
Rani sekarang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, David yang nemenin Rani didalam ruangan Rani, sedangkan Aldi dan yang lain mengurus beberapa orang termasuk Farhan.
Tak butuh waktu lama Andra dan Alex tiba dirumah sakit, dimana Rani dirawat. Andra berlari kearah suster yang sedang berjalan dan menanyakan ruangan Rani
" Sus, ruangan pasien yang bernama Rani dimana ?" Tanya Andra dan perawat tersebut adalah perawat yang baru selesai menangani Rani saat Rani dibawa kerumah sakit.
" Rani Wirawan yang terkena keroyokan ? " Tanya perawat tersebut karena takut orang yang sedang bertanya malam menanyakan Rani yang lain.
Saat Andra mendengar kata keroyokan dari mulut perawat, wajah Andra tiba tiba sangat marah diliputi kekhawatiran. Karena David tidak memberitahukan kepada Andra kejadian mengapa Rani tiba tiba masuk rumah sakit.
Tanpa menjawab pertanyaan dari perawat, Andra langsung berlari kearah ruangan Uks, Andra berlari dengan raut kekhawatiran sekaligus kemarahan. Alex yang melihat Andra sudah mengetahui akibat dari apa yang telah dilakukan orang yang menyiksa Rani. Saat sampai diruangan Uks Andra membuka pintu dan sudah terlihat Rani yang terbaring lemah dengan selamg infus ditangannya.
Andra berlari kearah Rani, David yang duduk disofa ruangan tersebut saat mihat kedatang Andra langsung berdiri dan mendekati Andra yang sekarang sedang berdiri disamping Rani.
" Lo yang tenang, dia sudah ditangani oleh dokter " Kata David sekarang menenangkan Andra yang terlihat khawatir dengan keadaan Rani.
__ADS_1
" Kejadian sebenarnya gimana ha, kenapa Rani bisa begini ?" Tanya Andra dengan raut yang sangat marah menatap tajam David.
" Gw nggk tau kejadian yang sebenarnya, karena saat gw lewat gw sudah ngeliat Rani terkapar lemas dan disiksa oleh beberapa orang hingga ditampar oleh seorang pria " Kata David jelas tetapi dia tidak mengetahui pria yang menampar Rani
" Apaaa " Teriak Andra " Sekarang orang itu dimana " Tanya Andra dengan raut wajah yang sangat marah.
" Dikantor polisi " Jawab David
Tanpa berkata apa apa Andra langsung pergi diikuti oleh Alex, David hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andra yang sudah terlanjur jatuh cinta.
Sopir pribadi dari Andra melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi. 17 menit akhirnya mereka telah sampai dikantor polisi. Andra menuju pintu masuk kantor polisi dan menemukan teman temannya termasuk Aldi. Aldi yang sedang duduk dikursi ruang tunggu berdiri melihat Andra yang sangat emosi. Aldi mencoba menenangkan Andra.
" Lo yang tenang ndra " Kata Aldi yanh mendekati Andra.
Polisi yang menangani Farhan, mengeluarkan Farhan dengan borgol ditangannya. Andra yang melihat Farhan langsung berjalan dengan raut dendam menuju kearah Farhan. Andra langsung menarik kerah baju Farhan.
__ADS_1
" Dasar pria ********, berani beraninya loh
sekarang gw nggk akan ngampunin loh " Kata Andra dan mengambil pistol yang terpasang di pinggang polisi, dan langsung mengarahkan pistol tersebut kearah Farhan dan dorrr tembakan terjadi. Farhan kini sudah tewas, tidak ada yang bisa menahan Andra walaupun itu adalah polisi. Karena mereka sudah tau sifat asli dari Andra Alexandra.
Setelah menewaskan Farhan, Andra mendekati polisi yang menangani Farhan dan masih dengan raut wajah marah
" Kenapa dia bisa bebas " Kata Andra
" Maaf tuan, kemarin saya telah memberitahukan bahwa Farhan Adinata telah kabur dan kami sudah melakukan penyebaran mencari posisi tersangka " Kata Polisi dan setelah mendengar penjelasan polisi Andra langsung berbalik dan menatap Alex hingga berjalan menuju kearah Alex
" Ya tuhan syaa harus ngapain " Kata Alex yang sudah takut dengan raut wajah Andra
" Kenapa kamu tidak memberitahu saya " Kata Andra menarik kerah baju Alex
" Maaf tuan ini semua permintaan nyonya Rani, nyonya takut kalau saya memberitahu tuan akan menghalang proses pemulihan tuan " Jelas Alex dan Andra langsung melepaskan pegangannya ke Alex
__ADS_1
Andra langsung berlari kearah parkiran diikuti oleh Alex dan teman teman Andra, Andra menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya kearah rumah sakit.
Didalam mobil suasana sangat canggung, Andra yang masih dengan emosinya, dan Alex yang masih takut akan kemarahan dari seorang Andra.