
Revan mengerutkan keningnya saat mendengar suara seseorang. Lelaki itu hafal betul suara milik Nazea hingga membuatnya langsung berbalik.
“Nazea?” Revan berujar.
“Revan? L--lo ngapain disini?” tanya Nazea gugup. Gadis itu memang selalu gugup jika berada didekat Revan. Entah karena perasaannya atau karena Revan yang terlalu sering menggodanya.
“Gue mau bantuin anak panti. Eh, enggak. Sebenernya gue cuma pengen bantuin Alviana Karena tangan dia sakit.”
“Terus Lo ngapain disini?” kini ganti Revan yang bertanya.
“Gu--gue kesini mau nganterin makanan buat anak-anak.”
Revan hanya mengangguk. Lelaki itu memang terkenal playboy, namun, entah kenapa jika bersama Nazea lelaki itu seakan tak ingin berpindah hati atau hanya sekedar melirik gadis lain. Rasa ingin memiliki Nazea seutuhnya terasa jelas di hatinya.
“Eum ... Rev,” panggil Nazea sambil mengulum senyumnya.
“Iya, sayang. Eh! Kenapa, Ze?”
“Ikannya dibalik bisa, ‘kan? Soalnya udah mau gosong.”
Revan membelalakkan matanya dan langsung kembali ke tempatnya untuk membalikkan ikan yang dimasaknya. Lelaki itu menghembuskan nafasnya lega saat melihat ikannya masih berwarna kecokelatan.
•••
“Nah. Udah selesai. Sekarang kalian berdoa dulu baru makan, oke?” Alviana berucap.
__ADS_1
Semua anak panti mengangguk dan mulai mengadahkan tangan mereka guna berdoa kepada sang pencipta. Setelah selesai berdoa, kelima belas anak itu langsung menyantap makanan mereka dengan sangat lahap.
Alzean yang melihat itu merasa senang sekaligus sedih. Perasaannya bercampur aduk. Lelaki itu senang karena anak-anak begitu menyukai makanannya. Dan rasa sedihnya muncul saat memikirkan bagaimana kelaparannya anak panti saat tak ada satupun orang yang memberi makanan kepada mereka.
“Kakak mau?” Salah seorang anak panti menyodorkan sesuap ayam goreng kepada Alzean.
Alzean menggeleng. “Gak perlu,” balasnya sambil tersenyum tipis.
Bu Renata tersenyum. “Terima kasih, ya. Karena kalian akhirnya anak-anak panti bisa makan dengan enak. Maaf sudah merepotkan.”
“Enggak, kok, Bu. Ini udah tugas kita sebagai sesama manusia untuk saling membantu. Kita juga ikhlas bantu anak-anak panti,” balas Alviana.
“Sekali lagi terima kasih, ya ....”
•••
Alviona mendengus. “Gara-gara Haruna gue harus dihukum kek gini! Awas aja ya tuh cewek!” umpatnya.
“Jangan banyak mengeluh! Segera selesaikan hukuman kamu! Saya sudah capek berdiri disini sambil mengawasi kamu!” celetuk Bu Dewi.
Alviona mengumpat dalam hati sambil terus menyumpah serapahi guru killer itu.
Tak mau membuang waktu, Alviona segera membersihkan toilet tempatnya dihukum. Ini sudah lewat tiga jam sejak dirinya membersihkan toilet pertama. Dan saat ini gadis itu tengah membersihkan toilet terakhir untuk pulang kerumahnya.
Alviona menyeka keringatnya. “Huft ... Akhirnya selesai.”
__ADS_1
“Baiklah kamu boleh pulang.” Bu Dewi segera berdiri dari posisinya.
Alviona tersenyum puas. Akhirnya hukumannya selesai dan gadis itu sudah boleh pulang kerumahnya.
“Eits ....” Bu Dewi menatap Alviona dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Toilet guru sepertinya kotor. Tolong dibersihin, ya,” sambungnya sambil tersenyum manis.
Alviona membuka mulutnya tak percaya. “S*alan emang nih guru!” umpatnya.
.
.
.
PART SELANJUTNYA
" KEINGINAN ALVIONA "
SPOILER BAB 11
Alviona mendorong tubuh Alviana hingga gadis itu hampir tersungkur. “Maksud Lo apa masih deketin Devano, hah?!” murkanya.
Alviana mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu tak mengerti apa maksud Alviona. Mendekati Devano? Bahkan Alviana tak pernah berpikiran untuk mendekati atau sekedar berbicara dengan pria itu. Semua terjadi secara tiba-tiba dan tanpa rencana.
__ADS_1