
Gerbang sekolah SMP Cendrawasih ramai akan anak-anak berseragam putih biru, keluar serentak, banyak yang bergerombol, ada yang saling dorong, saling mengejek, suara tawa dimana-mana, sangat berwarna. Suasana seperti ini bisa dinikmati setiap jam pulang sekolah.
Diantara anak-anak itu ada Adit dan Sisil. Yang juga sedang asik bercanda dengan Joko .
“Coba lu ajak gw juga Dit, pasti lebih seru.” Joko si kakak kelas, memonyongkan bibirnya tanda protes. Dia melihat disosial media, foto kebersamaan Adit dan Sisil saat di taman bermain kemarin.
“Kalo ngajak elo, yang ada Cuma gombalin Sisil doang.... Males lah...” sahut Adit. Masih dengan gaya cool nya.
“Next time ya kak Joko, kita main bareng...” Sisil menengahi mereka.
“Bener ya Sil, Aku diajak.”
“Iya kak, Sisil janji.”
“Tuhkan, Sisil emang the best lah.... enggak kaya elu, huhhh...” Joko dengan sengaja menyenggol pundak Adit, hingga badan Adit sedikit oleng.
“Rese banget sih... Udah huss sana pulang, tuh jemuran nya diangkat!!” ledek Adit dengan kesal.
Joko yang otomatis langsung menengok ke halaman rumah nya langsung berlari ke rumahnya tanpa membalas ledakan Adit, wajahnya memerah.
Duh... Si emak udah dibilangin jangan jemur kolor di teras depan!!! Bikin malu aja nihhh...
Bwahahahhhaaa.... Adit tertawa terbahak-bahak melihat Joko yang lari tunggang langgang.
“ish Adit jahat banget!! Kasian kan Kak Joko sampe malu gitu!”
Adit tidak menghiraukan Sisil, dia puas setelah membulli Joko.
“Kamu yakin enggak mau dianterin?”
“Enggak usah Dit, aku bisa kok ke toko buku sendirian.”
“Oke lah, hati hati di jalan, aku jalan duluan yaa.. Mama kayaknya udah nungguin di rumah”
“Oke, bye Adit...”
Hari ini Sisil berencana ke toko buku tempat Lala bekerja, ada buku yang harus di belinya. Biasanya Adit ikut menemani, tapi kali ini, tidak bisa karena Adit sudah berjanji untuk menemani mamanya ke salah satu pusat perbelanjaan.
Sisil menanti bus di halte terdekat dari sekolahnya, untuk mencapai toko buku tempat ibu nya bekerja, Sisil perlu naik bus kemudian berganti angkutan kecil lainnya. Dia memilih menyibukkan diri dengan membaca sebuah novel remaja sambil menanti bus. Karena terlalu asik membaca, Sisil tidak menyadari ada sebuah mobil berhenti di depannya, mobil itu membunyikan klakson beberapa kali, hingga terdengar suara pria dewasa memanggil namanya.
“Sisil... Sisilll...!”
Setelah pria di dalam mobil itu memanggil beberapa kali, Sisil baru menyadari namanya dipanggil. Agak ragu, dia mendekat ke arah mobil Jeep wrengler hitam dengan perlahan.
Senyumnya melebar hingga memperlihatkan deretan gigi nya, Sisil senang ketika melihat Rio yang ada di balik kemudi.
“Haii Om..”
“Haduuhh kamu tuh dipanggilin dari tadi. Kamu mau kemana?”
“Sisil mau ke tempat kerja ibu, Om.”
“Ya udah, masuk sini, Om anterin.”
Tanpa basa basi lagi, Sisil sudah masuk ke dalam mobil. Memasukan novel ke dalam tas nya, kemudian memakai sabuk pengaman.
“Kamu itu yaa... Kalo di tempat umum tuh harus hati2, jgn sibuk sendiri sampe enggak sadar lingkungan... Kalo ada orang yang punya niat jahat gimana?” Rio bicara panjang lebar tanpa menatap Sisil. Pandangannya terus fokus ke arah depan.
Sisil tersenyum lebar, dia senang karena Rio mencemaskannya.
__ADS_1
Mungkin papa juga akan ngomel kaya gini kalo papa liat aku kayak tadi...
“Sisil!! denger Om Rio kan?” Rio melirik ke arah Sisil.
”Denger Om. Sisil denger kok. Iya deh, besok besok Sisil enggak akan kayak tadi lagi.” Sisil terus mengembangkan senyum nya.
Setelah Sisil menunjukkan arah ke toko buku tempat Lala bekerja, akhirnya mereka sampai di toko buku.
“Ikut masuk yuk, Om”
“Oke... Om juga mau beli sesuatu didalam. Tapi, tunggu sebentar ya, Om perlu telfon sebentar.”
Sisil mengangguk, dia keluar dari mobil dan menunggu Rio di depan pintu toko.
📱📱📱
Tuut...tuttt...tuutt
Big Big Boss calling.
Dengan segera Anita mengangkatnya.
"Hallo pak."
“Anita, saya nggak balik lagi ke kantor, tolong rapikan meja saya, berkas berkas yang belum saya periksa, biarkan saja di meja. Kamu tidak usah lembur, segera pulang saat jam pulang. Oke?!”
“Baik pak” Anita mengangguk seolah orang yang bersuara di ponsel nya bisa melihat nya.
Sepertinya boss baru nya memiliki perangai yang menyenangkan. Baru satu hari Anita menjadi asisten Rio, tapi Rio tidak banyak memerintah selayaknya boss boss pada umumnya. Beberapa hari yang lalu, Anita masih menjadi asisten Rama, tapi setelah Rio masuk ke perusahaan, Anita ditugaskan menjadi asisten Rio.
Yess, setidaknya hari ini aku bisa olah raga... Pikir Anita.
🖋🖋🖋
Rio yang mengenakan setelan jas navy dengan ukuran pas di badan, mencuri banyak perhatian para pengunjung toko. Banyak pengunjung wanita tidak melepaskan pandangan dari Rio, mata mereka mengikuti kemana arah Rio berjalan.
Rio yang merasakan tatapan orang orang, dengan sengaja merangkul pundak Sisil dan tersenyum ke arah gadis kecil itu. Berharap Sisil tetap nyaman disampingnya. Dan dia terus mengatur nafas perlahan berusaha menenangkan jantungnya yang terpacu cepat.
“Om Rio mau beli apaan?” tanya Sisil.
“emm..... Om mau beli pena.” Rio mencari cari alasan.
Sebenarnya, Rio berencana pergi makan siang tadi, tapi setelah bertemu dengan Sisil, entah kenapa, Rio ingin menemaninya. Terlebih saat Sisil bilang mau ke tempat kerja Lala. Rio berharap bisa bertemu dengan Lala, dan itu membuat jantungnya berdebar.
“oh... Itu disana tempat pena.” Tangan Sisil menunjuk ke salah satu pojokan toko yang memajang banyak pena.
“Sisil cari ibu dulu ya Om....”
“Oke, cantik... Om liat liat pena disana.”
Sebenarnya ingin sekali Rio mengikuti Sisil, tapi dia memilih melihat pena untuk menetralkan suara degup jantungnya.
🖋🖋🖋
Rio menatap jejeran pena eksklusif di sebuah rak kaca, tidak ada satu pun yang menarik hati nya, karna memang bukan itu tujuan utamanya ke toko buku ini.
Setelah beberapa kali mondar mandir di depan rak kaca, tiba tiba suara Lala membuat jantungnya melompat.
“Sudah dapat?”
__ADS_1
Rio segera berbalik menghadap sumber suara.
“Iya, Sudah.” Jawab Rio cepat dengan tersenyum lebar. Dia menatap lekat wajah Lala,wajah inilah tujuan utama nya datang ke toko buku itu. Wajah yang dari kemarin terus berkelebat di benaknya.
“Mana?” tanya Lala memperhatikan tangan Rio yang kosong.
“Ehhh...belum...ehh... Maksudku... yang ini.” Rio sangat gugup, menyadari ke bodohkannya. Tangannya secara acak memilih salah satu pena yang ada di rak kaca.
Lala tersenyum melihat pena eksklusif berwarna pink metalik pilihan Rio.
Rio yang melihat senyuman Lala, Ikut melirik ke arah pena yang di tunjuknya tadi.
“Ehhhh, bukan... bukan yang itu! maksudku yang sebelahnya.” Rio dengan cepat menunjuk pena eksklusif berwarna hitam disebelah pena pink, meralat kebodohannya. Dia mengusap tengkuknya yang menebal karena rasa malunya...
“Pakai ini, ada potongan harga kalau memakai id card karyawan.” Lala menyodorkan id cardnya ke arah Rio.
Rio langsung mengambil id card dari tangan Lala
“Trimakasih.” Kemudian langsung berjalan ke arah kasir, membayar pena yang dipilihnya.
Rio menghela nafas panjang. Dia merutuki kebodohannya. Kenapa juga dia bisa salah tingkah di depan Lala.
Setelah membayar pena, Rio kembali menemui Lala yang kini sudah ditemani Sisil.
“Sudah dapat bukunya Sil?” Rio memilih fokus ke Sisil agar jantungnya tidak berulah lagi.
Sisil menggeleng lesu.
“Udah kehabisan Om, besok aja Sisil cari di toko buku lain.”
“Sekarang aja. Om Rio anterin... Kalau tidak keberatan”
“Emang Om Rio enggak balik ke kantor?”
“Kerjaan Om udah beres.”
“Asiikk... Boleh nggak bu?” tanya Sisil kepada ibunya.
“Boleh. Tapi jangan terlalu malam pulangnya, ibu tunggu di rumah.”
“Ibu juga ikut dongg...” pinta Sisil lagi.
“Ibu kan bawa motor.”
“Ditinggal aja disini, besok aku yang anter kamu ke toko.... Kalau tidak keberatan.” Usul Rio agar Lala mau ikut.
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan JEJAK kalian dong,
kasih JEMPOL, trus kasih KOMENTAR,
karena aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
selamat menikmati....
__ADS_1