
Selama perjalanan menuju apartemen nya, senyum manis Lala masih terbayang-bayang jelas di benak Rio. Wajah Lala yang ayu, Tinggi badan Lala sepertinya akan pas jika dipeluk lengan Rio yang kokoh, leher jenjangnya terekspos, karena rambut hitam yang diikat tergulung.
“Astagaaa... Aku kenapa sihhh!!!” suara geram Rio memenuhi ruang mobil.
“Coba tadi minta nomer hape nya.... Belum tentu kan ketemu lagi sama tu cewek....ahhh dasar Rio bodoh...” disusul dengus nafasnya kecewa.
...
Disisi lain, di toko buku.
Lala mengingat kejadian pagi tadi. Wajah tampan Rio, senyumnya yang manis, postur tubuhnya yang tinggi dan bugar jelas nampak meski tertutup polo tshirt nya.
Lala menggelengkan kepalanya, tersenyum lucu, menertawai kekonyolan dirinya sendiri. Sudah sangat lama sekali dia tidak pernah tertarik dengan lawan jenis. Entah kenapa, orang asing yang menolong nya tadi pagi terus saja terbayang.
“Mbak Lala! kok senyum-senyum gitu sih?” tanya Dante, rekan kerja Lala. Ternyata Dante ada di sebelah Lala. Mengamati cukup lama tingkah Lala.
“heemm....ah masa? Enggak kok. Masa sih? Biasa aja kok.” Lala agak terkejut mendengar suara Dante.
“hahaaahaa... Mbak kamu kenapa? Kok kaya a be ge lagi jatuh cinta aja.” Dante tertawa melihat tingkah gugup Lala.
“a be ge?? a be ge tua maksudmu!?” Lala langsung pergi meninggalkan Dante. Memilih menyibukkan diri dengan merapikan tumpukan buku yang berantakan di salah satu rak. Berusaha menghapus kenangan pagi tadi.
...
“Huwaaaa.... Kelar juga perang angka nyaaaa.....” Teriak Adit begitu keluar dari kelas. Kedua tangannya terangkat ke udara.
Sisil yang sudah menunggu di depan kelasnya, langsung menghampiri Adit.
“Gimana Dit? Susah nggak? Ada berapa soal? Kamu enggak asal asalan kan ngerjain ulangannya? Kamm...”
“Shuuutt!!” Adit menempelkan jari telunjuk ke mulutnya. Adit memotong pertanyaan Sisil.
“Kalo nanya tuh satu2, jangan borongan.”
sambung Adit.
“Issh...emangnya aku tukang bangunan pake borongan....” Sisil menoyor bahu Adit
“Dapet nilai berapa?” Tanya Sisil langsung ke inti pertanyaan-pertanyaan nya tadi.
Adit menyerahkan selembar kertas ke Sisil. Hasil ulangan remedial matematikanya.
Terpampang jelas dan nyata nilai 9 di ujung kanan kertas ulangan itu.
__ADS_1
“Yeeeeyyyy....kerennn.... Selamat ya Dit.” Sisil menyalam tangan Adit.
“Kaya lagi kondangan pake salaman”
ujar Adit.
“Hahahahaaa...” mereka tertawa bersama-sama. Menyadari tingkah mereka berdua.
Mereka pun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Karena memang sudah saatnya untuk pulang.
Di depan gerbang sekolah, Adit melambaikan tangan ke arah sebuah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari mereka.
Rio keluar dari dalam mobil. Menghampiri Adit dan Sisil. Penampilan Rio banyak menyita perhatian para gadis yang ada di sekitar nya, bahkan anak laki-laki pun di buat kagum oleh karena perawakan tampan Rio yang bagaikan seorang aktor.
“Hiii Dit.” Rio menyapa Adit.
“Dan kamu pasti Sisil kan?!” Tanya Rio kepada Sisil yang masih terpana akan ketampanan Rio.
“eh, iya Om.” Kepal Sisil mengangguk mengiyakan.
“Ini Om Rio, Sil.” Adit memperkenalkan.
Adit sering bercerita tentang Rio ke Sisil.
“Sisil ikut pulang sama kita ya om, rumahnya Sisil deket kok dari rumah.”
“Oke... Udah siap pulang?” tanya Rio.
“SIAPPP...” Adit dan Sisil menjawab serempak. Mereka berdua tertawa.
Rio menatap bingung, tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. Tapi ikut tertawa karena wajah ceria anak-anak itu.
Adit duduk kursi depan. Sisil duduk di kursi belakang. Ini memang formasi yang selalu sama setiap pulang sekolah. Hampir setiap hari Sisil pulang bareng Adit.
“Om, hari minggu besok jalan-jalan yuk. Adit ingin melepas stres gara-gara persiapan ulangan tadi." Ajak Adit.
“Mau jalan kemana Dit?”
tanya Rio tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Taman bermain!!!” Jawab Adit antusias.
“Okey.... Hari minggu kita jalan ke taman bermain. Sisil ikut juga yaaa....”
__ADS_1
ajak Rio. sambil melirik Sisil dari kaca spion.
“Itu udah pasti, kami ini satu paket om. Ya kan Sil?” Adit menoleh ke arah Sisil yang ada di belakang nya.
“Iya Om, paket kilat. Ngabisin makanan selalu kilat.” ujar Sisil bangga.
“hahahhaaaa....” Mereka bertiga tertawa bersama.
🚗🚗🚗
Warna Langit tidak lagi terang. Dikamar Lala yang sederhana, Sisil meringkuk di kasur milik Lala, mengamati Lala yang sedang merapikan pakaian di lemari.
“Tadi pagi, motor mogok tau Sil...” Lala terbiasa menceritakan hari-harinya ke anak perempuannya.
“Trusss... Ibu gimana?” Sisil mendudukkan posisinya.
“Yaaa Ibu kan enggak ngerti soal motor, jadi Ibu dorong lah motornya. Untung ada orang baik yang bantuin ibu tadi, kalo enggak, ibu mungkin udah pingsan di jalan sebelum nyampe ke bengkel.” cerita Lala.
“Ganteng nggak bu?” Tanya Sisil usil.
“Ganteng....ehhh... Hussss!!! Kamu yaaa kecil-kecil genit.” menyadari dirinya terpancing.
“Ciyeeee....ibu ketemu cowok cakep....” Sisil menggoda ibunya.
"Kamu yaaa.... udah berani godain Ibu..." Lala langsung menerjang Sisil, menggelitik pinggang Sisil. Mereka tertawa, bergulat hingga Sisil meminta ampun.
“Bu...” Nafas sisil masih belum teratur. “Hari minggu kita jalan-jalan yuuk”
“Kemana?” Lala merebahkan diri di sebelah Sisil.
“Taman bermain. Bareng Adit.”
“Boleh. toh udah lama kita enggak jalan-jalan.”
"Tumben Ibu mau." Tanya Sisil menyelidik.
"Ibu baru dapet bonus soalnya...hihihi..." senyum sumringah Lala.
“oh yaaa!? yeeesss.... jadi jalan-jalan.... Makasih bu.” Sisil memeluk Lala.
“Sisil sayang Ibu.”
“Ibu juga sayang Sisil.” Lala mengusap lembut rambut anak nya.
__ADS_1
🌙🌙🌙