Anakku Mak'Comblangku

Anakku Mak'Comblangku
04. Cita-cita


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Shinta kembali duduk di sofa ruang keluarga sambil melanjutkan nonton drama korea.


Sedangkan Adit dan Sisil langsung menuju gazebo sebelah kolam renang di halamam belakang. Gazebo itu tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama.


Tanpa basa basi lagi, Sisil langsung menyodorkan beberapa lembar kertas soal yang dia bikin sendiri ke Adit.


“Niiih.... kerjain dulu!! Mulai dari nomer satu. Enggak boleh ngacak. Soalnya aku udah susun dari soal paling mudah. Biar kamu bisa paham dasar rumus nya dulu. Oke!"


Seperti layaknya seorang guru. Sisil memang selalu serius kalo ngajarin Adit. Malah terkadang lebih galak dari mama nya Adit.


“Siap bu!" jawab Adit dengan lantang.


Sambil menunggu Adit mengerjakan soal, Sisil juga membaca buku pelajaran nya yang lain. Dia bersendar pada tiang penyangga gazebo.


Angin semilir dan sejuknya halaman belakang karena pohon mangga yang rindang, membuat Sisil memejamkan matanya beberapa saat. Dia pun tertidur.


“Silll... Sisil...!!” Adit menendang kaki Sisil


“Jiahh... dia tidur."


"WOOOOiiii.... BANGUN SISIILLL...!!" teriak Adit kuat kuat.


Sisil yang kaget. Secara sepontan langsung loncat. Berdiri tegak. Membungkuk-bungkukkan pinggangnya. Tangan nya terjuntai menyentuh ujung kaki.


“Sattu..duaa..satuu..duaa..sattu..duaa.." Seolah dia sedang pemanasan.


“Bwahahaha...ada ada aja kalian” Shinta yang tadi mendengar teriakan Adit, berlari ke halaman belakang, dan melihat tingkah Sisil.


Shinta menggelengkan kepalanya, kemudian kembali ke ruang keluarga.


Menyadari kekonyolan sikap nya, Sisil melotot ke arah Adit.


“ Aku pulang nih !! ” ancam Sisil.

__ADS_1


“Jangan dong ! Nomer 6 ini gimana ngerjainnya ? ” Adit nyengir memamerkan giginya. Menyodorkan kertas soal ke Sisil.


“Sekali lagi kamu ngagetin aku, aku rendem kamu.” Ancam Sisil sambil menunjuk ke arah kolam renang.


"Hihiii... Lha emang aku cucian ?" Adit masih cekikikan


“Lagian, katanya mau ngajarin. Kok malah tidur...”


“Aku enggak tidur !! Cuma merem doang !” Sisil membantah.


“Merem yang kebablasan !” sahut Adit cekikikan.


“Rese kamu... Udah nih kerjain sendiri !!!” Sisil kembali mengancam.


“Ampun... ampun... Ajarin dong... ”


mohon Adit sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.


Sisil mengambil pensil. Mulai mencoret-coret kertas dengan rumus dan angka-angka. Menjelaskan dengan perlahan. Adit manggut-manggut kepala, tanda mengerti. Kemudian mencoba menyelesaikan soal sesuai penjelasan Sisil. Sisil yang terus mengawasi menjitak kepala Adit dengan pensil di tangannya saat Adit salah mengerjakan soal.


"Ini juga nih, kan harusnya kayak gini Adiiitttt...!" geram Sisil sambil menunjuk nunjuk kertas dengan pensil ditangannya.


“Sabaaar buu... sabarrrr....” Adit tidak menyerah, kembali ia mencoba menyelesaikan soal-soal dilembaran kertas itu.


Setelah 2 jam berkutat dengan soal matematika. Karena kelelahan, mereka merebahkan diri, terpisahkan meja di antara mereka. Menikmati semilir angin yang kian sejuk.


“Dit, kamu mau jadi apa kalo udah gede?” tanya Sisil.


“Jadi apa yaa?.... Mau yang bisa keliling dunia, jalan-jalan terus. Travelling.... Jadi Travel blogger mungkin. Kaya om ku. Kalo kamu ?”


“Aku mau jadi pengusaha sukses, kaya papa kamu.” Jawab Sisil yakin.


“Kenapa ?” tanya Adit.

__ADS_1


“Biar ibu enggak usah cape kerja lagi. Kan enak , kaya mama kamu.”


“Ibu enggak pernah ngeluh sih, tapi aku tau ibu pasti cape. Ibu juga enggak pernah jalan-jalan. Kalo libur, pasti beres-beres rumah.” Cerita Sisil.


Adit yang sangat mengenal Sisil dan ibu nya sangat paham apa yang di ceritakan Sisil.


“Kamu pasti bisa Sil....” Adit menyemangati.


“Ahhh... aku ganti cita-cita lahh...” Seru Adit.


Sisil mengerutkan keningnya.


“Mau jadi pengusaha gantiin papa aja. Biar bisa kerja bareng kamu lagi...” Adit nyengir.


“Ogahhhh... Ntar kamu dikit-dikit nanya, dikit-dikit nanya...” timpal Sisil.


Mereka bertukar pandang, membayangkan jika hal itu benar terjadi. Serempak mereka tertawa terbahak-bahak.


📚📚📚


“Shin, siapa itu?” tanya seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Adit dan Sisil dari ruang keluarga.


Tembok yang memisahkan ruang keluarga dan halaman belakang terbuat dari kaca tebal. Membuat siapapun bebas menikmati pemandangan halaman belakang dari ruang keluarga.


“Itu Sisil, sahabat nya Adit.”


jawab Shinta.


“Mas, kamu nginep disini kan?”


tanya Sinta ke pria di depannya.


“Kalo boleh...” jawab pria itu.

__ADS_1


“Tinggal di rumah ini juga boleh mas. Yakin 1000% mas Rama juga pasti kasih ijin.” Jawab Shinta mantap.


__ADS_2