Andari

Andari
CHAPTER 18: TERTUNDA


__ADS_3

Andari duduk di bibir pantai sambil mengetuk-ketukan bolpoint di kepalanya. Deadline cerpennya sudah menunggu. Tapi, inspirasi belum datang.


Ia merebahkan tubuhnya di pasir putih lembut dan menghirup udara pantai malam itu.


"Aku suka pantai... tapi gunung ku lebih suka." Gumamnya.


"Kalau aku, suka gak?"


"YA TUHAN!! VANO??!!!" Andari terkejut bukan main melihat Vano yang tiba-tiba ada di sampingnya.


Andari langsung beringsut bangun dari tidurnya dan duduk menjauh dari Vano yang kemudian Andari dengan sigap berdiri sambil membersihkan bajunya dari pasir.


"Kenapa?"


"Kenapa Andari?"


Tanya Vano yang memegang pundak Andari dengan keras dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tercium bau alkohol dari tubu Vano.


Andari berusaha melepaskan dirinya dari Vano. Tapi, sayangnya Vano terlalu keras memegang pundak Andari.


"KENAPA KAMU PERGI MENINGGALKAN AKU??!! KENAPA ANDARI??!! KENAPA KAMU MENIKAH DENGANNYA??!!!" Pekik Vano di telinga Andari.


Andari tidak mengindahkannya. Ia masih berusaha keluar dari Vano yang memegang tangannya begitu erat dan membuat lengan Andari perih.


"VANO!!! LEPASIN GUE!!!" Teriak Andari.


Andari melepaskan tangan Vano dengan seluruh tenaganya. Ia berhasil lolos dari Vano.


Tapi, Vano tidak menyerah. Ia mengejar Andari. Vano menarik lengan Andari dan menjatuhkan tubuh Andari di pasir.


Vano memegang pergelangan tangan Andari yang di letakannya ke atas dan ia berusaha mencium Andari.


"Masss Banyuu!!! Hiks, hiks." Andari terus berontak dari Vano.


"BRENGSEK!!!" Banyu datang berlari dan menendang Vano dengan sangat kuat.


Andari dibantu oleh Dina dan Reza yang datang berlari karena mendengar teriakan Andari. Dina memeluk Andari. Reza berlari melerai Banyu dan Vano.


"LO UDAH AMBIL ANDARI DARI GUE!!! SEKARANG GUE YANG AMBIL ANDARI DARI LO!!! ANJING!!!" Pekik Vano.


"BELUM CUKUP LO NGAMBIL YANG GUE PUNYA SEMUA?? SEKARANG LO NGAMBIL PEREMPUAN YANG GUE SUKA??!!"


"*******!!" Vano mencoba meninju Banyu tapi Banyu menghindar.


Banyu tidak berkata apa-apa. Ia meninju dan menendang Vano lalu berjalan menjauh dari Vano untuk menghampiri Andari.


Andari berlari menghampiri Banyu dan memeluknya. Banyu memeluk kembali Andari dengan erat.


"Maafin aku sayang." Ucapnya lirih sambil memeluk erat dan mencium kening Andari.


Namun...


"BANYU!! AWAS!!" Pekik Reza yang melihat Vano berlari membawa pisau mendekati Banyu yang sedang memeluk Andari.


Banyu berbalik melihat Vano, namun Andari menghalangi Banyu dengan tubuhnya yang menghadap ke arah Vano.


Dan...


Craatt !!!


Pisau itu sudah bertengger di perut Andari.


"ANDARI!!" Teriak Banyu yang melihat Andari terkulai lemas.


"Andariii!!!" Pekik Dina dan Reza yang langsung berlari menghampiri Banyu dan Andari.


"Andari! Andari! Bangun!" Ucap Banyu sambil menggoyang-goyangkan tubuh Andari.


Banyu panik, merah padam wajahnya karena amarah kepada Vano. Banyu berlari ke arah mobilnya dan membawa Andari ke Rumah Sakit (RS).


Reza yang menyetir. Karena sudah pasti Banyu tidak terkontrol. Dia masih terkejut dengan kejadian ini.


Mereka sampai di RS. Beberapa dokter dan perawat sudah menunggu di depan IGD.


Banyu terduduk lemas di lantai dan menutupi wajahnya dengan tangan yang bersimbah darah. Baju pun begitu. Sudah tidak karuan dengan darah Andari.


Lampu darurat berubah warna merah. Ruang operasi. Andari harus di operasi karena luka tusukannya yang cukup dalam.


Reza dan Dina mencoba keluarga Andari dan Banyu. Namun, mereka tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya.


Karena pihak keluarga Banyu maupun Andari pasti akan panik dan justru malah akan runyam masalahnya.


Reza menghubungi Rey. Pengacara Banyu dan perusahaannya. Ini sudah harus dengan tindakan hukum. Karena sudah membahayakan nyawa orang.


Rey yang tinggal di Bali, langsung datang menghampirinya ke RS tersebut.


1 jam...


2 jam...


Lampu di ruang operasi yang berwarna merah, sekarang sudah padam.


Dr. Rifat, yang memimpin jalannya operasi masih dalam ruang lingkup keluarga Adhinata Singgih.


"Banyu." Panggil Dr. Rifat.


"Om, gimana Ndari?" Tanya Banyu yang sudah dengan wajah lusuh. Tidak karuan bentuknya.


*Tetep aja ganteng kali, thor 😑


*Iya dah, ganteng 😅


"Andari baik. Operasinya berjalan lancar. Dia wanita hebat. Kami sempat khawatir karena Andari cukup kehilangan banyak darah." Terang Dr. Rifat.


"Namun, semuanya bisa teratasi karena Andari yang kuat. Sebelumnya, beberapa kali, Andari sempat menggumamkan namamu, Banyu." Ujar Dr. Rifat.

__ADS_1


"Andari butuh perawatan yang lebih lanjut. Sebaiknya kamu pindahkan ia di RS Jakarta bersama dengan Dr. Pras. Biar Pras yang mengontrolnya, ya." Ujar Dr. Rifat. Dr. Pras itu adik dari Dr. Rifat


Banyu begitu lemas mendengar penjelasan dari Dr. Rifat. Apalagi saat Dr. Rifat bercerita bahwa Andari sempat memanggil namanya.


Setelah menjelaskan semuanya, Dr. Rifat kembali ke ruang operasi karena masih ada pasien yang harus di operasinya.


Sedangkan, Andari di bawa ke ruang perawatan. Dina menemani Andari sambil dengan tangis terisaknya. Banyu sedang membersihkan dirinya. Reza yang memintanya untuk bersih-bersih.


"Ndar... bangun dong... hiks... hiks... lo kan janji mau bantuin nyiapin pernikahn gue. Hiks... hiks... jahat." Ucap Dina dengan tangis sesenggukannya. Ia menangis sembari memegang tangan sahabatnya.


Banyu mendengar perkataan Dina. Ia tau betul bahwa Andari adalah sahabat dekatnya yang sudah seperti keluarga untuk Dina. Wajar saja jika Dina merasa sedih seperti itu.


"Ban." Panggil Reza yang melihat Banyu keluar dari kamar VIP Andari.


"Gimana Za?" Tanya Banyu.


Mereka berdiskusi kejadian berdarah ini. Soal bisnis, keluarga dan hukum yang bertindak jika tidak ada jalan damai.


Cukup lama mereka bertiga berdiskusi. Banyu, Reza, Rey dan Gunar. Dina menemani Andari di kamarnya. Karena Banyu meminta tolong kepada Dina.


*****


3 Bulan kemudian


Kondisi Andari sudah membaik sejak kejadian sebelumnya. Urusannya dengan Vano sudah di tuntaskan oleh Banyu.


Masalah bisnis dan harta gono-gini, sudah Banyu selesaikan dengan jalur hukum. Vano? Ia di hukum atas perbuatannya.


Saat ini justru Andari sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan sang sahabat.


"Mas." Panggil Andari yang menghampiri Banyu ke ruang kerjanya.


Banyu yang sedang serius menatapa layar laptop dengan T-shirt putih, kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Membuat wanita mana pun langsung jatuh hati.


"Hm." Jawabnya singkat yang masih serius menatap layar laptopnya.


Andari berjalan menghampiri Banyu dan memeluknya dari belakang. Andari melingkarkan lengannya di tengkuk Banyu dan menopangkan wajahnya di pundak Banyu.


Banyu mengelus lembut lengan Andari. Banyu tau betul, bahwa Andari sedang ingin bermanja dengannya. Tapi, Andari pun juga tau, bahwa Banyu sedang sibuk dengan projectnya yang baru.


"Aku tidur duluan ya." Ujar Andari yang melepaskan lingkaran tangannya di tengkuk Banyu.


"Kenapa?" Tanya Banyu dengan suara lembut dan mengelus lembut pipi Andari lalu terfokus lagi dengan laptopnya.


"Besok aku mau nemenin Dina fitting dress." Ujarnya yang sekarang berdiri di samping Banyu.


"Kamu bawa mobil sendiri?" Tanya Banyu.


"Enggak. Dina yang jemput aku kesini." Jawab Andari sambil mengelus lembut pundak Banyu.


"Okay." Ucap Banyu singkat yang kemudian terfokua kembali dengan layar laptopnya.


Andari merasa sedih karena Banyu tidak paham dengan kode-kode manis yang telah diluncurkan oleh Andari kepadanya.


Andari kembali ke kamar dengan hati sedih. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak terasa air matanya mengalir.


Jadi, Banyu tadi sedang menyelesaikan semua tugasnya untuk diserahkan kepada Gunar sebagai referensi Gunar.


Karena Banyu sudah memesan tiket honeymoonnya untuk dia dan sang istri. Sebagai surprisenya.


Banyu mengambil cuti cukup panjang untuk melepas rindunya bersama sang istri yang sudah sangat sabar dicuekin sama Banyu.


Banyu masuk ke kamar tidur dan melihat Andari sudah tertidur. Ia mendekati tubuh istrinya yang sedang tertidur pulas. Ia mencium pelipis Andari.


Banyu melihat ada bekas air mata di pipinya.


"Lagi-lagi aku membuatmu sedih. Maafkan aku sayang." Ucapnya lirih di telinga Andari kemudian ia mencium lagi sang istri di pipi.


Banyu tidur sambil memeluk Andari dari belakang. Ia menopangkan wajahnya di punggung Andari dan melingkarkan lengan kekarnya di pinggang serta perut Andari.


Pagi menyapa, Andari bangun dari tidurnya dan melihat lengan kekar melingkar di perutnya. Ia memutar tubuhnya dan melihat Banyu tertidur lelap.


Andari mencium kening sang suami. Berharap tidak membangunkannya, tapi, Banyu justru perlahan membuka mata.


"Good morning." Ucap Andari sambil mengelus lembut pipi Banyu.


Banyu yang menjawab dengan senyuman dan mencium pipi Andari, kembali memejamkan matanya yang masih melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Andari.


"Bangun yuk. Udah pagi, Mas." Ujar Andari sambil bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


"Okay." Jawab Banyu sambil menggeliatkan tubuhnya dan menguap tampan.


*Thor, menguap tampan tuh gimana?? 😂


*Bayangin aja dah 🤣


Setelah keluar dari kamar mandi, Andari duduk di kursi dekat nakas dan meminum air putih yang selalu ia siapkan di nakas.


Banyu keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Ia juga meminum air putih yang disodorkan oleh Andari.


"Mas, kamu jadi ke kantor hari ini?" Tanya Andari.


"Jadi, dek. Mau meeting sebentar. Terus pulang kok." Jawab Banyu yang lalu menenggak air minumnya.


Ia memperlihat jakun besarnya sedang berusaha menelan air minum. Membuat Andari merona karena melihatnya.


"Oh, gitu. Okay. Aku nanti pergi sama Dina ya. Nemenin dia buat___" Belum selesai Andari menyelesaikan perkataannya, Banyu sudah mencium bibir Andari.


"Mas Banyuu..." Ucap Andari yang terkejut dengan tindakan Banyu menyerang bibir Andari.


"Masih pagi, sayang..." Ujar Andari sambil tertawa renyah melihat tingkah suaminya yang menggemaskan.


"Justru karena masih pagi, dek..." Ucapnya sambil mencium pipi Andari dan melajukannya ke bagian leher.


RACE START !!

__ADS_1


*Apaan dong, thor... 😯


*Iya, pokoknya gitu ya. Kasian nanti yang jomblo pengen belum ada lawannya 🤣✌️


*****


"Jadi lo, gak bawa mobil sendiri? Jiaah... yaudah. Buru deh." Ujar Andari yang sedang menelepon Dina di sebrang sana.


"Kenapa sayang?" Tanya Banyu yang baru masuk kamar dan mencium puncak kepala Andari.


"Dina gak bawa mobil. Tapi, di anterin sama sopirnya. Sekarang baru jalan kesini." Jawab Andari yang memeluk manja Banyu.


"Ohh... lho, berarti kalian nanti kelilingnya gimana?" Tanya Banyu.


"Kan butuh kendaraan, Dek." Lanjutnya.


"Deket kok kita kelilingnya. Masih dalam lingkungan yang sama. Jadi gak terlalu jauh-jauh banget." Jelas Andari.


"Hoo... kalian mau nikmatin moment ghibah bersama ya?" Tanya Banyu yang meledek Andari.


"Hahaha... tau aja Mas. Jadi enak." Tawa Andari senang yang mendapat kecupan lembut di pipinya dari sang suami.


"Mas, jemput kamu jam berapa nih?" Tanya Banyu yang menarik lengan Andari dan memangkunya.


"Emm... jam berapa ya? Kalau sama Dina kan suka lupa waktu, Mas. Hahaha..." Tawa Andari.


"Haha, dasar." Ucap Banyu sambil mencolek ujung hidung Andari yang tak kalah mancungnya dengan Banyu.


"Jadi?" Tanya Banyu kembali.


"Emm... sore kali ya, Mas." Ujar Andari.


"Okay." Jawab Banyu.


"Kamu mau meeting dulu kan sama Reza dan Gunar?" Tanya Andari yang mengelus lembut pipi Banyu.


"Hm'emh." Jawab Banyu yang mencium kembali bibir lembut Andari.


"Mas Banyu..." Panggil lembut Andari sambil mengecup pipi Banyu dan melanjutkannya ke bibir Banyu.


*Thor, masih pagi kali thor... 😑


*Biarin dah. Udah halal mah bebas 😂


"Andariii!!" Panggil Dina yang berlari memeluk sahabatnya yang sudah sekian lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Dinaaa!! Kangeeenn!!" Ujar Andari sambil memeluk Dina dengan erat.


Banyu hanya tersenyum melihat kedua para hawa ini yang seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Lha, Za. Kok lo disini?" Tanya Banyu melihat Reza yang berjalan masuk ke dalam rumah Banyu dan Andari.


"Iya. Tadinya, Dina mau sama supirnya. Terus gue bilang, gak usah. Gue anterin aja langsung ke tempat fitting dressnya. At the end... I'm here." Jelas Reza.


"Oh... lha, kalau gitu, gue nganter istri gue juga dong? Kan nanti gue jemput dia waktu pulang." Ujar Banyu.


"Hahaha... iya, bener." Tawa Reza.


"Tau gitu lo gak usah kesini, Za. Langsung aja kita ke tempat fitting dressnya Dina. Kocak dah. Wkwkwk..." Tawa lepas Banyu dan Reza.


*****


"Ndari, ini lucu gak?" Tanya Dina.


Dina menunjukkan short dress dengan off shoulder yang terlihat seksi untuknya.


"No!!" Jawab tegas Andari sambil menyilangkan lengannya tanda tidak setuju.


Dress A okay, tapi terlalu pendek dan terlalu memperlihatkan lekuk tubuh. "NO".


Dress B okay, tapi terlalu panjang dan berat dipakainya. So, "NO".


Dress C okay, tapi belahan dadanya terlalu menonjol, so... "NO."


Iya. Begitu perempuan. Yang bikin lama, memilah-milah dan mencoba dressnya.


Setelah hampir seharian mereka memilih-milih wedding dress. Sekarang mereka ke tempat aksesoris untuk para tamu undangan.


Memilih, memilih, memilih, menimbang, menimbang, menimbang, diskusi, diskusi, diskusi, cari tempat lain aja.


Wkwkwk... perempuan... ujungnyaa... balik lagi kesitu. 😂


"Eh, Ndar. Lo tau gak. Masa si Kribo katanya jadian sama Putri." Ujar Dina yang sedang menemani Andari memilih buku novel.


"Hah?! Putri siapa ya?" Tanya Andari bingung.


"Ya Tuhaann!!! Andarii...!! Lo gak tau Putri??" Tanya kembali Dina yang terkejut dengan sahabatnya sama sekali tidak melihat berita terbaru.


"Selebgram ter-famous itu lhooo... Ndari..." Jelas Dina yang gemas dengan sahabatnya.


"Ohh... selebgram. Gak ngikutin yang gitu-gitu. Hahaha..." Tawa Andari sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya menandakan "peace".


"Idih, najong." Ucap Dina sambil bersungut.


"Tapi, Putri yang lo maksud itu selebgram yang lagi naik daun karena tutorial masaknya ya?" Tanya Andari kembali.


"Nahh... itu lo tau." Jawab Dina dengan sumringah.


"Tau, karena gue suka acara masak-masak gitu. Tapi, cantik kok. Kelihatannya baik. Iya, gak sih?" Ujar Andari.


"Iya, bener. Cantik, pintar pula. Nikah tuh kayaknya si Kribo sama doi. Hahaha..." Ucap Dina dengan tawa lepasnya.


Pengghibahan yang sungguh... tidak bermakna ya guys... hahaha... begitulah perbincangan mereka sore itu. Sambil menunggu sang suami dan kekasih pujaan hati menjemput Andari dan Dina, mereka jalan sore sambil banyak bertukar cerita.


*****

__ADS_1


Terkadang kamu perlu kehilangan


Agar tau cara menjaganya


__ADS_2