
Andari sedang mengecek kembali bekal dan barang-barang yang ia packing untuk check out dari hotel hari ini.
Karena rencananya setelah jalan-jalan, Banyu dan Andari akan menginap di rumah Pak Tyo dan Bu Asih. Rencananya...
Banyu dan Andari memakai outfit yang casual hari ini. Banyu sedang mengecheck kembali kameranya. Karena hari ini spot yang ingin dikunjungi cukup bagus sebagai spot foto.
*Kalau kata orang-orang zaman now bilangnya 'instagramable'. 😄
*Selfie yeee... 😂
Banyu membawa koper-koper penuh dengan pakaian. Sedangkan Andari membawa bekal makanan di tangannya.
Banyu juga membawa tas ransel yang sudah disiapkan oleh Andari. Di dalamnya cukup simple. Hanya ada botol minum, tisu basah dan tisu kering, handsanitizer dan kacamata.
Namun, saat Banyu masuk ke mobil. Ia menyalakan mobilnya dan mengambil kacamata. Saat itu melihat seperti ada semacam dompet kecil. Isinya hanya facial foam dan lipstick.
Yang pasti itu hak milik sang istri. 😂
Yang membuat Banyu heran, ternyata istrinya se-simple itu. Hanya membawa facial foam dan lipstick dan ada handuk kecil juga di dalam tas.
Saat itu Andari menyusul sambil membawa sling bag-nya dan mengenakan pakaian yang simple. Seperti kaos, dilapisi dengan cardigan, celana jeans, sport shoes dan slig bag.
Banyu menyadari bahwa istrinya, Andari itu super simple. Bukan wanita yang hobinya beli make up dan coba hal-hal baru tentang make up.
Ia make up tapi hanya make up basic saja. Kalau harus make up yang mewah, sepertinya Andari butuh ke salon. Pikir Banyu.
Saat Banyu sedang sibuk melihat sang istri berbincang dengan salah satu temannya yang ternyata bekerja sebagai security di hotel tersebut. Ponsel Banyu berdering.
"Oi! Kenapa?" Tanya Banyu yang masih melihat istrinya dari dalam mobil.
"Lo udah berangkat?" Tanya Reza dari sambungan teleponnya.
"Iya. Udah mau jalan. Kenapa?" Tanya Banyu lagi.
"Kita bawa mobil sendiri-sendiri aja bro." Ujar Reza.
"Oh, gitu. Yaudah. Bebas gua mah." Jawab Banyu.
"Berangkatnya mau bareng atau ketemuan di tempat?" Tanya Banyu lagi.
"Mau bareng boleh. Mau ketemuan di tempat juga boleh." Jawab Banyu santai.
"Yaudah, gue duluan deh ya. Soalnya gue mau ke Malioboro dulu. Nanya pesanan batik buat acara nanti di Jakarta." Jelas Reza.
"Oh, lo sudah pesan?" Tanya Banyu lagi.
"Sudah. Sama Dina kemarin. Lo mau ke rumah Pak Tyo dulu kan?" Tanya Reza.
"Iya. Taruh barang-barang dulu. Lumayan koper gue ternyata. Andari juga mau packing bajunya." Terang Banyu.
"Yaudah, berarti kita ketemuan di tempat ya." Ucap Reza memastikan kembali.
"Okay. Nanti berkabar lagi deh." Jawab Banyu sambil melambaikan tangan kepada security temannya Andari dan menutup teleponnya.
"Telepon dari siapa Mas?" Tanya Andari saat masuk ke mobil.
"Dari Reza. Katanya mau ketemuan di tempat aja. Soalnya dia mau cek batik dulu ke Malioboro." Jelas Banyu sambil membantu Andari memakai seat belt.
"Tadi itu teman kamu, Dik?" Tanya Banyu.
"Iya. Kakak Kelasku waktu SMA. Ternyata dia kerjanya dipindah disini." Jawab Andari sambil tersenyum.
"Ohh... emang tadinya kerja dimana?" Tanya Banyu sambil menjalankan mobilnya.
"Di Jakarta. Di daerah Sudirman. Terus katanya disini cabangnya gitu kalau gak salah. Jadi dia dipindah kesini." Jelas Andari.
"Dia sendiri apa sama teman-temannya juga?" Tanya Banyu.
"Ada beberapa temannya juga. Dia pindah kesini karena mau dekat sama anak-anaknya. Semenjak istrinya meninggal, anak-anaknya dirawat sama Nenek dan Kakeknya. Dia bilang sekalian jagain Ibu sama Bapak. Gitu." Terang Andari.
"Ohh... istrinya udah gak ada. Anaknya berapa emang, Dik?" Tanya Banyu.
"Dua deh kalau gak salah, Mas. Cewek dua-duanya. Tapi udah pada gede-gede. Yang pertamu udah kuliah. Yang kedua masih sekolah SMA kalau gak salah." Jawab Andari.
"Udah enak sebenarnya ya. Anaknya bukan yang masih kecil banget gitu maksudku." Ujar Banyu.
"Iya. Udah gede-gede anaknya." Jawab Andari.
"Udah bisa ngurus diri sendiri. Bapaknya gak mau nikah lagi?" Tanya Banyu yang memberikan tiket parkir kepada penjaga parkir.
"Hahaha... kamu nih Mas. Kok kepo." Tawa Andari saat mendengar pertanyaan Banyu.
"Hahaha... ya gak gitu maksudnya, Dik. Biasanya kan kalau laki-laki ditinggal sama istrinya, apalagi ini udah meninggal. Pengennya nikah. Biar ada yang ngurusin. Gitu maksudnya." Jelas Banyu.
"Kan gak semua laki-laki seperti itu Mas... Hahaha... " Andari masih tertawa geli dengan ucapan Banyu.
"Iya sih... tapi yang sering aku temui hampir rata-rata gitu. Hahaha..." Tawa Banyu.
"Kebetulan aja kali itu, Mas." Jawab Andari yang masih menahan tawa.
"Maaf, Pak. Ada uang Rp. 2.000?" Tanya si Mba Parkir.
"Wah, gak ada tuh Mba. Kenapa Mba?" Tanya Banyu.
"Kembaliannya Rp. 2.000, Pak. Tapi, recehannya sedang habis." Ujar si Mba Parkir yang ramah.
"Oh, yaudah gak apa-apa Mba." Jawab Banyu ramah.
"Makasih, Pak." Ujar si Mba Parkir dengan sopan dan senyum ramah.
"Sama-sama Mba." Jawab Banyu ramah dengan senyum.
Andari juga ikut memberi senyuman ramahnya kepada si Mba Parkir. Pembayaran loket parkir. Gitu deh pokoknya.
Kalau petugasnya ramah, sopan dan murah senyum, tentu kostumernya siapapun pasti senang kan? Tapi, kalau pelayanannya gak sopan, gak ramah, kurang senyum pelanggan pasti gak nyaman. So, yuk senyum. Ibadah paling mudah 😁👍
***
"Mas Banyu," Panggil Andari.
"Kenapa, Ndari?" Tanya Banyu.
"Kita mampir dulu ke toko bakpia boleh? Tadi Pandu WA katanya nitip bakpia." Ucap Andari.
"Boleh. Mau dimana belinya, Dik?" Tanya Banyu lagi.
"Nanti aja dekat rumah. Disitu udah langganan soalnya." Jawab Andari dengan senyum lesung pipinya.
"Okay." Jawab Banyu.
Saat itu mobil mereka berhenti di lampu merah. Kalau di Yogya, pengemudi kendaraannya patuh dengan rambu-rambu lalu lintas. Meskipun, masih ada beberapa pengemudi yang kurang tertib.
*Tapi, beda banget sama Jakarta. Uduhh... semrawut. Kayak hidup 😂😂
*Hidup lo itu, thor 🤣✌️
"Dik, tolong ambilin kabel charger Mas di tas boleh?" Tanya Banyu yang melihat HPnya lowbet.
"Yes. Sir." Canda Andari yang membuat Banyu tersenyum.
"Yup! Udah. Nih, Mas." Ujarnya.
"Thank you." Jawab Banyu sambil mengelus lembut pipinya dan dibalas senyum manisnya Andari.
__ADS_1
"Hari ini kita mau kemana aja emang, Dik?" Tanya Banyu.
"Dina sih katanya mau ke Candi Ratu Boko kalau gak salah. Tapi itu kan gak ada teduhannya, Mas. Panas banget. Hahaha..." Jelas Andari dengan tawanya.
"Itu tempat syutingnya Film AADC ya kalau gak salah." Ucap Banyu.
"Iya, kayaknya. Aku lupa. AADC 2 tapi. Kalau gak salah juga. Hehe..." Ujar Andari sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Habis dari situ mau kemana?" Tanya Banyu lagi.
"Aku pengen ke Candi Ijo. Lihat sunset dari situ bagus banget." Jawab Andari.
"Kamu pernah kesana?" Tanya Banyu.
"Pernah."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
Mendengar jawaban Andari, Banyu terkejut. Kok bisa?
"Kamu kesana sendiri? Kenapa?" Tanya Banyu bingung.
"Gak kenapa-kenapa. Pengen sendirian aja. Waktu itu lagi penat banget. Jadi butuh ruang yang luas. Sekedar menghirup udara segar. Hehe... aneh ya?" Jelas Andari sambil nyengir kuda.
"Enggak kok. Aku juga pernah kayak gitu. Sering malah." Jawab Banyu sambil melihat arah jalan di depannya.
"Lebih baik merasa kesepian di tengah sepi. Dibanding merasa kesepian di tengah keramaian." Ujar Andari.
"Betul sekali." Jawab Banyu dengan senyumnya.
"Tau gak Mas, yang buat aku jatuh hati ke kamu apa?" Tanya Andari.
"Apa?" Tanya Banyu yang sebenarnya ia agak terkejut karena tiba-tiba Andari membahas soal itu.
"Mas, itu toko bakpianya di depan. Nanti berhenti di sana ya." Ujarnya.
Mobil Jaguar F-Pace nya pun berhenti di toko bakpia. Andari turun dari mobil, disusul oleh Banyu.
"Lho, kok turun? Gak apa-apa Mas di mobil aja." Ucap Andari yang sedang memilah bakpia.
"Aku juga mau." Ujar Banyu dengan nada suara yang agak manja.
"Oh... hahaha... ya kan Mas bisa bilang ke Ndari." Ucap Andari sambil menatap sang suami.
Gak habis gantengnya walaupun sering ditatap juga. Pikir Andari.
"Andari?" Tanya Bude yang jualan bakpia itu.
"Budee Atun?" Tanya Andari memastikan.
"Iyaa... ini Bude Atun. Masih ingat toh Ndok? Haha..." Jawab Bude Atun.
"Masih lah Bude. Bude apa kabar? Lama banget gak ketemu ya, Bude?"
Tanya Andari sambil mengusap-usap punggung Bude Atun yang sudah lewat dari masa setengah bayanya.
"Baik, Ndok. Kamu apa kabar?" Tanya Bude.
"Baik Bude. Sehat Bude?" Tanya Andari.
"Sehat Ndok. Biasa lah sakitnya orangtua renta kan gak jauh dari remason (balsem). Hahaa..." Tawa Bude Atun.
"Yang penting sehat Bude. Pakde, Mas Gilang, Mba Nur sehat semua Bude?" Tanya Andari.
"Sehat. Sehat semua. Kemarin Nur baru pulang kesini terus udah balik lagi. Udah punya 2 anak dia sekarang." Jawab Bude senang bercerita.
"Oh, ya? Wah... Ndari turut senang melihat Mba Nur punya momongan Bude. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang ya." Ujar Andari.
Mas Banyu masih sibuk milih-milih bakpia. Karena bakpia memang beragam. Isinya macam-macam. Ada yang original seperti bakpia isi kacang hijau. Ada juga yang isinya keju dan cokelat. Itu enak banget.
"Gilang yang masih senang sendiri, Ndari. Tadinya kalau kamu ke Yogya. Bude mau jodohin kamu sama Gilang. Eh, ternyata Ndari sudah menikah ya?" Tanya Bude Atun.
"Iya, Bude. Sudah. Itu suami Andari." Tunjuk Andari ke Banyu.
"Mas, sini." Ajak Andari kepada Banyu yang sibuk sudah membawa bakpia di tangannya.
"Kamu bawa apa?" Tanya Andari.
"Ini... hehehe..." Jawabnya sambil nyengir kuda. Andari hanya bisa tertaw menggeleng.
"Ini suami Ndari, Bude." Andari mengenalkan Banyu kepada Bude Atun.
"Banyu, Bude." Jawabnya ramah dan tersenyum.
"Iya, iya, Nak Banyu. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga langgeng terus." Ucap Bude Atun.
"Makasih Bude." Jawab Banyu dan Andari serempak.
"Iya. Sama-sama. Doain juga Masmu, Gilang. Biar cepat ketemu sama jodohnya." Ujar Bude Atun.
"Hahaha... iya Bude. Di doain ya. Semoga cepat menikah Mas Gilang." Jawab Andari ramah.
Andari dan Banyu membayar beberapa bakpia yang mereka beli. Andari juga memesan bakpia yang ingin dia bawa sebagai oleh-oleh untuk Bu Guru.
Sampai di rumah, Pak Tyo dan Bu Asih sudah menunggu di teras rumah bersama dengan Mbah Kung dan Mbah Uti.
"Ibuukk...! Bapaakk...!" Pekik Andari yang turun dari mobil dan langsung berhambur memeluk Bapak dan Ibunya.
"Mbah Kunng...! Mbah Utii...!" Ucapnya dengan suara manja.
Banyu ikut menyusul Andari, turun dari mobil dan salim kepada Bu Asih dan Pak Tyo serta Mbah Kung dan Mbah Uti.
Mereka berbincang sejenak. Karena Pak Tyo, Bu Asih, Mbah Kung dan Mbah Uti harus datang ke acars pernikahan saudaranya.
"Yasudah, nanti malam kita ngobrol lagi ya. Sudah telat ini. Sudah siang. Kamu udah ketemu Dina?" Tanya Bu Asih.
"Ini Ndari baru mau berangkat sama Mas Banyu ketemu Dina dan Reza." Jawab Andari.
"Hati-hati ya Banyu menyetirnya." Ujar Pak Tyo sambil menepuk punggung kekar Banyu.
"Iya, Pak. Bapak juga. Jangan nyetir sendiri Pak." Ucap Banyu.
"Enggak kok. Disupirin. Bapak mah jadi penunjuk jalan aja. Hahaha..." Tawa Pak Tyo yang senang berbincang dengan sang menantu.
"Yowes, kami berangkat ya. Kalian juga hati-hati." Ujar Mbah Uti sambil melambaikan tangan.
Setelah mereka berangkat, Banyu menaruh koper-kopernya di kamar Andari.
"Mas, mau langsung berangkat apa istirahat dulu?" Tanya Andari dari arah dapur.
"Reza sama Dina udah sampai emang, Dik?" Tanya Banyu.
"Tadi waktu aku WA baru mau jalan ke Candi Ratu Boko katanya. Terus aku bilang, emang disana gak panas ya? Eh, Dina katanya ngajak ke Kaliadem. Beloknya jauh banget." Jelas Andari sambil duduk di kasur disamping Banyu.
"Hahaha... dasar. Gak jelas mereka. Yasudah, tunggu kabar dari mereka dulu pastinya dimana. Nanti baru kita jalan." Jawab Banyu.
"Mas Banyu mau makan dulu gak? Tadi aku udah siapin bekal." Tanya Andari sambil mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda.
"Nanti aja deh. Belum lapar." Jawabnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk Andari.
"Capek ya? Nyetir dari tadi." Ucap Andari sambil memijat pundak Banyu.
__ADS_1
"Dik, kamu pintar pijit ya? Kok enak deh. Hahaha..." Jawabnya sambil tertawa lepas.
"Iya dong... pijitan aku tuh ngangenin. Kayak orangnya. Hahahaha...." Tawa lepas Andari.
"Dasar. Bisa aja kamu." Ucap Banyu tersenyum dan mencubit gemas pipi Andari.
Ponsel Andari berdering. Tertera di layar "Dina".
"Iya, Din?" Jawab Andari.
"Lo dimana?" Tanya Dina dari sebrang jauh telepon.
"Di rumah Bapak sama Ibu." Jawab Andari sambil merapikan baju Banyu yang terlipat karena ia habis tiduran di kasur tadi.
"Hooh... lo sudah taruh barang?" Tanya Dina.
"Sudah. Sudah ketemu Bapak, Ibu, Mbah Kung dan Mbah Uti juga. Lo dimana sekarang?" Tanya Andari.
"Masih di Malioboro. Ini gua baru mau jalan ke Kaliadem." Jawab Dina.
"Oh... jadinya ke Kaliadem?"Tanya Andari lagi.
Saat ini, Banyu sedang memeluk Andari dari belakang. Banyu melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Andari dan menopang dagunya di pundak Andari.
"Jadinya ke Kaliadem, Dik?" Tanya Banyu berbisik di telinga Andari.
"Iya, Mas." Jawab Andari sambil mengelus lembut pipi sang suami.
"Gua jalan nih ke Kaliadem. Lo juga jalan deh. Biar bisa ketemu disana." Ujar Dina.
"Okay. Gua juga jalan dari sini deh. Yoo... bye." Jawab Andari menyudahi teleponnya.
"Mas, ke Kaliadem katanya. Yuk!" Ajak Andari semangat ke Banyu.
Banyu mengecup lembut bibir Andari.
"Charge full." Jawab Banyu dengan senyumnya.
"Let's Go!" Ujar Banyu langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju mobilnya.
Andari dan Banyu pamit ke orang-orang di rumah Pak Tyo dan Bu Asih. Mereka mengiyakan pengantin baru tersebut.
***
"Ndariii!!!" Pekik Dina yang sudah rindu bertemu dengan sahabatnya. Andari.
"Dinaaa!!!" Jawab Andari yang samanya merindukan Dina sahabatnya.
"Wuideh... penganten baluu... hahaha..." Ledek Reza kepada Banyu senbari memberi salam high five mereka.
"Pengen? Nyusul makanya cepetan." Jawab Banyu meledek Reza sambil tertawa.
"Itu pasti lah. Ngomong-ngomong muka ngapa lemes banget. Belum dikasih apa semalam? Wkwkwk..." Canda Reza.
"Sue!! Pikiran lo gak jauh dari ************ cewek ya dari dulu." Ujar Banyu sambil memukul lengan berototnya Reza.
"Ahahaha... bahagia sekali sayaa... bisa membully seorang Banyu Adhinata Singgih. Wkwkwk 😂" Tawa lepas Reza.
"Senang betul anda membully saya." Jawab Banyu sambil duduk di bebatuan dan memotret keindahan alam.
"Eh, iya Ban. Kemarim gima meeting sama Pak Rudi dan Pak Samir? Okay?" Tanya Reza.
"Meetingnya si lancar. Tapi..." Jawabnya sambil melihat-lihat hasil bidikan kameranya.
"Tapi?" Reza.
"Andari semalem sempat di labrak sama Rachel. Anak Pak Rudi." Jelas Banyu.
"Hampir mau di tampar. Kalau gue terlambat datang sedikit aja. Biru udah mukanya Andari." Jelas Banyu dengan raut wajah yang mengeras karena geram.
"WHAT??!!" Reza terkejut bukan main.
"Dia ngomongin soal Stella sama Andari." Ucap Banyu sambil membidik kembali pemandangan alam di Kaliadem.
"Wah... gak bagus. Terus Andari berarti tau tentang Stella?" Tanya Reza.
"Tau. Waktu makan malam, dia sempat nanya sama gua, Stella siapa. Ya gua bilang, Stella itu cewek yang kata orang-orang suka sama aku. Tapi, akunya gak suka. Udah. Gua jelasin itu aja." Jawab Banyu santai.
"Iya sih, benar. Emang begitu doang ceritanya." Sahut Reza.
"Kalau Putri?" Tanya Reza kembali.
"Lo sudah cerita tentang Putri? Ke Andari?" Tanya Reza lagi.
Banyu hanya diam dan duduk kembali di bebatuan. Ia mengalungkan kameranya di leher.
"Putri itu masa lalu dan gua udah gak ada hubungan apa-apa sama Putri. Fokus gua sekarang cuma ke masa depan gua. Andari." Jelas Banyu.
"Wuidih... puitis sekali bro gua ini. Hahaha..." Ledek Reza.
"Kampret! Apaan sih lo!" Jawab Banyu ketus.
"Tapi, ya Ban. Lo kayaknya perlu cerita soal Putri ke Andari. Supaya gak salah paham aja. Karena cepat atau lambat, Andari pasti tau tentang Putri. Saran aja sih..." Terang Reza.
Banyu hanya diam dam menatap Reza dalam. Ia mengerti maksud Reza. Kemudian ia melihat Andari yang sedang tersenyum bahagia bersama sahabtnya, Dina.
"Za." Panggil Banyu.
"Hm" Jawab Reza yang sedang asyik membidik pemandangan Kaliadem.
"Gua bisa mati kalau gak ada Andari." Ujar Banyu.
Reza tidak menjawab. Ia menoleh ke arah Banyu. Reza tau sekali karakter sahabatnya ini. Kalau udah cinta, mati-matian dia akan buat pasangannya bahagia.
Sobat gua beneran cinta mati sama istrinya nih. Pikir Reza.
"Lo tanam benih aja di Andari. Biar dia gak kemana-kemana. Wkwkwk..." Ledek Reza kepada Banyu yang mendapat lemparan kerikil ke arah Reza. Reza malah semakin menjadi meledek Banyu.
"Eh, Ndar. Gimana malam pertama? Seru? Hahaha..." Ledek Dina.
"Lo cobain aja sendiri sono." Jawab Andari sambil bersungut.
"Hahaha... yak ilee... sensi amat buukk..." Canda Dina dengan tawa lepasnya.
"Rese, lo." Jawab Andari dengan wajah kesalnya. Tapi justru malah terus menerus mendapat candaan dari Dina.
Saat Andari dan Dina asyik berfoto, Banyu dan Reza menghampiri mereka.
"Dina!" Panggil Reza kepada Dina.
"Iya." Jawab Dina.
"Mau sampai jam berapa?" Tanya Reza.
"Ini sudah jam berapa?" Tanya Dina lagi.
"Jam 3 sore. Gimana?" Tanya Reza.
"Okay. Lanjut, yuk." Ucap Dina.
Banyu dan Andari mengikuti Dina dan Reza. Mereka mengendarai mobil secara terpisah. Banyu dan Andari dengan mobilnya, Reza dan Dina pun mengendarai mobil sendiri. Mereka bertemu langsung di Candi Ijo.
Andari menggandeng tangan Banyu karena jalanan menuju keluar dari Kaliadem agak berkelok. Kaliadem recomended banget deh buat spot foto-foto cantik. 😁👍
__ADS_1
\*\*\*