
Tek... tek... tek...
Suara pagar diketuk
Lala keluar dari dalam rumahnya. Pagi ini dia menggunakan celana jeans dan Kemeja kotak kotak lengan pendek berwarna biru muda, dia menenteng tas kain berukuran sedang dipundaknya. Toko buku tempat dia bekerja tidak memberlakukan pakaian seragam pada karyawan mereka. Penampilan Lala saat ini sama sekali tidak menampakkan sosok seorang ibu yang memiliki anak remaja. Seperti gadis berusia pertengahan dua puluhan.
“selamat pagi La... Udah siap berangkat?” Rio yang ada di luar pagar rumah Lala menyapa dengan senyum manis.
“Selamat pagi mas Rio, sudah mas.”
“sisil mana la?” rio tampak heran saat melihat Lala mengunci pintu rumahnya tanpa ada sosok Sisil menemaninya.
“sisil udah duluan mas, bareng Adit ke sekolah.”
“apa saya kesiangan jemput kalian?” Rio bertanya dengan gugup.
“enggak kok mas Rio, biasanya kami berangkat jam segini kok. Tapi emang tadi Sisil bilang ada tugas yang belum selesai, makanya dia buru buru ke rumah Adit.” Lala menjelaskan.
“oh yaa?... Coba saya telfon Adit ya, siapa tau mereka masih di rumah, biar sekalian aja saya yang antar mereka.”
Rio mengeluarkan ponsel dari saku jas nya.
....
Setelah menyelesaikan sarapan nya Adit dan Sisil berpamitan ke Shinta dan Rama untuk berangkat ke sekolah.
Baru saja mereka membuka pintu rumah tiba tiba ponsel Adit berbunyi.
Drreeett...Drreeett...Drreeett
Om Rio calling.
“Sill... Om Rio nelpon nih.”
“masa? Coba angkat Dit.”
“hallo om...” Adit menjawab panggilan telefon dari Rio. Sisil merapatkan telinganya ke ponsel adit agar dapat mendengar pembicaraan di ponsel itu.
“hallo Dit, Sisil berangkat sama kamu ya dit?”
“iya om.”
“kalian udah berangkat?”
Sisil langsung memberi kode ke adit agar mengatakan bahwa mereka sudah berangkat.
“sudah om.”
“oh, ya udah kalo udah berangkat. Baik baik di sekolah ya dit. Bye adit.”
“bye om.”
Adit mematikan sambungan ponselnya.
“kenapa mesti boong sih?” Adit agak kesal karena harus berbohong ke Rio mengikuti kemauan Sisil.
__ADS_1
“Adit mah enggak peka, kalo om rio tau kita masih di rumah, yang ada om rio bakal jemput ke sini. Enggak jadi dong berduaan sama ibu, nanti malah jadinya ramean. Ada adit, sisil, trus, jangan-jangan om rama juga jadi ikutan.”
“kok papa ikutan?” Adit bertambah bingung.
“kan om Rio sama om Rama satu kantor, Adiittt.... Ishhh... Adit lola deh... Lambat loading...”
“haiss... Kamu yaah Sil... bodo ah, Ya udah buruan berangkat.” ucap Adit kesal dikatain 'lola'
Mereka berdua masuk kedalam mobil merah yang di dalamnya ada pak min yang sudah siap mengantar mereka ke sekolah.
...
Rio memasukan ponsel ke saku jasnya.
“mereka sudah berangkat la. Kita berangkat sekarang yuk.” Rio membukakan pintu mobil untuk Lala.
“trimakasih mas.” Lala tersipu mendapatkan perlakuan manis dari Rio. Dia masuk ke dalam mobil, dan duduk dengan nyaman.
Rio duduk di kursi kemudi.
“La, kamu masuk kerja jam berapa?” tanya Rio saat sudah mulai mengendarai mobilnya.
“Jam setengah sembilan mas.”
“Berarti kita masih ada waktu sebentar ya.” Rio melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Waktu?” Lala menatap penuh tanya Rio yang sedang fokus mengemudi di sampingnya.
“Saya belum sempet sarapan La, boleh mampir ngopi bentar yaa di cafe...” Rio menatap memelas sebentar ke arah Lala.
Sebenarnya saat ini Lala membawa roti ditasnya, roti yang tadi pagi dia buat untuk sarapan Lala dan Sisil, tapi belum jadi di makan. Karena bentuk dan rasa rotinya sudah bisa dipastikan biasa saja, tidak ada yang istimewa, Sisil mengurungkan niatnya menawarkan roti bakar buatannya kepada Rio.
Rio menyadari ada keraguan di suara Lala, dia melirik ke arah wanita cantik itu. Sekilas, dia melihat tangan Lala yang memeluk tas kain berukuran sedang di pangkuannya. Seperti orang yang takut kehilangan tas nya. Tapi Rio tidak terlalu memikirkannya, mungkin saat ini Lala sedang gugup.
“oke, cafe yang di sebelah tempat kerja kamu aja yaa.”
Lala tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, tanda menyetujuinya.
Tidak lama kemudian Rio sudah memarkirkan mobilnya di parkiran cafe yang ada di sebelah toko buku tempat Lala bekerja.
Saat Rio keluar dari mobilnya, Lala juga hendak ikut keluar dari mobil. Tapi Rio menghentikan Lala.
“La, kamu tunggu di mobil ya. Tunggu aku sebentar, oke!!”
Sebenarnya, Lala bingung tapi dia tidak membantah Rio. Lala kembali duduk di dalam mobil dengan mata yang terus mengawasi keberadaan Rio.
Rio kembali ke mobil dengan 2 cup kopi dan sebuah paper bag yang berisikan sandwich.
“Temani aku sarapan yah... Masih ada waktu kan?” tanya Rio, tangannya sibuk meletakkan kopi, dan menyerahkan sebungkus sandwich kepada Lala.
Dengan ragu, lala menerima sandwich itu, dalam fikirannya, dia sangat tidak enak jika menolak pemberian Rio. Biarlah nanti roti bakar yang dia bawa akan dia berikan kepada Dante, si pelahap segala makanan.
“Trimakasih mas.” Saat hendak menerima sandwich dari tangan Rio, siku lala tidak sengaja menyenggol cup kopi yang baru saja diletakkan Rio di armrest, dengan sigap Rio menyambar cup kopi agar tidak tumpah. Tapi tangannya tetap tak terselamatkan dari tumpahan kopi panas itu.
“auuuchh...” Rio meringis merasakan panas ditangannya, tidak banyak kopi itu tumpah sebenarnya, tapi Rio sengaja agak melebih- lebihkan.
__ADS_1
Lala terkejut. Ia merogoh tas kain miliknya, seingatnya dia selalu membawa tissu basah dan kering kemanapun dia pergi. Karena terlalu panik, dia tidak bisa menemukannya. Dengan sedikit kesal, Lala menarik bagian bawah tasnya ke atas hingga isinya berhamburan diatas pahanya. Seketika nampaklah tissu yang dia cari. Lala menarik kasar tissu basah itu, kemudian digunakannya untuk menyeka tangan Rio yang terkena kopi panas.
“maaf...maaf... Aku tidak sengaja...” suara Lala bergetar.
Rio meraih tangan Lala, ditepuknya dengan lembut.
“it’s oke. I’m fine La.” Rio menatap mata Lala untuk meyakinkan dan menenangkan Lala yang panik.
“beneran enggak kenapa-kenapa? Perlu aku cariin salep?”
“enggak perlu... Beneran kok aku enggak kenapa-kenapa... Nih liat...” Rio mengangkat tangannya, menggenggamnya kemudian membukanya beberapa kali. Kemudian membolak balik tangannya di depan Lala.
“see... I’m oke, right?!” Rio menyakinkan. Rio menyesali kelakuannya, dia tidak menduga Lala akan sepanik itu.
Lala menghembuskan nafas lega.
Puk.
“ya ampun!!” lala menepuk jidatnya sendiri, saat melihat benda benda yang berantakkan di pahanya. Lala merutuki kebodohannya.
“kamu selau begini saat panik La?” senyum Rio mengembang. Memandang Lala yang sedang sibuk merapikan isi tasnya.
“sebenarnya ini salah satu kebiasaan buruk ku mas, aku orang yang sangat mudah panik.”
“dan apakah itu juga kebiasaan mu?”
“apa?”
“itu. Membawa banyak kotak bekal?” Jari telunjuk Rio menunjuk ke arah tempat 2 buah tempat makan yang masih ada di pangkuan Lala.
“oh... Ini... Emm... Sebenarnya saya selalu membawa bekal makan siang dari rumah. Tapi Cuma satu kok... Yang satu ini isinya roti bakar... sarapan ku dan sisil tadi pagi yang belum sempat dimakan.” Lala memasukkan kotak makan siangnya, kemudian saat hendak memasukkan kotak makan yang berisi roti, tangannya dihentikan oleh Rio.
“boleh aku minta roti nya la?”
Lala merasakan hangat saat tangan rio memegang tangannya. Aliran darah berdesir seolah berkumpul di dada dan pipinya.
“ini Cuma roti biasa mas.”
Lala menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena tangan Rio belum juga melepas genggamannya.
“biar aku coba dulu, baru bisa aku kasih penilaian, roti buatan mu biasa saja, atau luar biasa. Boleh?”
Lala menyerahkan kotak makan nya, agak ragu, tapi biarlah, daripada tangan Rio tidak terlepas pikirnya.
Rio memakan roti bakar buatan lala dengan senyum merekah. Dilidahnya, roti itu rasanya sangat..sangat..sangat enak sekali.
Rio juga menyuapi roti ke Lala, dengan polosnya lala melahap roti itu.
“trus ini gimana nasibnya mas?”
❤❤❤
bantu mamajo buat bangkitin semangat dong ...
dengan cara pencet jempol, dan kasih masukan, komen.
__ADS_1
okeh...okeh...okeh