
~Pertengkaran sengit~
“Semua orang pikir aku tersenyum karena senang, Aku tertawa karena bahagia, dan aku tidur karena lelah. Nyatanya tidak! Senyum dan tawa hanya alasan agar tak ada yang tau duka ku. Dan tidurku hanya untuk melupakan semua yang telah terjadi dan mengistirahatkan hatiku.”
- Alviana Zealand Narendra
•••
Rassya menarik kerah baju Devano kasar. “Maksud Lo apa kasar sama Alviona?!” tanyanya dengan emosi yang sudah menggebu-gebu.
Semalam lelaki itu tak sempat memberi pelajaran pada Devano, dan pagi ini, dirinya tak akan menyia-nyiakan kesempatan dan akan memberikan pelajaran pada orang yang telah menyakiti sahabatnya.
Devano tertawa remeh dan langsung menepis tangan Rassya kasar. “Urusannya sama Lo apa?!” lelaki itu malah balik bertanya.
“Ya karena dia sahabat gue! Dan Lo sama sekali gak boleh berlaku kasar ke dia!”
“Dan dia bukan siapa-siapa gue! Jadi terserah gue mau lakuin apapun ke dia!”
“Pengecut banget ya Lo sampe berani sama cewek!”
“Lucu banget ya Lo. Rela lakuin apapun demi orang munafik kek Alviona!”
Bugh!
Satu pukulan keras dari Rassya mendarat mulus di wajah Devano hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Namun, bukan Devano namanya jika diam saja jika seseorang menyakitinya. Dengan sekuat tenaga, Devano langsung membalas pukulan Rassya hingga hidung dan mulut lelaki itu mengeluarkan banyak darah.
Rassya tak tinggal diam. Lelaki itu kembali memukul Devano hingga terjadilah pertengkaran sengit antara keduanya. Rassya yang tak mau kalah, dan Devano yang tak mau mengalah. Keduanya tampak sama-sama kuat hingga sulit dipisahkan.
__ADS_1
Hampir seluruh siswa sudah berkumpul di lapangan untuk menyaksikan pertengkaran yang terjadi antara Ketua Osis dan Wakil ketua Osis mereka itu. Tak ada satupun yang melerai karena takut akan menjadi korban pukulan mereka.
Kabar perkelahian antara Devano dan Rassya telah sampai ke telinga Alviana. Gadis itupun segera berlari ke lapangan dan menerobos sekumpulan orang-orang yang masih setia menyaksikan pertengkaran sengit itu.
Alviana membulatkan matanya sempurna saat melihat betapa sadisnya pertengkaran yang terjadi. Bahkan Darah sudah membasahi baju Devano maupun Rassya. Keduanya seakan tak bisa dipisahkan.
Alviana mencoba berlari menghampiri keduanya berniat untuk melerai. Namun, tangan kekar seseorang menghentikan langkahnya. Gadis berambut coklat itupun segera menoleh dan mendapati Alzean tengah menatapnya tajam.
“Lepasin gue!” tegas Alviana. Gadis itu mencoba melepaskan cekalan tangan Alzean, namun, tenaganya tak cukup kuat untuk hal itu.
“Jangan gila! Lo mau mati cuma gara-gara pisahin mereka?!”
“Tapi gue gak bisa biarin ini terjadi! Gue harus pisahin mereka atau mereka yang bakal mati!”
Alzean menghembuskan nafasnya kasar. “Lo diem disini dan jangan bergerak dari sini! Gue yang bakal pisahin mereka!”
Ucapan Alviana terpotong saat Alzean terlebih dahulu berlari menghampiri Rassya dan Devano yang terlihat semakin murka. Pertengkaran mereka semakin sengit hingga membuat beberapa siswa mundur karena takut.
Alzean menarik tangan Devano kasar dan menjauhkannya dari Rassya beberapa meter. Namun, usahanya itu gagal saat Rassya langsung berlari dan kembali menghajar Devano. Begitupun dengan Devano yang kembali membalas dengan sangat sadis.
Alzean hampir merasa putus asa saat seluruh usahanya untuk melerai Devano dan Rassya hanya sia-sia saja. Tak ada hasil sedikitpun. Malah, pertengkaran keduanya terasa semakin sadis.
Satu ide muncul secara tiba-tiba. Secepat kilat Alzean langsung berdiri diantara kedua lelaki itu hingga membuat keduanya langsung menghentikan pukulan masing-masing.
Alzean menatap Devano dan Rassya bergantian. “Udah? Gak malu diliatin banyak orang kek gini? Kalian bukan anak kecil lagi! Kalian udah dewasa! Kalau ada masalah di selesain baik-baik, bukan dengan cara kek gini!” geramnya.
Rassya maupun Devano langsung menatap sekeliling. Keduanya hanya bisa menghela nafas berat dan kembali saling melempar tatapan tajam.
__ADS_1
“Tunggu pembalasan gue!” Rassya menekankan seraya berjalan pergi meninggalkan lapangan.
“Gue gak peduli!” balas Devano. Lelaki itu juga ikut pergi bersamaan dengan hilangnya Rassya dari pandangan.
Alviana menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya pertengkaran antara Rassya dan Devano bisa terselesaikan. Gadis itu kini bisa bernafas Dengan tenang berkat Alzean.
Alviana segera berlari kecil kearah Alzean. Gadis itu tersenyum kikuk. “Makasih, Zean. Kalau bukan karena Lo mungkin pertengkaran mereka gak bakal selesai,” ucapnya.
“No problem. Udah tugas gue saling membantu antar sesama manusia,” balas Alzean dengan wajah datarnya.
Keduanya berjalan santai menuju kelas. Rasa canggung menyelimuti Alviana. Gadis itu tak tau harus membahas apa hingga keheningan yang terjadi bisa segera menghilang.
Alzean melirik gadis disampingnya. “Katanya hari ini kelas Lo bakal ngadain Ujian,” ucapnya yang hanya dibalas anggukan oleh Alviana.
“Udah belajar?”
Lagi-lagi Alviana hanya mengangguk.
“Kenapa nanya gitu?” kali ini giliran Alviana yang bertanya.
“Kemaren Lo kerja sampe larut malem dan gue pikir Lo belum belajar.”
.
.
.
__ADS_1