ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 10 bagian 2


__ADS_3

Alzean menghembuskan nafasnya kasar. “Susahnya ngomong jujur tuh apa, sih?! Kenapa Lo gak mau bilang aja kalau tangan Lo sakit? Apa mau sampe tambah parah dulu baru Lo ngomong?!”


“Kalau gue bilang tangan gue sakit pasti semua orang gak bakal ngizinin gue buat masak! Kalau bukan gue siapa yang mau masak?! Bu Renata lagi sakit!”


“Bu Renata?” Revan bertanya.


“Pemilik panti ini. Udah tiga hari dia sakit dan gue merasa bersalah karena gak bantuin dia sama sekali. Hari ini gue udah janji buat bantuin dia dan gue gak mau langgar janji itu!”


Alzean menaikan satu alisnya. “Lo gak perlu masak! Biar gue, Devan sama Revan yang masak. Istirahatin aja tangan Lo!”


“Kalian? Emang kalian bisa masak? Gak, gak! Gue gak mau!”


“Lo kenapa keras kepala banget, sih?! Udah! Nurut aja apa kata gue! Lo tinggal arahin kita aja ... Dan kita bakal lakuin apa yang Lo perintahin. Kita bakal masak dan Lo harus percaya sama kita.”


Alviana menatap Alzean penuh selidik. “Kalian beneran mau lakuin apa yang gue perintahin? Beneran bisa masak? Kalian gak bakal bakar dapur, ‘kan? Kalian—”


Alzean meletakan jari telunjuknya dibibir tipis Alviana. “Diem! Lo tinggal ngomong dan kita yang bakal bertindak, paham?” tanyanya yang hanya dibalas anggukan oleh Alviana.


Alviana melirik jari Alzean yang berada di bibirnya. Alzean yang sadar akan hal itu langsung menurunkan jarinya gugup. Matanya tak berani menatap Alviana yang kini tengah menatapnya heran.


“Ekhem! Kapan masaknya ini?!” tanya Revan.


•••


Alviana menahan tawanya saat melihat Alzean, Devano, dan Revan memakai celemek berwarna hitam putih dengan motif kotak-kotak. Ketiganya memang masih tampan, namun, wajah kesal mereka terlihat sangat lucu saat memakai celemek itu.


“Harus banget ya kita pake celemek kek gini?” tanya Revan dengan wajah polosnya.


“Ya, gak harus, sih. Tapi kalau gak pake celemek bisa-bisa baju kalian kotor. Mau baju bagus kalian kotor cuma gara-gara gak pake celemek?” Revan langsung menggeleng.

__ADS_1


“Tapi sekarang kita harus masak apa?” Alviana bertanya sambil menatap ketiga pria itu bergantian.


Ketiganya hanya mengedikan bahunya pertanda tak tahu.


Alviana melihat semua bahan-bahan yang telah dibelinya. Semua lengkap, ada sayur, tahu, tempe, ikan, bahkan ayam pun di belinya. Namun, Alviana masih bingung harus memasak apa.


“Oke.” Satu ide muncul di benak Alviana. “Kita bisa masak Ikan goreng, sayur tumis, telur goreng, sama ayam goreng. Gimana?”


Ketiganya hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Revan goreng ikan bisa, ‘kan?”


“Alzean tumis kangkung sama goreng telur ... Dan Devano goreng ayam. Boleh?”


Alzean dan Devano kembali mengangguk. Namun, tidak dengan Revan yang sudah mendengus. “Kok gue goreng ikan? Mana bisa gue!”


“Nomor Cecannya batal,” ancam Alzean.


Alviana terkekeh dan mulai memberikan bahan-bahan yang diperlukan kepada ketiga pria tadi. Sejujurnya Alviana kurang yakin pada ketiganya, mengingat mereka sama sekali tak bisa memasak. Namun, Alviana juga tak bisa berbuat apa-apa karena Alzean sudah melarang.


Baru saja mulai memasak, Alviana sudah dibuat pusing oleh Revan. Gadis itu kesal sendiri melihat Revan yang begitu takut memasukan ikan kedalam panci penggorengan.


“Masukin aja, Revan!” titah Alviana.


“Minyaknya muncrat, vian! Ntar kalo kena muka gue yang ganteng ini gimana?”


“Kecilin apinya. Minyaknya gak bakal m*ncrat kalo apinya Lo kecilin.”


“Beneran?”

__ADS_1


“Iya!”


Netra Alviana beralih menatap Alzean yang kini fokus pada pekerjaannya.


“Telurnya dikocok dulu baru dimasak. Jangan lupa nambahin kentang sama wortel yang di iris kecil-kecil. Masako juga jangan lupa. Dan untuk bumbu sayurnya cukup bawang merah, bawang putih, sama sedikit cabe yang di iris tipis-tipis. Sama—”


“Iya, iya! Bawel banget, sih!” tukas Alzean.


Alviana mendengus. Kini, giliran Devano yang harus ia perhatikan pekerjaannya. Baru saja melihat Devano, Alviana sudah dibuat pusing sendiri. Bagaimana tidak, sedari tadi lelaki itu masih diam sambil melihat panci dan bahan-bahan yang lain.


“Lo ngapain cuma diem gitu?” tanya Alviana.


Devano melirik Alviana. “Gue gak tau bumbunya apa aja,” jawabnya seadanya.


“Disini udah ada tepungnya. Lo tinggal masukin ayamnya ke telur yang udah di kocok dan balurin sama tepung sajiku. Simple, ‘kan?”


Devano hanya mengangguk. Lelaki itu sudah paham dan langsung memulai pekerjaannya. Tak hanya Devano, bahkan Alzean dan Revan juga sudah melakukan setengah dari pekerjaan mereka dan tak lama lagi akan selesai.


Alviana tersenyum sambil memerhatikan ketiga lelaki itu. Baru kali ini Alviana merasakan kebahagiaan hanya karena hal sepele seperti ini.


“Permisi ....”


Alviana segera menoleh saat mendengar suara seseorang. Alisnya sedikit mengernyit saat melihat Nazea tengah berjalan kedapur sambil membawa beberapa kotak makanan.


“Nazea?”


Gadis itu tersenyum. “Iya ... Gue kesini karena mau ngasih beberapa kue buat anak-anak panti.”


“Gue udah sering denger dari Bu Renata kalau Lo sering kesini. Makannya gue gak kaget. Tapi sayangnya kita jarang ketemu karena mungkin gue yang jarang banget kesini.” Nazea menjelaskan sambil meletakan kotak makanan itu di atas meja makan.

__ADS_1


Alviana mengangguk. “Gue juga baru tau Lo pernah Dateng kesini.”


__ADS_2