
“Papa ngapain di situ? Tiduran tuh di kasur pa, bukan dilantai.” Ujar Adit tanpa mengetahui perbuatannya.
“Papa nggak papah? Ya ampun jidat kamu pa...” shinta ngeri melihat kening Rama yang benjol.
“Kamu sih Dit... Biasain dong ketuk pintu dulu sebelum masuk.... Kan jadi benjol jidat papa.” Tangan Rama memegang kepalanya yang nyut nyutan.
Adit baru menyadari kesalahannya setelah melihat jidat papanya yang benjol.
“ehhh...sorry pa... Bentar ya pa, aku ambil kompresan dlu.” Adit langsung berlari ke dapur.
“sini mas, bangun dulu. Lagian kamu juga sih, ngapain tadi lari?” shinta membantu Rama berdiri, dan mendudukkannya di sofa dalam kamar mereka.
“abis tadi kan lagi tanggung yang...”
“ishhh...mas genit”
“nanti aku minta jatah ya yang...” mata Rama sendu
“emang ga pusing?”
“tambah pusing kalo enggak kamu kasih yang. Aku kangen banget ni.” Tangan Rama mulai masuk mengelus punggung mulus Shinta di balik kaos yang Shinta pakai.
"tau nggak? aku udah pengen cium kamu pas di bioskop tadi. Tapi, aku tahan, soalnya kan ada Adit."
“shuuttt.... Nanti Adit denger mas... Ishhh... Kamu genit banget deh.”
Tok..tok..tok
“ma..pa.. Adit masuk yaa..”
“yaa...masuk dit.” shinta menghempaskan tangan Rama yang menggerayangi tubuhnya, kemudian memijit pelan jidat suaminya yang benjol.
“ini ma, kompresannya.”
Shinta menerima kantong es dan meletakkannya di jidat suaminya.
“kamu tadi mau ngapain nyari mama?” tanya shinta.
“oh iya, tadi Adit mau kasih liat ini”
Adit menyodorkan foto di ponselnya.
“astagaaa... Lucu banget apronnya... Ehhh... kayaknya mama kenal ini dapur!?”
__ADS_1
“itu om Rio lagi masak dirumah Sisil ma.”
“astagaaa... Gercep juga ternyata mas Rio... Liat ini mas”
Shinta menyodorkan ponsel Adit ke depan wajah Rama.
“tuh kan... Apa aku bilang, kalo emang jodoh, tanpa kita ikut campur, mereka pasti bisa bareng kok yang...” ujar Rama.
⏰⏰⏰
21 : 19
Mata Rio masih tidak mau terpejam. Senyum nya masih merekah, ingatannya masih menayangkan moment kebersamaan nya dengan Lala dan Sisil tadi.
Hatinya sudah tertambat pada Lala, seorang ibu anak satu, dan Sisil sepertinya menerima kehadiran Rio dengan baik.
Kini Rio sungguh sungguh berharap, agar kebahagiaannya kini boleh ia rasakan seterusnya.
Rio mulai menghayal jauh...
***Bagaimana jika Lala menjadi istrinya.
Bagaimana jika Sisil menjadi anaknya.
Bagaimana jika seorang pria datang untuk
mengajak Sisil kencan***.
Tak dia sangka wajahnya kini memerah, malu, senang, dan merasa konyol sendiri dengan hayalannya.
Derrtt... Derrtt.. Derrtt..
Ponselnya berbunyi.
Max calling.
“hemmm...” jawab Rio enggan.
“minggu depan aku terbang ke jakarta.”
Tanpa basa basi.
Max adalah salah satu sahabat Rio. Dengan beberapa sahabat lainnya, termasuk Rama yang kini menjadi adik ipar Rio, mereka merintis usaha periklanan dari nol hingga bisa menjadi perusahan periklanan nomer 1 di beberapa negara. pahit dan manisnya perjalanan mereka membuat persahabatan mereka sangat solid.
__ADS_1
“lama banget...”
“heii bro.... Bukan pekerjaan mudah memindahkan perusahaan pusat dari satu negara ke negara lain!!!”
“Sorry... Tapi apa sih yang enggak bisa kamu kerjain, Max.” Sahut Rio memuji dengan nada suara malas.
“Cihh.... Sepertinya kamu enggak senang aku pulang yah?”
“no... Tapi please, kalo nelpon tu liat jam. Ini waktuku untuk tidur Max!!”
“tidur? What?? London sekarang jam 3 sore. Di jakarta seharusnya masih jam 9 malam kan?”
“aku ada janji besok pagi.”
“janji?? Klient? Wooww... Sejak kapan kamu mau ketemu langsung dengan klient?”
“kau tau? Ini klient yang mau aku layani seumur hidup.” Rio kembali tersenyum.
“buahahahaaaa....” suara tawa Max terdengar sangat kencang, hingga Rio harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
“seorang gadis??” tanya Max setelah berhasil meredakan tawanya.
“cepat datang jika ingin tau lebih banyak. Kita akan seperti kekasih jika terlalu lama bicara di telefon.”
“oke... oke... Tapi Yoo, sebenarnya... aku enggak bisa langsung kerja setibanya di Jakarta... Aku mau mengurus beberapa hal pribadi.”
“oke. Enggak masalah bro. Prioritaskan urusan mu dulu. Disini Rama sudah menyiapkan sekretaris untukku. Sepertinya dia bisa diandalkan.”
“okey... Thanks buat ijin nya boss. Selamat malam. Dan mimpikan gadismu.”
“hemmm...”
Rio mematikan sambungan ponselnya. Memasang alarm dengan suara keras untuk membangunkannya besok pagi . kemudian dia menutup wajahnya dengan bantal. Berharap dengan cara itu dia bisa terlelap.
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan JEJAK kalian dong, trus kasih KOMENTAR dan LIKE.
aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
__ADS_1
selamat menikmati...