ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 11 KEINGINAN ALVIONA


__ADS_3

— 𝑀𝑒 𝑓𝑡. 𝑀𝑦𝑠𝑒𝑙𝑓


“Bukannya menyerah. Hanya saja aku terlalu lelah untuk menghadapi dunia.”


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alviona mendorong tubuh Alviana hingga gadis itu hampir tersungkur. “Maksud Lo apa masih deketin Devano, hah?!” murkanya.


Alana mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu tak mengerti apa maksud Alviona. Mendekati Devano? Bahkan Alviana tak pernah berpikiran untuk mendekati atau sekedar berbicara dengan pria itu. Semua terjadi secara tiba-tiba dan tanpa rencana.


“G--gue gak pernah—”


“Masih mau ngelak? Terus tadi apa? Jelas-jelas Lo di anterin Devano sama Alzean pulang! Menurut Lo itu apa? Bahkan bukan cuma satu, Kak! Lo deketin dua cowok sekaligus buat permainin hati mereka! Licik banget ya lo!”


“Gue gak paham maksud Lo apa. Tapi gue bener-bener gak ada niatan buat deketin Devano dan permainin perasaan mereka berdua. Tadi kita gak sengaja ketemu dan mereka cuma mau bantuin gue, Lona! Gue sama sekali gak berniatan buat deketin mereka berdua.”


“Bantuin apa?! Pekerjaan berat apa yang Lo lakuin sampe mereka harus bantuin Lo. Bahkan Lo sampe pulang malem kek gini? Pekerjaan apa, hah? Pekerjaan apa yang buat mereka harus nganterin Lo?!” Alviona berteriak frustasi.


“Gue gak pernah minta mereka bantuin gue ... Itu semua kemauan mereka! Please, percaya sama gue.”


“Percaya? Percaya sama Lo? Cewek kek Lo gak pantes dipercaya! Gue gak nyangka Lo selicik ini! Lo udah hianatin gue! Lo jahat tau gak?! Lo udah janji supaya gue jadian sama Devano. Dan sekarang mana? Kemana janji manis Lo itu?!”


Alviana menghembuskan nafasnya kasar. “Jadi ... Lo mau jadian sama Devano?”


Alviona hanya mengangguk.


“Oke, gue bakal bantuin Lo supaya bisa jadian sama dia.” Alviana memutuskan.


Alviona tersenyum licik. “Oke ... Gue gak mau tau! Pokoknya rencana Lo harus berhasil dan jangan sampe gue gagal jadian sama Devano, paham?!”


Alviana mengangguk pasrah.


•••

__ADS_1


Alviana memberikan satu kaleng minuman soda kesukaan Devano diatas meja dan mulai duduk disamping lelaki itu. Rasa canggung seketika menyelimuti. Andai saja kemarin Alviana tak berjanji pada Miranda dan Alviona. Mungkin hari ini gadis itu tak akan berada dalam situasi seperti ini.


“G--gue pengen ngomong sesuatu.” Alviana berujar gugup.


Devano menaikan sebelah alisnya. “Apa?”


“A--Alviona sebenernya suka sama lo.”


“Terus?”


“Dan dia pengen j--jadi pacar lo.”


“Tapi gue gak mau jadi pacarnya!”


“Gue mohon, Devan! Cinta Alviona tulus buat Lo! Lo gak boleh egois! Lo gak boleh sia-siain orang yang tulus cinta sama Lo dan milih orang jahat yang yang selalu nolak perasaan Lo!”


Devano berbalik. Menghadap Alviana sepenuhnya. “Dia cinta sama gue tapi gue gak cinta sama dia! Cinta gak bisa dipaksain! Dan gue gak bisa bohong ...!”


“Gue masih harepin lo!”


Setelah mengatakan itu, Devano langsung beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Alviana sendirian.


•••


Alzean memerhatikan Alviona diam-diam. Raganya memang berada di kelas, namun, Netranya terus terikat pada wajah Alviona. Wajah cantik dan tawa manisnya membuat Alzean tak bisa berpaling.


Akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Dengan segera Alzean langsung berjalan keluar kelas dan menghampiri Alviona. Lelaki itu sudah cukup menahan rindu dan hari ini dirinya akan melampiaskan segala rindunya.


“Alviona!”


Dengan satu kali panggilan saja Alviona langsung berbalik. Senyumnya kembali terukir hingga memperlihatkan lesung pipinya. Sangat manis! Tetapi sayang. Wajah manisnya tak mencerminkan sifatnya. Wajah manis dan sifat iblis. Sepertinya kata itu cocok untuk seorang Alviona Zealand Narendra.


“Eh, kenapa?” tanya Alviona sambil menyematkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya.


Steysie dan Celline yang melihat itu segera berjalan mendahului Alviona. Keduanya tak mau mengganggu waktu milik kedua sejoli itu.

__ADS_1


“Gue cuma mau ketemu sama Lo. Udah lima tahun kita gak ngomong kek gini. Terakhir kali cuma pas gue ucapin selamat tinggal buat Lo sebelum gue pergi ke Italia.”


Alviona tersenyum. “Pas itu Lo masih cupu. Dan sekarang ... Lo bener-bener keliatan sempurna dari segi apapun. Dan jujur, gue nyesel dulu selalu remehin lo.”


“Gue juga minta maaf karena dulu selalu buat Lo risih dengan kehadiran gue.”


“Itu dulu. Tapi sekarang gue udah gak risih sama datengnya Lo. Sekarang Lo udah pantes buat deketin gue. Lagian, sekarang Lo udah keren dan lebih dari kata ... Tampan!”


Alzean tersenyum tipis mendengar pujian yang diberikan Alviona. Rasanya bahagia saat mengetahui bahwa Alviona sudah bisa menerima kehadirannya. Sekarang, hanya perlu membuat gadis itu jatuh cinta dan Alviona akan segera menjadi milik Alzean seutuhnya.


“Oh ya ... Gue liat-liat akhir-akhir ini Lo lebih Deket sama Kak viana. Ya, gue gak heran sih karena dari dulu emang dia selalu deketin lo. Tapi sekarang, keknya Lo yang deketin dia.”


“Gue deketin dia cuma karena kasian dan mau bales kebaikan dia dulu.”


Alviona mengangguk. “Gue pikir Lo suka sama dia. Maksud gue ... Kek gak pantes aja orang yang sempurna segala-galanya kek Lo suka sama Kak viana yang jauh dari kata standar itu. Ya, bagus sih. Setidaknya Lo gak terjebak sama cewek licik kek dia!”


“Tapi menurut gue dia lebih dari kata sempurna. Dia spesial! Hatinya bener-bener lembut dan itu yang jadi cirikhas dia.”


“Lembut? Lembut apanya? Dia tuh anak pembangkang yang gak pernah nurutin perintah orang tua gue. Bahkan Kakak gue sampe pergi dari rumah karena gak tahan sama sikapnya,” jelas Alviona. Tentu saja semua itu bohong. Alona hanya ingin memanipulasi Alzean agar lelaki itu benci pada Alana.


“Really?”


“Dan dia juga sering berusaha buat celakain gue.”


Alviona menunjukan pergelangan tangannya yang terluka. “Ini bukti kalau Kak viana udah nyakitin gue. Dia sengaja gores tangan gue pake pisau cuma gara-gara gue gak mau kerjain pr dia, hiks ....” lagi-lagi Alviona berdusta.


Sebenarnya luka itu karena ulah Alviona sendiri. Gadis itu terlalu kesal pada Alviana dan  menyakiti dirinya sendiri.


Alzean membulatkan matanya sempurna. Lelaki itu hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan Alviona. Alzean pikir Alviana adalah gadis ideal berhati lembut, tetapi dirinya salah! Beruntung Alviona segera memberi tahunya.


Alzean langsung membawa Alviona kedalam pelukannya. Lelaki itu mengelus Surai hitam milik Alviona mencoba menenangkan tangisannya.


“Gue capek selalu jadi pelampiasan Kak Lana ...,” lirihnya.


“Gak papa. Ada gue disini.”

__ADS_1


Alviona tersenyum licik dan mulai membalas pelukan hangat yang diberikan Alzean. Gadis itu tak tahu jika Alzean begitu mudah dibohongi dengan air mata palsunya.


‘Lo terlalu baik buat gue, Zean!’ batinnya.


__ADS_2