
Setelah melahap makan siang di salah satu restoran junkfood di area taman bermain, tenaga mereka kembali terisi.
Mereka kembali menjelajahi taman bermain. Mencoba berbagai wahana. Sesekali Lala ikut bermain. Tapi, saat di ajak ikut ke wahana yang menjulang tinggi, Lala selalu berusaha menolak.
Sedangkan Rio membiarkan dirinya ditarik-tarik Adit dan Sisil. Duo bocah itu, memaksa Rio untuk mengikuti mereka, menaiki semua wahana yang mereka tunjuk.
Bahkan membelikan semua yang mereka minta.
Hingga taknterasa langit yang tadinya berwarna biru cerah, berganti menjadi senja.
“Waktunya pulang anak-anak.” Lala mengingatkan.
“Yahhh... Sisil enggak mau pulang bu...” Sisil merengek, menggelayut di lengan Rio.
“Next time kita jalan-jalan lagi.” Janji Rio.
“Janji ya Om.” Sisil menyodorkan jari kelingkingnya
“I'm promise dear.” Rio mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sisil.
“Yesss!!” Sisil bersorak girang.
“Bo'ong tuh.... Besok kan Om Rio udah mulai kerja di kantor papa. Pasti sibuk kaya papa juga.” Kata Adit tanpa memandang Rio. Ada kesal dalam nada bicara nya.
“Kok gitu sih Adit, kan tadi kita udah senang-senang, masa giliran pulang malah bete gitu?..... Nanti Om Rio kapok lho ngajak kita main.... Harusnya kita tuh kasih semangat ke Om Rio. Biar besok semangat kerja.”
Lala mengusap punggung Adit menenangkan.
Adit menatap Lala, Lala mengangguk meyakini kata kata nya. Menyadari kesalahannya, ia mendekat ke Rio.
"Maapin Adit ya Om... Besok kalo udah kerja, jgn lupa main sama kita yaa...”
“Siap boss kuu.” Rio mengacak lembut rambut Adit.
Adit pun tersenyum.
“Om Rio, makasih ya buat hari ini. Sisil sennneeengg banget.” Sisil tanpa sungkan memeluk Rio.
Sisil sangat menikmati hari ini.
Ayah, Ibu, Sisil seneng banget hari ini.... Jadi inget, dulu kita juga sering kayak gini kan...main sampai lupa waktu sama ayah, sama ibu. batin Sisil
“Om Rio juga seneng kalo kalian seneng.” Rio memeluk Sisil.
Ada rasa nyaman dan hangat saat mereka berpelukan.
Mungkin gini rasanya punya anak kali yaaa... Huhh kayaknya faktor U nih, makanya jadi melow... Batin Rio.
...
Bersandar di sebuah sofa empuk dalam ruang kerja, Rio memijit pangkal hidungnya. Memejamkan mata sejenak, agar rasa lelah nya berkurang.
Rama juga ada di ruangan itu, menyesap teh hijau untuk merilekskan tubuhnya yang juga lelah. Dia baru saja pulang dari rapat bersama calon klien baru perusahaan SANTOSA GROUP, perusahaan yang Rio rintis dari usia belia.
Setelah kemarin seharian bermain bersama Sisil dan Adit, hari ini Rio sudah disuguhi tumpukan dokumen yang menunggu persetujuannya.
“Aku enggak suka kerja di ruangan kayak gini.” Keluh Rio.
“Ini resiko. Perusahaan semakin besar, aku enggak mungkin bisa handle sendiri, Yoo.”
__ADS_1
“Ram, aku mau balik lagi ke kantor, tapi aku punya syarat. Ketemu klien itu urusan mu. Aku mau pakaian yang nyaman. Dan hari liburku harus jelas.” Rio mengajukan syarat.
"Bagaimana kalau kita tambah staf ahli? Aku akan memanggil Max untuk membantu kita lagi."
"Max? Apa dia mau balik ke indonesia?" tanya Rama.
"Aku akan memohon, tidak masalah."
“Lakukan apa yang membuat mu nyaman Yoo. Semua ini milik mu. Yang penting aku bisa punya waktu untuk anak dan istriku."
"Enaknya yang sudah punya anak istri..." Rio menatap melas ke Rama.
"Kalau kamu mau, kamu bisa dengan mudah mendapatkan seorang gadis untuk jadi istri mu Yoo. Kaya, mapan, tampan... apa lagi yang kurang?"
"Nasib ku yang kurang.... kurang baik mungkin." Rio tersenyum getir, kembali teringat kisah cintanya saat dia baru merintis perusahaan, yang kandas, cintanya pergi tanpa memberikan alasan bahkan sebuah pesan.
Rama hanya tersenyum mendengar keluhan sahabat sekaaligus kakak iparnya.
“Aku berharap, ada seorang gadis yang mencuri hati mu disini Yoo. Biar kau bisa menikmati hari-harimu di kota ini.”
Rama meletakkan cangkir teh nya yang sudah kosong di meja.
“Apa sudah ada?” tanya Rama.
“Ahhh... Kamu sama aja sama Shinta. Terlalu mau tau.”
Rio enggan bercerita. Jujur saja, bayangan wajah Lala semakin sering berseliweran di benak nya. Sikap Sisil yang manja juga selalu membuatnya tersenyum, ia mengingat kejadian di taman bermain kemarin.
“kenapa senyam senyum gitu? Kamu masih waras kan Yoo?” Ledek Rama.
“Apaan sih...! Sudah kembali ke ruangan mu sendiri sana, aku mau kerja lagi. Sana.... Husst!!” Rio mendorong badan Rama keluar dari pintu ruang kantor nya.
“siap bosss.... Kerja yang bener boss, jgn kebanyakan menghayal, bahaya, kesambet nanti.”
Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja kerjanya, menghubungi seseorang.
"Hallo..."
"...."
"Max, bantu aku." Rio berbicara dengan seseorang bernama Max.
"Secepatnya."
".... "
"Oke, see you!"
➖➖➖
Di tempat lain.
Dari pagi hari, Lala tidak berhenti menyunggingkan senyum di wajahnya.
Hingga rekan-rekan kerjanya sampai kebingungan melihatnya.
“Mbak, kok senyum-senyum gitu sih? aku ngeri liat nya.... Kesambet ya?” Dante menduga-duga.
Dante mengambil duduk di sebelah Lala.
__ADS_1
“Sembarangan!” Lala memukul tangan Dante yang sedang mencuri potongan ayam dari kotak makan siangnya.
“Bagi mbak, pelit banget...”
Saat ini mereka sedang berada di salah satu ruangan khusus untuk karyawan toko buku Cahaya beristirahat.
"Dante, kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Lala.
"Kamu jatuh cinta mbak?" Mata dante terbelelak.
"Aku tanya kamu malah balik nanya, sudahlah, lupakan!!"
"Gitu aja ngambek. Ya pernah lah!!!" Tangan Dante kembali mencuri potongan ayam milik Lala. Tapi kali ini Lala tidak protes.
"Gimana rasanya?"
"Enak." Dante mengangkat ayam goreng di tangannya yang sudah tergigit setengah.
"Bukan ayamnya Dante. Jatuh cinta maksudku."
"Ohhh... Gimana yaa..." Dante berlagak mikir, tapi mulutnya terus mengunyah makan siangnya.
"Aku bakalan susah tidur kalo enggak liat atau minimal dengar suara dia."
No, tidurku nyenyak kok
"Terus, waktu ketemu sama dia jantung ku berdebar."
Yeah... aku akui, sempet mikir mau ke dokter buat cek jantung.
"Senyumnya aja bikin aku jantungan."
Yeah... aku juga jantungan.
"Waktu terasa berlalu sangat cepat."
Yeah... andai waktu bisa aku ulang.
"Dan aku pengen banget ngapelin dia dirumahnya"
"Mana berani aku...." Lala spontan setengah menjerit.
"Hahahaaa.... Jadi kamu benar-benar jatuh cinta mbak?" Dante tebahak-bahak.
"Kata siapa? jangan asal tuduh? dasar kepo!!!" Lala menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kesal.
"Enggak ada yang salah kalo mbak Lala jatuh cinta, Sisil butuh figur seorang bapak, Mbak Lala butuh bahu dan pelukan seorang pria yang selalu bisa diandalkan."
"Sok bijak sekali anda... kayak orang yang sudah pengalaman aja." Lala mulai menyantap makan siang yang tertunda karena ocehan Dante.
"Pengalaman itu enggak harus pribadi, bisa juga dari novel-novel yang kubaca mbak... hehee"
"Sudah-sudah, cepat habiskan makan siang mu."
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan jejak kalian dong, trus kasih komentar, aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
__ADS_1
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
selamat menikmati....