
Pagi yang cerah, matahari yang mengintip dari celah tirai membangunkan Sisil.
Sisil mengerjapkan matanya.
"Emmmmmhh....." Merentangkan tangannya untuk melemaskan otot-ototnya.
Dipaksanya tubuhnya untuk turun dari kasur, dia memutar kepalanya untuk melemaskan otot leher. Kemudian melompat-lompat kecil.
"satu..dua...tiga..satu..dua..tiga...." menekuk punggungnya ke arah depan beberapa kali, menyentuh ujung kaki nya dengan jari jemari nya.
Lalu ia meluruskan lagi badannya, di buka sedikit kakinya ke samping, ke dua tangan memegang pinggang. Ditekuk ke kanan ke kiri bergantian.
Setelah dirasa pemanasan nya sudah cukup. Sisil keluar kamar, menyambar handuk yang ada di rak kecil khusus untuk menjemur handuk, kemudian dia masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah kamar nya.
30 menit, ritual kamar mandi nya selesai. Sangat lama, untuk ukuran gadis usia 12 tahun. Tapi tidak seperti teman perempuan seumuran nya yang sudah mulai berdandan. Sisil hanya memakai body spray, tidak memulas apapun di wajahnya. Menyisir rambutnya, kemudian mengikat rambut panjangnya menjadi satu.
__ADS_1
Setelah berpakaian seragam Sisil langsung ke dapur.
Dan seperti hari-hari kemarin. Di dapur selalu sudah ada Ibunya yang juga sudah siap berpakaian rapi. ibu bangun lebih awal dari Sisil, karna kamar mandi dirumah ini hanya ada satu. Saat Sisil mandi tadi, ibu sudah mulai menyiapkan sarapan untuk mereka.
"selamat pagi ibuku sayanggg....." Sapa Sisil sambil mencium pipi ibunya.
"pagi Sil." Lala mengusap rambut Sisil.
"Hari ini ibu pulang nya agak sore ya Sil. Ditoko mau stok opname. kamu enggak papa kan?" tanya Lala sambil menyendok nasi goreng ke piring Sisil.
Adit adalah sahabat Sisil. Rumah mereka berdekatan, hanya beda beberapa rumah saja. Waktu Taman Kanak-Kanak dan SD, sekolah mereka berbeda. Baru saat SMP mereka bisa satu sekolah. Dan beruntungnya juga satu kelas. Tidak seperti Sisil yang selalu mendapat peringkat pertama, Adit selalu perlu bantuan Sisil untuk belajar. Dan selayaknya seorang sahabat, Sisil selalu bersedia mengajari Adit.
Rumah Adit lah yang dipakai menjadi basecamp mereka, karena ibu nya Adit selalu ada dirumah. Adit berasal dari orang berada.
jika di bandingkan dengan rumah Adit, maka rumah Sisil hanya seluas parkiran mobilnya saja.
__ADS_1
"lha kan ulangannya kemarin, kok pake dibahas?" tanya Lala.
"Bwahahahh....Ulangannya Adit kebakaran bu...minggu depan dia disuruh ngulang ulangan matematika lagi....hahahaa."
"huss...temen lagi kesusahan kok malah di ketawain."
"abis Adit lucu, kemaren dia udah mau nangis bu. cuma gara-gara nilainya jelek."
"ya udah, cepet dihabiskan sarapannya, biar enggak terlambat. Nanti pas dirumah Adit jangan nakal ya, pulangnya jangan sore-sore."
Setelah selesai sarapan, mereka berboncengan motor. tempat pertama yang dituju adalah sekolah Sisil. Kemudian toko buku tempat Lala bekerja.
Lala hanya memiliki Sisil. Tidak ada sanak family yang lain. Maka sedapat mungkin Lala mengharuskan dirinya untuk selalu ada buat Sisil. Begitu juga Sisil yang sangat menyayangi ibunya. Dari kecil Sisil melihat perjuangan ibunya untuk membuatnya bahagia, tanpa pernah mengeluh. Karena Sebab itu juga yang membuat Sisil tidak suka merengek. Dia selalu merasa ibu sudah cukup untuk nya. ibu adalah pusat dunianya.
👩👧👩👧👩👧
__ADS_1