ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 8 bagian 2


__ADS_3

Argh! Gak becus kalian!” Rassya mengumpat sambil mengacak rambutnya frustasi.


Zevandra tertawa sinis. “Salahin diri Lo sendiri, baru kita! Egois!” balasnya.


Alzean tersenyum puas. “Masih Inget perjanjian tadi?”


Rassya memutar kedua bola matanya malas. Kakinya mulai melangkah mendekati Devano dengan tangan terulur cepat. Terlihat raut tak ikhlas dari wajah lelaki jangkung itu.


“Gue minta maaf,” ucapnya tanpa ekspresi sama sekali.


“Gini caranya minta maaf? Ck! Gue sama sekali gak pernah liat orang minta maaf kek Lo gini! Ulangin!” Devano melipat kedua tangannya didepan dada.


Rassya memutar kedua bola matanya malas.


“Gue minta—”


“Berlutut!” titah Alzean yang berhasil membuat kedua bola mata Rassya membulat sempurna.


Tak hanya Rassya, bahkan seluruh siswa yang berada disana membulatkan mata mereka tak percaya. Selama ini, tak ada yang berani menyuruh Rassya berlutut di kaki siapapun dan untuk kesalahan apapun.


“Berlutut?” beo Rassya.


Alzean tersenyum dan langsung mengangguk. Lelaki itu juga menendang kaki Rassya hingga tubuhnya tersungkur dan secara otomatis langsung tertunduk dibawah kaki Devano.


“Minta maaf aja gak cukup. Lo harus berlutut di kaki Devano sampe dia maafin Lo. Dan sebelum dia maafin Lo, Lo gak boleh berdiri dari posisi ini, paham?!”


Rassya mengepalkan tangannya kuat. Rasanya ingin sekali lelaki itu memukul wajah Alzean saat ini juga. Namun, kali ini Rassya harus bisa sabar demi bisa segera berdiri dari posisinya. Lelaki itu tak mau membuat dirinya semakin dipermalukan hanya karena sikap gegabahnya.


“Maafin gue,” ucap Rassya.


Devano menyunggingkan senyumnya. “No problem. Liat Lo Dipermaluin didepan banyak orang kek gini aja udah buat gue puas,” balasnya.


Rassya menghembuskan nafasnya kasar dan segera berdiri dari posisinya. Kini, tatapannya beralih pada Alzean.


“Tutup mulut Lo! Gue Inget syarat yang satunya dan Lo gak perlu ngomong didepan publik!” tegasnya sambil menatap Alzean tajam.

__ADS_1


Alzean tersenyum. “Oke. Gue percaya Lo bisa bersihin ruang osis dengan baik selama tiga bulan penuh.” Lelaki itu sengaja membesarkan suaranya agar seluruh siswa bisa mendengar.


Seluruh siswa menahan tawanya. Melihat itu, Rassya hanya bisa mengepalkan tangannya kuat dan berjanji akan memberikan pelajaran pada Devano dan Alzean. Hari ini lelaki itu sudah sangat dipermalukan dan lain kali dirinya akan melakukan hal yang sama pada kedua lelaki itu.


Alzean mulai mendekati Zevandra. “Sekarang Lo liat sendiri siapa yang lemah, ‘kan?” bisiknya. Terdengar sangat mengejek bagi seorang Zevandra.


Zevandra melirik Alzean tajam. “Gue bakal bikin perhitungan atas apa yang Lo lakuin hari ini!” balasnya.


“Gue gak takut!” Alzean kembali tersenyum penuh kemenangan.


•••


Devano memberikan satu kaleng minuman soda pada Alzean. “Thank you, bro. Karena Lo gue bisa bales Rassya,” tuturnya.


“No problem.” Alzean mulai meneguk minuman sodanya.


Brak!


Alzean langsung menyembur minuman yang ada di mulutnya hingga membasahi wajah tampan Revan. Lelaki itu hanya bisa mengusap wajahnya sambil menghembuskan nafasnya kasar.


“Nomor cecannya mana?” tanya Revan tanpa memperdulikan ucapan Devano.


Gak mungkin dong seorang Revan Argantara si playboy kelas kakap gak nagih nomor Cecan yang dijanjiin. Mau ditaruh dimana harga dirinya?!


“Nih.” Alzean menyodorkan handphonenya yang sudah terisi beberapa nomor Gadis yang selalu mengejarnya 


Revan tersenyum puas dan langsung mengambil handphone itu.


“Bye, Lenara! Sok banget ngadu padahal mah terpesona sama muka gue!” gumamnya.


•••


Jam kedua terasa amat mencekam bagi Anak XII IPA 1 saat ini. Bagaimana tidak? Hari ini mereka akan melaksanakan ulangan harian dan kebanyakan dari mereka belum belajar sama sekali.


Disaat yang lain sedang tegang, Alviana malah tak sabar ingin mengerjakan soal ujiannya. Sudah banyak materi yang tersimpan di otaknya dan Alviana sudah siap menyalurkannya dalam ujian hari ini.

__ADS_1


Bu Dewi, selaku guru biologi SMA Bakti Jaya mulai membagikan soal ujian. Wanita paruh baya itu memberikan waktu setengah jam untuk mengerjakan soal ujiannya. Guru yang terkenal kejam itu tak akan segan-segan merobek kertas ujian muridnya jika ketahuan menyontek walau hanya satu nomor.


“Saya harap kalian bisa kerjakan semua soal itu dengan tenang! Jawaban kalian akan menentukan kualitas kalian. Waktu yang saya berikan hanya setengah jam. Dan yang belum mengumpulkan hasil ujiannya dalam setengah jam itu tidak akan saya terima kertasnya! Sampai sini paham?”


“Paham, Bu.” seluruh siswa menjawab dengan kompak.


“Bagus!”


Alviana mulai mengerjakan soal ujiannya. Gadis itu merasa bahwa soalnya tak terlalu sulit hingga dirinya tak harus berpikir keras. Hanya perlu tenang dan fokus untuk mencapai hasil yang maksimal.


Alviana telah selesai mengerjakan semua soalnya. Senyumnya mengembang sempurna saat melihat seluruh jawabannya. Alviana pikir jawaban yang ia berikan sudah benar semuanya.


“Ssstt! Kak viana!” Alviona mendesis hingga membuat Alviana langsung menoleh.


“Kasih jawaban Lo atau gue laporin papa!” ancamnya.


“Tapi—”


“Cepet siniin!”


Alviona langsung mengambil kertas milik Alviana dan menyalin semua jawabannya.  


“Nih.” Alviona mengembalikan kertas jawaban milik Alviana setelah selesai menyalin jawabannya tanpa sopan santun sedikitpun. Gadis itu juga sudah mengumpul kertasnya mendahului Alviana.


Tiga puluh menit telah berlalu. Sekarang, waktunya para siswa untuk mengumpul jawaban dan Bu Dewi akan memeriksa satu persatu tugas mereka.


Guru Killer itu mengernyit heran saat sampai pada kertas milik Alviona dan Alviana.


“Alviana! Kamu nyontek jawaban Alviona?!” tanya Bu Dewi hingga membuat Alviona menyunggingkan senyumnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2