ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
bab 10; Masakan untuk anak panti


__ADS_3

• 𝙋𝙚𝙤𝙥𝙡𝙚 𝙘𝙤𝙢𝙚 𝙖𝙣𝙙 𝙥𝙚𝙤𝙥𝙡𝙚 𝙜𝙤 •


“Menangis karena bahagia itu sudah biasa. Namun, tetap tersenyum ditengah duka itu baru luar biasa!”


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alzean memandang sekeliling panti asuhan yang di maksud Alviana. Lelaki itu sedikit meringis saat melihat keadaannya yang sangat memprihatikan. Tembok yang mulai keropos dan bocor dimana-mana. Hampir terlihat tak layak untuk ditinggali.


“Pelan-pelan!” peringat Devano saat melihat Alviana mulai menuruni motor Alzean.


Alviana hanya tersenyum canggung. Gadis itu kembali menuruni motor milik Alzean dan membuka helmnya perlahan. Tak sampai di situ, Alviana juga mengambil tas belanjaannya dan menatap ketiga lelaki itu bergantian.


“Makasih,” tuturnya diselingi senyuman.


Alzean melirik sekelilingnya. Bibirnya membentuk senyuman saat melihat beberapa anak panti bermain sambil tertawa bahagia tanpa tahu betapa menyedihkannya hidup mereka. Hari ini Alzean benar-benar merasa bersyukur atas kehidupannya. Keluhannya seakan tak ada apa-apanya dibandingkan keluhan yang keluar dari mulut anak-anak panti yang kini ada didepan matanya.


Alviana berbalik dan mulai berjalan menuju rumah panti. Gadis itu terlihat sedikit kesusahan saat membawa begitu banyak barang belanjaan dengan tubuhnya yang sudah  lelah karena bekerja terlalu keras seharian.


“Kita bakal bantuin Lo disini,” papar Alzean.


Alviana menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. “Beneran?” tanyanya yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Lelaki itu.


“Gue gak mau!” Revan menolak sambil membuang wajahnya.


“Beneran gak mau nomor Cecan? Yaudah!” ancam Alzean.


Revan membelalakkan matanya. “Siapa bilang gue gak mau? Gue mau kok! Salah denger kali Lo!” tangkasnya sambil tertawa hambar.


“Yaudah. Kalian bawa masing-masing satu tas belanjaannya,” titah Alzean. Devano dan Revan hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Devano mendongak saat hendak mengambil tas belanjaan Alviana. Mata indahnya menatap lekat wajah manis gadis itu. 


‘Gue bener-bener masih harepin lo, viana,’ batinnya.


Tak mau semakin larut dalam pikirannya. Devano segera menyambar tas belanjaan di tangan Alviana dan membawanya masuk ke rumah Panti. Terlihat jelas dari wajahnya bahwa lelaki itu sedang menahan kesal.


Alzean juga mengambil tas belanjaan di tangan Alviana yang kini masih menatap kepergian Devano. Lelaki itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Alzean tak sebodoh itu sampai tak menyadari bahwa Alviana kini tengah mengkhawatirkan Devano.


“Gak usah terlalu di pikirin. Devano bukan tipe cowok yang kekanakan sampai gak tau mana yang baik dan mana yang buruk. Gue yakin, gak lama lagi Devano bakal perlakuin Lo kek dulu,” jelas Alzean.


“Tapi gue gak yakin. Gue udah terlalu nyakitin hatinya. Gue tau gimana rasanya di tolak ....” Alviana mendongak menatap Alzean yang lebih tinggi darinya. “Karena gue pernah rasain. Bahkan pas gue masih lemah dan belum bisa berpikir dewasa,” sambungnya.


Alzean menatap Alviana dalam. Lelaki itu tau betul bahwa saat ini Alviana tengah menyindirnya secara terang-terangan.


“Perasaan gak bisa dipaksain!” balasnya.


“Dan gue sama sekali gak pernah paksain perasaan lo.” Alviana kembali berucap. Terdengar lembut memang, namun, terasa menyakiti bagi pihak yang tersindir.


Disaat Alzean masih merenungi ucapannya, Alviana yang tak mau menghabiskan waktu terlalu lama segera berjalan ke rumah Panti mendahului lelaki itu.


Suara itu berhasil membuyarkan lamunan Alzean. Lelaki itu langsung melirik sekeliling guna mencari sumber suara.


“Awh ....”


Mata Alzean membulat sempurna saat melihat Alviana meringis sambil memegang tangan kirinya yang sedikit lecet akibat dorongan dari salah satu anak panti. Anak itu sedang bermain petak umpet bersama anak yang lain dan tanpa sengaja menabrak Alviana hingga gadis itu terjatuh.


“M--maaf, kak.” Anak itu terlihat gugup.


Alviana tersenyum tipis. “Gak papa, kok. Yaudah lanjutin aja mainnya,” balasnya lembut.


Ada perasaan aneh di hati Alzean saat melihat perlakuan Alviana terhadap anak-anak panti. Hatinya yang lembut dan senyum yang selalu terukir di bibirnya membuat hati Alzean terasa menghangat.

__ADS_1


•••


“Gue gak papa!” Alviana tetap kekeh menolak pengobatan Alzean di tangannya.


Alzean menatap Alviana tajam. “Diem!” tegasnya.


“Tapi gue gak papa. Ini cuma luka Kecil!”


“Kata Bunda malah luka kecil yang harus cepet-cepet di obati supaya gak infeksi! Nanti kalau luka lagi di bagian yang sama lukanya bakal cepet membusuk dan infeksi. Bakal banyak kuman bersarang di sana!” Alzean menjelaskan panjang lebar.


Alviana menghembuskan nafasnya lelah. Ibunda Alzean memang seorang Dokter, itulah mengapa Alzean selalu memerhatikan kesehatannya dan semua orang yang dirasa dekat dengannya.


“Udah?” tanya Alviana setelah melihat Alzean menutup kotak P3K. “Gue mau masak! Kasian anak-anak udah nunggu makanan mereka!”


Alzean menatap Alviana malas. “Diem dulu, bisa?” tanyanya.


Lelaki itu mulai meraih tangan Alviana dan memencet bagian pergelangan tangannya hingga gadis itu meringis. Tak hanya Alviana, bahkan Devano dan Revan yang tak merasakan apa-apa juga ikut meringis ngilu.


“Tangan Lo sakit, ‘kan?”


“Enggak!”


“Gue tau itu sakit!”


“Harus berapa kali sih gue bi—”


“viana!”


Alviana mendengus. “Iya!”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2