
“Ditinggal saja disini, besok aku yang antar kamu ke toko.... Kalau tidak keberatan.” Usul Rio agar Lala mau ikut.
Rio memalingkan wajah, enggan melihat penolakan Lala.
Sisil menatap Lala dan Rio bergantian, dia seperti mengerti perasaan Rio.
“Ayolah bu... Temani Sisil yaa...” Sisil merengek, melingkarkan lengannya ke lengan Lala.
“iya...iya... Ibu ikut.”
“Maaf merepotkan mas Rio.”
Saat itu mereka sudah berada di dalam mobil menuju salah satu mall ternama di Jakarta.
“ahh... Ga ada yang direpotkan kok. Senang rasanya menghabiskan waktu bersama mu.” Senyum Rio mengembang.
Mendengar ucapan Rio, Sisil langsung protes.
“Sisil ??”
“Maksud Om, Sisil juga. Menyenangkan menghabiskan waktu bersama kalian. Heheehe.” Mata Rio melirik ke arah Lala disebelahnya, meski Lala memalingkan wajah menghadap ke jendela, tapi Rio masih bisa melihat senyum di bibir Lala. Dia pun tak bisa menahan senyum bahagia nya.
Sisil yang ada di kursi belakang bisa dengan jelas melihat ekspresi kedua orang dewasa di depan nya, ikut tersenyum. Dia ingin sekali Lala bisa memiliki pasangan seperti Om Rio.
Mama... Papa... Mereka cocok kan?
“Kita makan dulu ya... Kalau kalian tidak keberatan. Soalnya aku melewatkan makan siangku tadi.” Pinta Rio saat mereka mulai memasuki area parkir mall.
“Enggak ada yang keberatan Om, kita semua enggak ada yang kelebihan berat badan...hehee....” tangan Sisil menggandeng tangan Rio di sebelah kanan nya, dan tangan Lala disebelah kirinya.
Mereka berjalan ke sebuah restoran yang cukup ramai. Restoran yang menyajikan menu makanan khas Indonesia dengan suasana tradisional meski di dalam sebuah mall besar. Membuat para pengunjung nyaman berlama lama disana.
“SISILL...!!”
Terdengar suara teriakan yang cukup kencang, hingga membuat beberapa tamu di restoran itu melirik ke sumber suara.
Sisil yang merasa namanya dipanggil dengan suara yang tidak asing juga ikut menengok ke arah yang sama. Ternyata itu suara Adit yang sedang duduk di salah satu sudut restoran bersama tante Shinta. Sisil dengan heboh berlari ke arah Adit.
Lala melambaikan tangan dan berjalan ke arah Adit dan Shinta. Kecuali Rio. Dia menghembuskan nafas kasar. Melangkahkan kakinya dengan malas. Melihat senyum usil Shinta membuatnya ingin memutar waktu, hingga ia bisa merubah tempat tujuan mereka.
“Hai mbak Shinta, sudah dari tadi?” Lala menyapa
“Baru saja sampai.”
Shinta tersenyum jail ke arah Rio.
“Hai Mas ganteng, bukankah ini masih jam kerja? Kenapa bisa ada di sini? Sedang ada janji ketemu klien? Atau sedang kencan?” Shinta mulai melancarkan aksinya, mengintrogasi kakaknya.
“Pekerjaan ku sudah selesai Nyonya besar. Dan aku mau makan. Lapar.” Rio berbohong, padahal masih ada berkas berkas yang dia tinggal di meja belum tersentuh.
Rio menarik kursi untuk mempersilahkan Lala duduk di depan Shinta.
__ADS_1
“Trimakasih.” Lala tersipu dengan perlakuan Rio.
Sisil sudah mengambil posisi di sebelah Adit. Rio tanpa segan duduk di sebelah Lala. Dan Shinta terus tersenyum melihat kakaknya.
Obrolan pun mengalir hangat. Dan topik utama dari obrolan di meja itu tidak lain adalah Rio. Semua yang Adit dan Shinta tau tentang Rio tertumpah disana. Membuat Rio sibuk menyangkal cerita yang menurutnya akan membuat image nya buruk di mata Lala dan Sisil.
“Kalian tau, dulu banyak sekali wanita yang antri untuk memikat hati Mas Rio, tapi Mas Rio selalu menggandeng tangan ku seolah olah aku adalah kekasihnya, hanya untuk menyingkirkan mereka.”
“Aku tidak selaris itu Shin.”
Rio menyangkal.
“Tapi memang benar mereka ada, mau kusebutkan satu persatu? Mas sih, terlalu baik sama mereka, hingga mereka menganggap itu sebuah harapan. Tak taunya hanya harapan palsu...huhh”
“Aku hanya berlaku sopan. Tidak lebih.” Rio kuatir Lala akan menganggapnya sebagai playboy.
“Sikap sopan mu terlalu memikat Mas ku yang ganteng...” Shinta mengalihkan perhatiannya ke arah Lala.
“Kau tau La, gara gara wanita-wanita itu, mas Rio lebih suka berkeliling dunia, menjadi travel blogger. Supaya tidak terikat dengan salah satu dari mereka.”
Lala dari tadi mendengarkan percakapan kakak beradik itu, hanya sekedar tersenyum lembut, dia bingung bagaimana harus memberikan tanggapan. Sedangkan Sisil sibuk memainkan game elektronik yang di bawa Adit.
Akhirnya pelayan yang membawa makanan pesanan mereka datang, mengalihkan fokus dari obrolan bertema Rio, menjadi bertema kuliner. Rio bercerita banyak tentang kuliner yang pernah dia cicipi di berbagai belahan dunia. Sisil dan Adit mendengarkan dengan antusias. Sambil menyantap makanan mereka.
“Adit habis ini mau kemana?” tanya Sisil
“Mau menemani mama nonton, nanti papa juga mau nyusul kita katanya.”
“Sisil juga mau nonton?” tanya Rio yang juga mendengar percakapan dua bocah itu. Tangannya mengusap lembut rambut Sisil.
“ehh...” Sekilas Sisil melirik ke arah Lala yang menggelengkan kepala, memberi isyarat ‘tidak’ untuk Sisil.
“Enggak Om, mau cari buku aja.” Sisil menjawab dengan lesu.
“Kamu yakin enggak mau nonton?” tanya Rio sekali lagi, karena dia melihat semburat kekecewaan di nada suara Sisil.
Sisil mengangguk pelan.
“Next time kita nonton bareng deh Sil, kita ajak joko sekalian. Oke?!” janji Adit.
Kembali Sisil mengangguk. Sebenarnya bukan karena Sisil ingin nonton film, tapi dia ingin menikamati kebersamaan dengan Lala dan Rio lebih lama lagi.
Akhirnya setelah selesai makan Adit dan Shinta memisahkan diri dari mereka. Rio, Lala dan Sisil berjalan beriringan menuju toko buku yang ada di area mall itu.
Sesekali, Sisil terlihat antusias melihat pajangan pajangan toko. Tapi dengan cepat Lala mengingatkannya akan tujuan utama nya mencari buku.
“Bu itu kaosnya lucu banget...”
“Fokus Sil, inget kamu kesini mau cari buku!!”
Rio ingin sekali membelikan apa yang Sisil mau, tapi dia tidak mau terlalu jauh mencampuri pola asuh Lala. Dia kuatir Lala malah akan menjauhi nya jika terlalu memaksakan keinginnya.
__ADS_1
Saat mereka memasuki toko buku, Rio melihat ekspresi wajah Lala dan Sisil. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Seperti melihat oase di padang gurun. Langkah kaki mereka setengah berlari. Mereka berdua sama sama menghambur menilik satu persatu buku yang terlihat menarik. Dan satu hal lagi yang sama, mereka berdua melupakan Rio yang masih tercengang di pintu masuk toko.
Astaga mereka melupakan ku... Ketampannan ku terkalahkan dengan buku.
Rio menunggu beberapa saat, posisinya masih berdiri di pintu toko, berharap salah satu dari mereka akan menghampirinya.
Tapi ternyata, setelah menunggu beberapa lama, Lala dan Sisil tidak ada yang datang. Rio memilih beranjak keluar dari toko buku itu.
Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya Lala mendapatkan beberapa buku pilihannya, Lala menghampiri Sisil yang juga sudah membawa tumpukan buku di tangannya.
“Sudah?”
“Iya, sudah bu.”
“Ayo ke kasir.”
Mereka berjalan ke arah kasir, sambil saling memperlihatkan buku pilihan masin g masing.
“Sil, Om Rio mana?” Lala yang menyadari ketidak beradaan Rio melayangkan pandang ke sekeliling toko buku.
“Bukannya dari tadi sama Ibu?”
“Enggak Sil, ibu malah mengira, kalo kamu yang lagi bareng sama Om Rio!”
“Coba ditelfon bu.”
“Ibu enggak punya nomernya Om Rio Sil.”
“Tanya tante Shinta bu...”
Lala dengan cepat menghubungi Shinta dengan ponselnya. Matanya tetap berkeliling mencari Rio. Tapi tidak ada jawaban dari ponsel dan tidak ada bayangan Rio di dalam toko buku.
“Enggak diangkat Sil, mungkin sudah di dalam bioskop.”
"Enggak mungkin kan kalo Om Rio hilang bu?... Atau jangan jangan Om Rio diculik tante tante yang diceritain sama tante Shinta tadi bu?" Sisil menunjukan senyum konyol, dia berkata seolah olah Rio adalah seorang bocah kecil.
“Kita cari di luar aja yuk bu.” Ajak Sisil sambil meletakkan buku yang ada ditangannya di salah satu rak. Lala pun mengikuti Sisil, meletakkan buku, dan berjalan keluar toko.
Mereka berdua fokus mencari pria tinggi dengan jas navy diantara para pengunjung mall yang banyak itu. Tanpa sadar ada seorang pria yang mengikuti mereka semenjak mereka keluar toko buku.
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan JEJAK kalian dong, trus kasih KOMENTAR dan LIKE.
aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
selamat menikmati....
__ADS_1