
“Lo udah rela ketabrak demi nolongin gue! Gue bener-bener minta maaf karena belum bisa lindungin lo dari dulu. Gue takut ... Gue takut semua orang bakal hina dan bully gue. Dan setelah gue liat perjuangan dan kesabaran Lo ... Gue jadi sadar kalau yang gue lakuin itu salah. Hinaan itu gak runtuhin semangat Lo dan itu yang buat gue yakin Lo emang orang istimewa. Gue emang gak pantes dimaafin ....”
Dulu, Alviana kecil tanpa sengaja melihat seorang gadis berdiri ditengah jalan. Gadis itu tak sadar bahwa sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya dan dengan segera Alviana langsung berlari dan mendorong gadis itu menyingkir dari jalan. Alhasil, dirinya lah yang tertabrak. Alviana bahkan tak memikirkan dirinya sendiri sebelum menyelamatkan Gadis itu.
Kejadian itu membuat Alviana kritis beberapa bulan hingga ketinggalan banyak pelajaran. Bahkan, seluruh anggota keluarga sudah kehilangan harapan untuk keselamatan Alviana. Namun, takdir berkata lain. Saat memasuki bulan keenam, keadaan Alviana malah membaik secara perlahan dan setelah satu bulan gadis itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Sebelum mengucapkan terima kasih pada Alviana, Haruna sudah terlebih dahulu dibawa ke tanah kelahirannya oleh sang Ayah. Haruna sempat menolak, namun, Ayahnya tetap kekeh hingga membuat Haruna terpaksa harus ikut ke Jepang.
Setelah hampir tujuh tahun tinggal di Jepang, Orang tua Haruna memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan memilih untuk menetap. Tentu saja hal itu membuat Haruna merasa sangat gembira. Tak hanya itu, setelah sampai di Indonesia, Haruna langsung mencari informasi tentang Alviana dan memutuskan untuk bersekolah di SMA Bhakti Jaya, tempat Alviana bersekolah.
Namun, setelah melihat perlakuan seluruh siswa di sekolah pada Alviana membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk bersahabat dengannya. Haruna merasa takut akan mendapatkan perlakuan yang sama jika dirinya berteman baik dengan gadis itu.
“Lo udah kasih gue kehidupan kedua, dan Lo sama sekali gak mikirin diri Lo sendiri pas selametin gue. Bahkan Lo jadi kritis gara-gara gue. Dan gue ... Gue egois!”
“Tapi sekarang ... Gue bener-bener bangga ngakuin kalau gue berhutang banyak sama Lo. Ucapan terimakasih pun gak bakal cukup.”
Alviana tersenyum. “Gue gak pernah tau kalau Lo yang udah gue selametin. Secara gak langsung Lo sering bela gue, Haru. Tadi Lo udah lindungin gue dan itu lebih dari cukup. Masalah kecelakaan yang lalu. Lo gak perlu kasih tau siapa-siapa. Cukup kita yang tau.”
“Mulai sekarang gue bakal selalu ada disamping Lo! Gue gak peduli walaupun gue harus di hina ataupun dibully satu sekolah. Yang pasti, gue bakal selalu lindungin lo!” Gadis bermata sipit itu menegaskan.
Alviana terkekeh. “Makasih,” tuturnya yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Haruna.
•••
__ADS_1
Revan memicingkan matanya saat melihat seorang gadis berdiri didepan pasar sambil membawa beberapa tas belanjaan. Lelaki itu berpikir bahwa gadis yang dilihatnya adalah Alviana karena rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan. Tak banyak yang memiliki warna rambut seperti itu hingga tak sulit membedakan Alviana ditengah kerumunan.
Revan menyenggol lengan Alzean yang kini fokus pada handphonenya. “Itu Alviana bukan, sih?” tanyanya.
Alzean langsung mendongak dan mengikuti arah pandang Revan. Tak hanya Alzean, bahkan Devano juga mengangkat pandangannya guna melihat Alviana.
Devano mengangguk. “Iya, itu Alviana,” jawabnya cuek.
“Tapi dia ngapain di pasar? Mana bawa belanjaan banyak banget. Bukannya dia orang kaya?” Revan kembali bertanya. Seakan tak ada habisnya pertanyaan di otak pria itu.
Alzean segera menjalankan motornya kearah Alviana. Lelaki itu tak mau menghiraukan pertanyaan Revan yang menurutnya tak berfaedah. Lebih baik dirinya menghampiri Alviana dan bertanya langsung pada gadis itu.
Melihat itu, Devano dan Revan juga ikut menjalankan motornya mengikuti Alzean. Tadinya ketiga pria itu berniat untuk berkunjung ke Mansion milik keluarga Alzean dan latihan basket di sana.
Alviana mengerutkan keningnya heran. “Lo ngapain disini?”
“Gak penting! Mending Lo jawab dulu pertanyaan gue! Lo ngapain disini?”
“Gue—” Ucapan Alviana terpotong saat melihat Devano kini berhenti tepat di samping Alzean. Lelaki itu membuka helm full face nya dan menunjukan wajah datar tanpa ekspresi. Tak ada lagi tatapan tulus yang sengaja ia berikan pada Alviana.
“Lo ngapain?!”
Suara itu membuyarkan lamunan Alviana. Kini, Netranya beralih menatap Alzean kembali.
__ADS_1
“Gue mau belanja buat kebutuhan anak-anak panti. Udah dua hari gue belum kesana dan persediaan makanan disana udah mulai habis,” jelasnya.
“Panti?” tanya Revan.
Alviana mengangguk. “Iya, panti. Gue sering kesana buat ngasih mereka makanan atau kalau penghasilan gue sedikit gue cuma beliin mereka bahan mentah dan nanti bakal gue olah jadi makanan.”
“Lo lakuin ini setiap hari?” kini ganti Devano yang bertanya dengan raut wajah bingung.
Alviana kembali mengangguk. “Kalau gue gak ada kesibukan. Tapi gue selalu berusaha nyempetin waktu buat mereka,” jawabnya.
Ketiga lelaki itu hanya mengangguk.
Alzean segera mengambil empat tas belanjaan yang berada ditangan Alviana dan memberikan masing-masing dua tas tersebut pada Revan dan Devano.
“Kita anterin Lo ke sana!” Devano langsung memberikan Alviana satu helmnya. “Gue gak terima penolakan!” lanjutnya.
Alviana menghembuskan nafasnya kasar dan mulai menaiki motor sport milik Alzean. Lelaki itu juga memegang tangan Alviana guna berjaga-jaga agar gadis manis itu tak jatuh.
Ada rasa sesak di hati Devano saat melihat gadis yang ia cintai lebih dekat dengan lelaki lain dibandingkan dirinya. Devano juga ingin Alviana dekat dengannya, namun, gadis itu selalu menolak saat Devano mendekatinya.
.
.
__ADS_1