
“Kita cari di luar aja yuk bu.” Ajak Sisil sambil meletakkan buku yang ada ditangannya di salah satu rak. Lala pun mengikuti Sisil, meletakkan buku, dan berjalan keluar toko buku itu.
Mereka berdua fokus mencari pria tinggi dengan jas navy diantara para pengunjung mall yang banyak itu. Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang mengikuti langkah cepat mereka semenjak mereka keluar toko buku.
“Heii... Apa yang kalian cari?” Pria dewasa itu menepuk pundak Lala.
suara dan tepukan dipundak itu mengagetkan Lala dan Sisil.
“Om Rio!! Om Rio dari mana sih ?? Sisil kira Om Rio udah hilang diculik tadi.” Kedua alis Sisil mengkerut, melihat penampilan Rio yang sudah berubah.
Rio mengenakan celana jeans dan kaos hitam yang melekat pas dibadannya. Dadanya yang bidang, dan otot perutnya hampir tercetak di kaosnya. Rambutnya masih sedikit basah, khas orang yang baru selesai mandi.
“Om Rio tadi pulang dulu, mandi, trus ganti baju, soalnya Om ga suka pake jas lama lama.” Rio mengacak pucuk rambut Sisil.
“Pulang?” tanya Lala menyelidik, jarak rumah Adit ke mall ini sekitar 45 menit. akan butuh waktu lama untuk bolak balik sekedar untuk mandi.
“Apartemen ku ada di atas.” Rio menunjukkan jari telunjuknya ke arah atas.
“Om Rio curang!!! Masa sendirian doang yang keren.... Huuhh.... Sini bu!!” Sisil menarik tangan Lala menjauh dari Rio.
“Jangan deket deket Om Rio, kita keliatan kucel banget nanti...”
Rio tertawa mendengar protes Sisil.
“Hahahhhaaa.... Sini kamu...” Rio mengejar Sisil memeluknya, tapi Sisil meronta, menggeliat melepaskan pelukan Rio.
“Sisil enggak mau deket deket Om Rio. Ntar Om Rio jadi keliatan tambah ganteng gara gara deket sama orang kucel. Weeekk.” Sisil menjulurkan lidahnya ke arah Rio sambil bersembunyi di balik Lala.
Jantung Lala berdegup dua kali lebih cepat, mengakui ketampanan Rio saat ini. Apalagi saat Rio dan Sisil main kucing kucingan. Lala yang di jadikan benteng oleh Sisil, secara tidak sengaja membuat badan Lala menjadi sangat dekat dengan Rio. Wangi parfum bercampur wangi sabun mandi sangat jelas melekat di badannya yang tegap.
Ya Tuhannn...sepertinya aku mabuk. Aku mabuk kepayang dibuat pria ini....
Rio kini mendapati Sisil dalam rangkulannya, mereka tertawa lepas bersama. Sungguh pemandangan yang indah.
“Ya udah kamu mau main ke apartemen Om nggak?”
“Emang boleh?” Mata Sisil berbinar senang.
“Boleh dong, tapi kalo ibu mu enggak keberatan.” Rio melirik Lala.
__ADS_1
“Perasaan ibu makannya enggak banyak deh Om, kok dari tadi bilang keberatan mulu sih...” bibir nya mencibir.
“Lain kali aja ya Mas, sudah terlalu sore, kita pulang yuk Sil...” ajak Lala.
“bukunya?” Rio melirik tangan Lala yang tidak membawa tas belanjaan.
“Oh iya, belum jadi bayar tadi. Bukunya masih di toko buku.” Lala menepuk jidatnya.
“Gara gara Om Rio ilang sih...” Mata Sisil melirik ke Rio dengan kepala yang mendongak, karena perbedaan tinggi badan yang terlalu jauh.
“Maaf...maaf...” Rio mengunyel unyel pipi Sisil.
Mereka bertiga kembali ke toko buku. Sebagai permintaan maaf karena membuat ibu dan anak itu kuatir, Rio membayar semua buku yang sudah mereka pilih sebelumnya.
💪💪💪
Begitu Anita mendapatkan telfon dari bossnya tadi, Anita langsung menghubungi temannya di sebuah club bela diri, agar dia bisa berlatih beberapa jam sore ini.
Semua perlengkapan kebutuhannya berlatih selalu tersedia di dalam mobil. Membuat Anita tidak harus pulang dulu ke rumah nya.
Pekerjaannya sebagai asisten seorang boss perusahaan besar, membuat Anita mengubah mobilnya menjadi rumah keduanya. Untuk mempermudah ritme kerjanya yang dituntut tepat dan siaga setiap saat. Dari mulai cemilan, minuman kemasan, segala jenis pakaian, bantal, selimut juga ada didalam mobilnya.
Anita melangkahkan kaki memasuki sebuah ruko yang cukup besar. Terdapat ruangan luas dan hamparan matras. Beberapa anak remaja sedang melakukan pemanasan. Sepertinya mereka baru memulai kelas.
Memasuki arena latihan, Anita membungkuk ke arah seorang pria yang juga mengenakan pakaian yg sama dengannya.
“Pemanasan sendiri, setelah itu gabung bersama kami disini.” Perintah pria itu.
“Yee Sabam.” Anita mulai berlari mengitari ruangan.
Di salah satu sudut ruangan, Anita mendapati seorang pria yang sedang mengamati ruangan, mengamati anak anak yang sedang berlatih dan juga sepertinya memgamati dirinya. kemudian sibuk menulis sesuatu di buku.
Anita dengan terang terangan menatap tajam ke arah pria itu. Menunjukan ketidak sukaan saat pria itu mengamatinya.
Dante menunduk, ada rasa takut melihat wanita yang sedang berlari di depannya itu melotot. Buru buru dia merapikan buku dan alat tulisnya ke dalam tas, dan bergegas keluar ruang latihan.
Hii...serem banget, cakep sih cakep. Tapi kalo dipelototin kaya gitu, kok kaya lagi diliatin mbak kunti yaa... hiii...bikin aku merinding saja. Mendingan aku nungguin abang di ruangannya aja lah.
👊👊👊
__ADS_1
“Anak anak kenal kan ini senior kalian, nama nya Anita, hari ini dia akan berlatih bersama kita, kalian bisa perhatikan, jika ada kesulitan bisa sharing dengan kak Anita. Oke?”
“Yeeee.” Serentak semua anak yang berlatih itu menjawab bang Marten.
Kemudian semua memberi hormat, dan mulai berlatih bersama. Sesi latihan diakhiri dengan sparing antara Marten dan Anita. Tepuk tangan bergemuruh saat pertandingan selesai. Anak anak pun mulai berpamitan pulang satu persatu.
“Kamu masih lincah aja yaa... Padahal udah sebulan enggak latihan. Salut aku.” Dada Marten masih naik turun, lelah dan puas dirasakan setelah sekian lama tidak ada teman sparing yang tangguh.
“Bang Marten aja yang udah ketuaan kali.” Nafas Anita masih memburu.
“Tapi please deh, jangan diulangin lagi kayak tadi, bisa tutup club ini gara gara kamu.” Marten memprotes sambil menghirup banyak banyak oksigen, agar menghilangkan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
“heheeehee... Piss bang. Maap ya, terlalu bersemangat aku tuh.” Anita tersenyum senang mengingat akhir pertandingan nya tadi dengan Marten. Dia berhasil mengunci tubuh Marten hingga tak bisa melawan.
“Aku traktir makan malem deh...”
“Aku mau pulang saja, mau minta pijet sama istri. Kamu traktir adik ku aja sebagai gantinya. Gimana?”
“Ganteng ga?”
“Dasar jomblo...!” Marten melempar pelindung kepala ke arah Anita. Dan Anita berhasil menangkisnya dengan cepat.
🍛🍛🍛
Mobil Jeep Wrengler hitam kini sudah terparkir di depan rumah Lala yang sederhana.
“Mampir dulu Om...”
“Emang boleh?” Rio berbisik pelan
“Kalo ibu enggak keberatan.” Sisil sengaja mengulang dengan suara keras kalimat yang sering digunakan Rio.
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan JEJAK kalian dong, trus kasih KOMENTAR dan LIKE.
aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
__ADS_1
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
selamat menikmati....