ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 12


__ADS_3

[Keputusan Devano]


“Langit hitam meninggalkan senja. Sayup angin meniup duka. Memberi rasa pada hati yang Amerta.”


- Alviana Zealand Narendra


•••


“Devano!”


Devano menghembuskan nafasnya kasar.


Ini sudah lima hari sejak Alviana terus mengejarnya hanya untuk membuatnya menyadari akan cinta Alviona.


Lelaki itu berbalik dengan malas. “Kenapa? Mau bahas tentang Alviona lagi? Mending gak usah! Gue capek denger nama dia!”


“Capek? Terus gimana dengan Alviona yang terus harepin lo? Apa dia gak capek?! Please, Devano! Gue mohon ... Hargai perasaan dia dan coba jadi pacarnya.” Alviana masih mencoba menjelaskan.


“Pertanyaan ini mungkin belum pernah keluar dari mulut gue ....” Devano mulai berjalan mendekati Alviana.


“Tapi kenapa Lo selalu maksa gue buat jadian sama Alviona?!”


“Karena gue udah janji! Gue udah janji ke dia bakal jadiin Lo pacarnya. Sejak kejadian di resto waktu itu. Waktu Lo nembak gue. Dia ngelaporin semuanya ke Orang tua gue dan mereka kekang gue buat jadiin Lo pacar Alviona. Gue juga Capek! Gue capek terus di kekang! Gue pengen cepet-cepet bebas dari semua ini dan Alviona bisa bahagia!”


Devano menatap Alviana dalam. “Jadi ... Lo udah janji ke Orang tua Lo buat jadiin gue pacar Alviona? Lo sama sekali gak pikirin perasaan gue? Ck! Lo lebih jahat dari siapapun tau gak?!”


Alviona menunduk mendengar ucapan Devano yang terdengar santai namun menyakiti itu.


“Maaf ... Pas itu gue gak bisa mikir jernih dan gue mutusin gitu aja! Maafin gue ...,” lirihnya.


Devano menggeleng tak percaya. “Gue pikir Lo emang baik. Tapi setelah denger semua ini gue jadi ragu! Ragu atas segalanya tentang Lo, Alviana Zealand Narendra!”


“Devan—”


Belum sempat Alviana meneruskan ucapannya, Devano sudah terlebih dahulu berjalan pergi meninggalkannya. Tak masalah jika Alviana memang tak mau menjadi kekasihnya. Tapi, tak bisakah Alviana mengerti dirinya? Devano benar-benar tak ingin menjalani hubungan dengan Alviona!


•••


Alzean mengusap punggung Alviona lembut. Gadis itu sedari tadi menangis dalam pelukannya seakan ada duka yang tak bisa ia jelaskan. Suara tangisannya begitu pilu ditelinga Alzean hingga membuatnya merasa iba.


“K--kak viana selalu jadiin gue pelampiasannya, hiks ... G--gue takut, gue capek.” Alviona mengadu dengan pernyataan palsu.


Sekarang Alviona mempunyai pekerjaan baru. Yaitu menghasut Alzean agar membenci Alviana. Sudah banyak orang yang dihasutnya, dan semua itu berhasil. Termasuk Alzean yang saat ini baru masuk kedalam perangkapnya.


“Tapi gue gak yakin Alviana bisa lakuin itu semua. Menurut gue dia tipe orang yang selalu mendem perasaannya sendiri sampai siapapun gak ada yang tau,” jelas Alzean.

__ADS_1


“Diluar dia emang selalu mendem perasaannya. Tapi didalem rumah dia selalu lampiasin semuanya ke gue. Apalagi kalau gak ada Mama sama Papa, bisa-bisa dia celakain gue, hiks ....”


“Tapi—”


“Dan Lo tau ... Alena, saudara kembar gue, dia meninggal karena Kak viana sengaja dorong dia ke tengah jalan sampai dia meninggal ditabrak mobil!”


Alzean membulatkan matanya sempurna dan langsung melepaskan pelukan Alviona. Lelaki itu menatap Alviona tak percaya. Alzean benar-benar tak menyangka jika Alana bisa melakukan hal sekeji itu.


“B--beneran?” tanya Alzean memastikan.


Alviona hanya mengangguk sebagai jawaban.


Seketika badan Alzean melemas. Rasanya ada yang sakit saat mendengar ucapan Alviona tadi. Lelaki itu tak tau jika dibalik wajah Lugu Alviana ada sifat iblis yang melekat pada dirinya. Saudara macam apa yang rela mencelakai saudaranya sendiri hingga meninggal dunia?


“Saat itu kita masih kecil. Gue gak sengaja liat mereka berdua main dan Kak vi,ana tiba-tiba dorong Kak Lena. Seandainya gue bisa lebih cepet, mungkin gue bakal hentiin semua itu dan Kak Lena mungkin masih ada disini sama kita.”


“Dan dulu ....”


Alzean kembali menatap Alviona.


“Kak viana selalu larang Kak Lena buat ngajakin gue main. Gue juga selalu dapet mainan bekas mereka karena Orang tua gue selalu pilih kasih. Mereka selalu main tanpa gue. Dan gue ... Gue cuma bisa liat mereka dari jauh sambil nahan sakit.”


Alviona menyandarkan kepalanya di pundak Alzean. “Gue bener-bener gak bisa lupain itu semua, Zean ...,” lirihnya.


“Gue juga masih gak nyangka.”


Alviona menyeka air matanya. Netranya beralih menatap Alzean yang kini terlihat kecewa. Seketika senyum licik terbit. Akhirnya, usahanya tak mengkhianati hasil.


•••


Alviana meletakan kepalanya diatas meja. Ucapan Devano tadi terus berputar-putar dalam otaknya hingga membuatnya hampir frustasi. Di Satu sisi Alviana merasa tak tega pada Devano, dan disisi lain, dirinya juga tak boleh mengingkari janji yang telah ia buat pada Miranda dan Alviona.


Ting!


Satu pesan masuk di handphone Alviana. Dengan segera gadis itu membukanya guna mengetahui siapa yang mengirimkan pesan. 


Mata Alviana langsung membulat sempurna saat melihat pesan itu. Di sana dirinya terlihat sedang menaiki motor Alzean dengan Devano dan Revan yang berada dibelakang. Dan yang paling parah, pesan itu dikirimkan oleh Lea di Grup WhatsApp yang berisi hampir dari seluruh siswa SMA Bhakti Jaya.


Banyak Cibiran, cacian, hingga hinaan yang diterima Alviana. Ada yang mengatakannya terlalu centil hingga banyak yang mendekati. Tentu saja itu menyakiti hati Alviana. Bagaimana bisa orang lain berasumsi sebelum mengetahui kebenarannya?!


Brak!


“Lo kenapa deketin Alzean, hah?! Lo tuh gak pantes buat orang yang lebih dari kata sempurna kek Alzean!” maki Lea.


Alana menggeleng. “Gue gak deketin dia!”

__ADS_1


“Terus ini apa?!” Lea menunjukan foto Yang tadi dikirimnya di Grup WhatsApp.


“Lo salah paham! Itu Alzean cuma bantuin gue! Gak lebih!”


“Halah! Gak usah ngelak, deh! Gue tau Lo licik dan muka polos Lo ini cuma buat nutupin semua itu!”


“Percaya sama gu—”


“Gak ada yang bisa di harepin dari cewek modelan kek Lo, Lana! Lo lebih dari kata licik!”


Beberapa siswa mulai berdatangan dengan tatapan tajam yang sengaja mereka arahkan pada Alviana. Senyum sinis juga mereka perlihatkan seakan ada dendam yang belum tersampaikan.


“Oh, ternyata dibalik muka polosnya, Alviana gatel, ya. Gak nyangka gue!”


“Muka doang polos! Eh hati busuk!”


“Gue pikir dia yang tersakiti. Ternyata dia yang nyakitin orang lain.”


“Gue hampir kasian sama dia. Tapi setelah liat ini respect gue tiba-tiba hilang!”


“Andai kelakuan Lo gak kek gini ... Mungkin semua orang bakal hargain lo.”


Setelah puas mencibir Alviana, mereka semua langsung pergi ketempat masing-masing tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Bagi mereka cibiran itu memang terdengar Simple, namun, bagi Alviana itu semua bisa menyakitinya.


Lea menatap Alviana tajam. “Lo denger sendiri, ‘kan? Semua orang udah gak suka sama Lo! Dan jangan harep ada yang hargain Lo! Karena Lo gak pantes buat hal itu!”


Alviana terduduk lemas di bangkunya. Matanya melirik sekitar. Melihat beberapa siswa yang kini tengah menceritakan keburukannya. Juga beberapa yang masih menyindirnya secara terang-terangan.


“Miris!” gumam Alviana memaki dirinya sendiri.


•••


Semua siswa saling melirik. Mereka semua merasa heran saat Devano tiba-tiba menyuruh mereka untuk berkumpul di lapangan guna menyaksikan sesuatu.


Devano tampak mencari seseorang. Netranya berhenti saat melihat sosok yang ia cari akhirnya menampakkan dirinya, Alviona!


Devano langsung menarik tangan Alviona hingga berdiri tepat ditengah-tengah kerumunan. Lelaki itu berjongkok di hadapannya dan langsung mengeluarkan setangkai bunga mawar dari kantung bajunya.


“Lo ngapain, Devan?” tanya Alviona sambil menatap Devano bingung.


“Gue nyuruh lo kesini buat kasih tau sesuatu. Sebenernya ... Gue suka sama lo dan gue pengen Lo jadi pacar gue.” Devano berucap tanpa ekspresi dengan mata yang terus menatap kearah Alviana yang kini berada di barisan paling depan.


Alviona membulatkan matanya sempurna. Sedetik kemudian, senyum manis terbit dari bibir tipisnya.


“Beneran?” tanyanya malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2