana langsung mengambil handphonenya dan melihat pesan apa yang masuk di sana.


Sebuah grup WhatsApp yang berisi siswa dan siswi kelas 12F SMA memenuhi notifikasi handphonenya. Gadis itu segera membuka Aplikasi WA-nya dan melihat pesan apa yang dikirimkan oleh mereka semua.


Pak Ketu


“To the point aja, ya! Jadi seperti biasa. Setiap ada siswa baru kita bakal Adain acara makan-makan. Dan gue udah diskusi sama Ketua kelas sebelah dan mereka oke aja. Gue harap kalian bisa Dateng Ke Resto kakek gue buat ngerayain datangnya murid baru disekolah kita.”


Steysie


“Jangan lupa Sharelok, Pak!”


Pak Ketu


“Nanti gue Share Lokasinya. Kalian siap-siap aja. Nanti malem jam delapan pas semua udah harus ada di Resto. No debat, ya!”


Haruna


“Murid barunya setuju gak? Jangan ngambil keputusan tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan, loh.”


Alzean


Anda


“Maaf, Gal. Tapi gue gak bisa dateng.”


Pak Ketu


“Why? Gue bilang semua harus pergi!”


Alviona


“Kenapa, kak? Kok gak mau pergi?”


Celline


“Lo punya masalah apa sama si murid baru sampe gak mau Dateng?”


Raissa


“Atau jangan-jangan Lo gak punya duit buat bayar makan nanti? Dasar miskin!”


Rassya


“Seperti biasa. Si Alana ini gak pernah hargain kedatangan orang lain!”


Abella


“Ya, orang Misqueen emang gak pantes sih makan-makan bareng kita!”

__ADS_1


Zevandra


“Harusnya Lo mikir dulu sebelum ngomong, Lan! Akhirnya terhina kek gini, ‘kan? Keliatan banget sih b*gonya,”


Keano


“Gue juga sebenernya sibuk tapi gue masih sempetin waktu buat Dateng. Dan Lo ... Lo punya kesibukan apa sih sampe gak bisa dateng.”


Nazia


“Yaudah sih kalau gak mau pergi. Gak perlu bilang di Grup juga kali!”


Viyla


“Harusnya sih Lo gak usah nawarin si Alana ini, Gal. Kek gak kenal dia aja! Dia tuh gak pernah hargain orang!”


Alzean


“Udah selesai? Mending kalian semua diem daripada gue berubah pikiran dan gak jadi Dateng ke acara konyol kalian itu!”


Lea


“Eh jangan gitu dong, ganteng. Udah, guys, diem! Pusing juga gue denger kalian!”


Alviona


“Alviona dari tadi diem hihi.”


Alviana menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu mematikan Handphonenya dan kembali meletakkannya didalam tas. Sudah cukup untuk hari ini. Alviana tak mau lagi menyakiti hatinya dengan melihat cibiran dari teman-temannya.


Alviana segera mengambil tasnya berniat untuk pulang. Toh, sudah tidak ada pekerjaan lagi. Pelanggan juga sudah sepi dan semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh pelayan lain. Sekarang, Alana akan pulang dan belajar dengan tenang.


“Hari ini kalian kerja lembur karena akan ada pelanggan istimewa. Saya harap kalian bisa bekerja maksimal dan memberikan hasil yang maksimal. Usahakan jangan ada kekurangan dan buat pelanggan kita puas.” Tuan Johnny menjelaskan.


“Baiklah, pak!” sahut seluruh pelayan kompak. Termasuk Alviana.


Netra Tuan Johnny beralih menatap Alviana. “Saya harap kamu tidak keberatan. Saya tau kamu harus belajar, tapi kalau kamu gak bisa—”


“Bisa, pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin membuat pelanggan kita puas,” sarkas Alviana.


“Baiklah. Semoga berhasil!”


Alviana hanya tersenyum menanggapinya.


•••


Alviana melirik Arlojinya yang sudah menunjukan pukul 19.55. Artinya tak lama lagi pelanggan yang dimaksud Tuan Johnny akan datang.


Tak berselang lama, suara ribut mulai terdengar. Alviana pastikan itu adalah pelanggan yang tuan Johnny maksud. Dengan segera para pelayan membawakan masakan yang mereka inginkan.


Kini giliran Alviana yang membawakan makanan. Tiba-tiba langkahnya terhenti, gadis itu menatap tak percaya pada segerombolan orang yang kini tengah menatapnya heran. Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat saat beberapa orang menatapnya sinis.


“Jadi resto yang mereka maksud disini?” monolognya.


Next?


Part berikutnya mungkin bakal nguras air mata. Jadi, gak ada salahnya kalian siapin tissue duluan><


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2