ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 6


__ADS_3

#Part_06 [Semakin terluka


Siapin tissue.


Part ini lebih sad dari sebelumnya.


•••


“Duduk, diam, dan meratapi senja. Menghitung sudah berapa banyak luka di hati ini. Sandyakala mengatakan semua akan berakhir bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Namun, Arunika menjawab bahwa luka akan kembali seiring dengan terbitnya matahari dari timur semesta.”


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alviana membuka pintu rumahnya perlahan. Gadis itu takut membangunkan semua orang karena hari sudah larut. Setelah menerima gaji hariannya, Alviana langsung memutuskan untuk pulang dan melanjutkan belajarnya. Walaupun gaji tak seberapa, namun, Alviana tetap merasa senang karena uang itu adalah hasil jeri payahnya sendiri. Setidaknya, usahanya untuk menjadi mandiri perlahan mulai berhasil.


Gadis manis itu membulatkan matanya sempurna saat melihat seluruh anggota keluarganya berdiri angkuh sambil menatapnya benci. Alviana bahkan sedikit mengernyit saat melihat Alviona sudah menangis di pelukan Miranda.


Plak!


Alvin langsung menampar Alviana sekuat tenaga hingga sudut bibir putrinya itu mengeluarkan darah. Tak sampai disitu, Alvin juga mencengkram dagu Alviana kuat hingga membuat gadis itu meringis sakit.


“Kenapa kamu permaluin Alviona, hah?!” Lelaki paruh baya itu semakin menguatkan cengkramannya.


“Alviana gak bermaksud, Pa. Alviana sama sekali gak—”


Plak!


Satu lagi tamparan mendarat mulus dipipi kanan Alviana. Kini, kedua pipinya terasa benar-benar sakit dan memerah akibat tamparan yang diberikan ayahnya.


“Gak usah bohong kamu!” sarkasnya.


Miranda mendudukan Alviona di sofa dengan lembut. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil pada Alviona dan langsung berjalan menghampiri Alviana.


Wanita itu mencengkram pergelangan tangan Alviana kuat. “Berani ya kamu permaluin anak saya! Hari ini kamu udah keterlaluan! Apa gak capek kamu tiap hari sakitin Alviona, hah?! Ck! Saya malu punya anak seperti kamu!”


Alviana menutup matanya. Membiarkan air matanya kembali luruh. Gadis itu sudah terlalu lelah untuk melawan, hatinya sudah terlanjur terluka, dan lukanya kembali basah akibat ucapan kedua orang tuanya barusan.


Luka fisik masih bisa diobati. Tetapi, Luka hati akan sulit terobati. Walaupun sudah diobati, bekasnya masih tetap ada. Lambung sering kelaparan, hati sering terluka, fisik selalu kelelahan, mata sudah hampir rusak karena terlalu sering menangis, rambut mulai menipis akibat terlalu stres, dan bibir sudah lelah selalu mengucapkan kata Maaf.


“Saya gak butuh tangisan kamu! Saya gak mau tau! Mulai sekarang, kamu harus berhenti bekerja dan duduk sepanjang hari dirumah. Dan ya, saya juga gak akan kasih kamu uang karena udah permaluin Alviona!” tegas Alvin.


“Tapi—”


“Kalau kamu melawan, saya akan langsung usir kamu dari rumah ini! Kamu memang anak kandung saya, tapi sifat kamu tidak mencerminkan sifat keluarga Narendra!” sarkas Alvin.


Alvuana kembali menunduk. Gadis itu memegang perutnya yang kembali terasa perih. Lambungnya sama sekali belum terisi sedikitpun.


“Kenapa? Laper? Hari ini kamu gak bakal dapet jatah makan! Kamu berani permaluin anak saya dan kamu harus berani terima hukuman dari saya!” Alvin kembali berucap.


Alviana menangis dalam diam. Tangisannya Kali ini sama sekali tak bersuara karena dadanya yang sudah terasa sangat sesak. Gadis itu teringat akan hari-harinya sedari kecil yang jarang mendapat jatah makanan, mainannya pun hanya bekas Alviona, dan sedari kecil dirinya sudah diperlakukan bak pembantu dirumah mewah kepunyaan keluarga Narendra itu.


Alviana bahkan hampir tak pernah diajak makan malam bersama, jika semua orang sedang menikmati hidangan sambil bercanda dan tertawa bahagia, maka tidak dengan Alviana yang hanya bisa melihatnya dari jauh. Mencuci piring dan melakukan pekerjaan rumah sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.

__ADS_1


Terkadang Alviana merasa ingin bebas seperti remaja yang lain. Walau hanya berjalan-jalan tanpa memikul beban apapun. Alviana juga ingin santai tanpa dituntut harus mendapatkan nilai yang bagus, Alviana ingin dirinya bisa mendapatkan kasih sayang yang selayaknya, dan Alviana ingin mengobati luka di hatinya.


“Ma ...,” lirih Alviona.


Miranda langsung menoleh dan berlari kecil menghampiri putri kesayangannya. “Kenapa, sayang?” tanyanya lembut. Sangat berbeda saat dirinya bicara pada Alviana.


“T--tadi Devano tembak Kak viana. Mama tau, ‘kan? Alviona udah lama simpen rasa sama Devano. Dan Devano malah suka sama Kak viana ana! Alviona mau Devano bales cinta viona, Ma ...!” Gadis itu mengadu.


Miranda menatap Alviana tajam. “Kamu denger sendiri, ‘kan? Anak saya begitu tersakiti gara-gara kamu! Kamu kenapa kecentilan banget sampe Devano suka sama kamu? Saya mau ... Mulai sekarang kamu jauhin Devano dan buat Alviona pacaran sama dia!”


“J--jadi selama ini Alviona suka sama Devano?” Alviana bergumam.


“Kamu denger yang saya bilang, Alviana?!” tanya Miranda.


Alviana mengangguk cepat. “De--denger, kok, Ma,” sahutnya sambil tersenyum tipis.


“Yaudah! Sekarang kamu cuci piring dan cuci baju kita semua! Saya gak mau tau! Pokoknya besok pagi baju kita harus sudah bersih! Kalau sampe masih basah, walau hanya sedikit. Saya akan beri hukuman sama kamu! Paham?!”


Alviana hanya mengangguk sebagai jawaban.


Rafael—Anak pertama keluarga Narendra turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir hingga membuat semua orang kebingungan.


“Pa ... Kaos putih aku kok bisa kotor kek gini?! Padahal kemaren masih baik-baik aja, dan sekarang ....” Lelaki itu mengadu.


Rafael menatap seluruh anggota keluarganya bergantian. “Ngaku siapa yang kotorin ini?! Kalian tau ini pemberian dari nenek, ‘kan?!”


Alviona menggigit bibir bawahnya takut. kemarin, gadis itu tanpa sengaja mengambil kaos Rafael untuk membersihkan kopi yang tumpah diatas meja belajar lelaki itu. Alona sudah terlalu takut hingga tak bisa berpikir jernih. Dan berakhir Kaos Rafael yang dia gunakan untuk membersihkan meja kakaknya itu.


“Papa kemarin sibuk seharian. Banyak berkas yang harus papa kerjain dan gak ada waktu buat kotorin Kaos kamu.”


“A--Alviona kemaren sibuk ngerjain tugas dan gak masuk ke kamar Kakak sama sekali.” Alviona membuat Alibi palsu.


Rafael menatap Alviana sengit. Sekarang hanya Alviana yang belum memberikan alasannya.


“Atau jangan-jangan Lo yang kotorin baju gue? Ngaku!” bentaknya.


Alviana tersentak. “Ke--kemaren aku emang sempet ke kamar Kakak buat anterin kopi, tapi—”


Devano langsung menendang perut Alviana hingga gadis itu tersungkur. “Jadi Lo yang kotorin baju gue? Lo bener-bener, ya, Lan! Gak habis pikir gue sama Lo! Gue tau Lo iri sama baju pemberian nenek buat gue tapi gak gini caranya!”


“Argh! Kenapa sih Lo selalu nyari masalah sama gue! Salah gue apa, Lan?!” Rafael mengacak rambutnya frustasi. “Ck! Lama-lama gak betah gue dirumah ini!” sambungnya seraya berjalan pergi meninggalkan rumah.


Alvin menatap Alviana tajam. “Gara-gara kamu Rafael jadi pergi! Kapan sih kamu gak buat masalah dirumah ini? Selalu aja ada masalah kalo kamu ada disini! Dasar anak pembawa s*al!” cibirnya.


“Kedua anak saya jadi menderita gara-gara kamu! Sebenarnya kamu anak saya bukan sih? Saya gak nyangka saya bakal punya anak pembawa masalah seperti kamu!”


Alviona tampak gelagapan. “A--Alviona juga nyesel punya Kakak kek Kak Viana! Kalau tau bakal kek gini, mending Alviona gak punya kakak! Mulai sekarang kakak viona cuma Kak Rafa, bukan Kak viana!”


Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, ketiganya langsung berjalan pergi ke kamar masing-masing.


Alviana memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Gadis itu menjambak rambutnya kasar hingga terasa hampir lepas dari kulit kepala. Tubuhnya hampir menggigil dengan dada yang terasa amat sesak.


“Dasar anak pembawa s*al!”

__ADS_1


“Saya gak nyangka saya bakal punya anak pembawa masalah seperti kamu!”


“Sekarang Kakak viona cuma Kak Rafa! Bukan Kak viana!”


“Sakit gak sih diusir adek sendiri?”


“Ini akibat karena Lo berani permaluin Alviona!”


“Ck! Malu-maluin banget sih Lo!”


“Mending Lo pergi, deh, Lan! Daripada Alviona harus Dipermaluin gara-gara Lo!”


Ucapan itu terus berputar-putar diotak Alviana hingga membuat kepalanya semakin terasa sakit. Pipinya terasa begitu kebas dengan bibir bergetar hebat.


“Argh!” Alviana memukul lantai kuat hingga tangannya mengeluarkan darah.


Setelah dirasa puas melampiaskan amarahnya, Alviana langsung memeluk lututnya dan kembali menangis. Dadanya terasa sangat sesak. Bahkan sama sekali tak ada sandaran disaat dirinya berada pada titik paling rendah seperti ini.


•••


Alviana menatap kosong kedepan sambil membalut telapak tangannya dengan kain. Kejadian tadi tak bisa lepas dari pikirannya. Dipermalukan, dihina, dan dicaci oleh orang tua dan teman sendiri. Apalagi yang kurang dalam hidupnya. Bahkan kebahagian tak pernah singgah walau hanya sebentar.


Setelah membalut lukanya, Alviana langsung berjalan ke dapur dan membersihkan piring-piring kotor yang memenuhi pandangannya. Beberapa kali Alviana meringis saat luka ditangannya terasa semakin sakit saat mencuci piring-piring itu.


Alviana menyeka keringat di dahinya. Gadis itu melirik jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 23.55. Mungkin semua orang sudah tidur. Namun, tidak dengan Alviana yang masih harus mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Alviana mengambil handphonenya di atas meja makan. kali ini grub chat yang berisi hampir dari seluruh siswa SMA Bhakti Jaya memenuhi notifikasinya. Terpaksa Alviana harus membuka Grub itu guna mengetahui apakah ada pemberitahuan penting atau tidak.


Lagi-lagi Alviana harus menghembuskan nafasnya kasar saat Lea mengirimkan fotonya yang bekerja di Resto Tuan Johnny ke Grub sekolah. Lea benar-benar berhasil mempermalukan Alviana. Terbukti dengan beberapa balasan pesan yang bisa terbilang menghinanya.


“Lo emang pantes dipermaluin, vian! Lo bodoh dan Lo harus bisa tahan semua ini,” ujarnya sambil tersenyum miris.


Gadis dengan tubuh mungil itu kembali meletakan hendphonenya dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci semua baju-baju milik keluarganya. Alviana hanya bisa menghela nafas saat melihat begitu banyak baju menumpuk di mesin cuci.


Tak mau berlama-lama, Alana langsung menjalankan mesin cuci itu. Gadis itu tak mau menghabiskan waktu terlalu lama. Masih banyak materi yang harus ia pelajari untuk menghadapi ujian besok.


•••


Bibir pucat Alviana membentuk senyuman saat baju-baju yang ia cuci telah menggantung rapi diatas jemuran teras. Gadis itupun segera mengambil bukunya dan kembali belajar sambil menunggu baju-baju itu kering.


Tak ada rasa takut sedikitpun dihati Alviana. Gadis itu malah dengan santai belajar sambil menikmati angin malam menembus kulitnya.


Alviana menatap lurus kedepan. Ingatan akan kejadian waktu kecil kembali masuk ke pikirannya. Saat itu Alviana masih terlalu kecil untuk mencerna semuanya. Alviana masih terlalu lugu untuk disalahkan.


“Orang tua, sahabat, temen, gue punya semuanya. Tapi kenapa takdir gak biarin gue bahagia? Apa gue terlalu jahat? Iya gue jahat karena selalu sakitin Alviona dan orang-orang sekitar gue ....”


Gadis itu tertawa hambar. “Disini gue yang jadi korban, bukan kalian ...,” lirihnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2