
Aku tak pernah tau tentang jodohku
Tuhan mau aku menjadi pendampingmu
Mungkin memang aku ada dan terlahir di bumi
Untuk kamu.
I Love You My Husband.
***
"Kita sudah bisa mulai akad nikahnya? Bapak dan Ibu, Mas dan Mba?" Tanya si penghulu.
"Monggo, Pak. Dimulai saja." Ujar Mbah Kung.
Andari duduk berdampingan dengan Banyu. Andari memakai kebaya berwarna putih, kain batik dan rambut panjangnya yang disanggul.
Sedangkan Banyu, memakai kemeja putih, dasi hitam, celana bahan hitam dan jas warna hitam. Acara akad nikah berlangsung sakral. Karena hanya keluarga saja yang ada dan beberapa sahabat dekat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rasmi Andari Kamandoko Binti Prasetyo Guntur Kamandoko dengan mas kawin tersebut, tunai." Ucap Banyu melafalkan akad nikah dan ijab kobul.
"Sah?" Tanya Pak penghulu kepada para saksi.
"Saahh..." Jawab saksi serempak.
Dina yang melihat sahabatnya menikah begitu bahagia. Ia tau betul perjuangan Andari hidup di Jakarta sendiri seperti apa.
Reza pun begitu. Ia sangat bahagia. Melihat Banyu mampu berkomitmen dengan seorang perempuan. Orang sedingin Banyu, mampu dilluluhkan hatinya.
Acara akad nikah sudah selesai. Andari berganti pakaian dengan short dress warna salem pastel dengan brukatnya dan sepatu high heels.
Setelah akad nikah Banyu dan Andari izin untuk ke hotel tempat Banyu menginap. Karena malam itu Banyu ada janji meeting dengan salah satu koleganya.
"Din, gue tinggal bentar ya. Besok kan gue balik sini lagi." Ujar Andari kepada Dina yang memeluknya karena tidak ingin ditinggalkan.
"Udah. Gak usah manja deh. Bentar doang juga." Sahut Banyu kepada Dina.
"Mas Reza..." Panggil Dina yang berganti memeluk Reza karena sedih harus berpisah dengan Andari.
"Jangan lama-lama, lo. Kan kita belum jalan-jalan bareng." Ucap Dina kepada Andari.
"Lagian lo dari kemaren gue ajak jalan, ngintilin Reza mulu. Ya gue tinggal nikah. Hahaha..." Canda Andari yang mengundang tawa Banyu dan Reza.
"Besok harus jadi pokoknya. Jalan-jalan ke Candi Ijo." Ujar Dina.
"Kamu mau ngapain kesana?" Tanya Reza.
"Mau lihat sunset." Jawab Dina sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Hahaha, dasar." Tawa Reza.
"Yaudah, gue jalan dulu ya." Ujar Andari melambaikan tangan kepada Dina dan Reza.
Pak Tyo dan Bu Asih sudah bobo cantik karena sudah malam. Mereka capai sepertinya. Mbah Kung dan Mbah Uti pun sudah terlelap nyenyak.
Andari dan Banyu menuju mobil. Banyu duduk mengemudikan Jaguar F-Pace nya. Andari duduk di kursi sampingnya.
"Hhh... capek..." Ujar Dina yang masih memeluk Reza.
"Yaudah, sekarang kita istirahat. Siapin energi buat besok jalan-jalan." Ucap Reza sambil memgelus rambut Dina.
"Gak nyangka, Ndari akan nikah secepat itu. Tapi, aku senang melihat dia bahagia dengan pilihannya." Ujar Dina dengan tawanya.
Banyu itu laki-laki yang super sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang ia tangani. Saat di mobil pun juga seperti itu. Ponselnya tidak berhenti berdering.
"Mas, aku aja yang nyetir ya. Biar kamu leluasa buat kerjanya." Ucap Andari menawarkan kepada Banyu.
"Sebentar lagi, kita sampai hotel kok. Gak apa-apa aku aja." Ujarnya.
Andari pun diam. Dia tidak ingin mengganggu Banyu yang terlihat kurang bersahabat wajahnya. Sampai di hotel, Banyu mandi dan bersih-bersih.
"Mas Banyu, mau pakai baju apa? Perlu pakai jas?" Tanya Andari kepada Banyu yang sibuk memilah-milah kertas yang bertaburan di kamar hotelnya.
"Gak perlu. Pakai blazer aja. Kayaknya ada di lemari yang putih." Ujarnya sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Andari menyiapkan blazer navy, t-shirt hitam, celana jeans dan sport shoes sang suami.
*Ejieeh... suami... 😎
*Pengen apa thor? Wkwkwk 😂
Andari sedang sibuk me-mix and match bajunya untuk dipakai nanti saat meeting bersama Banyu. Tak lama kemudian, Banyu keluar kamar mandi dengan handuk yang dililitkan pada bagian pinggang ke bawah.
Sangat memperlihatkan dada bidangnya yang ditumbuhi rerumputan berjajar disana. Sontak saja membuat Andari terkejut dan langsung memalingkan wajahnya.
"Ndari, baju saya dimana ya?" Tanya Banyu yang tanpa bersalah sudah membuat sang istri kebingungan ingin menyembunyikan wajah memerahnya kemana.
"Aku gantung di hanger dekat lemari, Mas." Jawab Andari yang langsung mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
"Okay." Jawab Banyu yang langsung berganti pakaian.
Saat Andari sedang bersih-bersih diri, Banyu melihat pakaian yanh sedang di cocokkan oleh Andari. Banyu tersenyum, ia sadar bahwa Andari berusaha keras tampil di depan kolega Banyu.
Banyu mengeluarkan dua kotak besar yang sengaja ia siapkan untuk sang istri. Niat hati untuk hadiah yang ingin ia berikan suatu saat nanti ketika ia menikah kepada pasangannya. "Sekarang harusnya" batin Banyu.
Tak lama kemudian Andari keluar dari kamar mandi menggunakan gaun mandi. Ia mencari pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya. Tapi, tidak ada.
"Kamu cari ini?" Tanya Banyu yang muncul dari ruang tengah hotel.
"O, oh, iya Mas." Jawab Andari tergagap karena terkejut melihat Banyu yang tiba-tiba hadir disana.
"Kamu mau pakai yang mana?" Tanya Banyu yang menunjukkan long dress warna pastel yang sudah disiapkan oleh Banyu.
"Lho, itu gaunnya siapa satu lagi?" Tanya Andari kembali kepada Banyu.
"Kayaknya aku gak punya gaun seperti itu." Lanjut Andari.
"Ini sekarang punya kamu." Ujarnya sambil menyodorkan short dress salem pastelnya.
"Kok kamu bisa punya ini?" Tanya Andari bingung.
"Iya. Buat kamu." Jawab Banyu sambil memalingkan wajah karena malu. Andari hanya tersenyum melihat Banyu yang malu-malu seperti itu. Andari memakai baju tersebut.
Banyu terperangah melihat keelokan istrinya. Yang memang cantik, semakin cantik dengan tatanan busana seperti itu. Meski ia terlihat canggung dengan pakaian yang ia pakai.
"Aneh kah?" Tanya Andari yang berdiri canggung di hadapan Banyu.
"Enggak. Sangat cantik." Jawab Banyu berdiri dan berjalan menghampiri Andari dan menggandeng tangannya. Mereka siap datang ke acara kolega Banyu.
"Mas, kamu seharian belum makan kan tadi?" Tanya Andari.
__ADS_1
Sambil mengambil sepotong roti cokelat untuk Banyu dan menyuapkannya ke mulut Banyu yang secara otomatis terbuka karena ada makanan yang masuk.
"Nanti kan di party juga makan." Ujarnya sambil memakaikan seat belt Andari.
"Iya, tapi ini makan dulu. Yang penting perutnya ke isi gak kosong banget." Ucap Andari yang disibukkan memilah strawberry karena Banyu tidak suka strawberry.
Chuuu...
"Mas Banyu?!" Pekik Andari yang terkejut dibuatnya karena Banyu yang tiba-tiba mengecup pipinya.
Banyu tersenyum dan tertawa melihat wajah terkejutnya Andari.
"Ampun deh. Iseng banget." Ujar Andari sambil memakan buah strawberry dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kok sepatunya dilepas?" Tanya Banyu kepada Andari.
"Iya. Sakit kakinya kalau kelamaan pakai heels. Nanti kalau sudah mau sampai aku pakai lagi." Jawab Andari.
"Oh, iya. Andari kan gak bisa pakai heels lama-lama." Pikir Banyu.
"Kita sudah sampai Mas?" Tanya Andari yang melihat Banyu menuju hotel bintang 5 yang mewah.
"Iya, sudah. Kita turun di lobby." Ujar Banyu.
"Gak parkir mobil dulu?" Tanya Andari dengan polosnya.
"Sama valet aja nanti." Jawab Banyu sambil tersenyum melihat wajah polos sang istri.
Andari memakai high heelsnya dan mengikuti Banyu disampingnya. Banyu menggandeng tangan Andari dan berjalan gagah menuju salah satu restaurant tempat Banyu dan koleganya bertemu.
Banyu melihat Andari nervous. Ia memindahkan tangan Andari di lengannya dan menepuk pelan punggung Andari tanda bahwa ia tidak perlu khawatir.
"Selamat malam, Pak Rudi." Sapa Banyu dengan sopan dan ramah.
"Wow... Pak Banyuu... malam Pak Banyu. Silahkan, silahkan duduk." Ujarnya heboh dan sumringah.
Pak Rudi tidak datang sendiri. Ia bersama dengan istrinya yang ke-5 sepertinya serta anaknya. Rachel namanya. Usianya mungkin sekitar 25 atau 27'an.
Saat ingin duduk, Banyu menarik kursi tempat duduk untuknya dan Andari namun, justru malah Rachel yang duduk disamping Banyu.
"Maaf, ini untuk istri saya." Ucapnya dengan tegas, dingin, tapi masih senyum.
Andari duduk disamping Banyu dan Rachel duduk disamping sang ibu dengan wajah masamnya. Pak Rudi merasa tidak enak dengan ucapan Banyu terlihat dari wajahnya.
"Pak Banyu sudah menikah toh?" Tanya Bu Gia. Istri Pak Rudi. Ia tidak percaya bahwa Banyu menikahi perempuan yang berada tepat dihadapannya.
"Sudah Bu." Jawab Banyu singkat, padat dan jelas.
"Kenalkan, istri saya." Lanjut Banyu kepada Pak Rudi, Bu Gia dan Rachel.
"Andari." Jawab Andari sambil bersalaman dan senyum ramah kepada mereka.
"Kampungan banget namanya." Cibir Rachel sambil membuang wajah tak menyenangkannya.
Banyu geram sekali dengannya. Tapi, Andari menahan dengan memegang tangan Banyu dan menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa tidak perlu lagi dibahas.
Tak lama kemudian, datang Pak Samir bersama dengan istri mudanya yang beda usia 18 tahun dengannya. Istrinya bernama Sofia.
Andari diajak Bu Gia, Bu Sofia dan Rachel untuk berbincang di tempat lain. Karena para lelakinya yang sedang disibukkan urusan bisnis mereka.
"Mba Andari kerja apa?" Tanya Bu Sofia.
"Saya mengajar Bu." Jawab Andari dengan senyum ramahnya.
"Dosen maksudnya Mba Andari?" Tanya Bu Sofia kembali.
"Bukan. Saya Guru TK." Jawab Andari dengan percaya diri dan wajah cerahnya.
Bu Gia, Bu Sofia dan Rachel terkejut bukan main mendengar pekerjaan Andari.
"Yaampun... guru?? Elo?? Yang kayak gini bisa gitu bersanding sama Banyu? Udah gila kali." Ujar Rachel dengan wajah tak terima karena Banyu menikahi perempuan tak setara dengannya.
"Rachel! Sudah! Duduk! Yang sopan!" Ujar Bu Gia kepada Rachel anaknya yang sangat kurangajar.
"Saya permisi ke toilet sebentar." Ucap Andari dengan senyum ramahnya.
Andari ke toilet karena ingin buang air kecil dan merapikan ikat rambutnya. Banyu melihat ke arah meja tempat Andari berbincang dengan ibu-ibu genkges itu. Namun, Andari tidak ada.
Banyu izin pulang duluan dan menghampiri meja tempat Andari berbincang-bincang ibu-ibu genkges lainnya.
"Permisi, istri saya kemana ya?" Tanya Banyu dengan santai dan ramah.
"Oh, lagi ke toilet tadi katanya." Ucap Bu Sofia.
"Oh, gitu. Okay. Saya izin ajak istri saya pulang duluan ya, Bu." Ucapnya sambil tersenyum sebagai formalitas.
"Iya, iya, Pak Banyu. Silahkan." Ujar Bu Gia dan Bu Sofia.
"HEH!!" Panggil Rachel dengan menarik pundak Andari dan mendorongnya ke dinding.
"LO GAK USAH SOK POLOS??!! LO KAN YANG ADA DI HEADLINE NEWS?! LO JUGA YANG MAU MOROTIN BANYU, KAN??!! UDAH GILA LO?!! DASAR CEWEK GAK TAU DIRI!!!" Ucap Rachel dengan nada tinggi dan wajah merah padam karena amarah.
Tangan Rachel sudah siap mau menampar Andari. Andari memejamkan matanya tapi...
"JANGAN PERNAH USIK ISTRI SAYA! JIKA HIDUP ANDA TIDAK INGIN TERUSIK!" Ucap Banyu sambil memegang tangan Rachel yang hampir saja menampar Andari.
"Banyu!! Lo lupa?? Stella udah berjuang buat lo!! Dia yang rela korbanin apapun buat lo! Tapi kenapa lo berkhianat sama Stella?!!" Ujar Rachel dengan kesal kepada Banyu.
Banyu tidak menanggapi apa yang dibicarakan oleh Rachel. Ia menggenggam tangan Andari dan menariknya untuk meninggalkan Rachel yang berkoar-koar.
Di lobby, saat sedang menunggu valet mobilnya. Andari menatap wajah Banyu yang datar, dingin, tanpa kata. Terlihat Banyu yang masih kesal.
Mobilnya sudah sampai, Banyu memberikan tips kepada sang valet.
"Aku yang nyetir ya? Boleh?" Tanya Andari yang memberhentikan tangan Banyu saat memegang pintu mobil dibagian kemudi.
"Ini sudah malam, nanti bahaya kalau kamu yang bawa." Ujar Banyu setenang mungkin.
"Gak akan kenapa-kenapa. Percaya deh." Ujar Andari yang menenangkan Banyu.
Akhirnya Banyu memberikan kunci mobilnya kepada Andari. Andari yang menyetir dan Banyu yang duduk di kursi samping kemudi.
Saat itu Andari tidak langsung membawa Banyu ke hotel. Ia membelokkan mobilnya di sebuah angkringan yang tidak terlalu ramai. Tapi tempatnya enak untuk ngobrol-ngobrol.
"Lho kok kesini? Gak ke hotel?" Tanya Banyu.
"Aku laper." Jawab Andari dengan wajah menggemaskan dan Banyu tertawa melihatnya.
Mereka turun dari mobil dan makan-makanan dipinggir jalan. Angkringan kalau kata orang Yogya.
"Mas, gak apa-apa kalau makan disini?" Tanya Andari baru ingat bahwa sang suami ini super mewah. Lupa dia.
__ADS_1
"It's okay. Aku sering makan di angkringan." Jawabnya. sambil duduk lesehan.
"Mas mau apa? Tadi kan kamu kelihat gak selera sama makanan di sana. Sibuk meeting." Ujar Andari yang lagi-lagi mendapat kecupan dari Banyu di pipinya.
"Mas Banyu! Malu! Banyak orang!" Pekik Andari pelan sambil memukul lengan kokoh Banyu. Banyu justru tertawa karena melihat wajah merona istrinya.
"Biarin. Biar mereka tau. Kamu istri aku." Jawabnya sambil tertawa terkekeh. Andari heran sekali dengan suaminya yang serba dadakan ini.
"Udah ah, aku mau pesen dulu." Ucap Andari berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri sang tukang jualan untuk memesan makanan.
"Mas Banyu, ampelanya gak ada. Jadi aku tambahin sate usus. Gak apa?" Tanya Andari sambil duduk dihadapan Banyu.
"Iya. Gak apa." Jawabnya.
"Andari." Panggil Banyu.
"Hm?" Jawabnya sambil melihat-lihat menu makanan.
"Pindah sini duduknya." Ucap Banyu.
"Kenapa? Apa bedanya?" Tanya Andari yang menuruti perkataan Banyu.
Andari duduk berdampingan dengan Banyu sambil bersandar di dinding. Banyu membuka blazer yang ia pakai digunakannya untuk menutupi kaki Andari.
Banyu duduk bersandar sambil menggenggam tangan Andari. Andari minum jeruk hangat pesanannya.
Tak ada kata keluar sedikitpun dari mereka berdua. Bukan karena canggung. Tapi hanya ingin diam dan mengistirahatkan hati dan pikiran sejenak.
"Silahkan, Mba, Mas, pesanannya." Ujar salah seorang tukang jualannya.
"Oh, iya Mas. Makasih." Ucap Andari ramah dan Banyu yang tersenyum sopan.
"Mas Banyu... aku mau makan." Ujar Andari yang ingin melepaskan tangannya dari genggaman Banyu tapi tidak dilepaskan Banyu.
"Gak suka ya?" Tanya Banyu yang melepas tangan Andari.
"Gak suka? Maksudnya?" Tanya Andari sambil mengunyah sate atinya.
"Pegangan tangan, peluk, cium." Jawab Banyu yang santai.
"Mas..." Ujar Andari.
"Ini tempat umum. Ndak sopan dilihatnya." Jelas Andari dengan suara lembutnya.
"Udah, makan dulu. Kamu nanti sakit. Tadi katanya di restaurant mau makan. Tapi ternyata gak makan. Sekarang harus makan." Terang Andari kepada Banyu.
"Aku lemes. Gak bisa makan sendiri." Ucap Banyu agak manja.
"Manjanyaa... hahaha..." Tawa Andari melihat ke-manjaan sang suami.
Sambil makan malam, sambil bincang-bincang dong.
"Mas, Stella siapa deh? Mantan apa?" Tanya Andari sambil menyuapi Banyu dengan tangan telanjangnya.
*Bayik gede 🤣✌️
*Kan romantis thor 😆
"Stella? Cewek." Jawab Banyu singkat.
"Anak TK juga tau Mas. Yang namanya Stella itu cewek." Ujar Andari gemas dengan jawaban Banyu.
"Hahaha..." Tawa Banyu.
"Stella bukan siapa-siapa. Kata orang-orang dia suka aku. Tapi, akunya gak suka." Jelas Banyu singkat dan padat.
"Aku orang ketiga kah?" Tanya Andari.
"Bukan. Kamu istriku." Jawaban Banyu sukses membuat Andari merona merah. Tapi, Banyu suka wajah merona merah Andari. Menggemaskan.
"Andari." Panggil Banyu yang menatap Andari.
"Hm?" Jawabnya sambil menoleh ke arah Banyu.
Membuat wajah keduanya saling tatap. Jarak antara hidung meraka hanya 2-3 inch.
"Aku kenyang. Mau pulang ke hotel." Jawab Banyu sambil membuang wajahnya karena malu.
"Iya, Mas. Sebentar." Jawab Andari sambil berdiri dan membayar makanan pesanannya.
***
Sesampainya mereka di hotel, Banyu dan Andari bersih-bersih dan sudah berganti pakaian menjadi baju tidur.
Tapi, saat itu Andari masih menonton drama korea kesukaannya. Banyu yang melihat sang istri tertawa sendiri seperti itu membuatnya ikut tertawa juga.
"Eh, Mas. Udah selesai?" Tanya Andari yang menyudahi kegiatan menonton drakornya.
"Sudah." Jawabnya sambil bersandar di tempat tidur.
"Yaudah, istirahat deh. Besok aku jadi jalan-jalan sama Dina ya." Andari.
"Iya. Besok sama aku juga." Jawab Banyu.
"Lho, besok bukannya Mas ada meeting?" Tanya Andari.
"Enggak. Aku undur untuk meeting di Jakarta saja." Jelasnya.
"Udah, ayo tidur. Besok kalau kamu terlambar datang, Dina bisa ngomel sepanjang zaman. Hahaha..." Ujar Banyu dengan candanya.
"Iseng banget sih. Hahaha..." Tawa Andari karena ucapan Banyu.
Andari menyimpan bantalnya di sofa dekat tempat tidur.
"Kok bantalnya ditaruh sofa? Kenapa?" Tanya Banyu bingung.
"Aku gak bisa tidur pakai bantal, Mas." Jawab Andari.
"Kok sama?" Ujarnya.
"Oh, ya? Mas Banyu juga gak bisa tidur pakai bantal?" Tanya Andari terkejut.
"Iya. Lehernya sakit kalau tidur pakai bantal. Gak tau kenapa." Ucapnya.
"Yaudah, kalau gitu kita tidurnya sama-sama gak usah pakai bantal. Hehe..." Ujar Andari yang menaiki tempat tidur dan berbaring disamping Banyu.
"Good night, my hubby." Ucap Andari sambil mengecup singkat pipi Banyu.
Banyu tersenyum senang. Ia memeluk Andari dan mengecup puncak kepala Andari.
"Good night, my world." Ucap Banyu yang membuat Andari semakin berbunga-bunga.
__ADS_1
\*\*\*