
"Saya permisi pak,bye Anggi...."ucap Zain melepaskan tautan lengan Anggi.
Anggi yang tak rela hanya bisa menghela nafas kesal dan berbalik masuk kembali ke tenda.
Zain masuk ke dalam mobilnya, melihat Abel yang melihat nya masuk tersenyum dan kembali menengadahkan tangan kepada Zain.
"Ponsel saya Pak...."ucap Abel dengan senyum menahan marah entah kenapa itu.
Zain menyerngit,dia merasakan ada keanehan pada Abel"kamu kenapa sayang???kamu sakit??"ucap Zain memegang pipi Abel dan mengelus nya.
"Saya gak papa kok,saya mau ponsel saya, kerjaan saya belum kelar tadi....tolong"ucap Abel datar dan dingin, membuat Zain semakin aneh memandang kelakuan Abel, Zain memberikan ponsel Abel, Abel pun berterima kasih dan melanjutkan kegiatan nya yang tadi di potong oleh Zain.
Hening ketika Abel diam di sepanjang perjalanan,dia terus sibuk dengan ponselnya dan Zain yang melihat hal itu tak nyaman dan menghentikan mobilnya di rest area yang padahal telah melewati arah rumah Abel.
"Kok di sini???kok berhenti???"tanya Abel bingung memandang wajah Zain yang tak kalah dingin saat itu.
"Saya gak akan jalan,kalo kamu gak bilang kenapa sikap kamu ini,,,,,??kenapa kamu jadi terlihat lebih formal sama saya Abel??? kenapa kamu diemin saya???"ucap Zain memandang Abel dengan tatapan bingug dengan menghela nafas kasar.
Abel semakin diam,menoleh ke arah luar jendela, menahan sekuat tenaga agar air matanya tak menetes.
"Sayang.....maaf....aku terlalu kasar,,,sayang...."ucap Zain lembut dengan menggenggam jemari Abel dan menaruh ponsel Abel di dasbor mobil.
Abel menoleh,dan tersenyum.
__ADS_1
"Mas....kayak nya aku belum siap ketemu orang tua kamu,dan seperti nya kita perlu memikirkan masa depan kita kembali, sebelum terlambat"ucap Abel langsung membuat Zain menggeleng cepat dan memukul stir.
"Sayang....aku mohon,kamu ngomong apa salah aku,apa yang buat kamu jadi berfikir kayak gini sayang????aku gak bisa....aku gak bisa kalo gak sama kamu sayang"ucap Zain pada Abel yang sudah tak tahan dan air matanya meleleh dia cepat cepat menyeka matanya kasar dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah Abel.
"Gak ada yang salah dari kamu,hanya saja saya menjadi kurang yakin pada diri saya sendiri, apakah saya pantas untuk mas Zain, sedangkan seperti nya ada seseorang yang lebih mencintai Bapak seperti...."Abel menghentikan omongan nya.
"Anggie.... sepertinya sangat menyukai mas,dan tidak seperti saya....yang masih bingung dengan perasaan saya"ucap Abel pada Zain seketika Zain melepaskan seat belt dan memeluk Abel dengan erat.
"Kamu ini bodoh atau apa seh Annabella Prastieka????atas dasar apa kamu bilang kalo kamu belum yakin sama perasaan kamu sendiri???ucap Zain terus mengecup puncak kepala Abel.
Abel melerai pelukannya, memandang Zain bingung "maksudnya???"ucap Abel kemudian.
"Kamu itu sekarang lagi cemburu sayang....dan lagi,,,,aku udah anggap Anggi itu adik aku sendiri,aku ngasih bantuan ke keluarga mereka untuk menyekolahkan Anggi, karena dia anak yang cerdas kasihan kalo dia sampai putus sekolah,urusan dia punya perasaan ke aku itu bukan urusan aku....aku udah mentok cinta nya sama kamu,sejak pertama aku liat cewek ber celana hot pant,ber hoodie Abu dan dengan wajah jutek melewati ku,pria tampan dengan sejuta pesona"ucap Zain pede Abel memukul dada Zain dan merona malu dengan mengalihkan pandangannya.
"Hehehehe gak ngaku juga,,,,aku sengaja'bawa kamu kesana itu buat negesin,kalo aku udah milik kamu,dan kamu milik aku dan gak ada celah buat siapapun untuk masuk ke dalam ikatan kita"ucap Zain kembali merengkuh tubuh Abel dan mencium puncak kepala Abel.
"Tapi di peluk peluk,di rangkul mau...ish...dasar cowok,coba aku yang di gituin sama cowok lain"cicit Abel yang masih di dengar oleh Zain.
"Apa....???kalo ada cowok yang begitu sama kamu,dia gak akan lihat hari esok,aku pastikan"ucap Zain ketus.
"Tu kan???mas egois....kenapa mas gak nolak pas dia tadi nempel terus sama mas huh???itu kan mas nikmatin sentuhan dia iya kan???"ucap Abel tak kalah ketus dengan masih air mata yang meleleh.
"Sayang....aku tu nunggu kamu,kamu yang jauhin dia dari aku....eh malah kamu nya lari duluan ke mobil..."jawab Zain enteng.
__ADS_1
"Bodo amat"ucap Abel mengambil ponselnya lagi.
Zain membalikkan tubuh Abel untuk menghadap ke arah nya.
"Liat mas....."Abel masih menunduk,enggan melihat mata Zain"sayang..... please"ucap Zain lagi, Abel menatap mata Zain dan pandangan mereka terkunci.
Dan Zain semakin memangkas jarak diantara mereka lalu
Cup....benda kenyal menempel di bibir Abel yang seketika membelalakan matanya kaget, jantung nya serasa maraton hingga tak terkendali, Abel Meronta karena menerima serangan dadakan dari Zain,tapi Zain menekan tengkuk Abel tak hanya kecupan,tapi ******* lembut yang ia berikan pada bibir Abel yang baru merasakan hal itu,semakin lama Abel semakin sesak dan kehabisan nafasnya, Zain pun melepaskan bibirnya dan menyatukan kepala mereka dengan nafas yang sama ter engah nya,
Zain tersenyum, Abel tak berani menatap Zain.
"Lain kali bernafas dan balas ciuman saya...."ucap Zain pada Abel sambil mengelus pipi halus Abel.
"A...Aku... Ini....baru pertama buat aku",ucap Abel ragu ragu dan malu tanpa memandang wajah Zain.
"Apaaa????? ahahhahah..... benarkah sayang??? wuahhhhhhhh.....aku beneran beruntung,aku semakin gak sabar ngehalalin kamu yank....love you sayang....muach...muach....muach..."Abel hanya menutup rapat matanya dengan kelakuan sang kekasih.
Sampai di rumah Zain berpamitan,dan mengatakan bahwa besok ia akan membawa Abel ke Bandung, untuk mengenalkan nya pada keluarga besar nya di Bandung,dan tentu di sambut bahagia oleh ibunda Abel dan keluarga Abel juga.
Abel masuk ke dalam kamarnya setelah mengantar Zain keluar dari teras rumah nya.
dia tersipu dan merebahkan diri nya di kasur, mengingat ciuman yang Zain berikan tadi.
__ADS_1
hati nya kembali dag dig dug dan ia segera berlari ke kamar mandi untuk menyegarkan diri agar bisa melupakan hal konyol yang ia bayangkan berulang kali.