
Alviana tersenyum simpul. “Gue gak bakal lupain kewajiban gue sebagai siswa cuma gara-gara pekerjaan gue. Mimpi gue tinggi. Dan gue gak bakal sia-siain waktu cuma buat hal gak berguna,” jelasnya.
“Jadi Dokter?” tanya Alzean. Alviana kembali mengangguk sebagai jawaban.
Alzean tersenyum tipis. “Dari dulu gue masih penasaran. Sebenernya apa alesan lo buat jadi Dokter. Gue pikir, jadi Dokter itu bukan pekerjaan yang mudah.”
“Gue cuma pengen selametin hidup banyak orang. Gue tenang pas liat raut wajah bahagia dari keluarga orang yang gue selametin. Gue seneng pas usaha gue berhasil, dan gue selalu berharap mimpi itu bisa terwujud.”
Alzean hanya mengangguk. Hatinya terasa hangat saat mendengar penuturan Alviana barusan. Gadis disampingnya ini benar-benar istimewa, walaupun hatinya selalu terluka. Namun, hati lembutnya masih menginginkan kebahagiaan untuk orang lain.
Alviana kembali meringis memegang perutnya. Sudah dua hari ini gadis itu belum makan apapun dan akibat dari tendangan Rafael kemarin, perut Alviana terasa semakin perih. Gadis itu sudah meminta makanan pada Miranda, namun, Wanita paruh baya itu tak memberikannya.
Alzean yang menyadari akan gelagat Alviana langsung berlari ke kantin dan membelikan roti juga beberapa makanan ringan untuk gadis itu. Alzean juga masih punya hati untuk menolong seseorang.
“Nih.” Lelaki itu menyodorkan satu kantung keresek makanan yang tadi dibelinya.
“Gak perlu. Gue masih bisa tahan,” tolaknya sambil tersenyum kecil.
Alzean memutar kedua bola matanya malas. Lelaki itu segera membuka bungkus Roti ditangannya dan langsung menyuapkannya ke mulut Alviana. Sudah Alzean katakan. Menyuruh Alviana dengan mulut saja tak ada gunanya jika tangan tak ikut bertindak.
“Sekarang ambil ini, dan makan yang bener!” lelaki itu kembali menyodorkan keresek tadi pada Alviana.
Setelah merasakan Roti yang disuapkan Alzean, Alviana jadi merasa bersalah jika harus menolak pemberian pria itu. Alzean sudah jauh-jauh berlari ke kantin, dan dirinya hanya menyia-nyiakan makanan itu. Tidak! Alana tak akan melakukannya.
“Gue gak butuh bantuan Lo!”
“Tapi luka kamu banyak banget, Devano!”
“Gue bilang gue gak butuh! Dan semua ini terjadi karena Lo, Alviona Zealand Narendra!”
Alviana dan Alzean saling memandang dan langsung berlari kearah sumber suara. Keduanya berpikir pertengkaran itu berasal dari UKS dan suara tersebut milik Devano dan Alviona.
__ADS_1
Devano menatap Alviona tajam dan langsung berdiri dari brankar. “Mulai sekarang gak usah deketin gue! Dan gue harap Lo bisa jauhin gue!” tegasnya.
Devano menghentikan langkahnya saat melihat Alviana dan Alzean diambang pintu. Lelaki itu hanya menatap Alana datar dan kembali meneruskan langkahnya.
Dengan cepat Alviana langsung menghampiri Alviona yang kini terlihat sangat menyedihkan. Ditolak langsung oleh orang yang dicintai. Hal apa yang lebih menyakitkan dari itu.
“Devano gak apa-apain Lo, ‘kan?” tanya Alviana.
Alviona tersenyum sinis. “Gak usah sok peduli! Semua ini terjadi karena Lo dan Devano malah numpahinnya ke gue!”
“Gue gak nyangka Lo selicik ini, Kak! Gue gak bakal tinggal diem, gue bakal laporin ini semua ke papa biar Lo di hukum! Dasar pembawa s*al!”
Alviona menghapus jejak air matanya dan langsung berjalan pergi meninggalkan Alviana. Gadis itu harus memikirkan cara lain untuk mendekati Devano.
Alviana menatap kepergian Alviona sendu. Kesedihan Alviona tak ada apa-apanya dibanding kesedihannya. Alviona hanya gagal dalam percintaan. Namun, Alana selalu gagal dalam segalanya. Kata-kata menyakitkan sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Alzean menghembuskan nafasnya kasar. Lelaki itu mulai berjalan meninggalkan Alana dan membiarkan gadis itu sendiri.
Devano terus melemparkan bola basket ke ring dengan kasar. Jika sedang marah, Devano akan selalu ke lapangan basket dan melampiaskan amarahnya disana. Dengan cara apapun yang penting kemarahannya bisa tersampaikan.
“Gue gak tau kalau Lo hebat main basket.” Alzean berjalan santai kearah Devano. Lelaki itu memasukan kedua tangannya ke saku celana dan menatap Devano remeh.
Devano tertawa sinis. “Ini hobi gue. Dari dulu basket emang udah jadi temen gue,” jelasnya.
Alzean juga menunjukkan senyum sinisnya. “Mau tanding?” tanyanya.
“Boleh. Gue juga gak nyangka Lo berani nantangin gue. Selama ini, belum ada yang berani nantangin gue, apalagi one by one.”
Alzean langsung merebut bola basket dari tangan Devano. “Arrogant,” ujarnya.
“Licik,”
__ADS_1
Keduanya saling melemparkan senyum remeh. Tak ada kebencian diantara Devano dan Alzean, keduanya hanya ingin menunjukan kehebatan masing-masing sehingga saling menganggap remeh satu sama lain.
“Ck! Lemah! Mending Lo berdua lawan gue. Tapi gue gak yakin sih kalau si lemah Devano dan si pengecut Alzean bisa kalahin gue.” Rassya tersenyum remeh menatap Devano dan Alzean bergantian.
Devano mengepalkan tangannya kuat. Lelaki itu hendak berjalan menghampiri Rassya, namun, Alzean segera mencekal tangannya.
“Gak ada gunanya Lo ladenin orang kek dia!” tegasnya. Alzean sengaja mengeraskan suaranya agar Rassya juga bisa mendengar.
Rassya tertawa. “Dan gue sebenernya males ladenin kalian. Tapi ... Karena kalian terlalu lemah. Jadi, gue mau coba nantangin kalian. Lagian, gue juga pengen ngajarin kalian gimana cara main basket yang bener.”
“Bacotan Lo gak dibutuhin disini! Dan Lo mau nantangin Kita, ‘kan? Lo pikir kita selemah itu sampe harus nolak tantangan Lo? Gak, Man! Kita hebat dan kita bisa ngalahin Lo dengan mudah!” Alzean membalas dengan nada ketus.
“Yaudah! Yang paling banyak cetak skor dalam waktu satu jam jadi pemenangnya. Dan, kalau Lo dan Devano kalah, Devano harus minta maaf sama Alviona dan perlakuin dia dengan baik. Lo juga harus gantiin gue piket kelas selama dua bulan penuh, gimana?”
“Denger, gue gak bakal—” ucapan Devano terpotong saat Alzean terlebih dahulu membalas ucapan Rassya.
“Oke,” sarkas Alzean. “Dan kalau Lo kalah ... Lo harus minta maaf sama Devano dan bersihin ruang osis selama tiga bulan penuh!” lanjutnya.
“Oke, deal!”
Alzean melirik Devano yang kini tengah menggeram marah. “Tenang aja. Kita bakal menang. Mereka gak ada apa-apanya dibanding kita,” bisiknya.
“Ck! Kita bakal buktiin kalau kita lebih hebat dari kalian!” tegas Zevandra yang kini sudah berdiri diambang pintu.
“Liat aja nanti!” Alzean tersenyum remeh.
.
.
.
__ADS_1