ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}

ALVIANA {GADIS PENUH LUKA}
Bab 3


__ADS_3

#ALVIANA


#Part_03 [Perasaan Alzean]


“Tak ada yang mencintaimu di dunia ini selain dirimu sendiri. Semua akan meninggalkanmu kecuali dirimu sendiri.”


- Alviana Zealand Narendra


•••


Alviana segera memakai Hoodie berwarna putih kesayangannya saat merasakan angin berhembus begitu kencang. Matahari tak nampak dengan awan gelap terus menyelimuti langit. Alviana sedikit merasa takut saat mendengar suara petir menggelegar menusuk gendang telinganya.


Alviona, Steysie dan Celline sudah pulang sedari tadi tanpa memberitahu Alana terlebih dahulu. Alviana juga sudah beberapa kali menghubungi Keano, Zevandra, dan Rassya, namun tak ada yang menggubris.


Alviana kembali menghubungi Rassya. Senyum tipis terbit. Akhirnya Rassya mengangkat teleponnya.


“Kenapa?!” tanya Rassya ketus.


“B--boleh anterin gue balik, gak? Soalnya udah mau hujan dan gak ada bus sama sekali disini,” jawab Alviana.


“Gue lagi rapat dan gue sibuk! Lo gak usah manja, deh, Lan! Kalau gak ada bus ya jalan kaki! Ribet banget, sih! Atau gak suruh Zevandra atau Keano anterin Lo! Gue bener-bener sibuk!” Rassya langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


Alviana menghembuskan nafasnya kasar. Tubuhnya ia sandarkan pada tiang dengan tangan terlipat didepan dada. Gadis itu merasa sedikit menggigil saat angin kembali berhembus menusuk kulitnya.


Gadis berambut sebahu itu mulai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Buku novel yang baru ia beli satu Minggu yang lalu dan belum ia baca sama sekali. Hari ini, Alviana sedikit tertarik membaca Novel itu.


Bibir Alviana tertarik membentuk senyuman tipis saat membaca lembaran pertama Novel tersebut. Novel dengan tokoh utama yang begitu disayangi oleh semua orang. Sahabat, teman, orang tua, keluarga, kekasih, dan saudaranya sendiri. Benar-benar berbanding terbalik dengan kehidupan Alviana.


Alviana meringis saat membaca beberapa adegan romantis dari novel tersebut.


“Andai gue yang ada di novel ini,” gumamnya dengan senyuman yang perlahan mulai luntur.


Tiba-tiba suara motor terdengar di telinga Alviana. Gadis itu segera menoleh dan mendapati seseorang dengan motor sport berwarna merah berjalan mendekat kearahnya.

__ADS_1


Dengan melihat penampilannya saja Alviana sudah tau itu siapa. Alviana begitu menyukainya hingga hafal pada apapun yang melekat pada diri lelaki itu. Walaupun sudah lama tak bertemu, namun perasaan Alana tak pudar begitu saja.


Lelaki itu membuka helm full face nya. “Naik!” titahnya to the point.


Alviana menggeleng. “Gak usah. Gue masih bisa nunggu bus disini, kok,” balasnya sambil tersenyum tipis.


“Gak usah sok jual mahal! Gue tau Lo udah capek nunggu dari tadi!”


“Gue gak perlu bantuan lo.” Lagi-lagi Alviana menolak dengan senyuman.


“Cepet naik!” kekeh Alzean.


“Lo kenapa maksa banget?” tanya Alviana sambil menatap wajah Alzean intens.


Alzean memutar kedua bola matanya malas. “Gak usah kepedean gue bakal suka sama Lo. Gue bantu Lo cuma mau balas Budi karena dulu Lo sering bantuin gue, dan ...”


Kalimat itu berhasil membuat dada Alviana sesak. Gadis itu sudah berharap seseorang akan datang dan mengubah kehidupannya. Tapi itu salah! Orang yang ia anggap sebagai penolongnya bahkan tak menginginkannya sama sekali. Alzean, lelaki itu sama sekali tak memiliki perasaan pada Alviana. Dan Alviana tak berhak mengharapkannya.


“Dan karena Lo kembaran Alviona. Gue suka sama dia dan perasaan gue cuma buat dia,” sambungnya.


“Masih kek dulu, ya ....” Alviana mendongak. Menatap Alzean dalam. “Bedanya sekarang Lo hargain bantuan gue, dan dulu Lo cuma sia-siain bantuan gue.”


“Perasaan Lo masih buat Alviona. Sama sekali gak ada yang bisa usik Alona dari hati Lo. Bahkan orang terbaik sekalipun.” Alviana menyambung kalimatnya sambil tersenyum getir.


Harusnya Alviana tak berharap. Harusnya Alviana selalu belajar untuk tak pernah mengharapkan siapapun dan untuk apapun. Harusnya Alviana sadar jika dirinya bukanlah Alviona yang disayangi dan dicintai semua orang. Dan Alviana harus sadar bahwa Cinta hanya akan menyakiti dirinya sendiri.


Alviana meremas roknya.


“Gue juga pengen kek Alviona,” gumamnya. Terdengar sangat pilu.


Alzean menatap Alviana bingung. Ada rasa kasihan di hatinya saat melihat Alviana yang menyedihkan seperti itu. Hatinya seakan ingin menolong, namun, raganya menolak. Alzean tak tau perasaan apa yang ada pada dirinya saat bersama Alviana. Saat gadis itu senang, Alzean juga ikut merasa senang. Namun, saat Alviana sedih, hati Alzean terasa teriris seakan ikut merasakan pilu yang dirasakan Alviana.


Dari SD, Alzean memang sudah menyimpan perasaan pada Alviona. Namun, gadis itu selalu menolak kehadirannya. Berbeda dengan Alviona, Alviana malah selalu mencoba mendekati Alzean dan selalu membantu lelaki itu dikala susah. Bahkan Alviana rela terbully hanya demi membela Alzean.

__ADS_1


Namun, hati tak bisa berbohong. Alzean masih mencintai Alviona hingga saat ini. Pria itu menganggap bahwa Alviona adalah cinta pertama dan terakhirnya. Tak ada yang bisa menggantikan posisi gadis itu dihatinya.


Alzean segera menarik lengan Alviana hingga gadis itu sejajar dengannya. Matanya terus menatap wajah manis Alviana dengan tangan sibuk memakaikan gadis itu helm. Menyuruh Alviana dengan mulut saja tak akan berhasil jika tangan tak ikut bertindak.


Alviana tertegun saat melihat wajah tampan Alzean begitu dekat dengannya. Hembusan nafas lelaki itu terasa hangat di wajahnya dengan tangan lembut yang begitu telaten memakaikannya helm.


“Udah! Sekarang naik dan gak usah ngelawan!” titah Alzean.


Alviana menghembuskan nafasnya lelah dan mulai menaiki motor Alzean. Aroma tubuh lelaki itu tercium sempurna hingga membuat bibir pucat Alviana membentuk senyuman. Aroma tubuh yang sama sekali tak berubah sedari dulu. Aroma manis namun tetap cocok untuk seorang Alzean.


“Pegangan!” Alzean kembali memerintah dengan suara ketus.


“G--gak perlu. Gue bisa,” tolak Alviana.


Alzean memutar kedua bola matanya malas dan langsung menarik kedua tangan Alviana hingga memeluk pinggangnya. Kaca helmnya mulai ia turunkan dengan tatapan lurus ke depan.


“Pegangan yang kuat!” titah Alzean.


Alviana hanya mengangguk pasrah. Gadis itu tau Alzean akan mengendarai motornya dengan sangat laju. Jika saja Alviana bisa memilih, lebih baik dirinya menunggu Bus tadi daripada harus terjebak dengan Alzean seperti ini.


Perlahan Alviana mulai memeluk pinggang Alzean. Gadis itu langsung menutup matanya saat suara petir kembali terdengar.


Alzean melirik Alviana. Tanpa disadari senyum tipis terbit di bibirnya saat merasakan pelukan Alviana yang terasa begitu nyaman. Apalagi dengan wajah ketakutan gadis itu yang menurutnya terlihat lucu.


Alzean segera menggeleng dan menepis pikirannya. Tak mau berlama-lama, Alzean segera menancap gas dan mengendarai motornya menuju ke rumah Alviana.


Next?


.


.


.

__ADS_1


.


~29 Juni 2023


__ADS_2