Anakku Mak'Comblangku

Anakku Mak'Comblangku
09. Jantung Ibu


__ADS_3

Setelah 2 jam perjalanan mereka sampai di kawasan taman bermain outdoor. Adit dan Sisil yang sudah tidak sabar ingin mencoba banyak wahana berlari memasuki gerbang taman bermain.


“Yey.... Ayo Bu cepetan dong.” Seru Sisil sangat bersemangat.


“Silll.... Liat tuhh!” Adit menunjuk sebuah wahana rollercoster yang menjulang tinggi dan meliuk liuk seperti naga raksasa.


“Bu, naik yang itu yaa.” Adit menarik tangan Lala. Lala nenggeleng ngeri. Ketinggian selalu membuatnya tidak nyaman.


“Kalian aja ya, ibu tunggu disini aja.” Lala mendudukan dirinya di sebuah kursi panjang, di pinggir pagar wahana.


“Ayo om...” Adit menarik tangan Rio. Rio yang sempat melihat kengerian di wajah Lala memilih menemani Lala.


Sebenarnya, Rio sangat suka permainan yang menguji adrenalin.


“Om Rio istirahat dulu ya... cape abis nyetir nih.” Sambil memijat pundaknya sendiri yang sebenarnya tidak pegal.


“Tumben.” Adit mencibirkan bibirnya. Kemudian berlalu, menyusul Sisil yang sudah antri di gerbang wahana roller coster.


Rio duduk disebelah Lala.


“Kenapa nggak ikutan?”


“Takut.”


“Takut?”


Lala mengangguk malu. Wajahnya merona, entah karena malu atau karena sinar matahari yang mulai terik.


Rio gemas melihat Wajah merona Lala. Ingin sekali di menyentuh pipi Lala.


“Kenapa?” tanya Rio mengalihkan pikirannya yang mulai aneh.


“Ngeri, jantungku kayak mau copot.” Lala menyembunyikan kenyataan bahwa dia mengidap Acrophobia sejak 5 tahun lalu. Jika Lala berada di tempat yang terlalu tinggi, dia akan merasakan sakit kepala hebat, kemudian badan nya akan lemas seketika. Bahkan pernah sekali waktu hingga tidak sadarkan diri.


“Lala sudah lama kenal Shinta?” Rio mulai mencari topik pembicaraan.


“Yap, dari waktu Adit sama Sisil dalam kandungan.”


“Woww...lama juga yaaa. Kok aku enggak pernah liat kamu?”

__ADS_1


“Aku sibuk.” Lala menatap jauh sambil tersenyum penuh makna.


Seperti enggan bercerita lebih dalam.


Rio mencoba meredam rasa penasarannya, akan arti dari jawaban Lala. Dia mengalihkan ke obrolan-obrolan ringan yang selalu di tanggapi Lala dengan hangat.


“Buuu....” Sisil yang baru turun dari wahana roller coster berlari menuju Lala dan Rio.


“Ayooo main yang lain.”


Sisil menarik tangan Lala, melangkah cepat menuju wahana berikutnya.


Rio mengikuti mereka dari belakang.


Adit sudah mengantri di wahana go car. Wahana mobil balap mini.


“Ibu harus ikutan!” Adit memerintah.


“Yang kalah traktir makan siang!?” Lala memberi syarat.


“Deal!!!” kompak Sisil dan Adit.


“Om Rio ikutan kan?” Sisil mendongakkan kepalanya disamping Rio yang badan jauh lebih tinggi dari nya.


“Yeeeeyyyy...” Adit dan Sisil kembali kompak.


Ngeenggg... Ngeenggg...


Wuzzzttt... Wuzzzttt...


Chiiitt....


Mobil Rio yang pertama sampai di garis finish. Rio turun dari mobil balap mini nya. Tersenyum sangat cerah. Mengalahkan cerahnya sinar matahari siang ini.


Beberapa menit kemudian, Lala menyusul. Setelah mobil balap Lala terparkir, ia dengan susah payah berusaha turun dari mobil balap mini nya.


Melihat Lala sepertinya kesulitan, Rio dengan sigap membantu, tangannya memegang pinggang Lala, mengangkat badan wanita itu.


Untuk menjaga keseimbangan, Lala meletakkan tangannya di pundak Rio. Wajah mereka benar-benar sangat dekat. Lala bisa melihat bayangan dirinya terpantul di bola mata Rio. Dadanya berdetak cepat. Lala menarik dirinya mundur beberapa langkah dari depan Rio, berharap Rio tidak mendengar suara detak jantungnya.

__ADS_1


Ya Tuhan.... Perlu periksa ke dokter kayaknya nih. Aku punya phobia apalagi ini? Kok jantung rasanya mau copot gini..... Lala memukul-mukul dadanya, berharap detak jantungnya bisa kembali normal.


Rio melepaskan helm yang dipakainya, dengan satu tangan dia mengacak-acak rambutnya layaknya iklan shampo anti ketombe di televisi.


Lala yang melihat visual Rio tepat di depannya. merasakan dadanya kembali berdetak kencang. Dialihkan pandangannya ke arah lain. Dia merasakannya aliran darah naik ke wajah, ditepuk-tepuk pipinya yang mulai memanas.


Kok jadi norak gini sih....!!! Lala merutuki dirinya sendiri.


Setelah menunggu beberapa menit, mobil balap mini punya Adit terlihat mendekati garis finish. Dan butuh beberapa menit lagi untuk melihat mobil balap yang dikendarai Sisil.


“huwaaa.... Semuanya pada jahat!!! enggak ada yang mau ngalah sama Sisil.” Sisil menangis, masih terduduk di dalam mobil balap mininya yang sudah terparkir di garis finish.


“Sisil kok nangis sih?” Rio membantu Sisil keluar dari mobil balapnya.


“Kan cuma permainan, jgn nangis dong cantik.” Rayu Rio.


“Cantik dari hongkong.” Celetuk Adit mencibir.


“Yeee... Adit sirik.!!” Sisil menjulurkan lidah nya ke Adit. Masih dengan suara cengengnya.


“Om Rio, yang menang aja ya yang traktir, uang jajan Sisil enggak cukup soalnya.” Jurus mata puppy dikeluarkan Sisil.


“iya deh...Om Rio yang traktir.”


Rio menyetujui permintaan Sisil.


“Yeeyyy.... Ayo kita makan....” Sisil langsung ceria seketika. Menggandeng tangan Rio dan melenggang keluar area wahana go car.


"Silll... lepas dulu helm nya!!" Lala mengingatkan.


"Oh iyaa.... heheehehe..." Sisil nyengir.


Lala dan Adit saling berpandangan. Kemudian menggelengkan kepala serentak.


❤❤❤


heloo guys...


tinggalkan jejak kalian dong, trus kasih komentar, aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.

__ADS_1


semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...


selamat menikmati,


__ADS_2