
“Emang boleh?” Rio berbisik pelan
“Kalo ibu enggak keberatan.” Sisil sengaja mengulang dengan suara keras kalimat yang sering digunakan Rio.
Rio menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Menyadari Sisil sedang mengejeknya.
“boleh kok, sekalian makan malem disini aja mas.”
“Serius nih boleh?”
“Udah ayoo Om, masuk...” Sisil menarik tangan Rio masuk ke dalam rumah.
Lala mempersilahkan Rio duduk diruang tamu, dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sisil pamit mandi, masuk ke salam kamar, mengambil pakaian dan handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi di sebelah dapur. Meninggalkan Rio duduk sendirian diruang tamu.
Sebenarnya Rio tidak sendirian, karena rumah Lala sangat sederhana, jarak antar ruang tamu dan dapur hanya terpisahkan oleh meja makan. Sehingga Rio dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukan Lala.
“Kamu mau masak apa La?”
“Apa yaa? Aku juga bingung nih?” Lala menatap isi kulkasnya. Isinya penuh dengan berbagai macam bahan pangan. Lala dilanda rasa gugup, karena merasa diperhatikan oleh Rio, otaknya kosong seketika.
Rio datang menghampiri Lala yang masih menatap isi kulkas.
“Boleh ku bantu? Kalau kamu enggak keberatan...”
Issshh... Apa aku harus diet yaaa???? Kok ngomongin berat mulu sih...
“Emmm... Emangnya Mas Rio bisa?”
“Masak? Bisalah. Meski terbiasa tinggal sendiri, tapi aku enggak terlalu suka jajan atau beli makan diluar. Masakan rumah is the best.... Sini, coba aku liat.”
Rio berjongkok di depan kulkas yang terbuka. Matanya mengamati isi kulkas.
“Ini bisa dibikin capcay atau sop, ayam bisa digoreng tepung trus kita kasih saus asam manis.... Hemm, kayaknya enak deh... Atau kalo mau yang lebih praktis lagi kita bisa bikin pasta. Kamu maunya kita bikin apa La?”
Rio bangkit berdiri, menghadap persis di depan Lala yg masih mematung di depan kulkas.
Lala menatap Rio, karena jarak yg sangat dekat, dia bisa melihat alis mata yg tebal, hidung mancung dan bibir seksi milik Rio. Dan untuk kesekian kalinya, jantungnya berdegup sangat kencang.
“La, kok malah bengong sih.... La... Lala...” Rio mengguncang pelan bahu Lala.
“heehh... Mas bilang apa?”
“Aku tanya, kita mau masak apa La?”
“Terserah Mas Rio aja.”
“Lho kok aku? Ya udah deh, bikin capcay sama ayam asam manis yaa... aku yang masak, kamu bantuin yaa...”
Lala pun menyetujuinya.
__ADS_1
“Ini boleh aku pake?”
Rio menunjuk apron polkadot berwarna pink.
“boleh.... Tapi itu kan warnanya....”
“Pink?!... Ya ga masalah La, warna apron ini enggak akan merubah rasa masakan Ku nanti.
“nih...keren kan kalo aku yang pake??” Rio menaik turunkan alisnya.
“iya... Mas Rio keren...”
Tiba tiba wajah Rio memerah, mendengar Lala memujinya.
Kegiatan memasak pun dimulai. Rio dengan cekatan mulai memotong dada ayam menjadi beberapa bagian, kemudian mencucinya, membuat adonan tepung, tanpa ragu menakar semua bahan.
Lala yang sedang membantu menyiangi sayur bergerak agak lambat, karena perhatiannya sering teralihkan kearah Rio. Hingga tanpa sengaja, pisau yang ia pakai melukai jari telunjuknya.
“aoouuu...” Darah merah segar mengalir dari jari tangan Lala. Rasa perih menjalar seketika.
“Ya ampun!!” Rio menarik tangan Lala, menyecapnya, berusaha menghentikan darah yang keluar. Setelah dirasa tidak ada darah lagi yang keluar, dia membersihkan tangan Lala di air mengalir, mengeringkannya dengan tissu yang ada di dapur.
“Kamu punya plester untuk luka?” Raut wajah Rio masih khawatir.
“Ada di situ.” Lala menunjuk laci lemari pendek disebelah kulkas.
Tanpa melepaskan tangan Lala, Rio mencari plester dengan tangan satunya lagi. Kemudian memasangkan plester dengan sangat hati-hati.
Lala hanya diam melihat apa yang dilakukan Rio. Dia sama sekali tidak lagi merasakan perih di jari nya. Dia malah menikmati perhatian yamg diberikan oleh Rio.
Rio mulai tenggelam dalam kegiatannya memasak. Tangannya cekatan, benar benar tidak ada rasa canggung saat menggunakan alat alat dapur. Lala semakin asik menikmati visual Rio yang semakin terlihat keren.
Sisil keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan pakaian santai. Terkejut melihat Rio yang sedang fokus memasak dengan menggunakan apron polkadot pink milik ibunya.
Ide jail pun terlintas di otaknya.
“Bu pinjem hape dong.” Bisik Sisil di telinga ibunya.
“Buat apa?” Lala ikut berbisik.
“Mau ingetin Adit ngerjain PR.”
“Ooo... Nihh...”
Sisil tidak mempunyai ponsel sendiri, jadi biasanya dia akan pinjam ponsel ibu untuk berkomunikasi dengan Adit.
Sisil berpura pura menulis pesan, padahal dia sedang membidik kamera ponsel ke arah Rio. Setelah puas mengambil gambar, Sisil mengirim salah satu gambar ke Adit.
Ibu : (gambar) setuju ga kalo ini jadi papanya aku? -ini sisil-
Adit : busett... salfok ke polkadot pink.... Wkwkwkkk....
__ADS_1
Adit : tapi emang ibu mau sama Om Rio?
Adit : Kalo aku sih yess...👍
Ibu : sipp... Mohon doa dan dukungannya yaa...
Ibu : Btw, pr ipa udah kerjain blom?
Adit : astaga... Lupa aku. Tq ya... Aku kerjain dlu. Bye.
Sisil mengembalikan ponsel Lala. Rio sudah menyelesaikan masakannya, sedang menata makanan di meja makan dibantu oleh Lala.
“Makasih bu.... Wiihhh... Mantap banget makan malem nyaaa.... Mevaahh euy...”
“semoga kalian suka yaa...”
“kalo tiap hari kayak gini mah, ibu bisa jadi beneran berat ni...bwahahaa...”
😘😘😘😘
“Mas Rama, menurut mas, kalo Lala itu cocok nggak sama mas Rio?” Shinta membantu Rama melepaskan dasinya.
“Biarkan mereka dekat dengan sendirinya Shin. Rio sudah pasti lebih tau apa yang dia mau.” Tangan Rama membelai pipi istrinya.
“tapi ntar kalo kelamaan gimana? Mas Rio udah tua mas.”
“menurutmu, apa aku sudah tua Shin?” Rama mengecup bibir ranum milik Shinta.
Shinta menggeleng. “Kamu selalu muda dan perkasa sayangku.” Shinta tersenyum.
Rama kembali mengecup mesra istrinya, kecupan lembut yang perlahan berubah menjadi menuntut. Tangan Rama sudah berada di tengkuk Shinta, menekan nya agar memperdalam ciuman panas mereka. Satu tangannya sudah berada di balik blouse Shinta, meremas bukit disana.
“Mamaaaa....” tiba tiba suara Adit terdengar seperti sedang berlari ke arah pintu kamar Rama dan Shinta.
Dengan refleks Rama melepaskan diri dari Shinta, mengambil langkah lebar ke arah pintu, bermaksud untuk mengunci sebelum anaknya menerjang masuk.
Bruuukkkk...
“aaaooooouu...” teriakan tertahan dari Rama
Badan Rama terpelanting ke belakang, ia memegangi jidatnya yang benjol karena terhantam pintu yang tiba tiba di buka oleh Adit.
“Papa ngapain di situ? Tiduran tuh di kasur pa, bukan dilantai.” Ujar Adit tanpa mengetahui perbuatannya.
❤❤❤
heloo guys...
tinggalkan JEJAK kalian dong, trus kasih KOMENTAR dan LIKE.
aku masih baru nih di dunia tulis menulis. pasti ada kurangnya, bantu aku yaa buat koreksi apa yang kurang.
__ADS_1
semua akan ku tanggapi dengan baik. biar kedepannya bisa lebih baik lagi...
selamat menikmati...