
“Buu... Liat topi Sisil yang hitam nggak Bu?” teriak Sisil dari dalam kamar. Tangannya masih sibuk mengobrak-abrik lemari pakainnya.
“Coba liat di balik pintu kamar mu Sil.” Suara Lala tidak kalah kerasnya. Lala sedang mengikat sepatu snekers putihnya.
“Kerennn.” Sisil memuji dirinya sendiri, saat mendapati pantulan dirinya di cermin. Dengan kaos lengan pendek warna putih, celana jeans pendek, topi hitam yang dipasang terbalik.
“Ayo Sil... Nanti keburu siang lho...” Lala melirik jam ditangannya. Sudah jam setengah delapan. Lala sungkan jika mbak Shinta dan mas Rama harus menunggu nya.
“Oke Bu, Sisil udah siap.”
Lala dan Sisil melangkah cepat menuju rumah Adit.
“Pagi Mbak Shinta...” Lala menghampiri Shinta yang sedang sibuk menata pot bunga di halaman depan rumah nya.
“Hai Lala... Lama kamu enggak mampir kesini. Kangen tau La...” Shinta segera bangkit berdiri saat mendengar suara Lala. Menyambut Lala dan Sisil.
“Pagi Tante. Adit udah siap blom Tan...?” tanya Sisil.
“Adit udah jalan tuh Sil.” Wajah Shinta serius.
“kok Sisil ditinggalin sih....” seketika suara Sisil memelas, matanya berkaca-kaca. Menggenggam ujung kaos Lala.
“hahaha... ada kok, nggak ditinggalin Sisil nya.” Shinta mencubit gemas pipi Sisil.
“Masuk sana, Adit masih siap-siap dikamar.”
__ADS_1
"Tante mah... ngerjain Sisil." Sisil berjalan masuk ke dalam rumah. tangannya menyeka air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
Di ruang tamu Sisil menyapa sebentar Om Rio yang sedang sibuk dengan ponselnya. Kemudian sedikit berlari di tangga menuju kamar Adit Yang ada di lantai 2.
“Maaf ya La, anakmu aku buat nangis. Abis gemesin banget kalo Sisil manyun.” Shinta menggandeng tangan Lala. Masih di teras rumah.
“Mbak Sinta ada-ada aja deh. Mbak Sinta Kok belum siap-siap. Emang nggak nemenin Adit?” Lala melihat Shinta masih mengenakan pakaian rumah nya.
“Aku enggak bisa ikut La, aku harus nemenin Mas Rama menghadiri undangan makan siang dari klien nya.” Wajah Shinta sedih.
"oh gitu? Ya udah, tenang aja mbak, nanti aku yang jagain anak-anak."
“kalian akan ditemenin kakak ku kok. namanya Rio, jomblo 38 tahun, ganteng, setia, mapan, cocok jadi calon suami.” Sinta mempromosikan kakaknya
“Hehhh.... hati-hati sama kebiasaan usil mu Shin.” Rio yang sedang duduk di ruang tamu beranjak dari duduknya, menghampiri adiknya yang sedang mempromosikan dirinya di depan pintu masuk. Penasaran dengan lawan bicara adiknya.
Dengan kaos putih berkerah sabrina, rambut tergerai, celana jeans dam sepatu sneakers, simple dan cantik.
“Hai, masih inget aku?” Rio mengulurkan tangan.
Lala juga sama terkejutnya dengan Rio.
Irama jantungnya menjadi cepat.
“Haiii... ternyata mas, kakaknya mbak Shinta.” Lala menyambut uluran tangan Rio. Rio menganggukkan kepala. sambil tersenyum tampan.
__ADS_1
“Om Rio kenal sama ibuku?” Tanya Sisil kepada Om Rio. Sisil muncul bersama Adit dari lantai 2.
Wow, kata 'IBU' menjadi sebuah kejutan lagi bagi Rio, membuat Rio memandang Lala dan Sisil bergantian.
“Ibu mu?” Rio memandang Sisil.
Sisil menganggukkan kepala yakin.
“Single anak satu.” Celetuk Shinta.
Lala tersenyum sambil merangkul pundak Sisil.
Terserah apa yang pria ini pikirkan, tapi Sisil memang anakku. batin Lala.
Di usia berapa dia berkeluarga? batin Rio.
“emmm... beberapa hari yang lalu, Om bantuin Ibu Sisil, waktu motor nya mogok dijalan.” Rio menjawab pertanyaan Sisil.
“Ohhh... Ternyata Om yah, cowok ganteng yang bantuin ibu.”
“Hussst...” Lala mencubit pinggang Sisil memberi isyarat untuk diam. Wajah Lala memerah karena malu.
“Ayoo... Ayoo... Berangkat. Keburu siang.” Rio langsung melangkah menuju mobil dengan cepat, agar tidak ada yang melihat senyum di wajahnya. Hati nya senanng mengetahui bahwa Lala menganggapnya ganteng.
Lucu banget liat mukanya merah gitu. Ahhh... Batin Rio.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Shinta, semua masuk mengambil posisi dalam mobil. Rio di balik kemudi, Adit di sebelahnya. Sisil duduk dibelakang Rio, Lala di belakang Adit.
Sepanjang perjalanan Rio selalu mencuri pandang ke wajah Lala melalui kaca spion. Lala yang sadar akan arah pandangan Rio hanya bisa melayangkan pandangan ke luar jendela, sambil sesekali menanggapi ocehan Adit dan Sisil yang sibuk merencanakan wahana apa saja yang akaan mereka naiki nanti.